Ekonomi
( 40460 )OPEC Bahas Perpanjangan Pengurangan Produksi
Organisasi Negara - negara Pengekspor Minyak Bumi
(OPEC) mengadakan per temuan
secara virtual pada Senin (30/11)
untuk mempertimbangkan perpanjangan pengurangan produksi hingga Januari 2021. Langkah ini diambil
menyusul pandemi virus corona
Covid-19, yang terus membebani
permintaan minyak mentah global.
Para menteri minyak negara anggota OPEC memulai pertemuan konferensi video pada pukul 13.00 GMT,
dan berharap dapat membuka halaman baru dari tahun yang membawa
bencana. Demikian dikutip AFP.
Sementara itu, harga minyak
mentah telah meningkat 25% sejak
awal bulan, dan kembali ke level
sebelum terjadi pandemi antara US$
45 dan US$ 50 per barel untuk acuan
harga minyak Amerika Serikat (AS),
West Texas Intermediate (WTI),
dan acuan harga Eropa Brent North
Sea. Namun, harga minyak Senin
pagi kembali turun sebagai tanda
kecemasan investor menjelang pertemuan
Pemerintah Bebaskan Pajak Impor Vaksin Covid-19
Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar-Lembaga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu Syarif Hidayat menyebutkan, pemberian fasilitas fiskal itu diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 188/PMK.04/2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai serta Perpajakan Atas Impor Pengadaan Vaksin Dalam Rangka Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dalam PMK tersebut, jelas Syarif, pemerintah memberikan fasilitas fiskal atas impor vaksin, bahan baku vaksin, dan peralatan yang diperlukan dalam produksi vaksin, serta peralatan untuk pelaksanaan vaksinasi dalam rangka penanganan Covid-19.
Selain itu, fasilitas juga dapat diberikan melalui pusat logistik berikat (PLB) atau pengeluaran dari kawasan berikat (KB) atau gudang berikat (GB), kawasan ekonomi khusus (KEK), dan kawasan bebas, serta perusahaan penerima fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Menurut Syarif dengan penerbitan PMK ini, pemerintah berharap dapat memberikan kepastian hukum dan kesempatan kepada berbagai pihak untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam rangka penanganan Covid-19.
Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memprediksi, dengan melibatkan peran swasta, proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia memerlukan waktu sekitar sembilan bulan. Sedangkan bila tanpa keterlibatan swasta, waktu yang dibutuhkan bisa jauh lebih lama. Menurut dia, saat ini, fasilitas kesehatan yang dimiliki BUMN hanya mampu melakukan vaksinasi sebanyak 2,3 juta per bulan. Sementara penugasan yang diberikan oleh negara adalah harus melakukan vaksinasi sebanyak 75 juta. Dengan menggandeng swasta, ia yakin, proses vaksinasi akan berlangsung lebih cepat. Dengan ini, inovasi dan transformasi pun terjadi. Ekosistem yang sehat melalui kerja sama BUMN dan swasta akan memperkuat proses vaksinasi.
Nanjing Steel bangun Pabrik Kokas US$ 383 Juta di Morowali
Nanjing Iron & Steel mengatakan bahwa anak usahanya
yakni Jinmancheng Technology Investment Co Ltd, Tsingshan Holding GroupJ-eray
Technology Group, PT Indonesia Morowali Industrial Park, dan Dongxin Business
Management Partnership Ltd akan membangun perusahaan patungan (joing venture)
yang dinamakan PT KinRui New Energy Technologies Indonesia, untuk membangun
pabrik kokas tersebut . Nanjing Iron & Steel akan memiliki 78% saham di
perusahaan joint venture tersebut. Kepemilikan sahan itu akan
melalui anak usahanya, yakni Jinmancheng
Tiongkok memproduksi 471,26 juta kokas di 2019, naik 5,2% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu produksi kokas di Januari-Oktober 2020 menurun 0,7% dibanding periode sama tahun lalu menjadi 390,99 juta ton.
Salah satu perusahaan industri baja PT Sunrise Steel mampu
melakukan penambahan investasi di tengah pandemi. Sigit menuturkan, melalui
penambahan lini produksi kedua baja lapis aluminium seng (BjLAS), Sunrise Steel
diharapkan terus berkontribusi memperkokoh industri baja di Tanah Air.
Dalam upaya menumbuhkan industri baja nasional, dia menuturkan, pemerintah mendorong para pelaku industri untuk terus berinovasi serta meningkatkan kemampuan produksi,, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor
Perdagangan Elektronik Dongkrak Penjualan Industri kemasan
Perkembangan pesat perdagangan elektronik (e-commerce) dan
adaptasi kebiasaan baru mendongkrak penjualan kemasan. Berdasarkan data
Indonesia Packaging Federation, kinerja industri kemasan di Tanah Air
diproyeksi tumbuh 6% pada 2020 dari realisasi tahun lalu Rp 98,8 triliun.
