Lingkungan Hidup
( 5781 )Jokowi Ungkap Hilirisasi Nikel Bikin Ekspor Baja RI Tembus Rp 151 T
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap sudah menghentikan ekspor nikel mentah. Kini Indonesia mulai mengeskpor bahan jadi nikel yakni baja. Nilai ekspornya mencapai U$ 10,5 miliar setara Rp 151 triliun (kurs Rp 14.391).
Kira-kira ekspor besi baja kita dalam 1,5 tahun ini saja sudah berada di angka kurang lebih US$ 10,5 miliar," ujar Jokowi. dalam Pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia secara virtual, Kamis (26/8/2021).
Hilirisasi nikel itu menjadi salah satu dari tiga strategi besar dalam memulihkan ekonomi. Selain itu, ada strategi digitalisasi UMKM. Jokowi membeberkan hari ini sudah ada 15,5 juta UMKM yang sudah masuk dalam platform e-commerce. Jokowi ingin mendorong ada 60 juta UMKM agar masuk ke platform digital.
Jokowi Bentuk Badan Pangan Nasional
Presiden Joko Widodo membentuk Badan Pangan Nasional untuk melaksanakan tugas pemerintah di bidang pangan. Pembentukan Badan Pangan Nasional (BPN) dilakukan melalui PERPRES No.66 Tahun 2021 tentang BPN yang ditandatangani dan diberlakukan pada 29 Juli 2021. Kehadiran BPN membawa harapan baru bagi sektor pangan nasional karena badan itu diyakini bisa menuntaskan persolan atau polemik yang kerap terjadi di sektor tersebut. Pembentukan BPN merupakan amanat dari pasal 129 dari UU No.18 tahun 2012 tentangan Pangan sebagaimana telah diubah dengan UU No.11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UUCK). Dalam salinan PERPRES itu, bahwa pasal 1 disebutkan, BPN merupakan lembaga pemerintah yang berada dibawah dan bertanggung jawab ke Presiden. Pasal 2 menyebutkan, BPN bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pangan.
Kemudian pasal 42 menyebutkan, pendanaan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsi BPN dibebankan pada APNH dan/atau sumber pendanaan lain yang sah dan tidak mengikat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan dalam pasal 45 disebutkan, pada saat berlakunya Perpres No.66 tahun 2021 tersebut maka pelaksanaan tugas dan fungsi koordinasi dan perumusan kebijakan dibidang peningkatan di verifikasi dan pemantapan ketahanan pangan yang dilaksanakan oleh Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian sebagaimana diatur dalam Perpres No.45 tahun 2015 tentang Kementerian Pertanian diintegrasikan menjadi tugas dan fungsi BPN.
Sedangkan Presiden Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia (Wamti) Agusdin Pulungan memberikan apresiasi kepada pemerintah terutama Presiden Jokowi atas inisiatifnya dalam memperbaiki sistem pangan nasional melalui pembentukan BPN. Perum Bulog yang selama ini mempunyai beberapa tugas akan sedikit berkurang karena sebagian dialihkan ke BPN. Dihubungi secara terpisah, Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, pihaknya mendukung pembentukan PBN.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin mengatakan kepada Investor Daily, Rabu (25/8), "Meskipun dampaknya masih jangka panjang tetapi kehadirannya diharapkan bisa mengeluarkan solusi bertanggung jawab untuk ketahanan dan keamanan pangan," BPN harus perkuat kerja sama yang kuat dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kemenko Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan. (YTD)
Pakar Energi Soroti PLTS Atap Tak Bikin Cuan Industri Lokal
Sejumlah pakar energi mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan untuk memperkuat industri nasional produsen panel surya, alih-alih mengubah skema ekspor-impor listrik net-metering demi mendorong bauran energi terbarukan hingga 23 persen pada 2025.Di sisi lain, pemerintah pun diminta untuk membatalkan revisi Permen ESDM Nomor 49/2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap Oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara.
