Ekonomi
( 40460 )Laba Bumi Resources Bangkit Kembali
Emiten terafiliasi Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sukses membukuan kenaikan laba bersih sebesar 3,78% pada semester satu 2024 menjadi US$ 84,91 juta atau setara Rp 1,38 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 81,82 juta. Kinerja ini cukup menggembirakan, mengingat pada 2023, laba bersih emiten batu bara ini longgar hingga 97,92% menjadi US$ 10,92 juta dibanding tahun sebelumnya US$ 525,27 juta. Capaian positif ini mampu diraih berkat keberhasilan perseroan melakukan efisiensi di berbagai lini. Mengingat, pendapatan pada enam bulan 2024 mengalami penurunan 32,77% menjadi US$ 595,84 juta dibandingkan paruh pertama 2023 yang senilai US$ 886,27 juta. Manajemen Bumi Resources dalam laporan keuangan yang dipublikasikan Rabu (31/7/2024) memaparkan, melemahnya pendapatan salah satunya disebabkan oleh turunnya pemasukan dari ekspor yang memberikan kontribusi US$ 534,57 juta dari sebelumnya US$ 870,43 juta. (Yetede)
Investasi Manufaktur yang Tak Pasti
Investasi manufaktur selama semester I-2024 meningkat 24,68% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy). namun, pertumbuhan investasi ini tidak sejalan dengan kondisi industri manufaktur yang sedang terjadi banyak pemutusan hubungan kerja dan gempuran impor. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menerangkan, industri manufaktur memiliki cakupan yang sangat luas dan sub-sektor manufaktur belum tentu juga mempengaruhi kinerja usaha dan employment-nya di sub-sektor lain, sehingga tidak bisa disamaratakan. "Karena yang terjadi sejauh ini di sektor manufaktur, umumnya ada disub-sektor manufaktur yang sebelumnya memang sudah tertekan kinerjanya baik dari sisi demand pasar maupun dari sisi supply (beban usaha)," kata dia. Dia menilai pertumbuhan investasi sangat dimungkin terjadi pada sub-sektor-sub-sektor manufaktur lain yang yang memiliki iklim usaha atau investasi yang menjanjikan. (Yetede)
Cadangan Besar
Iklim Investasi di Indonesia
Nasib Guru Honorer di Indonesia
BANK TERIMPIT BUNGA TINGGI
Iklim suku bunga tinggi rupanya mulai merepotkan perbankan. Buktinya, pendapatan bunga bersih yang biasanya moncer dan menjadi pilar penting penopang kinerja bank, kini mulai mepet, dampak dari biaya dana yang makin mahal. Beruntung, sejumlah bank dapat mengoptimalkan sumber pendapatan di luar bunga, sehingga dapat sedikit mengompensasi tekanan yang terjadi di lini pendapatan bunga. Alhasil, laba bersih pun masih sanggup tumbuh, setidaknya hingga semester pertama tahun ini. Manuver lainnya yang dilakukan perbankan yakni dengan menerapkan efisiensi, sembari menanti pelonggaran kebijakan moneter yang diharapkan terealisasi menjelang akhir tahun ini.
Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan bahwa kondisi bisnis saat ini memang ditandai oleh biaya dana yang tinggi dan risiko kredit berupa nonperforming loan (NPL) yang meningkat. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pun sudah tertekan dalam 2 tahun belakangan. Untuk diketahui, angka NIM diperoleh dari pembagian selisih pendapatan bunga dengan biaya bunga terhadap rata-rata aset yang menghasilkan bunga untuk periode tertentu. Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sunarso mengatakan bahwa tantangan utama perseroan adalah memastikan kualitas kredit UMKM tetap di level yang terkendali sembari menjaga likuiditas tetap mencukupi. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menuturkan bahwa kondisi yang menantang saat ini menyebabkan laju pertumbuhan laba kalangan bank pelat merah melambat. Namun, dia optimistis kinerja bank-bank BUMN bakal lebih baik pada paruh kedua tahun ini.
