Lingkungan Hidup
( 5781 )Jadi Subholding, Pertaminan International Shipping Siap IPO
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara
Erick Thohir meresmikan subholding pertama
PT Pertamina (Persero) yaitu PT Pertamina
International Shipping (PT PIS). Selanjutnya,
pemerintah menargetkan PIS dapat melantai di
Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.
“Untuk go public tentu kami
melihat dari banyaknya corporate
action yang akan terjadi di market,
ada dari swasta ada BUMN, tentu
nanti window disesuaikan saat yang
tepat, tapi Insya Allah di tahun ini.
Kalau bulannya, kapannya kami
belum bisa, karena proses go public
itu tentu harus melakukan sosialisasi daripada pihak-pihak terkait,”
jelas Menteri BUMN Erick Thohir
dalam acara Peresmian PIS sebagai
Subholding Shipping Pertamina di
Jakarta, Rabu (5/5).
Erick menjelaskan transformasi
secara menyeluruh dilakukan sejak awal tahun 2020. Kementerian
BUMN memang sudah merapikan
road map dari masing-masing BUMN
sejak lama. Sayangnya, progres dari
masing-masing BUMN ada yang
cepat ada yang lamban. “Saya hari ini
mengapresiasi bahwa langkah yang
dilakukan Pertamina melakukan
transformasi ini cepat jadi bukan
masuk ke yang lambat,” katanya.
Rencana integrasi merupakan
bagian dari logistik kelautan, yang
tadinya hanya bisnis kapal sekarang
menjadi integrasi bisnis kelautan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa langkah strategis tersebut merupakan bagian dari rencana Pertamina untuk mengintegrasikan bisnis dari PT PIS yang nantinya tidak hanya mengelola kapal-kapal tetapi juga sampai pada bisnis marine logistics. “Saya harap PT PIS dapat menjalankan amanah yang telah diberikan oleh PT Pertamina (Persero), dengan terus mengembangkan bisnisnya, menangkap setiap peluang bisnis yang ada, dan terus fokus untuk menjadi urat nadi pendistribusian energi untuk negeri,” ujarnya. Nicke mengatakan setelah resmi menjadi Subholding Shipping Pertamina, kini PIS mengelola 750 armada kapal, di mana 540 milik sendiri dan selebihnya sewa, serta mengelola enam pelabuhan dan terminal BBM dan LPG.
Pemain Global
PT Pertamina International Shipping (PIS), Subholding Shipping Pertamina, menargetkan bisa menjadi
pemain global di bidang perkapalan
dan logistik kelautan terintegrasi.
Terdapat tiga negara yang disasar
PIS untuk menangkap pertumbuhan
bisnis logistik perusahaan yakni
Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Manager Business Development
Pertamina International Shipping
Dian Prama Irfani mengatakan,
beberapa negara Asia Tenggara
tersebut mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi atau
Produk Domestik Bruto (Gross
Domestic Product/ GDP). Alhasil,
ini juga berdampak pada peningkatan permintaan energi di negaranegara tersebut.
(Oleh - HR1)
Pertamina Shipping dapat Inbreng 71 Kapal Migas
Perusahaan minyak plat merah, PT Pertamina, resmi menyetorkan modal non-tunai (inbreng) ke anak usahanya, PT Pertamina International Shipping. Inbreng tersebut berupa penyerahan 71 unit kapal angkutan minyak dan gas (migas) kepada Pertamina Shipping.
Pelaksanaan inbreng ini bagian dari penataan usaha di Pertamina sebagai holding migas, serta persiapan penjualan saham perdana (IPO) Pertamina Shipping di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Pertamina sudah melakukan inbreng sebagai bagian dari pembentukan subholding marine logistics, " kata Pahala Mansuri, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada KONTAN, Senin (3/5). Pahala menyatakan, nilai dari 71 kapal tanker itu mencapai Rp 9 triliun. Pertamina Shipping pun berpotensi menjadi perusahaan marine logistic terbesar di Asia Tenggara. "Kami yakin itu bisa direalisasikan. Apalagi, saat ini kebutuhan kapal Pertamina lebih dari 200 kapal, " ujarnya.