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Mukhtasor menilai perubahan tersebut mengabaikan potensi uang APBN yang menguap tanpa nilai tambah terhadap industri nasional produsen pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Selain itu, juga untuk biaya menyalakan pembangkit untuk siaga mengantisipasi ketidakpastian pasokan PLTS karena cuaca dan sebagainya. Skema ini diistilahkan 0,65:1. Dengan mengubah skema ekspor-impor tersebut menjadi 1:1, tidak ada lagi kompensasi biaya penyimpanan listrik konsumen. Seluruh kompensasi biaya penyimpanan menjadi ditanggung oleh PLN."Draf Revisi Permen ESDM mengabaikan biaya-biaya tersebut, di mana semua listrik yang diekspor siang dapat 100 persen diimpor kembali malam. Ketika beban keuangan menimpa PLN, pada akhirnya menjadi beban APBN," ujar Mukhtasor pada Selasa (24/8).
Di antara enam jenis industri andalan dalam pembangunan industri nasional adalah industri pembangkit energi. Solar cell sendiri merupakan primadona karena tetap diutamakan pada seluruh tahapan rencana pembangun industri 2015-2035 tersebut. Mukhtasor menilai ketika insentif belum dilaksanakan dan captive market tak ada namun revisi Permen disahkan, maka pertumbuhan permintaan soal cell akan jatuh pada perangkap importir partikelir, tanpa nilai tambah pada industri nasional. "Ini artinya, Draf Revisi Permen juga bertentangan dengan PP Nomor 79/2014, bahwa energi adalah modal pembangunan, di mana pembangunan energi harus diarahkan salah satunya untuk menciptakan nilai tambah nasional," katanya.
Transisi Energi Bersih Berjalan, Produksi Gas DIgenjot
Pemerintah akan meningkatkan pemanfaatan gas pada masa peralihan menuju energi bersih. Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Djoko Siswanto, mengatakan gas yang menjadi energi rendah emisi akan didorong pemanfaatannya dalam bauran energi primer hingga 22 persen pada 2025.
Menurut Djoko, pemerintah berupaya meningkatkan produksi gas untuk memenuhi kebutuhan selama transisi tersebut. Pada tahun depan, pemerintah menargetkan produksi gas 73 juta metrik kaki kubik per hari (MMSCFD) dari Lapangan West Natuna, 194 MMSCFD dari Lapangan HCML, dan 696 MMSCFD dari Lapangan Tangguh Train 3. Pada 2027, produksi dari Lapangan Masela yang dikelola Inpex Corporation bisa menambah 150 MMSCFD.
Gas akan lebih banyak digunakan oleh rumah tangga. Dia mengatakan tahun ini pemerintah menargetkan 120,8 ribu tambahan jaringan gas rumah tangga. Hingga akhir tahun ini, akan ada 794 ribu jaringan gas rumah tangga.
Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Taslim Yunus, mengatakan potensi produksi gas berlimpah dengan adanya cadangan terbukti hingga 43,6 triliun kaki kubik (TCF). Cadangan tersebut bisa cukup untuk 20 tahun jika tak ada kegiatan eksplorasi. Dengan upaya mencari sumber daya baru, jumlah cadangan dipastikan bertambah dan pemerintah menargetkan produksi gas hingga 12 miliar kaki kubik (BSCF) pada 2030.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, mengatakan pemanfaatan gas untuk transisi menuju energi bersih masih menjadi perdebatan. Di beberapa negara, kata dia, ada upaya untuk memanfaatkan gas menjadi energi lain bernama blue hydrogen.
Terlepas dari perdebatan tersebut, Fabby menilai pemanfaatan gas dalam transisi ke energi bersih masih sulit dilakukan secara masif. Dia memberikan contoh, biaya produksi listrik menggunakan gas ini tidak ekonomis dibanding energi lain seperti tenaga surya. Jaringan gas rumah tangga juga membutuhkan investasi dalam membangun infrastrukturnya.
