;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Pertamina dan Pelindo I Bangun Sarfas BBM dan Pipa Gas

08 Dec 2020

PT Pertamina (Persero) membangun sarana fasilitas tangki bahan bakar minyak (BBM) dan jalur pipa gas bumi yang bersinergi dengan PT Pelindo 1 dalam pengelolaannya.  Pada Jumat (4/12), Pertamina melaksanakan Groundbreaking Sarana dan Fasilitas Bunker Penunjang TBBM yang ke depan akan dikembangkan sebagai TBBM untuk membantu suplai di wilayah Sumatera Utara.  

Sarana dan Fasilitas Bunker (Bunker Service) akan berdiri di lahan milik PT Pelindo 1 Pelabuhan Kuala Tanjung dan kelak akan menjadi bagian dan pengembangan tank bunker Kuala Tanjung.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Arifin menyambut positif langkah Pertamina menggandeng Pelindo 1 untuk mendukung pemerintah dalam mendorong pemerataan ekonomi dengan membangun infrastruktur energi di Sumatera Utara.

“Pembangunan intrastruktur gas bumi merupakan komitmen untuk penguatan ketahanan energi di negeri, sehingga tidak tergantung hanya satu sumber energi yakni BBM, Kemandirian energi akan menjadi perhatian, karena merupakan unsur penting bagi pembangunan nasional, Penyediaan gas bumi diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri dan mengurangi ketergantungan energi impor, “ imbuh Arifin

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, “Dengan Kuala Tanjung sebagai kawasan industri dan pelabuhan hub internasional, maka diharapkan jumlah industri di Kuala Tanjung terus bertambah, sehingga permintaan kebutuhan gas juga meningkat,” jelas Nicke.

Direktur Utama Pelindo 1 Dani Rusli Utama menilai kehadiran sarana dan fasilitas dermaga Pelabuhan Kuala Tanjung sangat berpotensi mendukung berdirinya TBBM, mengingat dermaga ini memiliki panjang 500 meter dan lebar 60 meter serta bisa disinggahi kapal raksasa sejenis Very Large Container Carrier (VLCC) dengan bobot 50.000 DWT.

 


Jepang Siap Investasi Rp 57 Triliun di SWF Indonesia

07 Dec 2020

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut B Pandjaitan mengungkapkan, Jepang melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC) berkomitmen untuk berinvestasi sebesar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 57 triliun bagi pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Indonesia. Komitmen itu dinyatakan oleh  Gubernur JBIC Maeda Tadashi saat  bertemu Luhut di Tokyo pekan lalu 

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, komitmen yang disampaikan oleh Gubernur JBIC tersebut akan segera ditindaklanjuti di tingkat teknis dan investasi JBIC itu diharapkan dapat mulai masuk ke Indonesia pada kuartal I-2021.

Sedangkan Heri Akhmadi mengatakan, JBIC akan menjadi salah satu lembaga keuangan yang berpartisipasi dalam master fund SWF Indonesia yang disebut dengan Nusantara Investment Authority (NIA). Ia mengatakan, dukungan dari JBIC dan pemerintah Jepang akan memperkuat ikatan kerja sama strategis antarkedua negara.

Di sisi lain, Erick Thohir menyebut bahwa investor Jepang berminat untuk melakukan kerja sama dengan BUMN dalam rangka meningkatkan profesionalitas hingga pengelolaan aset.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Isa Rachmatarwata mengungkapkan, hingga saat ini masih terdapat kesenjangan antara kemampuan pendanaan domestik dan kebutuhan pembiayaan infrastruktur dalam mendukung proyek strategis nasional (PSN). Untuk mengatasi kesenjangan itu, salah satu solusi yang akan dilakukan pemerintah adalah membentuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Nantinya, lanjut Isa, LPI akan bertindak sebagai sovereign wealth fund (SWF) atau lembaga dana abadi .


Tren Serapan Tenaga Kerja dari Investasi Terus Menurun

07 Dec 2020

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menyatakan, kecenderungan ini sudah terjadi sebelum terjadi pandemi Covid-19.  Ia merinci, pada 2013, pada saat realisasi nilai investasi mencapai sebesar Rp 393,8 triliun, penyerapan tenaga kerja bisa mencapai 4.571 orang per Rp 1 triliun rupiah. Kondisi ini terus menurun setiap tahun hingga 2019 yang dari total realisasi investasi Rp 809,6 triliun, tenaga kerja yang terserap hanya 1.277 orang per triliun rupiah. 

