;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

KINERJA Emiten Besar Mengendalikan Arah Bursa Saham

05 Aug 2024

Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah merilis laporan keuangan periode semester I-2024. Di barisan 20 market cap terbesar, ada 16 emiten yang sudah mengumumkan kinerja enam bulan pertama tahun ini. Hingga menutup perdagangan akhir pekan lalu (2/8), 20 penguasa market cap emiten di sektor komoditas, perbankan, konsumer dan industri. Jika ditotal, nilai market cap 20 emiten tersebut mencapai 7.905,72 triliun. Nilai ini setara 63,69% dari total market cap BEI sebesar Rp 12.410 triliun. Dus, dengan kapitalisasi pasarjumbo, 20 emiten big cap bisa jadi penggerak dan pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan pekan lalu, IHSG bertengger di 7.308,12. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, IHSG naik sebesar 0,49%. Sebagai gambaran, posisi 10 teratas market cap diduduki PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Selain itu, ada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Berikutnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Astra International Tbk (ASII). Selebihnya dihuni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menilai, kinerja emiten big caps yang bervariasi cenderung sesuai ekspektasi. Realisasi kinerja itu menunjukkan kondisi setiap sektor industri dan strategi masing-masing emiten menyesuaikan diri dengan dinamika bisnis. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Riska Afriani sepakat, kinerja emiten big caps pada paruh pertama tahun ini relatif sesuai ekspektasi. Riska menyoroti pertumbuhan kinerja emiten bank, yang menandakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah tahun politik dan sejumlah tantangan ekonomi. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengatakan, peluang emiten big caps memperbaiki kinerja di semester II-2024 semakin terbuka. Terlebih, ada harapan pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada September nanti dan ada transisi pemerintahan di bulan Oktober. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama memperkirakan, kinerja para emiten yang positif di semester I-2024 berpeluang kembali terapresiasi hingga akhir tahun ini. "Harga saham emiten itu juga akan semakin terapresiasi," ujarnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menimpali, di semester II, kinerja sejumlah emiten big caps masih akan moncer. Sentimen utamanya adalah Pilkada 2024 di akhir tahun nanti. Transisi pemerintahan dan pemilihan kabinet juga memberikan sentimen positif.

JALAN PANJANG DALAM PROSES MENUJU NEGARA KELAS SATU

05 Aug 2024

Perjalanan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dinilai masih sangat panjang. Hal ini mengingat laju pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita Indonesia tumbuh melambat. Bank Dunia menyatakan, lebih dari 108 negara, termasuk Indonesia, China, Argentina, Brasil dan India masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah (middle income countries) dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita berkisar US$ 1.136 hingga US$ 13.845. Berdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk World Development Report 2024: The Middle Income Trap, negara-negara ini merupakan rumah bagi 6 miliar orang yang setara  75% populasi global, serta menghasilkan lebih dari 40% PDB global. Dalam laporan tersebut, Indonesia memang masuk kategori upper middle income countries atau negara berpendapatan menengah-atas. GNI per kapita Indonesia mencapai US$ 4,870 pada tahun 2023. Namun, posisi Indonesia paling rendah dibandingkan 11 negara lain yang masuk kategori ini. Misalnya, Rusia mencatatkan GNI per kapita US$ 14.250.

Kemudian China membukukan US$ 13.400. Bahkan Malaysia mencatat GNI per kapita jauh di atas Indonesia, yakni US$ 11.970. Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill memprediksi Indonesia setidaknya membutuhkan waktu 70 tahun untuk bisa mencapai pendapatan per kapita setara negara maju alias high income countries. Bank Dunia menilai ada sejumlah faktor yang membuat negara-negara berpendapatan menengah terjebak dalam stagnasi ekonomi, mulai dari penuaan populasi, peningkatan proteksionisme, serta kebutuhan transisi energi. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menghitung, jika pertumbuhan GNI per kapita Indonesia ke depan masih sama dengan rata-rata pertumbuhan dalam satu dekade terakhir di level 2,75% per tahun, maka perlu 39 tahun bagi Indonesia untuk memasuki era pendapatan kelas atas atau US$ 14.005 per kapita. Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menambahkan, program pembangunan infrastruktur secara merata harus tetap dilakukan. Juga memacu hilirisasi bukan hanya di sektor pertambangan, namun juga pertanian dan perkebunan.

