;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Indonesia Berpeluang Menjadi Pemain Kunci Pasar Emas Global

24 Feb 2025

Bank emas memiliki potensi besar untuk mendongkrak perekonomian Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Kehadiran bank emas diprediksi dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar Rp245 triliun dan menciptakan sekitar 800.000 lapangan kerja. Bank emas diharapkan dapat memperkuat ekosistem penghiliran emas di Indonesia, memberikan manfaat ekonomi bagi negara dan masyarakat, serta berkontribusi sekitar 1,1% terhadap PDB Indonesia pada 2024.

Selain itu, keberadaan bank emas juga berpotensi meningkatkan cadangan devisa Indonesia, karena emas menjadi komoditas yang stabil dan terus naik harganya dalam jangka panjang. Trioksa Siahaan, Head of Research LPPI, menjelaskan bahwa dengan adanya bank emas, Indonesia dapat lebih mudah mendeteksi dan menyimpan logam mulia, yang pada gilirannya akan memberi dampak positif pada perekonomian dan masyarakat.

Ibrahim Assuaibi, pengamat investasi komoditas, menambahkan bahwa bank emas akan melengkapi ekosistem hilirisasi komoditas emas yang sudah dirancang pemerintah, dan akan menjadi alternatif investasi yang menguntungkan bagi masyarakat. Selain itu, bank emas juga dapat menjadi sumber pendapatan negara melalui pajak.

Secara keseluruhan, bank emas di Indonesia diharapkan dapat memperkuat sektor ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memberikan manfaat finansial bagi masyarakat melalui investasi yang menguntungkan.


Harga Emas Terus Melonjak, Investor Makin Tertarik

22 Feb 2025

Harga emas telah mencatatkan rekor tertinggi, melampaui kinerja instrumen investasi lainnya, dengan harga mencapai US$2.938,98 per ounce pada Februari 2025, mengalami kenaikan 12% sepanjang tahun. Kenaikan ini didorong oleh ketidakpastian ekonomi global, aksi belanja bank sentral dunia, dan kebijakan ekonomi Presiden AS, Donald Trump. Emas, sebagai aset safe haven, semakin diminati oleh investor karena ketegangan geopolitik, seperti konflik Rusia-Ukraina, serta dampak kebijakan tarif impor AS. Bank sentral, yang membeli lebih dari 1.000 ton emas pada 2024, berperan besar dalam permintaan logam mulia ini.

Proyeksi harga emas juga menunjukkan potensi kenaikan lebih lanjut, dengan Goldman Sachs memperkirakan harga emas bisa mencapai US$3.100 per ounce pada akhir tahun dan bahkan bisa mencapai US$3.300 per ounce jika ketidakpastian terus berlanjut. Beberapa analis, seperti Andy Nugraha dari PT Dupoin Futures Indonesia, juga mengungkapkan potensi harga emas mencapai US$3.000 pada 2025, didorong oleh kekhawatiran perang dagang dan keinginan bank sentral dunia, terutama dari negara-negara BRICS, untuk mendiversifikasi cadangan devisanya ke emas.

Selain itu, meskipun pasar saham Indonesia dan aset kripto seperti Bitcoin mengalami tekanan, harga emas tetap menunjukkan performa yang solid, menjadikannya pilihan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah Indonesia juga merencanakan untuk meresmikan PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. sebagai Bullion Bank pada Februari 2025, untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga emas.


Freeport Kembali Kantongi Izin Ekspor Konsentrat

22 Feb 2025

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan setelah dilakukan penyidikan mendalam terkait kebakaran smelter yang dianggap sebagai insiden kahar. Pemerintah juga memutuskan untuk mengenakan tarif bea keluar yang lebih tinggi bagi ekspor konsentrat tembaga tersebut. Izin ekspor ini akan diperpanjang hingga Juni 2025, dengan syarat Freeport menyelesaikan perbaikan smelter pada waktu yang ditentukan, jika tidak, sanksi akan dikenakan.

Bahlil menegaskan bahwa keputusan ini mempertimbangkan kepentingan negara, perusahaan, dan masyarakat. Meskipun kapasitas produksi smelter hanya beroperasi pada 60%-70%, Freeport tetap diizinkan untuk mengekspor sisa konsentrat tembaga secara bertahap. Ekspor yang direncanakan oleh PT Freeport Indonesia mencapai 1,3 juta ton hingga 2025, dengan nilai mencapai US$5 miliar, di mana US$4 miliar akan menjadi jatah negara.

Selain itu, Bahlil juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan izin ekspor kepada badan usaha lain yang izin ekspornya telah berakhir pada Desember 2024.


