Lingkungan Hidup
( 5781 )Net Zero Emission di Ujung Tanduk
JAKARTA,ID-Polusi udara yang memburuk dalam beberapa waktu terakhir membuat target nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) di ujung tanduk. Kondisi itu dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan, pembabatan hutan, berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya penggunaan energi fosil, lambannya transisi energi baru dan terbarukan (EBT), serta meningkatnya kegiatan pertambangan dan industri. Polusi udara yang memburuk bukan cuma terjadi di Jabodetabek, melainkan sudah meluas ke berbagai kota dan daerah lainnya di Tanah Air. Jika ada langkah-langkah terobosan, target NZE bakal melesat. Untuk mencapai NZE pada 2050, pemerintah menargetkan emisi gas rumah kaca (GRK) pada 2030 mencapai 31.89% atas upaya tersendiri dan 43,25% dengan dukungan internasional. Dalam jangka pendek, pemerintah harus secepatnya membenahi manajemen angkutan umum agar masyarakat bisa mengakses angkutan yang lebih aman , nyaman, mudah, dan murah, masyarakat pasti beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. (Yetede)
BERHARAP AKSI NYATA PENANGANAN ROB DI JATENG
Hampir satu dasawarsa, Linda Erlita Sari(30), warga Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat, Jateng, terpaksa berkutat dengan banjir rob. ”Jalanan dan rumah sudah ditinggikan terus, tetapi (ketinggian) air robnya selalu bisa mengejar. Pokoknya sudah seperti balapan sama air,” kata Linda, Kamis (10/8). Sejak tahun 2014, tiga kali Linda meninggikan bangunan rumahnya hingga 1,5 meter lebih tinggi dibanding sembilan tahun lalu dengan biaya Rp 8 juta. Selain menguras uang, banjir rob membuat kesehatan warga menurun. Menurut Linda, warga jadi lebih mudah diare, terserang penyakit kulit, mulai gatal-gatal hingga kulit melepuh. Sebagian warga juga menderita karena pendapatan mereka tergerus akibat banjir rob. Bahkan,tidak sedikit pula yang mesti kehilangan pekerjaan, seperti petani yang sawahnya terendam rob, serta pembatik yang tempat produksinya tergenang rob, sehingga banyak yang pindah.
Banjir rob di Kota Pekalongan yang kian parah terjadi akibat penurunan muka tanah yang dibarengi dengan kenaikan muka air laut. Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika In- stitut Teknologi Bandung, Sella Lestari Nurmaulia, menyebut, penurunan muka tanah di Kota Pekalongan 10 cm per tahun, akibat masifnya pemanfaatan air tanah, sedangkan kenaikan muka air laut 0,1-0,5 cm per tahun. Menurut Sella pemerintah perlu mengolah air laut di Kota Pekalongan sebagai alternatif pengganti air tanah dengan reverse osmosis. ”Investasi pengolahan air ini mahal, tetapi harus diusahakan. Tanpa aksi, tidak akan ada dampaknya terhadap pengurangan laju penurunan muka tanah,” katanya.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Jateng, Nomastuti Junita Dewi, mengatakan, upaya penanganan rob terbagi ke dalam beberapa tahap, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang. Upaya jangka pendek berupa pembangunan infrastruktur. Di antaranya peninggian tanggul laut, pembangunan bendung gerak, pembangunan pelabuhan yang berhadapan langsung dengan pantai atai onshore, dan pembuatan jalan tol sekaligus tanggul laut. Untuk jangka menengah, akan diupayakan alternatif air baku pengganti air tanah dengan membuat waduk di daerah hulu dan muara serta melakukan desalinasi air laut. Upaya jangka panjang berupa integrasi tata ruang laut dan tata ruang darat. (Yoga)
Harga Batubara Tekan Kinerja ITMG
Penurunan harga batubara berimbas ke kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Produsen batubara ini di semester I-2023 mengalami penurunan laba bersih 33,39%. Laba bersih menjadi US$ 306,94 juta dibandingkan keuntungan pada semester I-2022.
Sejalan dengan penurunan laba bersih, pendapatan ITMG juga melorot 8,45% menjadi US$ 1,3 miliar. Padahal di semester I-2022, pendapatan ITMG menembus US$ 1,42 miliar.
Mengutip laporan ITMG yang dipublikasi Rabu (16/8), harga rata-rata penjualan alias
average selling price
(ASP) batubara ITMG pada separuh pertama tahun ini sebesar US$ 130,6 per ton.
Mulianto, Direktur Utama Indo Tambangraya Megah mengatakan, pencapaian ini melampaui target yang dipasang manajemen perusahaan itu. Penyebab lain adalah kondisi cuaca yang bersahabat dan manajemen operasional yang baik.
