;

Menginap Rp 4.000 Per Malam di Pondok Boro

Menginap Rp 4.000 Per Malam di Pondok Boro

Pondok Boro menjadi tempat menginap yang terkenal bagi para perantau di Kota Semarang, Jateng, untuk melepas lelah barang sehari. Terletak di tengah perkampungan di Kauman, Semarang Tengah, penginapan itu hanya menawarkan tarif Rp 4.000 per hari. Bangunan Pondok Boro tua dan kusam. Cat putih yang melapisi dinding bangunan telah mengelupas di sana-sini. Layaknya bangunan khas kolonial, Pondok Boro punya dinding setinggi 4 meter. Bangunan itu juga dilengkapi pintu lebar dan jendela berterali besi. Saat masuk ke dalam, yang pertama terlihat adalah lorong-lorong dengan dipan-dipan kayu sepanjang masing-masing 20 meter. Tidak dilengkapi kasur, bantal, guling. Di atas dipan-dipan itu hanya ada spanduk atau baliho bekas sebagai alas tidur para penghuninya.

Di samping dipan, ada loker-loker kayu untuk menyimpan barang. Selain dipan-dipan panjang yang disebut sebagai boro, Pondok Boro punya ”kelas” lain, yakni kamaran. Kamaran berupa bilik dari kayu dan tripleks, dilengkapi pintu dan gembok. Ukurannya 2 x 2 meter dan ada lima unit. Tarif menginap di kelas boro Rp 4.000 per hari. Untuk kelas kamaran, tarif sewa per bulan Rp 120.000 per unit. Pondok Boro yang kini dihuni lebih dari 100 orang terdiri atas dua lantai, dilengkapi dua kamar mandi dan satu tempat shalat berukuran 9 meter persegi. Rata-rata penghuni di Pondok Boro adalah perantau dari sejumlah wilayah di Jateng dan Jabar. Mayoritas mereka bekerja sebagai buruh atau pedagang asongan di Pasar Johar dan sekitarnya. Semuanya laki-laki.

Salah satu penghuni Pondok Boro adalah Rusmin (50) warga Kebumen, Jateng, yang pada 1996 merantau ke Semarang untuk bekerja sebagai pedagang asongan. Di keluarganya, Rusmin adalah orang keempat yang tinggal di Pondok Boro. ”Yang pertama tinggal di sini kakek saya, tahun 1945. Kerjanya sebagai kuli panggul di Pasar Johar. Setelah kakek meninggal, gantian bapak saya (yang bekerja dan tinggal di sini). Lalu kakak saya kesini, jadi pedagang asongan. Setelah kakak saya meninggal, saya yang meneruskan sebagai pedagang asongan dan tinggal di sini sampai sekarang,” kata Rusmin di Pondok Boro, Selasa (30/7). Bekerja sebagai pedagang asongan membuat Rusmin mengantongi Rp 3 juta-Rp 4 juta per bulan. Jika di Semarang ada acara musik atau hiburan, Rusmin bisa membawa pulang hingga Rp 6 juta per hari.

Pendapatan tersebut sebenarnya bisa untuk menyewa penginapan atau kos yang lebih nyaman. ”Lebih baik uangnya disimpan untuk keperluan keluarga di Kebumen. Kalau cuma untuk tidur, yang begini sudah cukup buat saya,” ucapnya. Uang yang dihasilkan Rusmin dari berdagang asongan di Semarang sudah dipakainya untuk membangun rumah dan membeli sawah dengan luas 1.000 meter persegi. Rusmin juga berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga tamat SMK. Minggu (4/8), Lurah Kauman Imam Sutopo mengatakan, Pondok Boro merupakan penginapan dengan tarif paling murah di wilayahnya. Menurut Imam, penginapan itu sangat bermanfaat untuk para perantau, terutama yang kondisi ekonominya pas-pasan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :