Ekonomi
( 40554 )Realisasi Penyaluran Kredit Bank Mandiri Kuartal II/2024 Tembus Rp1.532 Triliun
Bank Mandiri mencatatkan realisasi penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, meningkat 20,5% secara year-on-year (YoY). Pencapaian ini melampaui pertumbuhan industri perbankan nasional yang sebesar 12,36% YoY pada periode yang sama. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyatakan bahwa hasil ini didukung oleh stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global, serta fokus Bank Mandiri pada perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi wilayah.
Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan hingga mencapai Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, berkat strategi perluasan ekosistem dan pengelolaan risiko yang disiplin. Pertumbuhan kredit ini juga berkontribusi pada peningkatan laba bersih dan kualitas aset, dengan posisi non-performing loan (NPL) yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Darmawan Junaidi menegaskan bahwa kinerja positif ini merupakan hasil dari inisiatif yang prudent dan konservatif dalam menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi global.
SERBUAN BARANG IMPOR : UMKM Perlu Naikkan Kualitas
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan kualitas produk lokal agar dapat bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki menegaskan bahwa model bisnis UMKM harus efisien dan kompetitif dibandingkan dengan produk luar negeri.
Pemerintah melalui Kemenkop UKM dan berbagai ahli menekankan pentingnya meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM di tengah gempuran produk impor. Selain itu, pengawasan terhadap jalur masuk barang ilegal, termasuk pelabuhan kecil atau "pelabuhan tikus," harus diperketat untuk melindungi produk lokal dari persaingan yang tidak sehat.
Sorak Sorai di Bulan Kemerdekaan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak positif sepanjang bulan Agustus ini. Secara historis, IHSG cenderung memberi return positif pada bulan kemerdekaan. Di akhir bulan Juli ini, IHSG ditutup naik 0,19% ke posisi 7.255,76, Rabu (31/7). Dalam sebulan terakhir, IHSG menanjak 1,63%. IHSG berpeluang bertahan di atas level psikologis 7.000 sepanjang bulan Agustus 2024 ini. Pasar saham dalam negeri diramal akan mendapatkan sentimen positif dari pemangkasan suku bunga. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga menjelaskan, ada beberapa sentimen penting yang berpotensi mempengaruhi pergerakan IHSG bulan ini. Salah satunya adalah rilis laporan keuangan kuartal kedua emiten. Selain itu, data produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang dijadwalkan rilis pada 5 Agustus mendatang akan sangat mempengaruhi pergerakan pasar. Jika PDB Indonesia berada di atas ekspektasi, IHSG akan bergerak positif dan sebaliknya.
"Jika terealisasi, ini tentu akan memberikan dampak positif bagi IHSG. Kebijakan moneter yang lebih longgar di AS berpotensi meningkatkan minat terhadap aset berisiko di emerging market," kata Aditya, Rabu (31/7). Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara historis pergerakan IHSG di Agustus cenderung sideways, tetapi relatif positif. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG hanya memerah 3 kali di bulan Agustus. Secara teknikal, Nafan mencermati IHSG memiliki rentang terdekat berdasarkan minor parallel channel pada 7.199-7.354. Selama masih bertahan di atas 7.199, IHSG berpotensi menguji resistance 7.354. Tapi, jika IHSG breakdown dari 7.199, terdapat 61,8% retracement support di level 7.104 yang kemungkinan akan diuji. Aditya merekomendasikan saham INDF dengan nilai wajar Rp 7.842, TOWR di Rp 860 dan CTRA di Rp 1.390. Sedang Nafan menjagokan ACES, AKRA, ANTM, ASII, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BSDE, CPIN, CTRA, ERRA, INDF, INDY, ITMG, MAPI, MDKA dan TLKM.