Dukungan Dana Perbankan untuk Hulu Migas
Perbankan dalam negeri menganggap sektor industri hulu minyak dan gas bumi masih menarik untuk dibiayai meski transisi ke energi bersih mulai berjalan. Pendanaan tersebut sangat berarti dalam mendukung target pemerintah memproduksi minyak sebanyak 1 juta barel per hari pada 2030.Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Santoso Liem, menuturkan perusahaan tetap mendukung kebijakan pemerintah dengan membiayai proyek migas sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. “Industri migas memiliki efek berganda pada berbagai aspek perekonomian nasional,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Hingga Juni 2021, pembiayaan BCA untuk sektor pertambangan migas mencapai Rp 4,7 triliun.Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Aestika Oryza, menuturkan pembiayaan untuk sektor migas masih dijalankan. BRI, kata dia, memberikan kredit korporasi untuk mendanai proyek-proyek strategis pemerintah yang berdampak luas. “Faktor lain yang menjadi pertimbangan, yakni pembiayaan tersebut mampu memberikan nilai tambah yang lebih baik, seperti rantai nilai, transaksi, dan jasa bank lain,” kata dia.
Pemerintah Luncurkan Skema Inovatif Dana Bersama Bencana
Pemerintah meluncurkan pendanaan inovatif berupa dana bersama atau
pooling fund bencana (PFB) melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2021
tentang Dana Bersama Penanggulangan
Bencana (Perpres 75/2021) pada 13 Agustus
2021. PFB merupakan upaya pemerintah
dalam mewujudkan komitmen untuk memperkuat ketahanan fiskal dalam menanggulangi dampak bencana alam dan nonalam
secara efektif.
“PFB ini merupakan milestone
penting dalam manajemen risiko
bencana di Indonesia karena
meningkatkan kapasitas pendanaan risiko bencana khususnya
pendanaan mitigasi bencana
dan transfer risiko. PFB ini khas
Indonesia dengan model gotong royong pemerintah pusat,
pemerintah daerah, masyarakat
dan swasta. Tidak banyak negara yang memiliki institusi
PFB dan melakukan ini dengan
baik,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian
Keuangan (Kemenkeu) Febrio
Kacaribu dalam keterangan
pers, Senin (23/8).
Sementara itu, proses penanganan bencana di Indonesia di
antaranya mengalami kendala
anggaran. Akibat berbagai jenis
dan skala bencana, khususnya
bencana alam, dari hasil kajian
Kementerian Keuangan (2020)
rata-rata nilai kerusakan langsung yang dialami Indonesia
dalam 15 tahun terakhir mencapai sekitar Rp 20 triliun per
tahun.
“PFB hadir untuk menutup
celah pendanaan atau financing
gap tersebut dan mempercepat
proses penanganan bencana.
Saat ini, PFB akan memiliki dana
kelolaan awal sebesar kurang
lebih Rp 7,3 triliun. Dengan
demikian, PFB akan menambah
kapasitas pendanaan bencana
pemerintah dari semula hanya
terdiri dari dua sumber utama
yaitu APBN dan APBD,” tutur
Febrio.
Dana kelolaan ini diharapkan
terus berkembang dari tahun
ke tahun, melalui kegiatan pengumpulan maupun pengembangan dana.
Cadangan Tembaga Hingga Emas Freeport Masih Aman Hingga 2050
Sumber daya tembaga dengan mineral ikutan emas, dan perak, di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia (PTFI) diperkirakan masih tersedia hingga tahun 2050 mendatang. Selain itu, ada pula potensi cadangan sumber daya yang masih dapat dieksplorasi.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan tambang bawah tanah yang saat ini dikelola Freeport Indonesia masih menyimpan potensi sumber daya, setidaknya sampai puluhan tahun ke depan.
Ia menjabarkan PTFI membutuhkan waktu sekitar 12 tahun membangun infrastruktur tambang bawah tanah yang saat ini dioperasikan. Investasi yang dikucurkan untuk pembangunan tersebut mencapai US$ 8 miliar.
