;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Perikanan : Ekspor ke China Terancam Embargo

03 Dec 2020

Otoritas Bea dan Cukai China (GACC) kembali mendeteksi dua kasus kontaminasi virus penyebab Covid-19 pada kemasan produk ikan asal Indonesia pada 2 Desember 2020. Akibatnya, ekspor produk perikanan beku Indonesia terancam dihentikan sementara atau diembargo oleh otoritas China.

Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM-KKP) Widodo Sumiyanto menjelaskan, pihaknya menerima notifikasi dari GACC terkait jejak virus SARS-CoV-2 pada sampel kemasan produk ikan yang dikirim PT CKA yang berdomisili di Sumatera Utara dan PT SFI yang berlokasi di Jawa Timur. Setiap perusahaan itu mengirim satu kontainer berkapasitas 25 ton.

Dalam perundingan RI-China yang alot, Rabu (2/12/2020), China masih memberi kesempatan bagi Indonesia untuk mengekspor ikan ke negeri tirai bambu itu dengan sejumlah persyaratan ketat. Adapun Indonesia menjanjikan pengendalian hulu-hilir perikanan.

Widodo menambahkan, persyaratan ketat yang ditetapkan otoritas China antara lain standar keamanan pangan dan pengendalian perikanan hulu-hilir. Standar itu meliputi proses produksi perikanan tangkap dan budidaya, pengolahan, pengemasan, distribusi, serta logistik.

Selain itu, seluruh produk perikanan yang dikirim ke China wajib dievaluasi dengan uji Covid-19. Hanya produk perikanan yang sudah dikendalikan di hulu-hilir yang boleh dikirim ke China.

 


Efek Domino Korona, Biaya Kontainer Meningkat

03 Dec 2020

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyebutkan, tarif pengiriman barang ke luar negeri mengalami kenaikan cukup tinggi, yakni 30%-40%. Hal tersebut antara lain akibat volume ekspor impor menyusut di hampir semua negara. Kenaikan itu untuk mengompensasi penurunan volume transaksi, baik di pelabuhan hingga bandara.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Zaldy Ilham Masita kepada KONTAN, Selasa (2/11). Menurut dia, kapasitas logistik di seluruh dunia menjadi terbatas dan menyebabkan biaya naik. Kenaikan itu untuk menutupi biaya operasional lainnya lantaran belum normalnya perdagangan. Selain itu, Zaldy menyebutkan, kenaikan harga pengiriman memakai kontainer karena keterbatasan jumlah kontainer di seluruh dunia.

Informasi yang diterima KONTAN menyebutkan, banyak kontainer yang berangkat ke China tetapi tak banyak kontainer yang datang kembali. Alhasil, kontainer di Indonesia tidak banyak beredar dan menyebabkan biaya pengiriman kontainer untuk ekspor menjadi naik.


Batubara : Kontraktor Mencuil Peluang Pasar China

03 Dec 2020

Di tengah tekanan industri batubara saat ini, pelaku usaha jasa pertambangan berharap bisa ikut mencuil cuan dari peluang tersebut.

Adanya nota kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan CCTDA (China Coal Transportation and Distribution) untuk meningkatkan ekspor batubara termal menjadi prospek positif untuk pemulihan industri pertambangan pada tahun depan. Namun, sentimen positif itu tak otomatis berefek terhadap sektor jasa pertambangan.  

Kepala Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk (MYOH) Ahmad Zaki Natsir juga berharap MoU Indonesia dan China bisa membawa imbas positif terhadap kontraktor jasa pertambangan. Namun mereka masih wait and see terkait peluang yang bisa diraih dari kerjasama itu.

Corporate Secretary PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Mukson Arif Rosyidi menyambut optimistis MoU APBI dan CCTDA. Menurut dia, pasar telah merespons positif kesepakatan ini. “Pelaku pertambangan batubara merespons positif setelah ada pandemi yang ditandai kontraksi ekonomi di kuartal kedua dan ketiga 2020”, ungkap dia.


Pukulan Bertubi-Tubi bagi Pebisnis Pariwisata

03 Dec 2020

Hingga kuartal III-2020, rata-rata okupansi hotel secara nasional di level 30%. Angka ini sudah lumayan ketimbang saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan pada Maret lalu. Waktu itu, tingkat okupansi hotel berada di bawah 30%, bahkan menyentuh 5%-10%.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai, kebijakan pengurangan cuti sangat mendadak. Konsekuensinya, pelaku industri pariwisata akan kehilangan potensi pendapatan. Banyak tamu yang menuntut uang kembali. “Nah, mengembalikan uang konsumen itu bukan perkara mudah di bisnis perhotelan, karena prosesnya cukup panjang,” ungkap Maulana, kemarin (2/12).