Melalui pembentukan subholding, bisnis Pertamina Shipping akan mencakup marine logistics terintegrasi. Mulai dari shipping, storage dan pengelolaan pelabuhan. Dari segi armada juga terus diperkuat. Belum lama ini, misalnya, Pertamina sudah membeli 1 kapal tanker very large crude carrier (VLCC) dari Jepang dan 1 kapal VLCC dari Korea Selatan.
RUU Migas Harus Dituntaskan
JAKARTA – Perdebatan tentang Undang-Undang Migas kembali
bergulir. Sejumlah akademisi, praktisi dan pengamat energi
menyatakan revisi undang-undang migas harus segera dituntaskan
untuk kepastian investasi hulu migas di Indonesia. Apalagi,
pemerintah memiliki target untuk mencapai produksi minyak 1 juta
barel per hari (barrel oil per day/BOPD) dan gas 12 juta kaki kubik per
hari (billion standard cubic feet per day/BSCFD) pada tahun 2030.
Sekjen PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kholid Syerazi mengatakan, UU Migas yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi
(MK) sebagai sebuah kebobolan
undang-undang dalam pengelolaan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak.
“Revisi UU Migas harus segera
dilakukan dengan tetap mengacu
pada keputusan MK tahun 2012,
yaitu harus dikelola oleh Badan
Usaha Khusus Milik Negara,”
katanya dalam Forum Group
Discussion di Kampus Universitas Airlangga Surabaya akhir
pekan lalu, yang menghadirkan
pengamat migas yang juga mantan Wakil Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Susilo
Siswoutomo, Dekan Fakultas
Hukum Universitas Airlangga
Iman Prihandono, dan Pengamat
Energi Indria Wahyuni. FGD ini
dibuka oleh Rektor Universitas
Airlangga Mohammad Nasih.
Agar revisi UU Migas dapat
dituntaskan, Kholid Syerazi
mengusulkan agar inisiasi revisi UU Migas diambil alih
oleh Pemerintah. Kholid juga
mengusulkan agar SKK Migas
ditetapkan diubah bentuknya
dan ditetapkan sebagai BUMN.
Sementara itu, pengamat energi Indria Wahyuni menyoroti belum adanya lembaga permanen
yang mengelola hulu migas pasca
putusan Mahkamah Konstitusi
mengakibatknya tidak adanya
kepastian usaha bagi investor.
“Selama 9 tahun berjalannya
lembaga sementara maka masih
berkutat pada conflict of norms,
padahal ada komisi pengawas
yang didalamnya terdapat menteri
sampai Kapolri, namun ini tidak menyelesaikan masalah,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan
Komunikasi SKK Migas Susana
Kurniasih mengatakan, untuk
industri hulu migas, keberadaan
RUU Migas tentu akan memberikan sinyal atau dampak positif
adanya suatu kepastian sejak
Putusan MK tahun 2012.
Direktur Eksekutif ReforMiner
Institute Komaidi
Notonegoro menyayangkan RUU
Migas ini tak kunjung dibahas. Padahal, prosesnya
sudah berlangsung
cukup lama. Hal ini, kata dia, tentu saja menimbulkan
ketidakpastian di bidang hukum
untuk kegiatan investasi.
“Di sisi lain, kita tahu pemerintah punya target mencapai
produksi 1 juta barel per hari.
Seharusnya ini inline dengan
upaya menuntaskan UU Migas.
Dengan kondisi seperti ini, saya
kira akan sulit untuk mencapai
target produksi tersebut,” kata
Komaidi kepada Investor Daily.
RUU Migas sebenarnya telah
masuk Prolegnas sejak 2015
lalu. Namun, hingga masa kerja
DPR RI selesai tahun lalu pembahasannya tak kunjung rampung.
Alasannya, pemerintah belum
juga menyerahkan Daftar Isian
Masalah (DIM) RUU Migas.