Komplet Sudah Tanda Ekonomi Tidak Baik-Baik Saja
Lengkap sudah sinyal kelesuan ekonomi dalam negeri. Jika tak sigap menanganinya, ekonomi Indonesia terancam masuk krisis. Setidaknya ada tiga faktor yang menunjukkan ekonomi nasional sedang lesu. Pertama, data Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juli 2024 melorot ke level 49,7. Ini adalah level terendah sejak Agustus 2021 atau di masa pandemi Covid-19. Indeks di bawah 50 menunjukkan kinerja manufaktur terkontraksi. Di ASEAN, Indonesia memang tak sendirian. Pelemahan manufaktur juga dialami Malaysia dan Myanmar. Namun kinerja manufaktur Filipina, Thailand dan Vietnam masih di fase ekspansi, yakni masing-masing 51,2, 51,7, dan 54,7 berdasarkan laporan S&P Global. Indikator kedua, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kian membesar. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, jumlah karyawan yang terkena PHK per Juni 2024 mencapai 32.064 orang atau naik 21,45% dari periode sama tahun lalu yang mencapai 26.400 orang. Sinyal ketiga, Indeks Harga Konsumen (IHK) selama tiga bulan berturut-turut mencatatkan deflasi.
Terbaru, pada Juli 2024, deflasi di level 0,18%, lebih dalam ketimbang Mei sebesar 0,03% dan Juni 0,08%. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan wholesales mobil nasional turun 19,4% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Januari-Juni 2024. Penjualan ritel mobil juga turun 14% yoy di periode itu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan memantau kondisi PMI yang terkontraksi saat ini. "Tentu kita lihat situasinya karena di negara-negara lain masih di atas 50, terutama di ASEAN," kata dia, kemarin. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat, kondisi industri manufaktur, terutama padat karya terus melemah dan memicu PHK. "Kondisi investasi yang baru juga belum mampu meningkatkan serapan tenaga kerja," terang dia. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi dan merangsang permintaan dalam negeri. "Ini bisa dilakukan dengan memberi insentif fiskal seperti pemotongan pajak untuk industri manufaktur guna mengurangi biaya beban produksi," kata dia, kemarin.
Meretas Jalan Panjang Menuju Profitabilitas
Tiga emiten teknologi dan e-commerce terbesar di bursa, telah merilis kinerja untuk semester I-2024. Meski masih menderita kerugian, tetapi mayoritas emiten ini menunjukkan perbaikan dan pertumbuhan kinerja keuangan. Tengok saja PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang mengantongi pendapatan bersih Rp 7,73 triliun. Angkanya meningkat 12,4% secara tahunan atau year on year (yoy). Sejalan dengan itu, beban dan biaya GOTO menurun. Alhasil, posisi kerugian GOTO terkikis hingga 62,3% yoy. Rugi GOTO pun tersisa Rp 2,69 triliun. Hanya saja, pertumbuhan pendapatan BELI tak setinggi pesaingnya, yaitu hanya tumbuh 0,99% menjadi Rp 7,85 triliun. Ronald Winardi, Chief Financial Officer Global Digital Niaga mengatakan, strategi pertumbuhan omnichannel yang selektif, meningkatkan laba bruto. Selain itu, pengendalian biaya yang disiplin efektif meningkatkan kinerja. Tapi berbeda dari dua emiten sebelumnya, rugi bersih PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) justru membengkak. Tapi, hal ini lebih disebabkan kerugian investasi.