Kehati-hatian juga menjadi strategi PT Bank OCBC NISP Tbk. dalam mengamankan kinerja. Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja mengatakan di tengah tantangan kondisi ekonomi hingga saat ini, kinerja bank tetap tumbuh baik. Namun, katanya, perseroan tetap penuh kehati-hatian untuk bertumbuh secara berkesinambungan. Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon LP Napitupulu pun berpandangan serupa. Dia optimistis hingga akhir tahun ini perseroan mampu membukukan kinerja keuangan yang positif, meski kondisi likuiditas perseroan mengetat. Adapun, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa perseroan beruntung memiliki likuiditas yang relatif longgar saat ini. Namun, untuk menjaga pertumbuhan laba, perseroan berfokus pada pengendalian biaya. Executive Director Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan bahwa bisnis bank pada paruh pertama tahun ini dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi yang melambat dan likuiditas yang mengetat. Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan bahwa kinerja bisnis bank pada sisa tahun ini akan bergantung pada stabilitas kondisi global dan kepastian nasional setelah pergantian kepemimpinan negara.
Indeks Bisnis UMKM BRI Kuartal II/2024: Bisnis UMKM Mulai Membaik dan Prospektif
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) untuk kuartal II/2024, yang menunjukkan peningkatan ekspansi bisnis UMKM. Dalam publikasi tersebut, tercatat bahwa Indeks Bisnis UMKM naik menjadi 109,9 dari 102,9 pada kuartal sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh beberapa faktor seperti Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), perbaikan kondisi cuaca, serta peningkatan sektor konstruksi dan pariwisata. Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, menjelaskan bahwa meskipun ada perbaikan, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi tantangan seperti daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan kenaikan harga barang input.
Ekspansi bisnis UMKM pada kuartal II/2024 menunjukkan perbaikan yang signifikan, namun tetap dipengaruhi oleh faktor musiman seperti HBKN dan panen raya. BRI, sebagai penyalur kredit utama untuk segmen UMKM, terus mendukung pertumbuhan ekonomi dengan menyalurkan kredit berkualitas. Meskipun demikian, pelaku UMKM tetap waspada terhadap tantangan yang ada, dan diperkirakan ekspansi bisnis akan mengalami normalisasi di kuartal mendatang.
Mengejar Laba, Menjaga Intermediasi
Pada paruh pertama 2024 ini, industri perbankan mampu mencetak kinerja positif dengan raupan laba triliunan rupiah. Namun, berbagai tantangan masih memengaruhi pencapaian indikator keuangan mereka. Pertumbuhan laba industri perbankan pada semester pertama tahun ini tak secemerlang periode yang sama tahun lalu. Beban biaya dana yang menjulang di tengah era suku bunga tinggi membuat bank-bank kerepotan. Sejak Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan hingga kini bertahan di level 6,25%, bank-bank terpaksa harus bersiasat. Di satu sisi, tingkat bunga yang naik biasanya diterjemahkan sebagai kondisi yang akan menguntungkan pendapatan bank, terutama dari bunga kredit. Pendapatan naik, laba bank bisa melesat. Saham emiten bank pun mendapatkan sentimen positif. Selain itu, bunga yang tinggi membuat bank meraup dana pihak ketiga, terutama dana mahal deposito yang tumbuh pesat. Hal ini menjadikan likuiditas yang ada di perbankan bertumpuk. Akan tetapi, dana deposito berlebih di tengah kredit yang tersendat menjadi beban bagi bank. Penyaluran kredit bank memang bertumbuh tetapi tak fantastis.
Setelah secara beruntun terus menanjak dari awal tahun hingga tumbuh menembus 13,09% (YoY) pada April 2024, kucuran kredit sedikit tersendat pada Mei dan Juni 2024 dengan tumbuh lebih rendah masing-masing 12,15% (YoY) dan 12,36% (YoY). Selama ini, bank berupaya meningkatkan produktivitas dana tersebut dengan cara menempatkannya di instrumen investasi surat berharga, dalam hal ini surat berharga negara (SBN). Bahkan, mereka menyerbu instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) karena mendapatkan bunga sangat menarik. Ini salah satu konsekuensi logis dari rezim bunga tinggi. Kualitas aset bank juga menjadi sorotan karena terdampak dari tingkat kredit bermasalah (NPL) di beberapa sektor ekonomi. Bank harus menyediakan cadangan kerugian kredit yang lebih besar, dan ini mengurangi laba bersih. Pengawasan ketat dari regulator juga menambah beban biaya kepatuhan yang harus ditanggung dan tak bisa dihindari oleh bank. Karena itu, bank harus lebih selektif dalam memberikan kredit untuk menjaga profitabilitas. Bank-bank besar yang telah berinvestasi dalam digitalisasi menikmati peningkatan transaksi digital, yang memberikan pendapatan nonbunga yang stabil dan bertumbuh. Kerja sama bank dengan fintech dan e-commerce juga memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan fee-based income.