Pada 2018, pemerintah hanya
menyerahkan Surat Presiden
(Surpres) dari Presiden Jokowi
ke DPR, tapi DIM yang menjadi
catatan untuk menyelesaikan
RUU ini justru belum diserahkan.
Alhasil DPR mendahulukan revisi UU lain di sektor energi yang
pembahasan DIM-nya sudah
dirampungkan yakni RUU Mineral dan Batu Bara (Minerba)
yang kini telah disahkan menjadi
UU Nomor 3 Tahun 2020.
(Oleh - HR1)
Tujuh Investor Lirik Bisnis Sawit dan Karet di KEK Sei Mangkei
JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara
PTPN III (Persero) atau PTPN Group menyatakan, tujuh pelaku bisnis atau investor potensial dari dalam dan luar negeri mulai membidik serta berinvestasi di Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) Sei Mangkei, terutama untuk
bergerak di bidang atau sektor kelapa sawit
dan karet. KEK Sei Mangkei mulai dibidik
investor karena kawasan industri tersebut
dinilai sangat strategis, yakni berada di sentra
bahan baku berbasis agro, dekat dengan Selat Malaka, serta memiliki sarana pendukung
logistik yang memadai dengan menghadirkan konektivitas yang terintegrasi di kawasan
tersebut.
Direktur Utama PTPN Group
Mohammad Abdul Ghani menjelaskan, KEK Sei Mangkei
mulai diminati, jumlah investor
asing dan domestik yang berinvestasi meningkat siginifikan.
PTPN Group sebagai pengelola
KEK yang lokasi di Kabupaten
Simalungun, Sumatra Utara (Sumut), tersebut, menyebutkan,
tahun ini minat investasi di KEK
Sei Mangkei mengalami tren
peningkatan yang signifikan
dibanding tahun lalu karena
pelaku bisnis atau investor potensial mulai membidik serta
berinvestasi terutama bergerak
di sektor kelapa sawit dan karet.
“Hal ini menunjukkan kebangkitan KEK Sei Mangkei sebagai kawasan industri strategis
terdepan dalam pelayanan dan
diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan penanaman
modal asing atau Foreign Direct
Investment (FDI) di Indonesia,”
jelas dia, Minggu (2/5).
Ghani mengungkapkan, terdapat tujuh perusahaan ternama
dengan nilai okupansi hampir
100 hektare (ha) akan masuk ke
kawasaan industri Sei Mangkei
sebagai permulaan dari investasi
baru pada tahun ini mengingat
tahun sebelumnya terdampak
akibat pandemi Covid-19. “PTPN
Group sebagai Badan Usaha
Pembangunan dan Pengelola
KEK Sei Mangkei berkomitmen untuk ter us ber upaya
melengkapi fasilitas infrastuktur
di dalam kawasan industri dan
memberikan pelayanan terbaik
kepada pelaku usaha, baik investor asing maupun domestik,”
jelas Abdul Ghani.
Konsep KIT Batang
Sementara itu, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
Bahlil Lahadalia ingin menerapkan konsep Kawasan Industri
Terpadu (KIT) Batang, Jawa
Tengah, dalam pengembangan
KEK Sei Mangkei sebagaimana
arahan Presiden Jokowi. “Saya
datang ke KEK Sei Mangkei
untuk melihat lebih dekat dan
melihat apa yang perlu diperbaiki, bagaimana mempercepat
tenant-tenant ini bisa terisi. Ini
kawasan yang kurang lebih
hampir 2.000 ha ternyata baru
lima tenant yang ada dan baru
menempati 10% lahan," katanya
saat melakukan peninjauan
langsung ke KEK Sei Mangkei,
Jumat (30/4).
