Lingkungan Hidup
( 5820 )Capai Rekor, Batubara Indonesia Kuasai Dunia
Laju ekspor batubara Indonesia menjulang. Ini nampak dari data Kpler, perusahaan data dan analisis global. Kpler menempatkan Indonesia sebagai penguasa ekspor komoditas emas hitam di dunia.
Merujuk analisis data logistik pengapalan, Kpler melaporkan, volume ekspor batubara Indonesia tembus 413 juta ton per Oktober 2023. Volume ekspor itu mengalami lonjakan 11,5% dari periode sama tahun sebelumnya atau
year on year
(yoy) yang sebesar 371,08 juta metrik ton.
engan volume ekspor terbesar di dunia, Indonesia kini menguasai 50% pasar ekspor batubara dunia.
Menurut Kpler, ada tiga negara utama yang menjadi negara tujuan ekspor batubara Indonesia. Yakni, China sebesar 183 juta ton, India 82 juta ton dan Filipina 30 juta ton.
Data yang dirilis Kpler ini cukup mengejutkan di tengah tren penurunan harga batubara di pasar ekspor. Ditambah lagi, data yang mereka rilis terpaut jauh dari data ekspor versi Kementerian ESDM.
Merujuk data Minerba One Data Indonesia (MODI) ESDM, ekspor batubara Indonesia sampai Oktober 2023 hanya 323,12 juta ton. Artinya, ada selisih 89,88 juta ton dari data yang dilansir Kpler.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi berpendapat, selisih data ekspor antara Pemerintah RI dengan Kpler mengindikasikan adanya praktik ekspor ilegal batubara Indonesia ke sejumlah negara tujuan ekspor.
Menurut Fahmy, peluang itu sangat mungkin terjadi karena sudah menjadi praktik yang kerap ditemukan di industri pertambangan Indonesia. Baru-baru ini, misalnya, ramai kasus tentang dugaan ekspor ilegal bijih nikel.
Bahkan, dugaan ekspor ilegal batubara sendiri sudah kerap mengemuka. Menurut Fahmy, salah satu pemicunya tak lain adalah selisih harga batubara di pasar global dengan pasar dalam negeri yang terpaut jauh.
Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto juga mempertanyakan adanya perbedaan data ini. "Ini menjadi indikasi awal untuk ditelusuri, jangan-jangan ekspor ilegal di luar RKAB," tegas Mulyanto ke KONTAN, Selasa (14/11).
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengakui, permintaan ekspor batubara memang meningkat, khususnya dari China dan India. Namun, ia mengaku tak memahami adanya selisih data cukup jauh antara Kpler dan pemerintah.
Saat dikonfirmasi, Dirjen Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan Askolani menegaskan, perbedaan data itu tak bisa diperbandingkan.
PENAMBAHAN CADANGAN MINERAL : AKSI BERBURU EMAS DI PERUT BUMI PERTIWI
Potensi sumber daya emas Indonesia memang masih melimpah. Sejumlah eksplorasi di berbagai daerah menunjukkan hasil yang cukup positif. Tak ayal, para penambang terus aktif melakukan aksi berburu emas di berbagai wilayah.
Terbaru, PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah kerjanya.Sepanjang tiga tahun terakhir, NHM berhasil meningkatkan jumlah cadangan emas mencapai 1,4 juta Oz emas, sedangkan jumlah sumber daya emas mencapai 2,3 juta Oz. Estimasi nilai dari sumber daya dan cadangan itu mencapai lebih dari US$4,1 miliar.Perseroan memandang bahwa keberhasilan ini tak lepas dari alokasi modal kerja dan biaya eksplorasi selama 3 tahun terakhir dari pemegang saham pengendali NHM, yakni PT Indotan Halmahera Bangkit (IHB), yang mengakuisisi kepemilikan saham NHM pada awal 2020. Kesuksesan eksplorasi itu diproyeksi memperpanjang umur tambang NHM selama lebih dari 10 tahun ke depan. Langkah ini sekaligus makin mengukuhkan NHM sebagai pemain kunci dalam industri pertambangan emas nasional.
“Kami sangat bangga dengan keberhasilan kegiatan eksplorasi ini. Pencapaian ini adalah bukti komitmen NHM dan pemegang saham untuk terus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan,” kata Wakil Direktur Utama NHM Amiruddin Hasyim, dalam keterangan resminya, Selasa (14/11).Dia memandang bahwa dengan keberhasilan eksplorasi tersebut, maka kinerja operasional, produksi, dan keuangan perusahaan ke depan dapat secara bertahap terus membaik dan meningkat.
Selain itu, dia menjelaskan bahwa pencapaian NHM dalam menambah cadangan emas ini tidak hanya mencerminkan keahlian teknis dan manajerial perusahaan, tetapi juga menegaskan komitmen NHM dalam menjaga praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Perusahaan, imbuhnya, terus memprioritaskan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan karyawan, serta berusaha untuk memberikan manfaat positif bagi masyarakat setempat melalui program-program berkelanjutan.
Executive Chairman Sihayo Gold Limited Colin Moorhead mengungkapkan bahwa selama kuartal yang berakhir September 2023, pihaknya terus berupaya melakukan konsolidasi dan melanjutkan hasil yang kuat dari pengeboran di bawah lubang awal yang ditetapkan saat ini di Sihayo.