Strategi Mengoptimalkan Cuan dari Kenaikan Harga Emas

22 Feb 2025
Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi di awal 2025, mencapai US$ 2.956 per ons troi pada 20 Februari sebelum sedikit terkoreksi. Harga emas Antam juga mencapai rekor Rp 1,708 juta per gram, didorong oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang berencana mengenakan tarif 25% pada berbagai produk impor, yang memperburuk ketegangan perdagangan global.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menaikkan target harga emas ke US$ 3.250 per ons troi di 2025, dengan potensi menyentuh US$ 3.400. Goldman Sachs juga memperkirakan harga emas naik menjadi US$ 3.100 per ons troi, bahkan bisa mencapai US$ 3.300 jika ketidakpastian global tetap tinggi. Bank of America (BofA) memprediksi kenaikan lebih agresif hingga US$ 3.500 per ons troi di akhir 2025.

Kondisi ini membuka peluang investasi emas yang menjanjikan. Lukman Leong menilai emas batangan sebagai pilihan terbaik karena risikonya rendah, sementara emas digital lebih mudah dan efisien, meskipun tetap memiliki risiko terkait sertifikasi. Founder Indogold, Indra Sjuriah, menjelaskan bahwa biaya investasi emas fisik digital muncul saat penukaran ke bentuk fisik, termasuk biaya sertifikat, pengiriman, dan asuransi.

Tren kenaikan harga emas masih prospektif di 2025, dengan berbagai pilihan investasi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan toleransi risiko masing-masing investor.

Inpres dan ”Amunisi” dari Operasi Pasar Masif

22 Feb 2025

Pada 17 Februari 2025, pemerintah memutuskan menggelar operasi pasar secara masif di Indonesia. Operasi pasar berbentuk Gerakan Pangan Murah itu akan berlangsung setiap hari mulai 24 Februari hingga akhir Maret 2025. Komoditas pangan yang disasar antara lain beras, minyak goreng, bawang putih, daging, dan gula. Bapanas ditunjuk sebagai ”dirigen” untuk ”mengorkestrasi” operasi pasar itu. Mentan Andi Amran Sulaiman, Rabu (19/2) mengatakan, operasi pasar itu merupakan Instruksi Presiden (Inpres) Prabowo. Presiden menginginkan masyarakat dapat membeli bahan pangan dengan harga terjangkau selama Ramadhan-Lebaran 2025. Presiden bahkan meminta para pelaku usaha pangan pokok menjual komoditasnya sesuai harga eceren tertinggi (HET) dan harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah.

Para pelaku usaha yang melanggar ketentuan harga itu akan ditindak Satgas Pangan POLRI. ”Sanksinya berupa penyegelen, bahkan pencabutan izin usaha,” ujar Mentan seusai Rakor Terbatas tentang Stabilisasi Stok dan Harga Pangan pada Ramadhan-Lebaran 2025 di Kementan, Jakarta. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, Kamis (20/2), menuturkan, Bapanas telah menyiapkan ”amunisi” untuk operasi pasar secara masif. Minyakita telah disiapkan sebanyak 70.000 kiloliter. Gula konsumsi akan didistribusikan sebanyak 50.000 ton. Untuk daging kerbau beku, lanjut Arief, telah disiapkan sebanyak 19.000 ton. Untuk beras, Bulog akan mendistribusikan sebanyak 100.000 ton. ”Sementara bawang putih, pemerintah menargetkan dapat menyalurkan 20.000 ton melalui 21 pelaku usaha,” katanya. (Yoga)


Inovasi Hijau atau Tong Sampah Karbon?

22 Feb 2025
PEMERINTAH Prabowo Subianto sedang gencar mengobral bisnis penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) kepada negara lain. Pada awal bulan ini, Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menegaskan kembali kesiapan Indonesia menjadi gudang penyimpanan karbon di kawasan Asia Tenggara. CCS digadang-gadang sebagai bisnis hijau sekaligus solusi baru perubahan iklim. Penelusuran saya mengenai pengalaman CCS di banyak negara justru menunjukkan hal sebaliknya. Teknologi ini berdampak semu serta memiliki banyak kendala, dengan risiko lingkungan yang tinggi dan biaya yang sangat mahal.

Teknologi penangkapan karbon bukanlah hal baru. Pada 1970-an, teknologi ini pertama kali diterapkan di Texas, Amerika Serikat, melalui skema carbon capture, utilization, and storage (CCUS). Prinsipnya sederhana: karbon dioksida atau CO? ditangkap dari sumber industri atau atmosfer, lalu digunakan kembali untuk tujuan baru. Dalam banyak praktik, CO? yang ditangkap dari sumber industri disalurkan ke ladang minyak terdekat untuk meningkatkan produksi minyak bumi melalui teknik yang dikenal dengan enhanced oil recovery (EOR). Model bisnis ini menguntungkan karena surplus minyak yang dihasilkan mampu menutupi biaya penangkapan karbon.

