Lingkungan Hidup
( 5820 )Ekspor Feronikel Sultra Tembus Rp 6,2 Triliun
Ekspor feronikel dari Sulawesi Tenggara mencapai nilai tertinggi dalam periode dua tahun terakhir. Ekspor olahan nikel, yang sebagian besar dikirim ke China, mencapai 429 juta dollar AS (Rp 6,2 triliun), naik 260 persen dari periode sama tahun 2020.
Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra Surianti Toar dalam pernyataan pers virtual di Kendari, Rabu (2/6/2021), menuturkan, ”Nilai fantastis karena terjadi kenaikan yang sangat signifikan. Secara volume juga meningkat, di mana nilai dan volume ekspor ini didominasi oleh industri pengolahan besi dan baja yang menjadi primadona Sultra”.
Kepala Laboratorium Ilmu Ekonomi Universitas Halu Oleo Syamsir Nur berpendapat, tingginya ekspor nikel Sultra didorong pulihnya perekonomian China. Salah satu yang mendorong tingginya nilai ekspor feronikel Sultra adalah kenaikan harga nikel dunia.Investor Migas Global Mulai Hengkang dari RI
Sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) memilih hengkang setelah bertahun-tahun berinvestasi di ladang minyak dan gas Indonesia. Setelah Royal Dutch Shell memastikan bakal hengkang dari Blok Masela (Maluku), kini ConocoPhilips berniat keluar dari Blok Corridor (Sumatra Selatan).
Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Fatar Yani Abdurrahman mengungkapkan, rencana ConocoPhillips melepas hak partisipasi alias participating interest (Pl) pada Blok Corridor telah disampaikan kepada SKK Migas. "Secara verbal sudah disampaikan seperti itu (melepas PI)," kata dia kepada KONTAN, Senin (31/5). Kendati sudah menyatakan niat secara verbal, ConocoPhillips belum memerinci lebih jauh alasan melepas PI di Blok Corridor. Fatar memastikan belum ada rencana pertemuan dengan ConocoPhillips. SKK Migas masih menanti pengajuan proposal secara resmi ConocoPhillips. Vice President Commercial and Business Development ConocoPhillips Taufik Ahmad enggan berkomentar lebih jauh soal kabar ini. "Sampai saat ini belum ada penjelasan tambahan selain dari apa yang disampaikan SKK Migas, " ungkap dia saat dihubungi KONTAN, Selasa (1/6).
Saat ini, ConocoPhillips tercatat sebagai kontraktor Blok Corridor dengan hak partisipasi sebesar 54% dan Repsol Energy memiliki porsi 36%. Adapun Pertamina menggenggam hak partisipasi 10%. Kontrak bagi hasil (PSC) di Blok Corridor akan berakhir pada 20 Desember 2023. Kontrak bagi hasil yang baru telah ditandatangani pada 2019, dimana KKKS existing meraih perpanjangan selama 20 tahun dengan PSC Gross Split. Pada kurun 2023-2026 akan dilakukan masa transisi, dimana ConocoPhillips masih akan menjadi operator. Namun setelah periode tersebut, operatorship akan berpindah kepada Pertamina. Kelak, di kontrak bagi hasil terbaru, ada perubahan besaran Pl, yakni Pertamina Hulu Energi Corridor menguasai 30%, ConocoPhillips 46% dan Repsol 24%. Rencana hengkangnya ConocoPhillips menambah panjang daftar perusahaan migas global yang keluar dari Indonesia.
Pada Juli 2020, Royal Dutch Shell berencana mundur dari Proyek Gas Abadi Blok Masela. Shell yang memegang hak partisipasi 35% pun kini masih mencari calon pengganti. Investor lain yang juga berniat keluar adalah PT Chevron Pacific Indonesia yang bakal melepas hak partisipasi di Blok Indonesia Deep Water Development (IDD). Setelah Shell hengkang, Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno bilang, pencarian mitra untuk Blok Masela ditargetkan rampung akhir tahun ini. "Shell sedang berproses untuk mencari pengganti sampai akhir tahun ini. Chevron pun demikian. Hal yang biasa di dunia usaha, " kata dia, Selasa (1/6).