Oleh karena itu, imbuhnya, guna mengantisipasi hasil positif dari kedua skenario tersebut, perencanaan pengeboran tambahan, dan pekerjaan lain yang diperlukan untuk menjadikan skenario tersebut memenuhi standar pra studi kelayakan.
Sihayo Gold juga telah mencapai kesepakatan dengan pemegang saham terbesarnya, Provident Minerals Pte Ltd dan/atau anak perusahaannya, untuk pinjaman modal kerja sebesar US$3,9 juta untuk durasi hingga 12 bulan.
Chief Executive Officer Asiamet Resources Darryn McClelland mengungkapkan bahwa pakar teknis yang ditunjuk telah menyelesaikan tinjauan teknis mereka terhadap pemutakhiran Studi Kelayakan tembaga Beruang Kanan Main (BKM).
Masih Hasilkan Polusi, Penggunaan Scrubber pada PLTU Dipertanyakan
Medco Energi Raih Pinjaman Jumbo Rp 7,5 Triliun
Pertamina Jalin Sinergi Terkait Injeksi Karbon
Pertamina Jalin Kerja Sama dengan Sinopec
Waspada Inflasi Akibat Pangan Impor
Tekanan ke Emiten Batubara Belum Reda
Laba bersih emiten tambang batubara sepanjang Januari hingga September 2023 merosot mengikuti penurunan harga batubara. Penurunan kinerja ini diprediksikan masih berlangsung pada kuartal akhir tahun ini.
Terkini, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melaporkan penurunan laba bersih menjadi US$ 405,83 juta. Realisasi ini tergerus 54,6% secara tahunan. Pendapatan ITMG pun turun sebesar 30,19% menjadi US$ 1,82 miliar.
Penurunan kinerja juga dialami PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan koreksi laba bersih hingga 62,21% menjadi Rp 3,8 triliun. PT Indika Energy Tbk (INDY) juga bernasib sama. Bahkan, laba bersih INDY tergerus 72,26% secara tahunan menjadi sebesar US$ 93,83 juta per akhir September 2023.
Sedangkan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) melaporkan pendapatan dan laba bersih yang kompak turun, masing-masing minus 15,76% dan minus 35,96%.
Presiden Direktur dan
Chief Executive Officer
ADRO Garibaldi Thohir mengatakan,
average selling price
(ASP) ADRO turun 25%. Padahal, produksi dan penjualan batubara ADRO masing-masing naik sebesar 12% dan 11% menjadi 50,73 juta ton dan 49,12 juta ton.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rizkia Darmawan menilai, belum akan ada
rebound
signifikan kinerja emiten batubara di kuartal IV-2023. Biasanya, memang ada kenaikan permintaan batubara seiring masuknya musim dingin di negara-negara importir batubara seperti China, Jepang dan India.
Proyeksi dia, harga rata-rata batubara Newcastle pada di kuartal IV-2023 berkisar di US$ 135 per ton.Kinerja emiten tambang batubara bisa terbantu dari sisi biaya tunai (
cash cost
), yang kemungkinan akan sedikit menurun. Ini karena ada normalisasi harga minyak dan penurunan
royalty rate
. Oleh karena itu, Rizkia lebih merekomendasikan emiten batubara yang mulai mendiversifikasikan bisnis seperti HRUM dan ADRO.
Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan merekomendasikan
hold
saham PTBA dan dengan menurunkan target harga menjadi Rp 2.700 per saham.
Harga Energi Tertekan Kelesuan Permintaan dan Geopolitik
Harga energi tertekan dalam sebulan terakhir. Kelesuan harga energi tertekan pelemahan permintaan global dan kondisi geopolitik di Timur Tengah yang tengah bergejolak.
Melansir
Bloomberg
, harga minyak WTI masih bertengger di bawah US$ 80 per barel sejak pekan lalu. Kemarin (13/11), minyak sudah turun 10,41% ke US$ 77,36 per barel dalam sebulan. Nasib batubara juga serupa.
Harga batubara bergerak di bawah US$ 130 per ton dalam dua pekan terakhir. Dalam sebulan, harga batubara sudah turun 14,8% ke US$ 129,50 per ton, kemarin (13/11).
Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, harga energi pada umumnya tertekan oleh penurunan permintaan. Selain itu,
Research and Development
ICDX, Taufan Dimas Hareva menambahkan, tertekannya harga energi juga akibat situasi geopolitik.
Dengan situasi geopolitik saat ini, kedua analis juga menilai tekanan pada harga energi masih berpotensi berlanjut. Bbila perang Israel-Hamas tereskalasi akan berpotensi memberikan dukungan pada harga.
Lukman memproyeksikan harga minyak mentah di akhir tahun berpotensi kembali ke US$ 80 per barel–US$ 85 per barel.
Support
harga minyak berada di level US$ 75 per barel, sehingga harga saat ini berada di level
lower range.
Sementara gas alam diperkirakan berada di level US$ 3 per mmbtu. Sedangkan target harga batubara di kisaran US$ 110 per ton–US$ 120 per ton.
Stabilkan Harga Beras, Perkuat Kerja Sama Antardaerah
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