Meski begitu, skema CCUS menuai kritik karena dianggap lebih condong mendukung keberlanjutan industri bahan bakar fosil ketimbang mengurangi emisi untuk mengatasi perubahan iklim. Dengan peningkatan produksi minyak karena injeksi CO2, otomatis emisi yang dilepaskan dari pembakaran minyak itu akan jauh lebih besar daripada karbon yang ditangkap. Di tengah kritik itu, muncullah teknologi CCS sebagai alternatif. Secara prinsip, cara kerja CCS sebenarnya hampir sama dengan CCUS. Bedanya, teknologi CCS hanya menyimpan CO2 secara permanen di struktur geologi bawah tanah tanpa menggunakannya kembali. Dengan begitu, tidak akan ada emisi yang dilepaskan ulang. CCS pun lebih diterima oleh pegiat lingkungan pada masa itu. (Yetede)

BI Inginkan Pertanian Gunakan Teknologi untuk Menjaga Tingkat Inflasi

22 Feb 2025
Bank Indonesia (BI) melalui gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) menginginkan agar sektor pertanian menggunakan teknologi untuk menjaga tingkat inflasi. Hal itu disampaikan Anggota Dewan Gubernur BI Doni P Joewono dalam kegiatan  GNPIP Jawa di Yogayakarta. Dia berpendapat, jika salah satu kendala yang dialami pertanian adalah fluktuasi pasokan yang siginifikan. Pasokan tersedia melimpah ketika musim panen, bahkan hingga kelebihan pasokan atau oversupply. Sebaliknya, ketika masa tanam, terjadi kelangkaan pasokan. "Kami mendorong ini (penggunaan teknologi). Kalau di Jakarta, ada yang disebut Controlled Atmosphere Storage (CAS). Kita harus berpikir agar semua daerah memiliki teknologi ini," kata Doni. Upaya GNPIP pada 2024 telah memberikan hasil yang positif terhadap tingkat inflasi. Sebagai catatan, inflasi pada tahun 2024 sebesar 1,54% (year-on-year/yoy). Tahun ini, BI menekankan tantangan cuaca, disparatis harga antarwilayah, dan pengelolaan pascapanen perlu dicermati dengan baik. Maka, melalui koordinasi Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi  Daerah (TPIP dan TPID) Jawa bersama kementerian lembaga (K/L), GNPIP kali ini merumuskan sejumlah  rekomondasi dalam pengendalian inflasi. (Yetede)

Selama Ramadhan, 2 Juta Pengecer Gas ”Melon” Tak Terdaftar Boleh Berdagang

21 Feb 2025

PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan gas hingga BBM yang permintaannya berpotensi meningkat pada periode Ramadhan dan Idul Fitri aman. Khusus kebutuhan gas rumah tangga, Pertamina perlu menjamin ketersediaan elpiji bersubsidi 3 kg agar tidak lagi terjadi masalah distribusi seperti beberapa waktu lalu. Dirut Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan menyampaikan hal tersebut dalam salah satu agenda rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (20/2). Ia menjelaskan, menyambut masa Ramadhan dan Idul Fitri yang diperkirakan jatuh pada awal hingga akhir Maret 2025, Pertamina memfokuskan layanan energi di enam sektor, yaitu rumah tangga, transportasi air, transportasi udara, transportasi darat, industri, dan sarana fasilitas untuk mendukung pengoperasian layanan.

”Di sektor rumah tangga, kami akan menyiapkan 6.517 agen (elpiji), 5.400 di antaranya beroperasi 24 jam,” ujar Riva. Pihaknya memprediksi permintaan elpiji untuk rumah tangga akan naik 6,7 % menjadi 30.926 metrik ton per hari pada periode Ramadhan-Idul Fitri. Pertamina Patra Niaga juga menyiagakan 273.242 pangkalan elpiji bersubsidi (PSO) dan 97.993 outlet elpiji non-PSO. Selain itu, ada 212 agen minyak tanah yang mencakup 197 PSO dan 15 non-PSO. Terkini, ada sekitar 370.000 sub pangkalan yang mengecer elpiji bersubsidi yang sudah masuk ke sistem Merchant Applications Pertamina (MAP). Meski demikian, untuk pengecer yang sudah beroperasi, tetapi belum terdaftar, akan tetap didukung Pertamina untuk menyuplai elpiji 3 kilogram (kg), yang biasa disebut gas ”melon” tersebut. Saat ini, Riva mencatat, ada sekitar 2 juta pengecer yang sedang dalam proses pendaftaran. ”Oleh karena itu, kami memastikan bahwa di masa pelayanan Ramadhan dan Idul Fitri, pelayanan untuk elpiji 3 kg akan berjalan dengan lancar, insya Allah,” katanya. (Yoga)