Menurut Hariyadi, inklusivitas perekonomian Indonesia dapat diukur di antaranya melalui penyerapan tenaga kerja dari investasi. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus bagi sektor padat karya dan UMKM sebagai sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Sedangkan dari sisi indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) investasi di Indonesia 2018 sangat tidak efisien dengan skor 6,8. Ini lebih tinggi dibandingkan negara lain seperti Filipina yang memiliki nilai ICOR 3,7. Selanjutnya Vietnam memiliki nilai ICOR 5,2, Malaysia 5,2, dan Thailand sebesar 4,5. Itu menunjukkan biaya investasi di negara-negara tersebut lebih efisien dan murah dibandingkan di Indonesia.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, transformasi ekonomi melalui Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) dapat memberikan nilai tambah untuk peningkatan investasi di dalam negeri. Bahkan, UU Ciptaker juga dapat mendorong peningkatan efisiensi biaya investasi, yang tercermin dari penurunan ICOR.  

Iskandar menambahkan, proses perizinan investasi yang berbelit menyebabkan tingkat ICOR Indonesia sangat tidak efisien dengan skor 6,8. Artinya, Indonesia membutuhkan tambahan modal sebesar 6,8 untuk menghasilkan satu unit output tambahan. 

ICOR adalah rasio antara investasi terhadap output yang dihasilkan dari investasi. Artinya, makin tinggi rasio ICOR maka nilai investasi yang dibutuhkan dalam meningkatkan output dari investasi juga makin tinggi. Oleh karena itu, upaya pemerintah untuk memperbaiki ICOR melalui UU Cipta Kerja adalah memperbaiki masalah perizinan yang rumit, dengan banyaknya regulasi pusat dan daerah (hiper regulasi, tumpang tindih, dan prosesnya lama).

Lebih lanjut, Iskandar menegaskan, bahwa UU Ciptaker merupakan sebuah langkah transformasi ekonomi yang luar biasa agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan menjadi negara maju.

Indonesia Ekspor Bahan Pakan Ternak ke Inggris

07 Dec 2020

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo baru-baru ini melepas ekspor beragam komoditas asal Provinsi Riau, yakni 4 ton larva kering atau maggot Black Fly Soldier (BFS) dengan tujuan Inggris. Maggot merupakan salah satu jenis lalat yang dapat dibudidayakan untuk sumber pakan alternatif bagi sejumlah hewan ternak seperti unggas, ikan, iguana, burung dan lainnya. Kementrian Pertanian (Kementan) juga aktif melakukan kerjasama harmonisasi aturan protokol ekspor dan ketentuan sanitari dan fitosanitari produk pertanian dengan negara tujuan ekspor.

Penguatan sistem perkarantinaan menjadi mutlak karena dengan otoritas yang dimiliki dapat menjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian dan berdaya saing tinggi. Penguatan juga dilakukan untuk meningkatkan pengawasan dan perlindungan sekaligus berupa inovasi dan terobosan percepatan layanan dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Selain melepas ekspor ragam komoditas baru, Mentan juga melepas 11 komoditas pertanian asal Riau, diantaranya kelapa, keladi, produk olahan nanas dengan total volume 117.288 ton senilai Rp 716 miliar. Sedangkan negara tujuan ekspor berjumlah 18 negara, seperti Turki, Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Estonia, dan Malaysia

Kepala Badan Karantina Kementan Ali Jamil mengatakan kegiatan ekspor dilakukan melalui beberapa lokasi di wilayah kerja Karantina Pertanian Pekanbaru. Salah satu potensi ekspor yang besar dengan nilai jual cukup tinggi adalah komoditas sarang burung walet. selama masa pandemi Covid-19 terdapat 119,71 ton sarang burung walet yang diekspor dari Riau.

Kelangkaan Kontainer Gerus Ekspor Keramik

07 Dec 2020

Kelangkaan kontainer diprediksi menggerus pertumbuhan eskpor keramik. Hingga akhir 2020, pertumbuhan ekspor keramik diprediksi hanya 20% menjadi 15,2 juta meter persegi (m2), lebih rendah dari proyeksi awal 33% dengan volume 17 juta m2. Kelangkaan kontainer juga dialami industri mebel. Pengusaha mebel mengaku merugi besar lantaran gagal memenuhi kontrak ekspor dengan para pembeli.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menuturkan kelangkaan kontainer ekspor terjadisejak November 2020. Oleh sebab itu, Asaki meminta bantuan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab, kelangkaan ini mengganggu pemulihan industri keramik dari dampak pandemi Covid-19. Pebisnis keramik harus menunggu 3-4 minggu untuk mendapatkan kontainer ekspor ke tiga kawasan yaitu Eropa, Amerika Serikat (AS) dan Australia. Sementara ekspor ke Filipina dan Malaysia harus menunggu kontainer 7-10 hari.