PERUNDINGAN FTA: RI BUKA JALAN PEMANGKASAN DEFISIT DAGANG
Upaya Kementerian Perdagangan Indonesia untuk mengurangi defisit nilai perdagangan dengan negara-negara Teluk, yang mencapai US$3,5 miliar per tahun. Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa defisit ini disebabkan oleh kurangnya variasi komoditas yang diperdagangkan dan lebih dominannya sektor jasa tenaga kerja dibandingkan perdagangan barang. Untuk mengatasi hal ini, Indonesia dan negara-negara Teluk telah meluncurkan Perundingan Perdagangan Bebas (FTA) Indonesia-Gulf Cooperation Council (IGCC-FTA), yang diharapkan dapat memperluas ekspor Indonesia ke wilayah Timur Tengah.
Kementerian Perdagangan berupaya mengurangi defisit perdagangan dengan negara-negara Teluk melalui IGCC-FTA, yang diharapkan dapat meningkatkan dan memperluas ekspor Indonesia ke negara-negara anggota GCC. Zulkifli Hasan optimis bahwa perundingan ini akan membantu memperkuat hubungan dagang dan memperluas pasar Indonesia di Timur Tengah, dengan target penyelesaian perundingan dalam dua tahun ke depan.
Ekspansi Kredit Topang Pertumbuhan Laba Bank
Bank besar yang masuk kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 masih mencetak pertumbuhan laba bersih di paruh pertama tahun ini. Namun, efek suku bunga tinggi membayangi kinerja bank. Bank besar tak bisa mengelak dari pembengkakan biaya dana, meski rasio dana murah (CASA) lebih tinggi dibanding bank di kelompok KBMI lain. Pertumbuhan laba bank KBMI 4 terdorong ekspansi kredit yang cukup kencang hingga pendapatan bunga masih bisa mekar, di saat biaya dana naik. Meski berhasil tumbuh positif, namun capaian laba empat bank besar di semester pertama tahun ini masih lebih rendah ketimbang target rata-rata konsensus analis. Artinya, tekanan pada kinerja perbankan masih cukup kuat. Kinerja paling apik di paruh pertama ditorehkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bank ini mencatat laba Rp 26,9 triliun, tumbuh 11,1% secara tahunan. Tapi, capaian ini baru setara 49,7% dari konsensus proyeksi laba analis. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) meraup laba bersih Rp 26,55 triliun, tumbuh 5,23%. Realisasi ini setara 47,61% dari proyeksi konsensus analis. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih bertahan sebagai bank dengan realisasi laba bersih terbesar, mencapai Rp 29,7 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 48,25% dari target laba konsensus proyeksi analis.
Sementara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) belum mengumumkan kinerja keuangan semester I-2024. Namun, di lima bulan pertama tahun ini, laba bank ini tumbuh 1,51% jadi Rp 8,5 triliun. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengungkapkan, pertumbuhan kencang kredit ini tak lepas dari stabilitas dan perkembangan ekonomi Indonesia. Dalam mendorong kredit, bank Mandiri fokus ke perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi di tiap wilayah. Adapun BBCA mencatat penyaluran kredit tumbuh 15,49%. Pendapatan bunga bersih naik 7,84%. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, kenaikan pendapatan bunga bersih juga didukung likuiditas yang longgar, sehingga kenaikan biaya dana lebih terkendali. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengungkapkan, sesuai dengan ekspektasi, BCA dan Bank Mandiri menjadi bank pilihan, terutama setelah situasi dan kondisi yang ada saat ini. Selain itu, penyaluran kredit juga masih didominasi oleh dua bank tersebut. “Sehingga memang dari sisi peluang menjaga kinerja, BCA dan Bank Mandiri masih jauh lebih baik daripada kedua baik lainnya,” analisa Nico. Perkiraan Nico, kinerja bank KBMI 4 di semester dua akan jauh lebih baik. Pelaksanaan pilkada berpotensi untuk meningkatkan aktivitas perbankan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