Pendapatan BUKA sejatinya masih naik 10,61% yoy jadi Rp 2,41 triliun di semester I-2024. Sayangnya, rugi nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi bersih membengkak menjadi Rp 1,32 triliun di semester I-2024. Dus, rugi bersih BUKA melebar 93,16% menjadi Rp 751,9 miliar. Presiden Direktur Bukalapak Teddy Oetomo bilang, Ramadan yang jatuh pada Maret 2024 menjadi periode tertinggi dan sudah tercatat di kuartal I-2024. Tapi, perayaan Idul Fitri yang diikuti musim liburan, menunjukkan penurunan tingkat belanja. Investment Analyst Stockbit Sekuritas Edi Chandren mengatakan, libur Lebaran mengurangi kontribusi layanan BUKA yang memiliki take rate lebih tinggi. Selain itu, layanan produk virtual, seperti pulsa dan token listrik, mendapatkan tantangan dari beberapa kompetitor kecil di daerah, yang direspon oleh perseroan dengan menurunkan biaya layanan demi jaga permintaan. Equity Analyst Mirae Asset Sekuritas Christopher Rusli menjelaskan, perusahaan teknologi tengah berfokus pada profitabilitas. Pasalnya, biaya pendanaan makin meningkat dan investor memprioritaskan profitabilitas. Merespons rilis kinerja ini, sejumlah saham teknologi mulai naik. Saham GOTO misalnya, parkir di Rp 54, Kamis (1/8).
Grup Barito Tetap Andalkan Ekspansi
Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu membukukan kinerja beragam di paruh pertama tahun ini. Contoh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang berperan sebagai induk usaha. BRPT meraih laba bersih US$ 34,49 juta, setara Rp 560,01 miliar di semester I-2024. Angka ini naik 13,60% secara tahunan dari US$ 30,36 juta. Lonjakan laba terjadi di tengah merosotnya pendapatan BRPT 16,05% secara tahunan. Pendapatan BRPT ditopang segmen petrokimia senilai US$ 866 juta dan energi US$ 290 juta, yang masing-masing turun 19,4% dan 2,4% secara tahunan. Sedangkan pendapatan BRPT dari segmen lainnya stabil di level US$ 3 juta. Direktur Utama Barito Pacific Agus Pangestu menjelaskan, penurunan pendapatan konsolidasi terutama dipicu volatilitas sektor petrokimia global. Bersamaan dengan itu, ada turnaround maintenance (TAM) terjadwal, yang berimbas ke penurunan volume penjualan keseluruhan. Misalnya, penuntasan pembangkit listrik Jawa 9 dan 10 berkapasitas 2x1.000 megawatt, penyelesaian akuisisi aset Shell di Singapura, hingga penambahan kapasitas pembangkit listrik panas bumi di PLTP Salak.
Tantangan di bisnis petrokimia juga berdampak terhadap kinerja anak usaha BRPT, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Pendapatan TPIA di enam bulan pertama tahun ini turun 19,34% secara tahunan menjadi US$ 866,49 juta dari US$ 1,07 miliar di semester I-2023. Alhasil, rugi TPIA naik di semester I-2024. Suryandi, Direktur Chandra Asri Pacific menyatakan, kinerja TPIA dipengaruhi pasar global yang penuh tantangan dan pemeliharaan terjadwal pada kuartal II-2024. Ini jadi pemicu penjualan TPIA merosot di semester I-2024 menjadi 91 kiloton, turun dari 105 kiloton di semester I-2023. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mencermati, di tengah rilis kinerja, saham emiten Grup Barito melaju. Tapi, ada faktor eksternal yang membuat saham Grup Barito melesat. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal ada potensi koreksi jangka pendek saham BRPT dan BREN. Kemarin, saham BRPT naik 2,75% jadi Rp 1.120, TPIA naik 1,81% ke Rp 9.825 dan BREN naik 0,29% ke Rp 8.675. CUAN stagnan di Rp 8.475.
”Mini-soccer”, Peluang dari Keterbatasan
Wahana mini-soccer, alternatif baru di tengah keterbatasan sarana olahraga di Pontianak, Kalbar. Rezeki pun mengalir pada usaha lain di sekitarnya. Ferdi (15) melompat sembari memutar tubuhnya ala megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo. Dia baru mencetak gol di arena ANS Mini Football di Jalan Pancasila, Pontianak, Kalbar, Sabtu (27/7). Di lapangan berukuran 37 x 55 meter, siswa kelas IX SMPN 17 Pontianak itu mengisi akhir pekan dengan bermain mini-soccer atau sepak bola mini bersama belasan rekannya, yang terdiri atas 16 orang, terbagi dalam dua tim. Setiap tim diisi tujuh orang. Sisanya menjadi pemain cadangan. Tidak terasa, satu jam berlalu. Suara bel berbunyi, penanda pertandingan usai. Pertandingan berakhir 6-5 untuk kemenangan Ferdi dan kawan-kawan.