Ekspor keramik pada Januari-September 2020 mencapai US$ 49,8 juta atau meningkat 24% dari periode sama tahun lalu, sedangkan secara volume mencapai 12,8 juta meter persegi (m2) atau meningkat 29%. Nilai ekspor tertinggi secara bulanan selama lima tahun terakhir terjadi pada Juli 2020 sebesar US$ 10 juta. nilai ekspor kuartal III-2020 berkontribusi 50% terhadap total ekspor sampai September.

Kementrian Perindustrian (Kemenperin)  terus memacu produktivitas dan daya saing industri keramik di Tanah Air. Sebab, sektor ini mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di dalam negeri, seiring banyaknya sumber daya alam yang dapat dijadikan bahan baku di sejumlah daerah. Sejumlah kebijakan strategis yang telah dijalankan pemerintah dalam rangka mendongkrak daya saing industri keramik nasional terhadap ancaman produk impor antara lain adalah penerapan safeguard atau pengenaan bea masuk tindak pengamanan (BMTP) terhadap impor produk ubin keramik.

Jangan Lelah Lawan Korupsi

07 Dec 2020

Sebagai anak muda yang bangga diikutsertakan pemerintah untuk mempelajari pemberantasan korupsi dan turut terlibat menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang KPK, saya menjawab mantap, yakin negeri ini akan lebih baik, lebih bersih, meskipun KKN belum sepenuhnya hilang. Indonesia akan terbebas dari KKN, mirip Singapura. Setidak-tidaknya lebih bersih, seperti Malaysia.

Komitmen penyelenggara negara, termasuk Presiden, untuk mendahulukan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi terus digaungkan. Upaya pelemahan terhadap KPK pun terus terjadi, hingga yang terakhir tahun lalu saat pemerintahan Presiden Joko Widodo berkompromi dengan wakil rakyat untuk mengubah UU KPK dan melahirkan UU Nomor 19 Tahun 2019.

Revisi terhadap UU KPK mengecewakan publik meskipun harus diakui pula, luas wilayah dan banyaknya penduduk di negeri ini di satu sisi menjadi kekuatan, tetapi di sisi lain membuat setiap upaya pencegahan pemberantasan korupsi tidak mudah.

Harus diakui, sampai hari ini sikap dan kemauan politik pemerintah di semua tingkatan, terutama Presiden, cenderung ”naik turun”. Akibatnya, kepercayaan diri masyarakat pada KPK juga pasang surut. Setelah sempat berada di titik nadir, gegara UU KPK yang diubah dan citra pimpinan KPK yang baru, saat-saat ini kepercayaan masyarakat pada badan antikorupsi itu tumbuh lagi karena penangkapan terhadap (mantan) Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang menyentak.

Lelah, jangan lelah Korupsi, yang berakar, antara lain, dari kolusi dan nepotisme, adalah penyakit yang membawa kesengsaraan rakyat, di mana pun belahan dunia. Untuk memberantas korupsi, apalagi yang sudah menjadi penyakit akut, seperti di Indonesia, dibutuhkan kesabaran. Itu pun tidak mungkin korupsi dikikis habis, tetapi hanya diminimalkan.

Ketidakpastian pencegahan dan pemberantasan korupsi di negeri ini karena tarik-menarik kepentingan membuat rakyat lelah. Tak sedikit warga yang akhirnya tidak menolak, pasrah, atau mencari cara pintas, termasuk dengan memberikan suap agar mendapatkan layanan publik yang baik, yang seharusnya menjadi haknya. Kita lelah melawan korupsi. Janganlah lelah melawan korupsi.


Aparat Ungkap Penyelundupan Benih Lobster di Batam

07 Dec 2020

Aparat gabungan mengungkap penyelundupan benih lobster atau benur senilai Rp 4,3 miliar di Batam, Kepulauan Riau. Tiga pelaku yang menumpang Kapal Motor Kelud dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, berencana menyelundupkan 42.500 benur ke Vietnam melalui Singapura.

Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam Susila Brata, menyatakan, pengungkapan berawal dari laporan warga bahwa ada tiga penumpang KM Kelud membawa benur. Mereka berangkat dari Jakarta, hari Jumat (4/12/2020), dan tiba di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Minggu (6/12) pukul 08.30.

Berdasarkan informasi itu, petugas Bea dan Cukai Batam berkoordinasi dengan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) untuk memeriksa barang bawaan penumpang KM Kelud. “Ditemukan tiga karung baju yang dicampur bungkusan plastik berisi benih lobster,” kata Susila, Minggu.