Ditinjau dari material, kemasan yang beredar terdiri atas 44% dalam bentuk
kemasan fleksibel, 14% kemasan plastik rigid, dan 28% kemasan paperboard.
Sementara itu, AT Kerney (2019), dalam hasil risetnya di Asia, menyatakan, terdapat beberapa pergeseran paradigma yang terjadi secara makro ekonomi dan memengaruhi tren industri pengemasan. Saat ini, teknologi pengemasan sangat berkembang dengan cepat, di antaranya menggunakan active & intelligent packaging, modified atmosphere packaging (MAP), vacuum pack (preserve the freshness of food), frozen food (freezing food preserves), dan retort packaging (for ready to eat meals)
Gurih Bisnis Grup Salim
Ditengah situasi yang cukup
menantang pada masa pandemi Covid-19, sejumlah emiten Grup Salim mampu
memperlihatkan ketangguhan yang ditopang oleh lini bisnis konsumer dan
perkebunan. Aksi korporasi dan harga komoditas yang membaik menjadi katalis
positif dari kinerja emiten yang bergerak di kedua sektor ini. Bisnis mencatat,
PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk. (ICBP) kompak membukukan laba bersih masing-masing Rp3,75 triliun
dan Rp3,96 triliun. Angka tersebut naik 6,28% dan 1,99% dibandingkan dengan
laba bersih pada periode yang sama pada tahun lalu. Hasil itu berbanding lurus
dengan pendapatan dari kedua entitas sektor konsumer itu yang juga naik. INDF
mencetak pendapatan senilai Rp58,76 triliun atau naik 1,71% dan ICBP sen
Direktur Utama dan CEO Indofood Anthoni Salim menyatakan kinerja perusahaan yang stabil tidak lepas dari model bisnis kuat yang dibangun oleh perseroan. Di sisi lain, ICBP pun kian melebarkan sayapnya setelah menyelesaikan akuisisi Pinehill Company Limited (PCL) pada Agustus 2020. Untuk diketahui, Grup Pinehill bergerak di bidang industri pembuatan mie instan di Arab Saudi, Nigeria, Turki, Mesir, Kenya, Maroko dan Serbia, dengan menggunakan merek Indomie berdasarkan perjanjian lisensi dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk, induk perusahaan ICBP.
Kinerja LSIP ini mampu mengimbangi raihan emiten sejenis dari Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang turut mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 423,95%. Kenaikan harga produk sawit menjadi katalis positif bagi kinerja saham perseroan.
Reformasi Industri, Ujian Pemulihan Manufaktur
Subsektor industri manufaktur yang bisa melejit pastinya
adalah subsektor yang secara langsung menyokong proses pemulihan kesehatan dan
ekonomi nasional, seperti subsektor farmasi, kimia dan alat kesehatan. Sementara
itu, subsektor industri makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT),
otomotif, dan peralatan elektronik kemungkinan akan berangsur-angsur pulih
meski masih akan tetap bergantung pada pola konsumsi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah
pengangguran per Agustus melonjak menjadi 9,77 juta orang, atau naik 2,67 juta
orang dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu akibat pandemi Covid-19.
Di sisi lain, sektor manufaktur masih mengalami tekanan yang cukup dalam
mengingat belum pulihnya permintaan domestik dan pasar ekspor. Wakil Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan
penciptaan lapangan kerja, industrialisasi, dan peningkatan daya saing ekonomi
masih menjadi ujian berat bagi sektor manufaktur
Sementara itu, jumlah produk yang memiliki sertifi kat TKDN sekurang-kurangnya sebesar 25% ditargetkan sebanyak 6.000 produk pada 2020, dan meningkat menjadi 8.400 produk pada 2024. Selanjutnya, untuk mendorong terserapnya produk-produk lokal, pemerintah mengeluarkan regulasi untuk optimalisasi penggunaan barang dengan standar TKDN.
Carry Over Dana Hasil Burden Sharing, Kredibilitas Jadi Catatan
Pemerintah akhirnya melegalisasi penggunaan sisa dana hasil burden sharing yang tidak terserap untuk dialokasikan pada 2021 kedalam Peraturan Menteri Keuangan No. 187/PMK.05/2020 yang mengamanatkan bahwa jika terdapat sisa dana penerbitan SBN yang dibeli oleh Bank Indonesia (BI) di pasar perdana tidak terserap pada tahun ini, pemerintah dapat menggunakan sisa dana tersebut untuk membiayai pelaksanaan lanjutan kegiatan penanganan pandemi dan PEN pada 2021. Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan skema burden sharing merupakan sebuah terobosan dan diperlukan, mengingat kebutuhan belanja yang besar untuk penangangan pandemi. Hanya saja, hal itu belum didukung oleh terobosan kebijakan realisasi anggaran yang lebih cepat dan tepat sasaran.