Berdayakan Koperasi Peternak Sapi Perah
Pemerintah perlu memperkuat koperasi peternak sapi perah guna menggenjot populasi sapi dan produksi susu segar dalam negeri. Timpangnya pertumbuhan antara produksi dengan permintaan susu selama ini berpotensi membuat Indonesia makin bergantung pada susu dan produk susu impor. Selama kurun 2015-2018, konsumsi susu tumbuh rata-rata 11,73 persen per tahun, sementara produksi susu segar dalam negeri tumbuh 6,13 persen (Kompas, 16/9/2020). Dampaknya adalah naiknya impor susu dan produk-produk susu. Data Kementerian Perdagangan memperlihatkan nilai impor susu dan produk susu cenderung naik, dari 326,7 juta dollar AS tahun 2016 menjadi 541,6 juta dollar AS tahun 2020. Lesunya gairah peternak sapi perah tergambar dari susutnya jumlah koperasi susu.
Menurut Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana, saat ini terdapat 52 koperasi primer di sektor peternakan sapi perah, jauh lebih rendah dibandingkan dengan lima tahun lalu yang mencapai 95 koperasi. ”Penurunan itu (jumlah koperasi) mengindikasikan merosotnya jumlah peternak sapi perah,” katanya saat dihubungi, Selasa (1/6/2021). Nilai impor sapi dara dari Australia untuk peternakan sapi perah diperkirakan Rp 40 juta per ekor. Menurut Teguh, supaya koperasi dapat mengembangbiakkan sapi dan memperoleh keuntungan, pemerintah perlu memberikan subsidi sehingga harga sapi dara impor mencapai Rp 20 juta per ekor ditingkat peternak.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim mengatakan, susu segar dalam negeri yang diserap untuk bahan baku industri sepanjang tahun 2020 mencapai 0,85 juta ton. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2015 yang 0,75 juta ton. Namun, porsi susu segar dalam negeri dalam bahan baku industri hanya berkisar 20-23 persen dan sisanya masih impor. ”Setiap tahun impor bahan baku susu oleh industri masih tinggi. Hal ini disebabkan akselerasi pertumbuhan industri pengolahan susu yang lebih cepat dari kenaikan produksi susu segar dalam negeri,” ujar Abdul Rochim. Data volume impor komoditas pangan tertentu yang diolah Badan Pusat Statistik menunjukkan, impor susu sepanjang Januari-Maret 2021 mencapai 66.182 ton. Volume ini meningkat 5,76 persen dibandingkan dengan periode sama tahun 2020.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan, skala kepemilikan sapi perah rata-rata 2-3 ekor per peternak. Idealnya setiap peternak memiliki 7-10 ekor sapi. ”Peternak (sapi perah) umumnya masih berorientasi (peternakannya sebagai) usaha sampingan, bukan bisnis. Hari Susu Nusantara tahun ini menjadi momentum meningkatkan industri susu,” katanya melalui siaran pers. Menurut Kementerian Pertanian, produksi susu segar dalam negeri tahun 2020 meningkat 4,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang 997.000 ton. Sementara populasi sapi perah naik 4,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 584.582 ekor.
Bisnis Batubara Makin Membara
Bisnis batubara di Indonesia dinilai masih menguntungkan, dan makin membara. Pasalnya, harga batubara disebut makin naik, di pasar internasional.
Merujuk data Bloomberg, harga batubara ICE Newcastle untuk kontrak September 2021 telah berada di level USD 107 atau Rpl, 5 juta per ton pada perdagangan Jumat (28/5). Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa waktu terakhir. Jika harga tersebut bisa bertahan, atau malah masih menguat, tentu akan mendorong kinerja emiten batubara pada kuartal II-2021.
