Karet Jangan Sampai ”Rungkad”
Indonesia merupakan negara produsen karet nomor dua dunia setelah Thailand. Produksi karet Indonesia pada 2022 3,13 juta ton, sedangkan Thailand 4,75 juta ton. Rival terdekatnya, yakni Vietnam dan Malaysia, masing-masing berada di urutan ke-3 (1,29 juta ton) dan ke-7 (377.000 ton). Kendati berstatus sebagai produsen kedua terbesar dunia, era kejayaan karet Nusantara tengah meredup. Setelah 20-30 tahun ”berkarya”, pohon karet banyak yang menua dan semakin rentan dengan penyakit gugur daun. Rata-rata produktivitas tinggal 1,04 ton per hektar (ha), jauh dari sejumlah negara rival yang mencapai 1,9 ton per ha.Dewan Karet Indonesia memperkirakan produksi karet tahun ini turun dari 3,14 juta ton menjadi 2,9 juta-3 juta ton. Harga karet alam dunia juga sudah tak lagi menarik. Sepanjang 2014-2023, harga karet alam dunia selalu berada di bawah 2 USD per kg.
Dalam satu dekade tersebut, harga komoditas itu hanya dua kali menembus 2 USD per kg, yakni pada Januari 2017 dan Februari 2021. Tim ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan, harga karet alam dunia bakal bergerak di bawah 2 dollar AS. Pada 2023 dan 2024, harganya diproyeksikan masing-masing 1,56 USD per kg dan 1,45 USD per kg. Rendahnya harga karet alam dunia itu turut menekan harga karet di tingkat petani. Saat ini, harga getah karet di tingkat petani Rp 6.000-Rp 9.000 per kg. Harga satu kg karet itu tak cukup untuk membeli satu kg beras medium. Pada Maret 2023, harga acuan terendah penjualan beras medium di tingkat konsumen ditetapkan Rp 10.900 per kg.
Tak mengherankan jika banyak petani karet,
terutama di Sumatera, mengganti tanamannya dengan kelapa sawit dan tebu.
Sepanjang 2017-2022, 45 pabrik karet remah tutup. Tinggal 107 pabrik yang masih
bertahan. Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development
of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho bahkan menyatakan,
industri karet Indonesia bisa hilang 8-10 tahun lagi apabila kondisinya dibiarkan,
tanpa solusi perbaikan (Kompas, 12/8). Meminjam kata dalam lagu yang
dipopulerkan Happy Asmara, industri karet Indonesia bisa rungkad, maksudnya
habis-habisan, runtuh, tumbang apabila pemerintah hanya bertindak biasa-biasa
saja atas sejumlah persoalan hulu-hilir karet Indonesia. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023