Saham Komoditas dan Perbankan Semakin Menguat

05 Aug 2024
Saham berbasis komoditas dan perbankan masih mendominasi barisan top leaders penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sedangkan saham yang pergerakan harganya masih tertinggal (laggards) diisi emiten dari sektor beragam. Sejak awal tahun ini hingga perdagangan Jumat (2/8), 10 besar saham top leaders dihuni saham-saham dengan kapitalisasi jumbo (lihat tabel). Sedangkan top 10 saham laggards ditempati oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Lalu ada PT Astra International Tbk (ASII), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, pergerakan saham penggerak (movers) IHSG relatif sudah priced in dengan kinerja emiten dan prospek bisnis mereka. Faktor kondisi ekonomi makro akan tetap menjadi katalis penting yang dicermati pelaku pasar. Di sisi lain, suku bunga tinggi saat ini masih berkorelasi negatif terhadap sektor teknologi yang \ jadi pemberat indeks. Seperti GOTO, secara year to date mengakumulasi penurunan 38,37% dan BUKA melorot 45,37%. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana merekomendasikan spekulasi beli BBCA, ADRO, SMGR dan BRPT dengan target harga masing-masing Rp 10.550, Rp 3.500, Rp 4.200 dan Rp 1.250 per saham.

Kompetisi Ketat di Sektor Telekomunikasi

05 Aug 2024

Kinerja emiten telekomunikasi diprediksi masih akan tumbuh positif pada 2024. Didukung peningkatan penetrasi internet di Indonesia yang masih berlanjut. Pada sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan Indosat Tbk (ISAT) telah memaparkan kinerja semester I-2024. TLKM masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan 2,47% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 75,29 triliun. Tapi laba bersih turun 7,8% menjadi Rp 11,76 triliun. Ini disebabkan kenaikan beberapa pos beban. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus melihat tren kenaikan penetrasi internet masih akan berlanjut, mengingat tingkat penetrasi internet di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara Asia lain. Ditambah, perkembangan ekosistem digital di Indonesia masih berkembang. Namun, dia menegaskan ekosistem digital tidak akan ada artinya jika tidak didukung dengan infrastruktur yang dibangun. Apalagi seperti di luar daerah yang masih banyak merasakan susah sinyal.

Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur, juga dapat menjadi sentimen positif untuk meningkatkan kinerja industri telekomunikasi. Terlebih, ada rencana merger antara FREN dan EXCL akan menjadi katalis positif bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sentimen pasar terhadap sektor emiten telekomunikasi saat ini cenderung positif, terutama dengan meningkatnya penetrasi internet dan kebutuhan akan konektivitas yang semakin tinggi. Untuk ISAT, meskipun mengalami pertumbuhan kinerja di semester I-2024, namun dengan peningkatan piutang usaha senilai Rp 3 triliun yang belum tertagih, dapat memberikan tekanan negatif terhadap harga saham ISAT. Dengan begitu, Sukarno merekomendasikan wait and see ISAT dengan target harga Rp 11.100–Rp 11.400 per saham. Untuk TLKM, Sukarno mengatakan kinerjanya secara jangka panjang masih baik, dari valuasinya yang semakin menarik. Hal ini tercermin dari harga saat ini yang sudah undervalued

Ekonomi Lemah menurunkan Daya Beli

05 Aug 2024
Sejumlah ekonom menginformasikan daya beli masyarakat  melemah tahun ini, terlihat pada turunnnya penjualan semen dan otomotif, deflasi berkepanjangan, maraknya manufaktur pada Juli 2024, pertama sejak Agustus 2021. Keadaan ini dikhawatirkan bisa menggerus pertumbuhan ekonomi nasional. Per Juni 2024, berdasarkan data BRI Danareksa Sekuritas, penjualan semen turun 0,3% sedangkan di Juni turun 2,8%. Penjualan semen kantong menurun 1,9% sepanjang tahun ini. Sementara itu, penjualan mobil merosot 19% menjadi 408 ribu unit selama semester I-2024, sedangkan sepeda motor 1%. Selama ini, penjualan semen dan otomotif merupakan salah satu indikator daya beli masyarakat. (Yetede)

Tumbuh Kembang Asean di usia 57 Tahun

05 Aug 2024
Pada tanggal 8 Agustus 2024 masyarakat di kawasan ini akan memperingati 57 tahun eksistensi Asean yang dibentuk pada tahun 1967 di Bankok oleh lima negara pendirinya- Indonesia ,Thailand Malaysia, Filipina, dan Singapura. Asean dibentuk pada masa Perang Dingin untuk mencipatakan stabilitas dan mendorong kerja sama disebuah kawasan yang sering diterjang  oleh turbulensi politik ini. Seiring berjalannya waktu, Asean memberikan penekanan lebih besar pada upaya pendorong pembangunan ekonomi dan pertukaran budaya diantara anggotanya, mempertahankan perdamaian dan stabilitas kawasan, dan membangun hubungan yang lebih erat dengan kekuatan-kekuatan asing yang dimiliki visi yang sama. Arti penting dan strategis antar Asia Tenggara tidak dapat  dianggap rendah. (Yetede) 