Sementara itu, analis Phillip Sekuritas Indonesia Michael Filbery memperkirakan, harga acuan batubara pada tahun ini akan berada di level USD 75,0 per ton.
Salah satu sentimen datang dari larangan China atas impor batubara asal Australia. Kebijakan tersebut membuat ketersediaan batubara berkalori menengah berkurang. Hal ini pada akhirnya bisa menjadi katalis positif bagi pasar batubara Indonesia.
Warga Tolak Rencana Pengeboran Migas PT Medco Energy
Masyarakat yang terdiri dari pemuda dan nelayan Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura bersikukuh menolak rencana pengeboran minyak dan gas di desa setempat.
Kesepakatan penolakan tersebut berdasarkan hasil pertemuan yang dilakukan oleh Forum Nelayan Peduli lingkungan (FNPL), Kamis (27/5) malam. Puluhan masyarakat yang hadir pada pertemuan itu, menghasilkan kesepakatan menolak terkait rencana pengeboran Migas oleh PT. Medco Energy. Penolakan itu didasari hasil musyawarah dan diskusi soal dampak eksplorasi migas di wilayah mereka.
Ada beberapa alasan penolakan masyarakat nelayan. Masyarakat sekitar mempertimbangkan bahwa pengeboran tersebut dinilai ada dampak positif dan negatifnya. Namun masyarakat menyakini akan dampak negatif yang lebih. Rencana Pengeboran ini sangat merugikan masyarakat setempat, terutama aktivitas nelayan di laut menjadi terbatas atau terhalang oleh aktivitas pengeboran migas.
Masyarakat Desa Tanjung dan sekitarnya meminta agar rencana pengeboran migas oleh PT. Medco Energy segera diakhiri, dengan memperhatikan (tidak merugikan) masyarakat setempat dan sekitarnya. Jadi, kesepakatan akhir dari pertemuan yang dihadiri puluhan perwakilan nelayan itu, bahwa kami sepakat menolak rencana pengeboran migas di laut Desa Tanjung.
Naik Turun Harga BBM, Seirama Harga Minyak Dunia
JAKARTA. Harga minyak mentah di pasar global menguat. Senin (24/5), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli 2021 di New York Mercantile Exchange naik 0,53% ke level US$ 64,84 per barel dari posisi akhir pekan lalu. Sejalan dengan itu, harga minyak Brent kontrak Juli 2021 di ICE Future naik 0,48% ke US$ 66,76 per barel. Kenaikan harga minyak dunia bisa mempengaruhi harga bensin di dalam negeri. Sebab, harga bahan bakar minyak (BBM) merujuk pada harga minyak internasional.
Namun yang pasti, kenaikan harga minyak mentah global telah memicu kenaikan harga BBM milik pengelola SPBU. Kenaikannya sebanyak dua kali dalam satu bulan. Ambil contoh, harga BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Shell pada Maret 2021, untuk jenis Shell Super (RON 92) di posisi Rp 9.560 per liter. Angka itu sudah naik Rp 435 per liter dari sebelumnya Rp 9.125 per liter.
Vice President External Relation Shell Indonesia Rhea Sianipar pernah bilang, penyesuaian harga memang dilakukan secara berkala. "Kami melakukan penyesuaian terhadap harga BBM dari waktu ke waktu dengan memperhatikan kondisi pasar dan kinerja perusahaan," jelas dia.Ia memastikan Shell tetap berupaya menyediakan akses bahan bakar berkualitas dan aman bagi konsumen. Demikian pula harga BBM SPBU BP dan VIVO yang juga sudah menyesuaikan harga jual karena kenaikan harga minyak mentah. Sedangkan Pertamina hingga kemarin belum menyesuaikan harga BBM non-subsidi. Pjs. Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman menyatakan, Pertamina terus menganalisis dan evaluasi terhadap berbagai faktor yang menjadi komponen penting dalam penentuan harga BBM non-subsidi, sesuai dengan ketentuan Peraturan ESDM No. 62/2020.