Tambang bawah tanah tersebut dioperasikan dengan menggunakan teknologi modern. Seluruh peralatan berat tambang bawah tanah, termasuk kereta bawah tanah yang digunakan PTFI dikendalikan secara remote dari jarak sekitar 10 kilometer. Sistem tersebut, kata dia, mengurangi potensi kecelakaan terhadap para pekerja.
Arutmin Kantongi Izin Ekspor Batu Bara
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Arutmin Indonesia telah kembali memperoleh izin ekspor batubara.
Sebelumnya, nama Arutmin masuk dalam daftar 34 perusahaan batubara yang dikenai sanksi larangan ekspor karena dianggap tidak memenuhi kewajiban pasokan batubara untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan atau PT PLN Batubara periode 1 Januari hingga 31 Juli 2021.
Kepala Pokja Informasi Kementerian ESDM Sony Heru Prasetyo mengungkapkan izin untuk Arutmin sudah diberikan. Dengan demikian kini ada tiga perusahaan yang boleh melakukan ekspor batubara kembali. Ketiga perusahaan tersebut yakni PT Arutmin Indonesia, PT Borneo Indobara dan PT Bara Tabang.
Sebelumnya, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir Arutmin telah memenuhi persyaratan Domestic Market Obligation (DMO). Bahkan Dileep memastikan hal yang sama juga berlaku untuk tahun ini dimana pihaknya telah memenuhi besaran proporsi yang ada.
Harga CPO Terus Tertekan Dampak Menguatnya Produksi
Harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil) di pasar internasional terus tertekan, meski penurunannya tidak drastis, sebagai dampak turunnya harga minyak kedelai di pasar internasional dan meningkatnya produksi sawit.
Pada 30 Juli 2021, harga CPO masih sebesar Rp12.735 per kg, sementara 19 Agustus Rp12,603, dan 20 Agustus Rp12,510 per kg. Gapki memprediksi harga rata-rata CPO pada Agustus akan lebih rendah dari pada Juli yang Rp11.594 per kg. Dia menjelaskan pada Januari, harga CPO masih rata-rata Rp9.746 per kg dan April Rp10.794 per kg.
Permintaan Listrik Melonjak Harga Batubara Meroket 106%
Kenaikan permintaan listrik, kekacauan infrastruktur,
dan lonjakan harga gas global telah
memicu reli harga batubara yang
luar biasa. Menurut penilaian mingguan terbaru dari penyedia harga
komoditas, Argus, harga acuan batubara termal Australia di Pelabuhan
Newcastle, untuk pasar Asia, telah
menunjukkan kenaikan 106% pada
tahun ini menjadi US$ 166 per metrik
ton. Indeks mingguan Newcastle,
yang sempat berada di level terendah
2020 di kisaran US$46,18 pada awal
September, sekarang tampaknya
mendekati level tertinggi sepanjang
masa di kisaran US$ 195,20 dari
Juli 2008. Harga ini setara dengan
indeks batubara Richards Bay di
Afrika Selatan, yang mengakhiri
penilaian harga mingguan hingga
13 Agustus pada angka US$137,06
per metrik ton, atau naik lebih dari
55% tahun ini.
Penyebab reli harga batubara
terma yang luar biasa ini memiliki
beberapa konteks, salah satunya
adalah harga acuan internasional
minyak mentah Brent yang mencatat
kenaikan sebanding pada tahun ini.
Di mana harga acuan minyak naik
33% year-to-date (ytd).
Di sisi lain, kebangkitan batubara termal, yang dimanfaatkan
untuk menghasilkan listrik, telah
menimbulkan pertanyaan serius
soal transisi energi. Namun yang
pasti, batubara adalah bahan bakar
fosil paling intensif karbon dalam
hal emisi, dan oleh karena itu
merupakan target paling penting
untuk penggantian dalam poros ke
alternatif terbarukan.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









