Komoditas Kakao Bali, Produksi Tak Diimbangi Ekspor
Bisnis, DENPASAR —Peningkatan produksi kakao Kabupaten Jembrana Bali yang selama 2020 tidak dibarengi kinerja ekspor karena pasar global terhantam pandemi Covid-19.
Direktur Yayasan Kalimajari I Gusti Agung Ayu Widiastuti mengatakan rata-rata produksi petani anggota koperasi mencapai 100 ton—125 ton per tahun.
Selama 2020, produksi petani kakao di Jembarana Bali di bawah binaan koperasi Kalimajari dinilai mengalami peningkatan hampir 25% secara tahunan (year on year/yoy).
Peningkatan produksi ternyata dihadapkan pada rendahnya serapan kakao untuk diolah menjadi bijih fermentasi, apalagi ketika sejumlah negara improtir menunda sementara pembelian dari koperasi.
Setidaknya, ketika pandemi melanda Indonesia pengiriman ke Prancis 12,5 ton mengalami penundaan. Kondisi serupa disusul oleh Belgia dan sejumlah buyer lokal atau nasional.
Koperasi Kalimajari mengambil peluang dengan mengolah bijih kakao asalan menjadi kakao fermentasi yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Di Pasar lokal, bijih asalan kakao dijual Rp22.000—Rp25.000 per kilogram, sedangkan koperasi membeli kakao petani di harga RP40.000 per kilogram.
Pada akhirnya, di tengah kesulitan ekonomi saat pandemi berlangsung, Kalimajari berhasil mendapatkan pembelian dari buyer lama yakni Prancis dan Belanda, bahkan juga ada PO baru dari Jepang dan sejumlah buyer lokal.
Serapan kakao petani yang dilakukan Kalimajari untuk diolah dan dieskpor mencapai 47 ton selama 2020 atau naik tipis dibandingkan 2019 sebesar 44 ton.
(Oleh - HR1)
Tags :
#KomoditasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023