(Oleh - HR1)Kendaraan Listrik, RI Butuh Baterai 759.000 Ton
Bisnis, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memproyeksikan kebutuhan baterai lithium ion dalam negeri untuk kendaraan listrik mencapai 758.693 ton pada 2030.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan bahwa dalam Grand Strategi Energi Nasional (GSEN), pemerintah menargetkan mobil listrik di dalam negeri dapat mencapai 2 juta unit pada 2030 dan sepeda motor listrik sebanyak 13 juta unit pada 2030.
(Oleh - HR1)
Pertamina Mencari Dana Eksternal US$ 40 Miliar
Grup Pertamina memproyeksikan kebutuhan investasi eksternal minimal USS 40 miliar atau Rp 572 triliun selama 2020 hingga 2024. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Pertamina menjajaki beragam opsi pendanaan, baik kemitraan maupun lewat Indonesia Investment Authority (INA) atau Sovereign Wealth Fund(SWF). Pada Rabu (19/5) lalu, Pertamina dan INA meneken perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA).
Penandatanganan dilakukan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Ketua Dewan Direktur INA Ridha Wirakusumah. Nicke mengungkapkan, Pertamina membutuhkan investasi untuk mendanai 14 proyek strategis nasional (PSN) dan 300 proyek lainnya. Total kebutuhan hingga tahun 2024 mencapai USS 92 miliar. Secara terperinci, dari total kebutuhan tersebut, senilai USS 64 miliar untuk proyek upstream, USS 20 miliar untuk proyek downstream dan sekitar USS 8 miliar untuk proyek gas, power dan energi baru terbarukan (EBT). "Kami merencanakan minimal USS 40 miliar dari sumber eksternal, baik kemitraan maupun loan dan bond, " ungkap Nicke dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR, Kamis (20/5).
Pejabat Sementara Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman mengungkapkan, pihaknya memang membuka diri terhadap berbagai opsi pendanaan untuk rangkaian proyek dalam beberapa tahun ke depan. "Pada dasarnya Pertamina terbuka dengan opsi proyek yang memerlukan pendanaan eksternal, " ujar dia kepada KONTAN, kemarin. Sebagai langkah awal, Pertamina dan INA menjajaki potensi kemitraan strategis investasi pada sektor energi, termasuk energi terbarukan yang dijalankan Pertamina untuk mewujudkan ketahanan energi dan menggerakkan perekonomian nasional. Selain merancang pembiayaan dari INA, Pertamina akan mendorong anak usahanya mencari pendanaan dari pasar saham Indonesia. Salah satu prioritas Pertamina adalah penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) PT Pertamina International Shipping (PIS).
Grup Pertamina merancang Pertamina International Shipping menjadi integrated marine & logistic company atau bukan hanya sebagai shipping company. "Jika pengembangan gas di Jawa dan Sumatra menggunakan pipa, maka di Indonesia Timur tidak mungkin memakai pipa, juga tidak mungkin melalui pipa bawah laut, karena mahal, " terang Nicke. Dia pun mengungkapkan, pengembangan gas akan melalui virtual pipeline. Kelak, skema pemanfaatan gas untuk Indonesia Timur adalah mengonversi gas ke LNG kemudian dibawa menggunakan satu kapal LNG berukuran besar dan selanjutnya dibawa menggunakan kapal LNG berukuran kecil.
Nantinya Pertamina bakal membangun sejumlah unit regasifikasi di beberapa titik demi mewujudkan virtual pipeline gas. "Perlu satu kapal LNG besar dan kapal LNG kecil tiga unit serta unit regasifikasi, " sambung Nicke. Rencana untuk mendorong pemanfaatan gas juga sejalan dengan target konversi 3.000 Megawatt (MW) pembangkit listrik PLN yang masih menggunakan fuel menjadi pembangkit EBT.Penyerapan Beras Domestik Produktif, Uregnsi Impor Terkikis
Bisnis, Jakarta - Perum Bulog optimistis impor beras untuk cadangan beras pemerintah atau CBP tidak perlu dilakukan. Dengan penyerapan beras dalam negeri yang berlanjut dan penyaluran lewat kanal penyaluran yang ada, stok kelolaan diyakini berada dalam posisi aman sebagaimana amanat pemerintah. Dengan kondisi stok saat ini, Bulog telah memenuhi kriteria stok CBP yang diamanatkan pemerintah di angka 1 juta ton sampai 1,5 juta ton. Perusahaan pun berencana kembali menyerap beras kala panen putaran selanjutnya yang jatuh pada Agustus dan September.
