;

Dampak dari Performa Ekonomi

Dampak dari Performa Ekonomi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pertumbuhan yang relatif baik di awal semester II/2024, dengan kenaikan 3,46% ke level 7.308,12 hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Namun, pada Jumat pekan lalu, IHSG terkoreksi 0,24% akibat pelaku pasar merespons sentimen negatif dari kontraksi kinerja manufaktur dalam negeri yang telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan penurunan dari 54,2 pada Maret menjadi 49,3 pada Juli 2024, yang menjadi alarm bagi pemangku kepentingan industri.

Beragam masalah di sektor manufaktur, seperti penurunan produktivitas, infrastruktur yang tidak memadai, pungutan liar, dan memburuknya iklim usaha, memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Kontraksi ini berdampak luas pada sektor-sektor usaha lainnya, termasuk industri dasar kimia, barang konsumsi, ritel, transportasi, infrastruktur, dan konstruksi, yang sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk kuartal II/2024, di mana pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5%—5,2%. Namun, kekhawatiran terhadap transisi pemerintahan dan ketidakpastian global tetap membayangi. Pergerakan IHSG pun tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global, terutama di Amerika Serikat, yang mengalami pelambatan dan berdampak negatif pada bursa Asia.

Dalam kondisi ini, pemerintah diharapkan segera melakukan pembenahan di sektor manufaktur yang merupakan salah satu motor utama penggerak ekonomi, meskipun situasi global yang tidak mudah menambah tantangan yang harus dihadapi.

Tags :
#Opini #Saham
Download Aplikasi Labirin :