Selain percepatan penyaluran, kata Yusuf, pemerintah juga harus bisa lebih fokus dalam menganggarkan dana PEN pada program yang realisasinya lebih cepat dan berdampak lebih besar terhadap pemulihan ekonomi. Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menilai program PEN hingga saat ini masih belum berjalan secara optimal. Senada dengan Yusuf, Tauhid menyarankan kepada pemerintah agar melakukan evaluasi terhadap pengalokasian anggaran PEN.
Dengan demikian, terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) senilai Rp163,5 triliun pada Oktober 2020. Khusus untuk pembiayaan utang melalui SBN, pembiayaan SBN (neto) tercatat mencapai Rp943,5 triliun. Dari total pembiayaan utang melalui SBN tersebut, Rp494,4 triliun merupakan SBN yang diserap BI baik pada lelang sesuai dengan surat keputusan bersama (SKB) I maupun SKB II. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis total anggaran PEN yang akan terserap hingga akhir 2020 mencapai Rp664 triliun atau sekitar 95,51%
Opsi Baru Selamatkan Kewajiban Smelter Freeport
Mengutip Asia Times, Freeport membahas kerjasama dengan
Tsingshan untuk membangun smelter tembaga senilai US$ 1,8 miliar di
kompleks pengolahan nikel di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara. Menko Luhut berharap
kesepakatan itu bisa ditandatangani sebelum Maret 2021. Saat ini kedua pihak
masih dalam pembahasan intensif.
Selain kerjasama itu, opsi yang sedang dibahas pemerintah adalah penurunan kapasitas proyek smelter tembaga baru Freeport yang berlokasi di JIIPE, Gresik Jawa Timur. Kapasitas dipangkas dari 2 juta ton konsentrat tembaga menjadi 1,7 juta ton. Namun, sebanyak 300.000 ton sisanya dicukupi dengan menambah kapasitas di smelter tembaga existing di PT Smelting.
Tsingshan dikabarkan setuju menyelesaikan smelter tembaga itu dalam waktu 18 bulan. Mereka juga berencana menyelesaikan pabrik baterai litium di Weda Bay pada tahun 2023.
Pusat Belanja yang Siap Dijual Kian Bertambah
Bisnis pusat perbelanjaan tertekan, secara total nilai kerugian yang diderita para pengelola pusat belanja sudah menembus triliunan rupiah.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyatakan, tekanan efek pandemi Covid-19 itu pula yang turut memicu sejumlah pemilik pusat belanja untuk menjual aset mereka. Penyebab pengelola mal berencana menjual asetnya tidak serta merta akibat pandemi korona. Hal ini mayoritas karena akumulasi kinerja yang tidak baik sejak tahun sebelumnya. Pengelola sudah tidak memiliki daya tahan lagi, jelas Alphonzus.
Sedangkan tingkat okupansi pusat belanja diproyeksikan menurun di kisaran 10%-20% menjadi 70%-80%. Banyak penyewa baru menunda pembukaan toko atau membatalkan sama sekali rencana buka toko di mal karena melihat kondisi ke depan.
Wakil Direktur Utama PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) Jeffri Tanudjaja mengakui okupansi mal belum pulih. Saat ini, keterisian penyewa di mal kelolaan MKPI masih di level 97%. “Sebelum pandemi, tingkat keterisian mal di kisaran 99%,” kata dia kepada KONTAN, kemarin.
BYAN Targetkan Volume Penjualan 30 Juta Ton Batubara di Akhir Tahun 2020
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memperkirakan akan menjual 30 juta-31 juta ton batubara di akhir tahun 2020. Sementara produksi batubara BYAN diperkirakan sebanyak 26 juta ton.
Direktur Urusan Korporasi dan Sekretaris Perusahaan Bayan Resources Jenny Quantero bilang, dengan target itu BYAN memproyeksikan perolehan pendapatan US$ 1,2 miliar. “Ini dengan asumsi harga jual US$ 39 per ton,” terang dia saat public expose yang digelar secara virtual, Senin (30/11).
Tingginya volume penjualan ini sudah mulai dirasakan BYAN di kuartal III dan berlanjut setelahnya. Pada Juli-September saja, BYAN menjual 8,9 juta ton batubara, atau naik 50,84% dibanding periode yang sama tahun 2019 yang sebesar 5,9 juta ton. Jika diakumulasi, penjualan BYAN sepanjang sembilan bulan 2020 mencapai 26 juta ton, naik 10,2% dari setahun sebelumnya yang hanya 23,6 juta ton. Bahkan, jumlah penjualan ini lebih tinggi dari target BYAN, yakni 22 juta ton.
Tingginya volume penjualan bisa membantu BYAN menjaga kinerja ketika harga batubara melandai, seperti yang terjadi di tiga kuartal awal. Pada kuartal III, harga jual rata-rata BYAN hanya US$ 34,6 per metric ton (MT), turun dari US$ 48,3 per MT. Dengan alasan itu, pendapatan BYAN di akhir kuartal III-2020 menjadi US$ 1 miliar, turun 12,28% year on year.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