Proyeksi stok yang aman sampai akhir tahun bisa dicapai jika Bulog hanya menyalurkan beras lewat kanal kegiata ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH), tanggap darurat bencana, dan penyaluran secara komersial. Di sisi lain, pmerintah sebelumnya memberi tugas pada Bulog untuk bisa menyerap 900.000 ton beras sampai Juni. Penyerapan gabah atau beras Bulog yang masih dibawah target pemerintah bukan hal baru sebagai konsekuensi dari kebijakan yang tidak akomodatif.
Banyak regulasi perberasan yang mengakibatkan Bulog sulit menyerap sesuai target. Salah satunya penyaluran beras yang terbatas pada kanal tertentu, sehingga membuat BUlog harus menyimpan stok CBP dalam jumlah besar tanpa kepastian ke mana beras akan disalurkan. Beras pengadaan 2018 dan 2019 yang masih tersisa menunjukkan adanya kekeliruan dalam manajemen stok yang perlu dibenahi. Bahkan tak mungkin serapan beras Bulog saat ini bisa menghadapi permasalahan penurunan mutu.
(Oleh - IDS)
Ekosistem Kendaraan Listrik, Kian Dekat Wujudkan Mimpi
Langkah Indonesia untuk mewujudkan mimpi menjadi salah satu pemain besar dalam industri baterai kendaraan listrik dunia kian nyata. Sedikit demi sedikit persiapan makin matang. Setelah diumumkannya pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia pada Maret lalu, holding baterai tersebut belum lama ini juga telah menandatangani heads of agreement (HoA) dengan konsorsium baterai LG asal Korea Selatan. Konsorsium LG yang terdiri atas LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding tersebut akan bermitra dengan IBC untuk mengembangkan ekosistem industri baterai kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Memang belum jelas kapan megaproyek baterai senilai US$17 miliar tersebut akan dieksekusi. Namun, sejumlah persiapan terus dilakukan hingga saat ini.
Mining and Industry Indonesia (MIND ID), salah satu anggota IBC, menyebut bahwa IBC terlebih dahulu akan melakukan joint study bersama mitra globalnya untuk menentukan lokasi tambang, kualitas bijih nikel yang akan dipakai, serta menentukan lokasi pembangunan pabrik baterai. CEO Grup MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan para calon mitra global tersebut telah mulai melakukan verifikasi terhadap kualitas bijih nikel di lokasi tambang milik PT Antam Tbk. yang terletak di Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara. “Yang China sudah testing di area-area yang memang dari Antam sudah dialokasikan bagi mereka. LG pun ada alokasi lahan untuk mereka dan sudah berangkat ke sana,” kata Orias akhir pekan lalu.
Rencananya akan dibangun smelter HPAL oleh Antam serta pabrik prekursor dan katoda oleh PT Pertamina (Persero) dan MIND ID yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2024. Sementara itu, pabrik cell to pack oleh Pertamina dan PT PLN (Persero) direncanakan mulai beroperasi pada 2025. Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia Toto Nugroho menyampaikan bahwa pihaknya akan langsung berkonsolidasi dengan konsorsium LG untuk menentukan target-target penyelesaian proyek. Di sisi lain, MIND ID juga tengah mulai mencari pasokan litium sebagai salah satu bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik. Upaya pencarian dilakukan, baik di dalam negeri maupun sejumlah negara potensial.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