Ghani mengapresiasi kehadiran Menteri Investasi/Kepala
BKPM ke KEK Sei Mangkei
sebagai wujud komitmen pemerintah membantu percepatan
investasi. Harapannya, KEK Sei
Mangkei dapat berkembang
seperti KIT Batang, pada fase
pertama seluas 450 ha sudah
berhasil terisi hanya dalam sembilan bulan. “Sesuai yang disampaikan Pak Menteri, dengan
investasilah kita bisa menumbuhkan ekonomi. Harapan kami
kalau industri tumbuh, puluhan
ribu orang menjadi karyawan
lalu menumbuhkan ekonomi
dan kesejahteraan masyarakat
sekitar. Kami akan ikut arahan
Pak Menteri, seperti di Batang,"
kata Ghani.
(Oleh - HR1)
Waspadai Krisis India
Ekonom Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, Minggu (2/5/2021), mengatakan, krisis kesehatan di sejumlah negara akibat ledakan kasus Covid-19 tidak hanya berpotensi melumpuhkan tenaga-tenaga kesehatan. Hal itu juga dapat berimbas pada krisis kesehatan para pekerja di sektor ekonomi, termasuk perdagangan dan industri.
Di India, misalnya, ledakan kasus positif Covid-19 saat ini bukan sekadar membuat tenaga kesehatan kewalahan. Hal itu juga membuat aktivitas ekonomi terhambat oleh karantina wilayah di sejumlah wilayah. Para pekerja penggerak ekonomi pun kian luas terjangkit virus korona baru.
IHS Market mencatat, PMI manufaktur India pada Maret 2021 turun menjadi 55,4. Meski masih di ambang batas ekspansi, angka ini lebih rendah daripada PMI manufaktur pada Januari dan Februari 2021 yang masing-masing sebesar 57,7 dan 57,5. Fithra memperkirakan, lonjakan kasus Covid-19 akan membuat PMI manufaktur India turun sekitar 4 poin pada April 2021. Pada Mei 2021, indeks tersebut bisa lebih turun lagi di ambang batas ekspansi, yaitu menjadi sekitar 50.
Menurut Fithra, jika Indonesia membuka aktivitas ekonomi secara berlebihan dan membiarkan mobilitas masyarakat selama periode Lebaran tahun ini, akan ada guliran ekonomi dari aktivitas tersebut berkisar Rp 50 triliun-Rp 80 triliun. Simulasi hitungan tersebut sudah memperhitungkan masih lemahnya daya beli dan masih sedikit terbatasnya pergerakan masyarakat.
Krisis kesehatan di India, diyakini Fithra, tidak akan berpengaruh signifikan atau hanya sedikit saja mereduksi ekspor Indonesia, terutama minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batubara, ke negara itu. Pasalnya, Indonesia dapat memanfaatkan pasar-pasar lain, terutama AS, China, dan sejumlah negara di Eropa yang mampu mengendalikan Covid-19 dan ekonominya mulai pulih. ”Namun, yang perlu diwaspadai adalah pasokan vaksin Indonesia yang diproduksi di India diperkirakan bakal terhambat,” kata Fithra.
Kementerian Perdagangan mencatat, total perdagangan Indonesia-India pada 2020 senilai 14,18 miliar dollar AS. Neraca perdagangan Indonesia masih surplus 6,65 miliar dollar AS dari India. Produk ekspor utama Indonesia ke India adalah batubara, CPO, tembaga, karet, dan pupuk kimia. Sementara impor utama Indonesia dari India adalah daging kerbau beku, kacang, hidrokarbon siklik, produk baja, dan gula.
Pada 2020-2021, kapal yang membawa barang ekspor Indonesia ke India didominasi kapal tanker untuk barang curah cair, misalnya CPO, dan tongkang untuk barang curah padat seperti batubara. Untuk produk jenis itu umumnya bongkar muat tidak perlu banyak kontak fisik dengan awak kapal.
Atase Perdagangan Indonesia untuk New Delhi, India, Bona Kusuma menuturkan, Pemerintah India tetap mempertahankan pelayanan publik, salah satunya pelayanan kegiatan ekspor dan impor, meskipun pelayanan tersebut tidak berjalan secara penuh. Selain itu, Kementerian Perdagangan juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan untuk memastikan proses karantina di seluruh pelabuhan muat, terutama di Pelabuhan Dumai, Riau. Proses tersebut hanya dilakukan terhadap awak kapal dan bukan terhadap kapal dan muatan.