Bukan hanya itu, para pengelola hotel harus membanting tarif sewa kamar. Menurut survei PHRI, harga jual kamar atau average room rate (ARR) pada periode long weekend umumnya naik 20%-30% dari tarif reguler menjadi Rp 600.000-Rp 650.000. Namun di lapangan, rata-rata ARR justru merosot hingga level Rp 350.000.



Indikator Pemulihan Ekonomi Menguat

02 Dec 2020

Tren pemulihan ekonomi nasional semakin menguat terefleksi dari sejumlah indikator, terutama dari PMI sektor industri manufaktur yang mulai ekspansif. Indikator lain terlihat pada membaiknya bisnis pariwisata. Kunjungan wisatawan manca negara (wisman) pada Oktober meningkat 5% dan jumlah penumpang udara naik 17,7% dibanding September. Tingkat hunian (occupancy rate) hotel berbintang pun meningkat. Di lain sisi, November yang mencatat inflasi 0,28% (month to month/mtm) juga merupakan indikasi perbaikan daya beli, meski inflasi inti sangat rendah.

Menurut Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw, kenaikan PMI atau indeks manufaktur Indonesia didorong oleh peningkatkan output produksi, sejalan dengan peningkatan pesanan baru untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Bernard menjelaskan, peningkatan kinerja manufaktur juga didorong oleh Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober, sehingga meningkatkan output produksi pada November.

PMI merupakan hasil survei terhadap para manajer pembelian di perusahaan manufaktur Indonesia. PMI di atas 50 menunjukkan industri manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menggambarkan manufaktur mengalami kontraksi.

Bernard menjelaskan, peningkatan kinerja manufaktur juga didorong oleh Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober, sehingga meningkatkan output produksi pada November   


Kembali ke Level Pra-Pandemi pada 2021

02 Dec 2020

Laporan OECD menunjukkan bahwa produksi dunia pada tahun ini mengalami penurunan 4,2% karena terdampak aturan karantina (lockdown) yang diterapkan selama berbulan-bulan. Aturan tersebut memperlambat penyebaran virus corona, tetapi telah menganggu perekonomian global. OECD memprediksi ekonomi dunia pulih dengan tingkat pertumbuhan 4,2% pada 2021. Dia mengatakan bahwa dukungan akan membuahkan hasil yang baik dalam beberapa bulan mendatang. 

Tiongkok kemungkinan menjadi satu-satunya negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia yang lolos dari kontraksi tahun ini Negeri Tirai Bambu itu membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,8% dan diperkirakan melonjak 8,0% pada 2021.        Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun ini akan berkontraksi sebesar 3,7% dan hanya tumbuh 3,2% pada 2021. Sementara itu, zona euro akan mengurangi kerugiannya setelah sempat kontraksi 7,5% pada 2020 dan diprediksi tumbuh 3,6% pada 2021. Jepang diperkirakan mengalami hal yang sama yakni kontraksi 5,3% pada 2020, kemudian diikuti dengan kenaikan 2,3% pada 2021. 

OECD pun mendesak pemerintah untuk memfokuskan upaya-upayanya pada barang dan jasa penting, seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur fisik dan digital sebagai dasar untuk pertumbuhan. Mereka juga menyerukan tindakan tegas untuk membalikkan peningkatan kemiskinan dan ketidaksetaraan pendapatan dan kembali ke kerja sama internasional

Pasar Domestik Berpotensi Diserbu Barang Tiongkok

02 Dec 2020

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menuturkan, banjir produk impor Tiongkok membuat produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tersungkur, sehingga defisit neraca dagang dengan Negeri Tirai Bambu itu makin lebar.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan, RCEP berpotensi mempercepat normalisasi arus perdagangan yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, Indonesia bisa lebih mudah mengundang masuk investasi dari negara-negara RCEP. Namun, untuk mendapat hasil positif dari perjanjian kerja sama ini, Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara anggota lain.

