;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Harapan Tinggi Emiten dalam Meningkatkan Ekspansi

07 Aug 2024

Memasuki semester kedua tahun ini, sejumlah emiten gencar melakukan ekspansi seiring dengan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) yang masih sangat besar. Dengan modal belanja yang jumbo, harapannya emiten dapat mendorong kinerja secara jangka panjang. Dengan kocek besar tersebut, setidaknya kepercayaan pasar, baik sektor riil maupun pasar keuangan, bakal terungkit karena adanya potensi pertumbuhan korporasi di masa mendatang.

Tira Ardianti, Head of Investor Relations PT Astra International Tbk. (ASII), yang menjelaskan bahwa Grup Astra akan menggelontorkan capex dalam jumlah besar pada akhir tahun 2024, terutama untuk menunjang lini bisnis pertambangan dan alat berat PT United Tractors Tbk. (UNTR). Presiden Direktur Amman Mineral Internasional, Alexander Ramlie, juga menyoroti bahwa PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) mengalokasikan belanja modal sebesar US$2 miliar pada 2024 untuk berbagai proyek, termasuk smelter dan infrastruktur pendukung. Dari sektor telekomunikasi, Presiden Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengungkapkan bahwa perusahaan mengalokasikan Rp12 triliun pada 2024 untuk meningkatkan jaringan dan mendukung layanan data. Selain itu, Direktur Utama Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, menyatakan bahwa perseroan menyiapkan belanja modal sebesar Rp2,5 triliun untuk peremajaan dan penambahan armada.

Secara keseluruhan, menurut Kiswoyo Adi Joe, Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, besarnya alokasi belanja modal emiten untuk ekspansi memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Sementara itu, Fath Aliansyah Budiman, Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, mencatat bahwa capex normalnya baru akan terefleksi terhadap kinerja emiten dalam beberapa tahun ke depan, sehingga fluktuasi pasar saat ini tidak akan memengaruhi rencana perusahaan.

Emiten Tetap Gencar Ekspansi di Tengah Ketidakpastian Global

07 Aug 2024

Sejumlah catatan penting mencuat di awal Agustus, mulai dari sinyal perlambatan ekonomi, penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 3,4% di awal pekan, hingga ancaman resesi di Amerika Serikat (AS) yang menguat. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2024 sebesar 5,05%, turun dari 5,11% pada kuartal sebelumnya dan 5,17% pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah, melalui Badan Kebijakan Fiskal (BKF), menyebut capaian pertumbuhan ekonomi 5,05% pada kuartal kedua tahun ini masih sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah di kisaran 5,1%—5,2% sepanjang 2024.

Secara keseluruhan, artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun terdapat tekanan dari ketidakpastian ekonomi global, seperti ancaman resesi di AS dan penurunan Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia, perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh di atas 5%. Hal ini didukung oleh beberapa indikator makroekonomi yang masih menunjukkan performa yang baik, seperti tren penguatan nilai tukar rupiah, penurunan inflasi yang terkendali, dan defisit APBN yang terjaga. Selain itu, optimisme terhadap pemerintahan baru di bawah Prabowo-Gibran juga mendorong sejumlah emiten besar untuk terus melakukan ekspansi melalui penggunaan belanja modal (capex) pada semester kedua tahun ini. Ekspansi ini diharapkan dapat menjadi momentum pemulihan dan penguatan ekonomi domestik, serta memberikan sinyal positif kepada investor tentang prospek masa depan perusahaan.

Transformasi Digital : Bank Saqu Dorong Pertumbuhan Bisnis Signifikan

07 Aug 2024

Transformasi digital PT Bank Jasa Jakarta (BJJ) menjadi Bank Saqu dengan fokus pada segmen produktif telah membawa pertumbuhan bisnis yang signifikan bagi perusahaan. Perseroan juga berencana melanjutkan inovasi dan memperluas layanan keuangan digital. Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta, Leo Koesmanto, menyatakan bahwa sebelum beralih menjadi bank digital, perseroan hanya memiliki 17.000 akun nasabah. Namun, kini Bank Saqu sudah memiliki lebih dari 1 juta nasabah. “Target nasabah akhir tahun sudah tercapai, satu juta tadi sudah sampai. Sekarang kita mungkin menambah sedikit saja. Kami fokus bukan ke jumlahnya, tetapi ke kualitasnya,” ujar Leo Koesmanto saat kunjungan ke Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (6/8).