IHSG Bergerak Menguat

05 Aug 2024
Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI diprediksi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat (mixed to higher) pada pekan ini. Meski, potensi penguatannya cenderung terbatas, IHSG agar bergerak terus mencoba menguji resistance 7.354 dan selanjutnya di 7.423. "IHSG bisa mix to higher, terutama kita akan mencermati data GDP Indonesia yang akan diperkirakan bagus pada kuartal II. Jadi ini yang bisa membuat terhindarnya  dari resesi teknikal," kata Senior Technical Analyst Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusti. Nafan mengungkapkan, sentiman masih akan datang dari dinamika The Fed. "Adanya harapan kuat bahwa pasar memperkirakan bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya di bulan September," ujar dia. (Yetede(

Kredit Macet UMKM

05 Aug 2024

Prospek UMKM untuk bertumbuh masih besar, namun dampak dari berakhirnya kebijakan restrukturisasi terdampak Covid-19 diprediksi masih akan terasa bagi debitur UMKM. Hal ini akan mengakibatkan potensi risiko kredit macet UMKM juga akan naik, sehingga pemerintah tengah menggodok skema kebijakan restrukturisasi utamanya untuk kredit usaha rakyat (KUR). OJK menyatakan rencana berkepanjangan restrukturisasi KUR sedang dimatangkan oleh tiga kementerian. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, pemerintah mengusulkan skema atau kriteria yang perlu diberikan rileksasi kebijakan ini, termasuk periode akad atau pencairan kredit oleh debitur. (Yetede)

Masyarakat Berdaya Beli Lemah

05 Aug 2024
PUPUS sudah harapan Nauroh untuk membeli kendaraan bermotor tahun ini. Anak pertama dari lima bersaudara itu awalnya berniat membeli sepeda motor untuk alat transportasi keluarganya. Saat ini keluarga Nauroh hanya memiliki dua sepeda motor yang digunakan bergantian.  Meski tabungannya sudah cukup, Nauroh terpaksa mengurungkan niatnya demi berhemat. Pekerja lepas 28 tahun itu waswas dan berpikir dua kali sebelum membelanjakan tabungannya di luar kebutuhan primer. Terlebih, dia dan adik-adiknya masih membutuhkan uang untuk biaya pendidikan. 

"Sebetulnya butuh banget beli kendaraan," ucap pekerja bidang pendidikan anak di Jakarta itu kepada Tempo, Ahad, 4 Agustus 2024. Jumlah penjualan kendaraan bermotor tahun ini turun signifikan. Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia mencatat angka penjualan sepeda motor domestik sepanjang Januari-Mei 2024 turun 1,78 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu menjadi 2,65 juta unit. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia pun mencatat jumlah penjualan mobil pada Januari-Mei 2024 turun 21 persen secara tahunan menjadi 334.969 unit.

Penurunan angka penjualan kendaraan bermotor diduga terjadi karena daya beli masyarakat yang makin lemah. Sinyal pelemahan daya beli juga makin terlihat dari deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut. Badan Pusat Statistik mencatat tingkat deflasi secara bulanan pada Juli 2024 lebih dalam dibanding pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,18 persen. Pada Juni 2024, deflasi sebesar 0,08 persen, sedangkan pada Mei 0,03 persen. (Yetede)

Berebut Pengaruh UU TNI dan Polri

05 Aug 2024
KETUA Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menolak merevisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia dan revisi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Polri. Perintah tersebut diteruskan kepada para kader, termasuk mereka yang berada di Dewan Perwakilan Rakyat. Megawati menolak dua pasal penting dalam revisi UU TNI, yakni Pasal 47 ayat 2 tentang prajurit aktif yang boleh menduduki jabatan sipil dan Pasal 53 tentang penambahan batas masa pensiun TNI. Dua pasal ini akan mengembalikan dwifungsi ABRI yang dihapus sejak Reformasi 1998. Meski ada penolakan PDIP, Badan Legislasi DPR memastikan tetap melanjutkan pembahasan dua undang-undang tersebut dengan alasan surat presiden yang menjadi pengantar perubahan itu sudah terbit. Bagaimana sikap sejumlah fraksi? (Yetede)