Ia menuturkan, total ditemukan 157 plastik berisi benur yang terdiri dari 152 kantong benur jenis pasir dan 5 kantong benur jenis mutiara. Setelah dihitung, diketahui jumlah benur jenis pasir 41.500 ekor dan benur jenis mutiara 1.000 ekor.

Kepala BKIPM Kelas I Batam Agung Gede mengatakan, harga benur jenis pasir sekitar Rp 100.000 per ekor. Adapun harga satu benur jenis mutiara ditaksir Rp 150.000. Maka, nilai dari 42.500 benur selundupan itu apabila ditotal mencapai Rp 4,3 miliar.


Kelangkaan Kontainer Hambat Ekspor Impor

07 Dec 2020

Ketua Umum Perkumpulan Perusahaan Pendingin Refrigerasi Indonesia (Perprindo), Iffan Suryanto Muslim memaparkan, saat ini terjadi kelangkaan kontainer yang membuat biaya impor meningkat tiga sampai lima kali lipat. Ada sekitar 3 juta unit air conditioner (AC) yang diimpor. “Kuota impor AC dibatasi dan kelangkaan kontainer untuk impor membuat harga AC naik 7%,” ungkap dia kepada KONTAN, Minggu (6/12).

PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) juga mengalami kendala serupa. Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager SEID mengatakan, ada hambatan impor akibat kelangkaan kontainer di pelabuhan. “Harga AC naik 7% karena biaya kontainer naik 5 kali lipat akibat kelangkaan kontainer di sana. Estimasinya, harga pasar akan naik 7% sampai 10%,” kata Andry, Selama ini, SEID mengimpor 100% produk AC.

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki), Abdul Sobur memaparkan, dari total 10 - 15 kontainer per minggu yang dibutuhkan, hanya 5-6 kontainer saja yang tersedia. Untuk eksportir besar, dari kebutuhan 100 kontainer per minggu hanya bisa mendapatkan 25-50 kontainer.


Komoditas Perkebunan, Harga CPO Tersengat Pungutan Ekspor

07 Dec 2020

Direktur Godrej International Ltd. Dorab Mistry mengatakan, prospek permintaan dan penawaran CPO akan sangat menanjak dalam jangka pendek. Dia pun melihat peluang harga CPO bisa menguat hingga ke level 4.000 ringgit per ton pada Januari 2021. Adapun, pada perdagangan Jumat (4/12) hingga pukul 16.44 WIB harga CPO kontrak Februari 2021 berada di posisi 3.441 ringgit per ton atau naik 3,27%. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga CPO telah naik 36,72%.

Kepala LMC International James Fry mengatakan, kenaikan harga minyak nabati, termasuk minyak sawit, akan ber tahan hingga kuartal II/2021. Sebelumnya, Kementerian Keuangan menetapkan pungutan ekspor CPO secara progresif atau melalui skema pungutan berdasarkan layer atau lapisan harga CPO yang berlaku mulai 10 Desember 2020. Pungutan ekspor CPO ditetapkan senilai US$55 per ton ketika harga komoditas tersebut berada di bawah US$670 per ton. Besaran pungutan baru akan naik US$5 untuk kenaikan pada lapisan pertama lalu naik US$15 untuk setiap kenaikan harga CPO sebesar US$25 per ton. 

Kinerja Industri Manufaktur, Arus Logistik Berpotensi Ganggu Pemulihan

07 Dec 2020

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mendata saat ini ada sekitar 1 juta kargo yang tertumpuk di pelabuhan transit Singapura. Sementara itu, ribuan kontainer ekspor saat ini masih tertahan antara di gudang industri atau pelabuhan lokal.

Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) memberikan contoh bahwa saat ini sekitar 2.000 kontainer milik PT Wilmar Nabati Indonesia menumpuk di gudang industri Wilmar. Pasalnya, saat ini pelabuhan hanya mampu menghafalkan sekitar 30-40 persen dari kapasitas biasanya. Dengan kata lain, hanya 30%—40% hasil produksi yang dapat dikirimkan ke konsumen global. Sementara itu, sekitar 60%—70% hasil produksi sejak September 2020 berpotensi bertumpuk dan menahan perbaikan utilisasi industri furnitur nasional.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menyatakan kinerja ekspor industri keramik diprediksi belum terganggu. Dengan kata lain, negara utama tujuan ekspor industri keramik tidak harus melewati Singapura maupun Tanjung Pelepas lantaran tidak membutuhkan fasilitas kapal mother vessel. Pasalnya, mayoritas negara tujuan industri keramik masih berada di Asia Tenggara dan Asia Timur. Edy meramalkan pertumbuhan ekspor industri keramik sepanjang 2020 dapat mencapai 30%—35% secara tahunan.