Transformasi digital yang dilakukan oleh PT Bank Jasa Jakarta menjadi Bank Saqu telah berhasil meningkatkan jumlah nasabah secara signifikan, dari 17.000 akun menjadi lebih dari 1 juta akun. Leo Koesmanto menegaskan bahwa fokus perusahaan kini lebih kepada meningkatkan kualitas layanan daripada hanya mengejar jumlah nasabah. Dengan dukungan dari pemegang saham utama, Astra Financial dan WeLab, Bank Saqu optimistis dapat memperluas pasar, terutama di segmen produktif seperti solopreneur. Bank Saqu juga terus berinovasi dengan menawarkan berbagai produk dan fitur keuangan digital, seperti BI-Fast Transfer, QRIS Payment, dan akan segera meluncurkan kartu debit, untuk menjawab kebutuhan nasabah di masa mendatang.

Terpukul Berbagai Tekanan di Bulan Kemerdekaan

07 Aug 2024

Bursa saham Indonesia seringkali punya cerita manis di bulan Agustus. Maklum, secara historis, setidaknya dalam 10 tahun terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih sering berada di zona hijau pada bulan ini. Namun, kali ini ceritanya bisa jadi berbeda. Indikasinya bisa dilihat dari keyakinan pelaku pasar terhadap IHSG yang tak sebaik bulan sebelumnya. Tengok saja Capital Sensitivity Analysis (CSA) Index bulan Agustus 2024 yang hanya di 55,8, turun dibanding posisi Juli 2024 yang di 61. Merujuk survei yang dilakukan CSA Institute dan Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) pada 12-30 Juli 2024, proyeksi IHSG di ujung Agustus ada di 7.251. Bulan lalu IHSG tutup di 7.255,76. Sebagai perbandingan, Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki melihat, rentang IHSG bakal lebar bulan ini, yakni di support 6.599 dan resistance 7.322. Sementara dari global, pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS) menambah ketidakpastian mengenai kebijakan ekonomi dan luar negeri.

Ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed pada September 2024 pun malah ditafsirkan secara negatif, mengingat pelemahan yang terjadi pada indeks saham utama. Herditya Wicaksana, Analis MNC Sekuritas juga menilai, tekanan dari eksternal yang dihadapi bursa saham lokal antara lain adalah munculnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi AS hingga ketidakpastian pemangkasan suku bunga The Fed. Faktor penekan lain ialah kenaikan suku bunga Jepang dan menguatnya nilai tukar yen terhadap dolar AS, hingga eskalasi geopolitik Timur Tengah. "Tambahan pekerjaan 114.000 walau di bawah konsensus, tidaklah buruk. Pun bila merunut ke belakang, bila hasil NFP tidak sesuai dengan konsensus, tidak terjadi yang namanya resesi, kok," kata Head of Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro kepada KONTAN. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Andry Asmoro pun yakin, probabilitas resesi AS hanya 10% hingga 20%. "Memang masih kecil kemungkinannya. Potensi resesi bisa semakin besar kalau data-data mengenai perkembangan ekonomi AS semakin mengonfirmasi," tuturnya.

Laba Excl Melonjak 57,52% pada Semester I

07 Aug 2024
PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencetak pertumbuhan laba bersih hingga dua digit pada semester I-2024. Pertumbuhan laba EXCL sejalan dengan kenaikan pendapatannya. Melansir laporan keuangan Selasa (6/8), laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk EXCL mencapai Rp 1,03 triliun per Juni 2024. Nilai ini tumbuh 57,52% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 650,68 miliar. "Angka ini merupakan pencapaian tertinggi selama 10 tahun terakhir," kata Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini, Selasa (6/8). Dari sisi top line, EXCL mengantongi pendapatan sebesar Rp 17,05 triliun atau tumbuh 8,16% yoy pada periode JanuariJuni 2024. Sedangkan pada periode yang sama di 2023, pendapatan EXCL mencapai Rp 15,76 triliun. Misalnya, pos beban penjualan dan pemasaran turun dari Rp 4,47 triliun di semester I-2023 menjadi Rp 4,4 triliun. Dian bilang penurunan ini didorong oleh meningkatnya penggunaan aplikasi MyXL dan AXISnet. Per Juni 2024, pelanggan aktif aplikasi MyXL dan AXISnet mencapai 32,1 juta atau meningkat sebesar 5,1% yoy. Sementara, monthly active user (MAU) mencapai 110% sejak Desember 2021. Pada tahun ini, EXCL mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 8 triliun, terutama untuk meningkatan kualitas jaringan. Adapun pada semester I-2024, trafik XL Axiata tumbuh 13% yoy. Lalu, jaringan konvergensi EXCL menjangkau 104 kota/kabupaten dengan tingkat penetrasi konvergensi mencapai 81%. Dari sisi infrastruktur, EXCL total jumlah BTS EXCL per akhir Juni 2024 sebanyak 163.884 unit, termasuk 109.170 unit BTS 4G atau bertumbuh sebesar 8%.