Lantas volume penjualan ITMG di periode serupa sebanyak 9,9 juta ton. Realisasi ini naik 22% dari volume penjualan periode serupa 2022 yang hanya 8,1 juta ton.
Batubara ini dipasarkan ke China sebanyak 3,6 juta ton, disusul pasar Indonesia sebanyak 2,2 juta ton, Jepang sebanyak 900.000 ton, Filipina sebanyak 800.000 ton, Thailand sebanyak 5000.000 ton. Sisanya dijual ke negara-negara lain.
Di tahun 2023, ITMG menargetkan volume produksi antara 16,6 juta ton sampai 17 juta ton. Adapun volume penjualan di rentang 21,5 juta ton sampai 22,2 juta ton.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan dan Abyan Habib Yuntoharjo menilai, pendapatan ITMG pada periode tersebut masih sejalan dengan estimasi. Yakni mewakili 47% dari perkiraan Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan 50% dari estimasi konsensus.
Investor Besar Borong Harga Semen, Saham Melonjak Hingga 18,8%
JAKARTA,ID-Investor institusi lokal terpantau memborong saham semen sejak Juli 2023, seiring membaiknya kinerja operasional dan keuangan serta meredanya perang harga dengan para pemain kecil. Imbasnya, harga saham dua pemain semen besar, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) melonjak hingga 18,8% dalam tiga bulan terakhir. Namun, institusi asing menahan akumulasi semen, menyusul belum pastinya prospek pertumbuhan dalam jangka menengah dan utilisasi yang masih rendah, dibawah 60%. Berdasarkan riset JP Morgan, dikutip Kamis, (17/08/2023), investor institusi lokal menguasai 26,8% free float saham Semen Indonesia sekaligus Asia Tenggara, naik 19% dari Juni sebesar 24,9%. Mereka juga penambah kepemilikan di saham Indocement, produsen semen Tiga Roda dan nomor dua di Indonesia, sebesar 0,6% menjadi 10,9%, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Akan tetapi kepemilikan pemain institusi asing di saham semen turun sepanjang tahun ini. Mereka masih ragu lantaran industri semen masih menghadapi tantangan besar tahun ini. (Yetede)
Pasar Beras Dunia Makin Gerah
Ancaman berkurangnya sumber air di Thailand dan banjir yang melanda persawahan di China berpotensi menurunkan pasokan beras dunia yang sedang tertekan. Indonesia perlu mewaspadai situasi tersebut lantaran saat ini mengimpor beras paling banyak dari Thailand. Impor beras pun direalisasikan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Laporan Bloomberg, awal Agustus 2023, pemerintah Thailand mengimbau petani mengurangi lahan tanam padi untuk mengonversi sumber daya air yang terancam merosot akibat El Nino.
Langkah ini berimbas pada pasokan pasar beras dunia lantaran Thailand, negara eksportir beras terbesar kedua setelah India, membatasi ekspornya. Di sisi lain, Thailand menjadi negara utama sumber beras berkode HS 10063099 yang diimpor Perum Bulog. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan, volume impor beras dengan kode HS 10063099 sepanjang Januari-Juli 2023 mencapai 1,17 juta ton. ”Sebanyak 50,56 % di antaranya dari Thailand,” katanya saat konferensi pers, Selasa (15/8). (Yoga)Harap-harap Cemas Harga Beras
HARGA beras di Pasar Cahaya Garden Batam, Kepulauan Riau, membuat Yuliarti terkesiap. Musababnya, harga komoditas tersebut mendadak melonjak. “Kaget, tadi beli beras naik sekitar Rp 5.000 untuk beras seberat 25 kilogram,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Berdasarkan tinjauan Tempo di lokasi, harga beras di Batam serempak naik. Beras merek Bumi Ayu, misalnya, naik dari Rp 300 ribu untuk satu karung menjadi Rp 330 ribu. Sejumlah pedagang mengatakan kenaikan terjadi sejak 27 Juli lalu.
Tak hanya di Batam, kenaikan harga juga terasa di Pasar Todopuli, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tempo mencatat kenaikan harga beras di sana mencapai Rp 500 per kilogram. Seorang pedagang di sana, Bahar, mengatakan ada beberapa penyebab kenaikan harga beras, dari harga pupuk yang naik hingga adanya gagal panen. Menurut Bahar, harga beras saat ini bervariasi, bergantung kualitasnya. “Paling murah harganya Rp 11 ribu per kilogram dan paling tinggi Rp 14 ribu per kilogram,” ujarnya. Ia mengatakan selama ini beras yang dijual langsung diambil dari para petani di Kabupaten Sidrap. (Yetede)
Harga Gas Membubung, Pabrikan Bisa Limbung
Para pebisnis dan pabrikan pengguna gas tengah waswas. Pangkal musababnya dipicu surat edaran dari PT Pertamina Gas Negara yang terbit akhir Juli 2023. Isi surat edaran itu adalah pemberitahuan rencana kenaikan harga gas mulai 1 Oktober 2023.