NU Soroti Kedaulatan Maritim Nasional

21 Feb 2025

Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung pada 5–7 Februari menghasilkan keputusan penting terkait pengelolaan laut di Indonesia. Salah satu keputusan utama adalah penegasan bahwa kepemilikan laut oleh individu atau perusahaan adalah haram dan bertentangan dengan prinsip syariat. PBNU menegaskan bahwa negara memiliki kewenangan untuk memberikan izin pemanfaatan laut untuk kepentingan tertentu, namun pengelolaannya harus tetap berada di bawah kendali negara dan tidak boleh dialihkan menjadi milik perseorangan atau perusahaan.

Keputusan ini sejalan dengan ketentuan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang mengatur kedaulatan negara kepulauan atas wilayah laut. NU mengkritik praktik pengaplingan laut yang semakin marak, dengan beberapa pihak menggunakan berbagai modus, seperti abrasi atau reklamasi, untuk mengalihkan kepemilikan laut dan menerbitkan sertifikat hak milik atau hak guna bangunan (HGB). Praktik ini dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap keberadaan laut sebagai "mal al musytarak" yang harus dijaga oleh negara.

Dalam menghadapi pengaplingan laut ini, NU mengimbau pentingnya sinergi antara pemerintah dan berbagai pihak terkait, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ombudsman, serta pihak lainnya, untuk memastikan kelestarian dan kedaulatan laut Indonesia. Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN), Nusron Wahid, telah berinisiatif untuk mencabut sertifikat-sertifikat tersebut, yang perlu didukung dengan pengawasan yang ketat untuk mencegah praktik perampasan ruang laut (ocean grabbing). Keberlanjutan pengelolaan laut yang adil dan sesuai dengan prinsip kedaulatan negara menjadi pesan moral utama dari NU dalam forum tersebut.


MITI Kritisi Pengesahan Revisi UU Minerba: Insentif Besar untuk Pengusaha

21 Feb 2025
Pembina Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), Mulyanto, mengkritisi revisi Undang-Undang Mineral dan batu bara (UU Minerba) yang baru saja disahkan dalam rapat paripurna DPR pada Selasa, 18 Februari 2025. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi lebih menguntungkan segelintir pengusaha dibanding kepentingan negara. Dalam aturan baru ini, badan usaha swasta yang melakukan hilirisasi akan mendapatkan prioritas dalam memperoleh Izin Usaha Pertambangan (IUP) mineral dan batu bara tanpa melalui mekanisme lelang. Selain itu, dalam UU Cipta Kerja sebelumnya, perusahaan yang melakukan hilirisasi batu bara juga diberikan insentif berupa pembebasan royalti atau tarif nol persen. "Ini insentif yang sangat besar. Pertama, mereka mendapat IUP tanpa lelang, lalu mereka juga ‘gratis’ dari kewajiban membayar royalti ke negara. Jika pemerintah tidak cermat dan berhati-hati, pendapatan negara bisa merosot, terutama saat harga komoditas sedang tinggi," ujar Mulyanto dalam keterangan resminya Jumat, 21 Februari 2025.

Ia mengingatkan, selama ini sektor mineral dan batu bara menjadi salah satu kontributor utama bagi penerimaan negara. Dengan aturan baru ini, ia khawatir perusahaan swasta akan memanfaatkan kebijakan tersebut tanpa benar-benar menjalankan hilirisasi yang dijanjikan. "Jangan sampai pemerintah kecolongan oleh badan usaha swasta yang hanya sekadar menyampaikan proposal hilirisasi, tetapi pada praktiknya nihil," ujarnya. Sebagai langkah antisipasi, Mulyanto mendesak pemerintah menetapkan kriteria yang jelas terkait indikator keberhasilan hilirisasi minerba serta memastikan adanya pengawasan yang ketat agar kebijakan ini tidak merugikan keuangan negara.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut regulasi ini sebagai “jihad konstitusi” demi memastikan pengelolaan sumber daya alam sepenuhnya berpihak kepada rakyat. "Jadi ini adalah jihad konstitusi untuk mengembalikan roh, makna, substansi, dan tujuan dari Pasal 33 UUD 1945 di mana seluruh kekayaan negara—baik di darat, laut, maupun udara—harus dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat," ujar Bahlil dalam Indonesia Economic Summit di Jakarta, Rabu 19 Februari 2025. (Yetede)