Siapa yang menang dan kalah tak penting, semua pemain berkumpul membentuk barisan. Mereka berpose ala tim profesional. Dari tepi lapangan, seorang fotografer mengabadikan pose itu dan sejumlah momen selama pertandingan. ”Biasanya, akhir pekan atau pulang sekolah kami bermain mini-soccer. Lapangan di sini lebih rata sehingga passing bola terarah dan tidak becek,” ujar Ferdi yang sebelumnya lebih banyak bermain di lapangan sepak bola, namun terkendala lapangan bergelombang dan lumpur saat musim hujan karena lahan di Pontianak adalah tanah gambut. Tumbuhnya mini-soccer di Pontianak setahun lalu, menjadi arena baru penyaluran hobi ”penggila bola”.
Lukman Hakim (44), warga Kubu Raya yang hobi bermain sepak bola, menuturkan, sebelumnya tidak mudah bermain bola dengan nyaman. Dari delapan lapangan sepak bola di Pontianak, hanya dua yang ideal. ”Kalau musim hujan, susah sekali bermain bola dengan nyaman,” katanya. Tak heran bila lapangan mini-soccer di Kota Pontianak kini kebanjiran penggila bola. Tercatat ada 12 tempat yang tidak pernah kekurangan konsumen. Pagi hingga malam hari, selalu saja ada yang bermain bola dengan biaya Rp 350.000-Rp 850.000 per jam. Hujan tak masalah karena lapangan bisa mengalirkan air dengan baik. Ageng Novly Satriadi, pemilik ANS Mini Football, menyebutkan, wahana mini-soccer miliknya berdiri pada Desember 2023.
Dari sisi peluang bisnis, wahana ini menjanjikan di tengah kurangnya lapangan sepak bola representatif. ”Sejak awal buka hingga kini ada 130 tim bermain di sini dan rutin. Dalam sehari ada 5-6 kelompok. Harga sewa lapangan Rp 500.000 per jam pada siang hingga sore. Saat malam, harganya Rp 700.000 per jam karena perlu biaya penerangan,” tuturnya. Keberadaan mini-soccer juga membuka ceruk ekonomi lain. Salah satunya jasa fotografer. Agus Salim, fotografer di Pontianak, menuturkan, ”Dengan tarif Rp 350.000 per pertandingan di wahana mini-soccer, bisa dapat Rp 30 juta-Rp 40 juta per bulan. Sebagian uangnya sudah saya gunakan untuk membuat rumah,” kata Agus yang memotret di wahana mini-soccer sejak setahun lalu. (Yoga)
Feodalisme di Perusahaan
Sebagian besar perusahaan besar, terutama perusahaan multinasional, berisi orang yang belagak dan sombong. Di perusahaan yang mayoritas berisi lulusan dari luar negeri juga muncul fenomena yang sama. Ketika mendapat masalah, mereka sulit menemukan jalan keluar. Aalah satu sikap yang dekat dengan masalah itu dan banyak menjadi pembahasan adalah feodalisme di korporasi, yang muncul karena kultur lama di perusahaan yang hadir karena masyarakatnya memang lekat dengan feodalisme. Ada juga feodalisme korporasi yang muncul karena sistem ekonomi.
Tahun 2022, Adam Drakos menulis di laman ThinkingWest, menyebut, feodalisme korporasi adalah sistem di mana warga negara menjadi sangat bergantung pada beberapa sistem ultramonopoli yang kuat untuk sebagian besar aspek kehidupan sehari-hari. Monopoli yang mengendalikan mampu memberikan pengaruh yang semakin besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kebutuhan dasar, seperti makanan, perumahan, dan transportasi, dikendalikan oleh perusahaan multinasional. Kekuatan mereka makin menjadi-jadi ketika pemerintah tak mampu mengatur mereka.
