BANK TERIMPIT BUNGA TINGGI
Iklim suku bunga tinggi rupanya mulai merepotkan perbankan. Buktinya, pendapatan bunga bersih yang biasanya moncer dan menjadi pilar penting penopang kinerja bank, kini mulai mepet, dampak dari biaya dana yang makin mahal. Beruntung, sejumlah bank dapat mengoptimalkan sumber pendapatan di luar bunga, sehingga dapat sedikit mengompensasi tekanan yang terjadi di lini pendapatan bunga. Alhasil, laba bersih pun masih sanggup tumbuh, setidaknya hingga semester pertama tahun ini. Manuver lainnya yang dilakukan perbankan yakni dengan menerapkan efisiensi, sembari menanti pelonggaran kebijakan moneter yang diharapkan terealisasi menjelang akhir tahun ini.
Direktur Utama PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan bahwa kondisi bisnis saat ini memang ditandai oleh biaya dana yang tinggi dan risiko kredit berupa nonperforming loan (NPL) yang meningkat. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pun sudah tertekan dalam 2 tahun belakangan. Untuk diketahui, angka NIM diperoleh dari pembagian selisih pendapatan bunga dengan biaya bunga terhadap rata-rata aset yang menghasilkan bunga untuk periode tertentu. Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sunarso mengatakan bahwa tantangan utama perseroan adalah memastikan kualitas kredit UMKM tetap di level yang terkendali sembari menjaga likuiditas tetap mencukupi. Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menuturkan bahwa kondisi yang menantang saat ini menyebabkan laju pertumbuhan laba kalangan bank pelat merah melambat. Namun, dia optimistis kinerja bank-bank BUMN bakal lebih baik pada paruh kedua tahun ini.
Kehati-hatian juga menjadi strategi PT Bank OCBC NISP Tbk. dalam mengamankan kinerja. Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja mengatakan di tengah tantangan kondisi ekonomi hingga saat ini, kinerja bank tetap tumbuh baik. Namun, katanya, perseroan tetap penuh kehati-hatian untuk bertumbuh secara berkesinambungan. Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon LP Napitupulu pun berpandangan serupa. Dia optimistis hingga akhir tahun ini perseroan mampu membukukan kinerja keuangan yang positif, meski kondisi likuiditas perseroan mengetat. Adapun, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa perseroan beruntung memiliki likuiditas yang relatif longgar saat ini. Namun, untuk menjaga pertumbuhan laba, perseroan berfokus pada pengendalian biaya. Executive Director Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan bahwa bisnis bank pada paruh pertama tahun ini dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi yang melambat dan likuiditas yang mengetat. Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan bahwa kinerja bisnis bank pada sisa tahun ini akan bergantung pada stabilitas kondisi global dan kepastian nasional setelah pergantian kepemimpinan negara.
Tags :
#PerbankanPostingan Terkait
KB Bank Raih Fasilitas Pinjaman Rp 3 Triliun
Geopolitik Memanas, Bisnis Bank Emas Mengkilap
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023