Tekanan pada Sektor Semen Masih Terasa

07 Aug 2024

Kinerja emiten semen masih lesu. Sepanjang semester pertama tahun ini, pendapatan dan laba bersih emiten sektor ini masih turun, bahkan ada yang rugi. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatat pendapatan Rp 16,41 triliun pada semester I-2024, turun 3,64% secara tahunan alias year on year (yoy). Laba bersih SMGR anjlok 42,11% yoy menjadi Rp 501,48 miliar. Penjualan semen domestik SMGR pada semester I-2024 menurun 1,5% yoy menjadi 14,01 juta ton. Pangsa pasar domestik menyusut 1,9 poin jadi 50%. Pesaingnya, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan pendapatan sebesar Rp 8,12 triliun pada semester I-2024. Hanya naik tipis 1,9% yoy. Sedangkan laba bersihnya, turun 37,76% yoy menjadi Rp 434,71 miliar. Secara keseluruhan, volume penjualan semen domestik INTP tercatat 8,87 juta ton, tumbuh 808.000 ton atau 10% pada semester I-2024 berkat adanya tambahan volume dari PT Semen Grobogan. Hal ini membuat pangsa pasar INTP di dalam negeri berada di level 29,4%.

"INTP memiliki pangsa pasar di Jawa 37,7% dan luar Jawa 20,5%," ujar Sekretaris Perusahaan INTP Dani Handajani, Senin (5/8). Sedangkan PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 2,06 triliun di semester I-2024, turun 1,50% yoy. CMNT mencatat rugi bersih sebesar Rp 222,75 miliar. Penurunan ini disebabkan melemahnya kinerja di sektor semen Indonesia dan Vietnam. Perseroan akan mencari lebih banyak peluang mengembangkan bisnis di industri bangunan dan material, ujar manajemen CMNT, Selasa (6/8). Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, kinerja emiten semen masih stagnan di tengah kondisi oversupply. Penjualan ekspor juga bisa mengimbangi kelebihan suplai emiten semen. Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk INTP dan SMGR dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 4.950 per saham. Sedangkan Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menilai, pergerakan saham INTP ada di level support Rp 6.275 per saham dan resistance Rp 7.950 per saham. Rekomendasi speculative buy disematkan untuk saham INTP dengan target harga Rp 7.950 per saham.

Antisipasi Perlambatan Ekonomi

06 Aug 2024

Pertumbuhan ekonomi yang kurang trengginas pada kuartal II/2024, seiring lesunya kinerja konsumsi masyarakat dan aktivitas industri, memantik alarm pemerintah untuk kembali meramu formula pendongkrak produk domestik bruto. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi pada kuartal II/2024 hanya tumbuh 5,05% year-on-year (YoY), lebih lambat dari kuartal I/2024 dan periode yang sama tahun lalu. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,93% YoY, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 5,23% YoY. Perlambatan konsumsi masyarakat ini menegaskan indeks keyakinan konsumen yang melemah selama dua bulan berturut-turut, yaitu pada Mei dan Juni 2024.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa perlambatan konsumsi rumah tangga sudah terlihat dari indeks penjualan riil yang hanya tumbuh 1,3% pada kuartal II/2024, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,61%. Faktor utama yang berkontribusi adalah kondisi pasar tenaga kerja yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi. Selain itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani, menekankan perlunya stimulus yang ditargetkan kepada kelas menengah untuk mendorong konsumsi, terutama pada barang-barang tahan lama seperti hunian dan kendaraan bermotor.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menanggapi perlambatan ini dengan mengatakan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, kinerjanya masih dalam kategori baik. Namun, ia menyoroti perlunya perhatian pada konsumsi, investasi, ekspor, dan impor. Untuk mengatasi perlambatan ini, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan bahwa pemerintah akan menggenjot sektor konstruksi hingga UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan memacu belanja pemerintah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2024 dan seterusnya.

Ancaman Perlambatan Ekonomi

06 Aug 2024

Pertumbuhan ekonomi mencatatkan laju perlambatan pada kuartal II/2024. Pelemahan daya beli ditambah dengan gejolak ekonomi dunia yang mengarah ke jurang resesi, bakal menjadi ancaman berganda bagi Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2024 mencapai 5,05% secara year-on-year (YoY), namun laju ini lebih lambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.

Penurunan konsumsi rumah tangga, perlambatan investasi, dan penurunan konsumsi pemerintah menjadi faktor utama yang mempengaruhi perlambatan ini. Ekspor dan impor mengalami rebound, namun tetap rentan terhadap gejolak ekonomi global, terutama dengan situasi ekonomi di Amerika Serikat yang semakin tidak stabil. Pasar modal dunia, termasuk Indonesia, ikut terpengaruh dengan aksi jual besar-besaran, yang dipicu oleh keputusan Berkshire Hathaway Inc. untuk melepas hampir 50% saham Apple Inc., sebuah sinyal bahwa kondisi ekonomi AS sedang bermasalah.