Produsen Batubara Kerek Produksi
Sejumlah produsen batubara bersiap merespons langkah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menaikkan kuota produksi batubara pada tahun ini. Kebijakan pemerintah itu bertujuan menggenjot volume ekspor batubara di tengah tren menguatnya harga dan permintaan komoditas energi ini.
Sekretaris Perusahaan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), Sudin Sudirman mengatakan, GEMS sedang menunggu persetujuan Kementerian ESDM atas revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) yang telah diajukan.
Jika nanti proposal disetujui, GEMS akan mengirim tambahan produksi batubara ke target pasar existing seperti China, India dan negara di kawasan ASEAN. Namun Sudin enggan membeberkan berapa kuota produksi tambahan yang diajukan GEMS. "Kami belum bisa menyampaikan karena sedang proses revisi RKAB, tunggu persetujuan dulu, " ujar dia kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Sebelumnya, Kementerian ESDM menargetkan produksi batubara tahun ini sebesar 550 juta ton. Kini, proyeksi itu naik menjadi 625 juta ton. Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 66.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri ESDM No.255.K/30/MEM/2020 tentang
Pemenuhan Kebutuhan Batubara Dalam Negeri Tahun 2021. Adapun penambahan 75 juta ton dikhususkan untuk pasar ekspor.
PT Harum Energy Tbk (HRUM) juga berencana mengerek produksi batubara di sepanjang tahun ini. jika semula HRUM mematok pertumbuhan produksi sebesar 25% year-on-year (yoy), kini mereka mengejar pertumbuhan 30% dibandingkan realisasi produksi tahun lalu.
Kenaikan Harga Minyak Tak Dongkrak PPh Migas
Penerimaan pajak di kuartal I-2021 minus 5,58% year on year (yoy). Salah satu penyebabnya kontraksi pada pajak penghasilan minyak dan gas bumi (PPh migas). Padahal harga minyak global tengah melesat kuartal l-2021.
Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara alias APBN 2021 menunjukkan kalau realisasi penerimaan PPh migas sebesar Rp 7,91 triliun di periode Januari - Maret 2021. Angka tersebut kontraksi 23,49% year on year (yoy).
Penerimaan PPh migas tersebut baru setara 17,28% dari target akhir tahun sebesar Rp 45,77 triliun. Sementara itu, harga minyak global jenis brent misalnya hingga akhir kuartal l-2021 menguat 23,8% year to date (ytd). Bahkan naik 61% year on year (yoy). Adapun hingga akhir Maret harga minyak brent ditutup pada level US$ 63,54 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan harga akhir kuartal l-2021 di kisaran USS 24 per barel.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati tidak menjelaskan lebih lanjut terkait kondisi penerimaan PPh migas yang kontraksi. Tetapi, secara umum penerimaan total pajak kuartal l-2021 masih minus diakibatkan oleh pandemi virus korona. "Karena Maret 2020 itu baru ada Covid-19, sementara sepanjang kuartal l-2021 dan sekarang ini masih ada pandemi Covid-19," kata Sri Mulyani saat Konferensi Pers Realisasi APBN pada pekan lalu.
Petani Milenial, Agro Jabar Jadi Offtaker
Satu bulan setelah kick off Petani Milenial, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Barat mulai menjalankan Program Pembudidaya Ikan Milenial (PIM). Budi daya ikan perdana ditandai dengan penebaran benih ikan di 60 kolam bioflok yang khusus dibangun untuk Peserta PIM di PSDKP WS Ciherang – Cianjur dipimpin Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Bupati Cianjur Herman Suherman, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat Hermansyah dan Direktur Utama PT Agro Jabar Kurnia Fajar, Selasa (27/4/2021). Pada budi daya ikan perdana ini juga dilakukan penandatangan perjanjian kerja sama kegiatan PIM antara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Barat, Hermansyah dan Direktur utama PT Agro Jabar Kurnia Fajar dan juga simbolis penyerahan mockup penyaluran KUR BJB kepada perwakilan peserta PIM, yaitu Rendy Triyadi dan Dimas Liggo Niode, disaksikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Kegiatan PIM bertujuan mencetak Pembudidaya Ikan Milenial sebagai agen pemulihan ekonomi di Jawa Barat: Menumbuhkembangkan kewirausahaan muda perikanan di Jawa Barat, Mengubah wajah perikanan menjadi segar, agar generasi milenial tertarik dengan pemanfaatan sain dan teknologi aquaculture, serta menciptakan perikanan lebih maju, mandiri, dan modern.