Fenomena ini terjadi di Indonesia, terutama di perusahaan teknologi. Sejumlah perusahaan yang hadir kerap dipuji birokrasi hingga membesar dan tak sedikit yang melekat pada pemerintah. Perusahaan lama juga memiliki potensi jebakan yang sama, seperti perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia dan BUMN. Mereka bisa menjadi kerajaan-kerajaan baru yang bisa mengatur berbagai sendi kehidupan warga. Feodalisme di perusahaan menjadi masalah karena menghambat inovasi. Tidak sedikit perusahaan di Indonesia sulit melakukan perubahan karena kultur feodal yang kuat.
Contohnya, proyek mikro yang bisa diputuskan oleh level menengah harus menunggu persetujuan direksi. Sementara direksi urusannya terlalu banyak hingga proyek ini terbengkalai dalam waktu lama. Kultur itu harus dihilangkan ketika harus berinovasi. Tak ada cara yang manjur selain mengubah sikap sombong dan mulai menjadi pendengar. Setiap kali mendengarkan, solusi sudah ada di antara kalimat-kalimat yang diucapkan oleh konsumen, publik, peneliti, dan juga pihak lain. (Yoga)
Kinerja Manufaktur
Setelah berada dalam zona ekspansi selama 34 bulan berturut-turut, kinerja industri manufaktur Indonesia masuk ke zona kontraksi pada Juli 2024, disebabkan berbagai tekanan, seperti penurunan permintaan, gangguan distribusi dan kenaikan biaya produksi. Terakhir kali Indonesia masuk ke zona kontraksi pada Agustus 2021. Mengutip Purchasing Manager’s Index/PMI Indonesia pada Juli 2024 yang dirilis S&P Global, posisi Indonesia anjlok pada level 49,3 atau turun 1,4 poin dibanding Juni 2024 di level 50,7. Indeks di bawah 50 % menunjukkan industri tengah terkontraksi.
Economic Director S&P Global Market Intelligence Paul Smith dalam siaran pers, Kamis (1/8) menjelaskan, penurunan indeks dipicu beberapa aspek, antara lain penurunan permintaan baru dan gangguan pasokan, sehingga menurunkan kapasitas produksi. Kondisi tersebut secara umum terjadi pada pasar dalam negeri ataupun global. Gangguan rantai pasok berkorelasi dengan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Waktu pengiriman barang menjadi lebih lama sehingga biaya distribusi turut melonjak. Kondisi ini membuat produsen manufaktur menjadi lebih waspada.
”Aktivitas manajer untuk belanja bahan baku produksi menurun. Padahal, belanja manajer ini mengindikasikan manufaktur tengah ekspansi. Saat belanjanya menurun, artinya kondisinya sedang terkontraksi. Namun, dunia usaha dinilai percaya diri dalam 12 bulan mendatang. Penjualan dan kondisi pasar akan membaik pada tahun depan,” ujar Paul. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Kamis, menyebut bahwa kebijakan relaksasi impor menyebabkan kinerja industri manufaktur dalam negeri merosot. (Yoga)
Kerajinan Dari Limbah Plastik
Pekerja menjahit lapisan limbah plastik dengan bahan parasut untuk produk tas belanja di bengkel produksi Rappo Indonesia di kawasan Sukamaju, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Rabu (31/7/2024). Produk kerajinan daur ulang ini telah menembus pasar domestik di Jakarta, Makassar, Bali, dan Surabaya. Harga produk kerajinan daur ulang dijual mulai dari Rp 99.000 hingga Rp 449.000 untuk tas mode. Sebanyak 90 persen pesanan berasal dari perusahaan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









