Prospek Pembiayaan dan Tekfin, Konsumsi Akhir Tahun Tetap Ramai
Adapun
kenaikan konsumsi
tecermin pada data penyaluran pinjaman perusahaan
teknologi finansial. Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pada Oktober
2020, penyaluran dana dari perusahaan
pemberi pinjaman online mencapai Rp8,59
triliun atau naik 17,98% (year on year/
yoy) dari Rp7,59 triliun.
Angka ini tercatat memecahkan rekor
sepanjang periode 2020. Sinyal perbaikan
realisasi pinjaman telah tampak secara
bertahap sejak Juni hingga September yang
terus mencetak pertumbuhan secara bulanan.
Dengan torehan ini, akumulasi penyaluran
pinjaman 155 fintech lending terdaftar dan
berizin OJK hingga Oktober 2020 mencapai
Rp137,65 triliun.
Head of Business Development PT FinAccel
Finance Indonesia, Lily Suriani mengatakan
permintaan pembiayaan sektor konsumsi
pada akhir tahun tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya kendati tahun ini
ekonomi tertekan pandemi. Adapun, riset
dilakukan dengan melibatkan sekira 1 juta
pengguna Kredivo dengan transaksi yang
dilakukan di enam situs dagang elektronik.
Berdasarkan survei perilaku konsumen
yang diungkap Kredivo bersama Katadata
Insight Center, setiap orang tercatat memiliki rata-rata transaksi 17-20 kali selama
setahun.
Adapun, mengacu pada riwayat transaksi pada 2019, jumlah transaksi tertinggi
terjadi pada 12 Desember atau momen
belanja dengan lonjakan 5,3 kali dari ratarata transaksi harian. Sementara itu, pada
momen Natal mampu menaikkan 1,9 kali
nilai transaksi dibandingkan nilai rata-rata
transaksi harian.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno
menilai pandemi Covid-19 masih menjadi
penekan akselerasi sektor konsumsi sehingga pembiayaan pada momen akhir tahun
kali ini tak semarak.
Menurutnya, salah satu indikasi belum
pulihnya penyaluran kredit konsumtif terlihat pada proyeksi penjualan kendaraan
bermotor. Industri otomotif memperkirakan
penjualan akan berkisar 540.000 unit, sekitar separuh dari capaian tahun 2019.
Sebelumnya, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B
OJK, Bambang W. Budiawan menjelaskan
momen akhir tahun menjadi penentuan.
Pasalnya, kenaikan piutang pembiayaan
dalam sebulan belum bisa menjadi basis
kesimpulan pemulihan pembiayaan produktif.
“Harus dilihat dulu sampai Desember
2020. Baru bisa dikatakan pulih atau belum,” katanya.
Dia mengakui kinerja industri pembiayaan
turut terkontraksi akibat lesunya ekonomi.
Alasannya, daya beli masyarakat melemah
sehingga kemampuan kredit pun turun.
Dia menjelaskan bahwa masih lambannya pertumbuhan pembiayaan, bahkan
cenderung kontraktif, karena terpengaruh
tekanan pada pertumbuhan ekonomi.
Tags :
#PasarPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023