Kenaikan harga gas itu di luar kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (non-HGBT) yang berlaku untuk tujuh sektor industri. HGBT sendiri adalah program subsidi harga gas industri.
Artinya, kenaikan harga gas di luar HGBT itu berlaku untuk seluruh industri pengguna gas. Yang membikin pebisnis terkejut, kenaikan harga gas itu terbilang edan-edanan lantaran ada yang menjadi US$ 12,31 per million british thermal unit (mmbtu).
Manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS),
subholding
Pertamina Gas Negara, menyatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan kenaikan harga gas industri per 1 Oktober 2023. Salah satunya ialah penyesuaian harga dari pemasok di hulu ke PGN.
Sekretaris Perusahaan Gas Negara (PGN), Rachmat Hutama mengatakan, komersialisasi gas bumi PGN kepada pelanggan dipengaruhi oleh dinamika di seluruh rantai bisnis gas bumi. "Pertama adalah sumber pasokan gas dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), baik itu dari pipa, LNG, CNG," ujarnya kepada KONTAN, Senin (14/8).
Sebagai contoh, kini pasokan gas Blok Corridor milik Medco Internasional ke PGN cenderung turun. "Turunnya sekitar 8-9 kargo pertahun," ujar Arief Setiawan Handoko, Presiden Direktur PGAS, akhir Juli lalu.
"Di sisi lain kenaikan harga gas akan menghambat investasi, sehingga terjadi penurunan serapan tenaga kerja dan ekspor," ujar Yustinus Gunawan, Ketua Umum FIPGB, ke KONTAN, kemarin.
PEMBATASAN EKSPOR MINERAL MENTAH : INVESTASI PENGHILIRAN MEROKET
Kementerian Investasi/BKPM mencatat kebijakan penghiliran mineral di Indonesia melesatkan realisasi investasi industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya hingga 177,9% dalam 4 tahun terakhir. Direktur Hilirisasi Mineral dan Batubara Kementerian Investasi/Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) Hasyim Daeng Barang memaparkan peningkatan itu tidak lepas dari kebijakan penghiliran mineral di Indonesia. Menurutnya, nilai investasi pada sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya pada 2019 hanya mencapai Rp61,6 triliun. Namun, dia menegaskan angka investasi tersebut terus menunjukkan tren peningkatan ketika pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai memberlakukan larangan ekspor bijih (ore) nikel pada 2020. “Investasi hilirisasi meningkat tiap tahun. Tadinya sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin ini berada di posisi keempat. Ketika kita melarang ekspor ore, industri ini terus naik. Ini menunjukkan bahwa industri hilirisasi ini terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya dalam webinar BKPM bertema Peluang Investasi Hilirisasi Sektor Mineral di Jakarta, Senin (14/8). Dalam peta jalan penghiliran investasi strategis, imbuhnya, pemerintah fokus melakukan penghiliran terhadap 21 komoditas di delapan sektor prioritas, mulai dari mineral dan batu bara (minerba), minyak dan gas bumi (migas), hingga perkebunan dan kehutanan.
Hasyim memprediksi nilai investasi penghiliran di delapan sektor prioritas tersebut mencapai angka US$545,3 miliar sampai dengan 2040. Untuk sektor minerba, dia memproyeksi nilainya mencapai US$431,8 miliar yang meliputi penghiliran komoditas batu bara, nikel, timah, tembaga, bauksit, besi baja, emas-perak, dan aspal buton. Dengan cerahnya industri itu, dia meminta Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengucurkan kredit kepada pelaku usaha smelter dalam negeri guna mendorong pengembangan industri penghiliran mineral. Saat ini, Hasyim mengatakan terdapat sejumlah smelter yang masih terkendala proses pembangunannya, terutama smelter bauksit. Umumnya kendala berkaitan dengan persoalan investor dan finansial. Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, terdapat sembilan smelter bauksit yang masih dalam tahap konstruksi dengan total kapasitas input 27,91 juta ton bijih bauksit. Sembilan smelter itu akan menghasilkan produk alumina sebesar 1 juta ton untuk jenis chemical grade alumina (CGA) dan 8,94 juta ton jenis smelter grade alumina (SGA). Saat ini, total kapasitas produksi SGA nasional mencapai 3 juta ton per tahun, sedangkan produksi CGA mencapai 300.000 ton per tahun. Selain itu, terdapat satu smelter aluminium yang tengah dalam tahap perencanaan dengan kapasitas input 2 juta ton bijih bauksit.