Direktur PT Agro Jabar Kurnia Fajar mengatakan model bisnis yang dirumuskan DKP Jabar adalah menggandeng pihaknyasebagai off taker sekaligus investor pembangunan capex (capital expenditure) berupa Kolam Bioflok (beserta aerator dan peralatan Pembudidaya Ikan lainnya) dengan mekanisme pemanfaatan Barang Milik Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Kemudian Penyediaan Opex: bibit, pakan, obat-obatan, listrik, dan operasional lainya menggunakan KUR dari BJB,” katanya dalam keterangan resmi. Kurnia juga memastikan bahwa BUMD yang dia pimpin sudah melangkah lebih awal untuk menggenjot usaha di sektor pangan dari mulai melon, jahe hingga rencana peluncuran beras Juara pasca Lebaran mendatang. Dalam program PIM pihaknya akan berdiri di ujung sebagai offtaker.
(Oleh - HR1)
Pajak Tambang dan Komunikasi Masih Tumbuh
Penerimaan pajak sektor pertambangan serta informasi dan komunikasi masing-masing tumbuh 9,29% yoy dan 8,68% yoy. Kedua sektor itu telah berada pada zona pertumbuhan positif, baik secara akumulatif maupun bulanan.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan pencapaian penerimaan pajak sektor pertambangan akibat melonjaknya penyerahan batu bara yang mulai terutang pajak pertambahan nilai (PPN) sejak November 2020.
Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi mengalami peningkatan kinerja terutama di bulan Maret didorong adanya transaksi penjualan dan penyewaan kembali atau sales and lease back atas menara telekomunikasi salah satu Wajib Pajak (WP) operator seluler. la pun optimistis sektor informasi dan komunikasi masih bisa tumbuh di era pandemi, seiring masih dibutuhkannya layanan teknologi informasi di masa pandemi.
Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute (TRI) Prianto Budi Saptono menilai setoran pajak sektor pertambangan akan kembali meningkat di kuartal II-2021, mengingat harga komoditas andalan dalam negeri sedang melonjak, seperti batu bara dan nikel.
Airlangga: RI Produsen Biodiesel Terbesar di Dunia
JAKARTA – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
mengatakan, Indonesia merupakan produsen terbesar biodiesel di dunia dengan jumlah
produksi mencapai 137 ribu
barel minyak per hari, lebih
tinggi dibandingkan angka
produksi biodiesel Amerika
Serikat, Brazil, dan Jerman.
"Indonesia menjadi negara
produsen biodiesel terbesar
di dunia dengan kapasitas 137
ribu barel minyak per hari.
Sedangkan Amerika Serikat
dengan 112 ribu barel, Brazil
99 ribu barel, dan Jerman 62
ribu barel minyak per hari,"
kata Menko dalam diskusi daring Membedah Urgensi RUU
Energi Baru dan Terbarukan
di Jakarta, Senin (26/4).
Biodiesel merupakan bahan
bakar nabati yang terdiri atas
campuran senyawa methyl ester
dari rantai panjang asam lemak
yang diperuntukkan sebagai
ba han bakar alternatif mesin
diesel.
Indonesia menggunakan minyak sawit mentah atau CPO
sebagai bahan baku utama
bio diesel. Minyak sawit dipilih
karena pembudidayaanya sudah
mapan mengingat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar nomor dua di dunia.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