Pemerintah Indonesia, kata Shinta, perlu terus menerus memastikan iklim usaha di sektor-sektor tersebut tetap baik sehingga produktifivitas, efisiensi, dan keunggulan ekspor sektor tersebut bisa terus dipertahankan. Pada saat yang sama, RCEP menciptakan persaingan yang lebih tinggi bagi sektor telekomunikasi, teknologi informasi, dan sektor padat karya nasional seperti sektor garmen, sepatu, dan otomotif

China Temukan Lagi Jejak Virus pada Kemasan Produk

02 Dec 2020

Untuk ketiga kalinya, ditemukan jejak virus korona tipe baru pada kemasan dan produk perikanan yang dikirim dari Indonesia ke China. Indonesia perlu memastikan pengawasan ketat dari hulu ke hilir perikanan untuk memastikan produk yang diekspor memenuhi standar keamanan pangan.

Kepala Pusat Pengendalian Mutu Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM-KKP) Widodo Sumiyanto mengemukakan, investigasi tengah dilakukan menyusul temuan Otoritas Bea dan Cukai China (GACC).

Untuk mencegah kejadian berulang, tambah Widodo, pihaknya akan menerapkan pengawasan ketat hulu-hilir, mulai dari proses produksi penangkapan dan budidaya ikan, pengolahan, penyedia kemasan, hingga distribusi.  Langkah lain adalah mengevaluasi unit pengolahan ikan yang mengekspor ikan ke China.

“Saya mohon maaf kepada masyarakat Indonesia karena belum mampu mencegah (temuan korona tipe baru) secara paripurna. Akan tetapi, kami berupaya meningkatkan sistem pengawasan perikanan dari hulu-hilir. Seluruh pihak harus berkomitmen,” ujarnya, Selasa (1/12/2020).

Menurut data KKP, sampai dengan triwulan III-2020, hasil perikanan diekspor ke 149 negara sebanyak 921.265 ton dengan nilai 4,28 miliar dollar AS. Volume itu meningkat 6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019, yakni 867.266 ton atau senilai 4,01 miliar dollar AS ke 158 negara tujuan ekspor.


Skema Penyelesaian Jiwasraya Potensial Ditolak Nasabah

02 Dec 2020

Rencana penyelesaian polis PT Asuransi Jiwasraya yang tertunggak pada nasabah produk saving plan telah disetujui Komisi VI DPR dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Senin (30/11). Berdasarkan kesepakatan itu, pembayaran cicilan polis yang direstrukturisasi mulai dari Juli hingga Oktober 2021.

Ketua Panitia Kerja Jiwasraya Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan, opsi restrukturisasi polis memuat nilai nominal, jangka waktu cicilan, mekanisme pembayaran polis oleh IFG Life. “Opsi ada nominal dipotong nilai tunai (haircut), nominal tunai yang diterima, jangka waktu cicilan belum bisa disampaikan,” ujar Aria.

Untuk membayar cicilan, pada Maret sampai Juni 2021, IFG Life akan mendapat pendanaan penyertaan modal negara dengan total sekurang-kurangnya Rp 12 triliun. Setelah itu sejak Juli hingga Oktober 2021, pembayaran cicilan di muka dilakukan. Namun, nasabah menolak rencana restrukturisasi polis dengan skema cicilan hingga 15 tahun dan menolak restrukturisasi itu diselesaikan tanpa bunga dan dipotong nilai tunai.

 


Pendapatan Zoom Diproyeksikan Melesat 330% di Kuartal IV - 2020

02 Dec 2020

Salah satu penyedia layanan konferensi video yang meraup untung besar di kala pandemi adalah Zoom Video Communications Inc. Perusahaan ini memproyeksikan pendapatan pada kuartal IV yang akan berakhir pada Januari 2021 akan mencapai US$ 811 juta. Sedangkan rata-rata prediksi analisis hanya US$ 719 juta.

Proyeksi perusahaan itu meningkat 330% year on year (yoy), turun tipis dibanding pertumbuhan dua kuartal sebelumnya. Proyeksi penurunan pertumbuhan pendapatan itu dibanding dengan kuartal-kuartal sebelumnya memicu kekhawatiran investor, ledakan pengguna Zoom akibat pandemi mungkin akan segera berakhir. Walhasil harga saham perusahaan itu anjlok 5% pada perdagangan saham Senin (30/11).

Sepanjang tahun ini, saham Zoom telah melonjak tujuh kali lipat. Ini membuat sejumlah analis menilai harga saham Zoom sudah kemahalan. Perusahaan ini melaporkan margin kotor sebesar 68% pada kuartal III tahun fiskal 2019/2020, turun dari 72,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan margin disebabkan biaya layanan cloud publik untuk mendukung pengguna gratis.