Penyeragaman Konsumsi Picu Kerawanan Pangan dan Gizi
Keberagaman pangan lokal merupakan fondasi ketahanan pangan di NTT yang beriklim kering. Namun, pola konsumsi warga saat ini kian didominasi beras dan terigu yang harus didatangkan dari luar wilayah sehingga meningkatkan kerentanan pangan dan gizi. Menyusutnya keberagaman pangan di NTT diungkapkan para peserta semiloka ”Transformasi Sistem Pangan Berbasis Budaya, Bekeadilan dan Berkelanjutan” di Labuan Bajo, NTT, Senin (14/8). Serfia Owa (59), petani yang juga Ketua Aliansi Perempuan Mandiri Manggarai Barat, menuturkan ”Di kampung, anak-anak tak lagi makan pangan lokal,tetapi mengonsumsi makanan instan,” kata Serfia, yang tinggal di Kampung Munting Kajang, Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Perubahan pola konsumsi membuat NTT tergantung pangan dari luar, khususnya beras sehingga rentan krisis pangan.
”April-Mei 2023 lalu, harga beras semula Rp 11.000 per kg jadi Rp 15.000 per kg. Padahal, desa kami penghasil beras,” kata Ina Pagu (25), petani Desa Tal, Manggarai. Berdasarkan pantauan Kompas pada April 2023, krisis beras melanda di NTT. Di Kota Kupang, harga beras medium mencapai Rp 14.000 per kg. Bahkan, di Lembata, harga beras Rp 17.000 per kg. Terjadi kenaikan harga Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kg. Krisis beras terjadi karena NTT defisit beras. Berdasarkan data BPS, angka produksi beras di NTT tahun 2022 hanya 442.842 ton, dan tingkat konsumsi beras mendekati 1 juta ton per tahun. Romo Inosensius Sutam, budayawan pangan dari Keuskupan Ruteng, mengatakan, daerah NTT memiliki keberagaman pangan tinggi. Namun belakangan pola konsumsi warga jadi seragam, didominasi beras dari padi sawah. ”Padi (ladang) dibudidayakan sejak dulu, tetapi terbatas dan hanya dikonsumsi saat ritual,” ujarnya. Peralihan ke sawah menyebabkan keberagaman sumber pangan hilang. ”Sekarang padi ladang, sorgum dan jewawut hampir hilang. Padahal, beragam tanaman itu tahan kekeringan,” katanya. (Yoga)
Karet Jangan Sampai ”Rungkad”
Indonesia merupakan negara produsen karet nomor dua dunia setelah Thailand. Produksi karet Indonesia pada 2022 3,13 juta ton, sedangkan Thailand 4,75 juta ton. Rival terdekatnya, yakni Vietnam dan Malaysia, masing-masing berada di urutan ke-3 (1,29 juta ton) dan ke-7 (377.000 ton). Kendati berstatus sebagai produsen kedua terbesar dunia, era kejayaan karet Nusantara tengah meredup. Setelah 20-30 tahun ”berkarya”, pohon karet banyak yang menua dan semakin rentan dengan penyakit gugur daun. Rata-rata produktivitas tinggal 1,04 ton per hektar (ha), jauh dari sejumlah negara rival yang mencapai 1,9 ton per ha.Dewan Karet Indonesia memperkirakan produksi karet tahun ini turun dari 3,14 juta ton menjadi 2,9 juta-3 juta ton. Harga karet alam dunia juga sudah tak lagi menarik. Sepanjang 2014-2023, harga karet alam dunia selalu berada di bawah 2 USD per kg.
Dalam satu dekade tersebut, harga komoditas itu hanya dua kali menembus 2 USD per kg, yakni pada Januari 2017 dan Februari 2021. Tim ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan, harga karet alam dunia bakal bergerak di bawah 2 dollar AS. Pada 2023 dan 2024, harganya diproyeksikan masing-masing 1,56 USD per kg dan 1,45 USD per kg. Rendahnya harga karet alam dunia itu turut menekan harga karet di tingkat petani. Saat ini, harga getah karet di tingkat petani Rp 6.000-Rp 9.000 per kg. Harga satu kg karet itu tak cukup untuk membeli satu kg beras medium. Pada Maret 2023, harga acuan terendah penjualan beras medium di tingkat konsumen ditetapkan Rp 10.900 per kg.
Tak mengherankan jika banyak petani karet,
terutama di Sumatera, mengganti tanamannya dengan kelapa sawit dan tebu.
Sepanjang 2017-2022, 45 pabrik karet remah tutup. Tinggal 107 pabrik yang masih
bertahan. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development
of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho bahkan menyatakan,
industri karet Indonesia bisa hilang 8-10 tahun lagi apabila kondisinya dibiarkan,
tanpa solusi perbaikan (Kompas, 12/8). Meminjam kata dalam lagu yang
dipopulerkan Happy Asmara, industri karet Indonesia bisa rungkad, maksudnya
habis-habisan, runtuh, tumbang apabila pemerintah hanya bertindak biasa-biasa
saja atas sejumlah persoalan hulu-hilir karet Indonesia. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