Untuk mengatasi situasi ini, pemerintah Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menciptakan pasar domestik yang kuat dan menahan laju impor barang jadi, serta mendorong produksi dan konsumsi dalam negeri melalui kebijakan strategis. Fenomena global ini, meskipun berasal dari Amerika Serikat, diperkirakan akan membawa dampak signifikan pada perekonomian Indonesia.

Pemerintah Dorong Ekspor Produk Premium Hasil Hilirisasi SDA

06 Aug 2024

Produk premium hasil penghiliran sumber daya alam Indonesia menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor komoditas nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa Indonesia akan terus mengembangkan sumber daya alam melalui proses hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk yang berorientasi ekspor. Beberapa komoditas yang berpotensi menjadi andalan ekspor baru meliputi kopi, teh, buah, kakao, dan susu, yang diolah sesuai dengan standar kualitas terbaik agar dapat dipromosikan sebagai produk unggulan Indonesia.

Agus Gumiwang juga menekankan bahwa tren global saat ini bergerak menuju fase konsumen yang lebih fokus pada produk berkualitas tinggi dan diproses secara berkelanjutan dengan teknologi terkini. Contohnya, pada Specialty Coffee Expo di Amerika Serikat, 12 pelaku industri kopi specialty Indonesia berhasil mempromosikan produknya dengan potensi transaksi mencapai US$27,1 juta.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa untuk mendorong konsumsi dan permintaan pasar produk olahan makanan dan minuman premium, pihaknya mengadakan pertemuan bisnis "Specialty Indonesia" pada 5—8 Agustus 2024 di Jakarta. Acara ini diikuti oleh 44 perusahaan industri sektor makanan dan minuman, dengan tujuan mendorong perkembangan produk unggulan serta mempertemukan pelaku usaha dengan para pembeli dan menarik minat masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam substitusi impor, penguasaan pasar dalam negeri, pengembangan potensi ekspor, serta perkembangan produk specialty .

Anjloknya Bursa Saham Internasional

06 Aug 2024

Bursa sejumlah negara anjlok pada perdagangan Senin (5/8). Uang kripto pun tidak selamat dari guncangan global ini. Dampaknya, desakan penurunan suku bunga bank sentral semakin menggema. Harga bitcoin terkoreksi 15 % dan ethereum terpangkas 22 %. Mata uang kripto lain juga terpantau turun, seperti solana yang terpangkas 18 %. Sementara BNB turun 19 %. Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup turun 3,4 %. Nikkei Jepang anjlok 12,4 % karena kehilangan 4.451 poin. Terakhir kali kinerja Nikkei seburuk itu tercatat pada 19 Oktober 1987, yang dikenal sebagai ”Black Monday” dan bursa di sejumlah negara anjlok. Kini, bursa sejumlah negara terkoreksi habis-habisan.

Taiex Taiwan merosot 8,4 %, penurunan terburuk dalam 57 tahun terakhir. Sementara Kospi Korsel ditutup turun 8,8 %. Otoritas bursa Korsel dan Jepang memutuskan penundaan perdagangan akibat perkembangan perdagangan itu, untuk mencegah kepanikan berlanjut gara-gara indeks terus merosot. Bursa Hong Kong, Hang Seng, dan China, Shanghai Composite, lebih lega karena hanya turun masing-masing 2,3 % dan 1,3 %. Indeks Australia, S&P/ASX 200, kehilangan 3,7 %. Kondisi Eropa juga tidak baik. DAX Jerman, CAC Perancis, FTSE Inggris, dan IBEX Spanyol terkoreksi lebih dari 3 %. Europe 600, indeks bursa gabungan Eropa, terkoreksi 3,11 %. Indeks bursa berjangka AS pada Senin mencatat penurunan. DOW turun 800 poin atau 2 %. S&P 500 terpangkas 2,9 %.

Nasdaq anjlok 4,2 %. Dalam pembukaan perdagangan Senin, DOW langsung terpangkas 1.072 poin atau 2,7 %. Sementara S&P 500 terkoreksi 4,1 % dan Nasdaq merosot 6,3 %. Sementara itu, CBOE Volatility Index yang memantau tingkat gejolak bursa AS mencapai 55 poin. Terakhir kali indeks itu melewati 50 poin ter catat pada awal pandemi. Pialang dan investor cemas kenaikan bunga akan membuat yen menguat terhadap dollar dan mata uang lain. Penguatan yen mengurangi pendapatan eksportir, emiten utama Nikkei. Toyota dan Subaru merupakan raksasa otomotif sekaligus di Nikkei. Emiten otomotif mengandalkan hasil ekspor sebagai pendapatan mereka. Penguatan yen berarti pengurangan keuntungan eksportir. Jika kurs naik 1 yen, keuntungan terkoreksi sampai 10 miliar yen. (Yoga)