;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

KEBIJAKAN PANGAN, APTRI: Pemerintah Perlu Miliki Cadangan Gula

11 Nov 2023

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI menilai langkah pemerintah mengendalikan harga gula pasir atau konsumsi di tingkat ritel modern sudah tepat. Namun, ke depan, pemerintah harus memiliki cadangan gula untuk mengantisipasi kenaikan harga gula jika sewaktu-waktu terjadi lagi. Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen menyatakan hal itu ketika dihubungi dari Jakarta, Jumat (10/11). Pernyataan itu terkait kebijakan relaksasi atau fleksibilitas harga acuan penjualan (HAP) gula konsumsi di tingkat konsumen yang dijual di ritel modern. Bapanas menetapkan HAP gula konsumsi bisa dijual ke konsumen Rp 16.000 per kg. Khusus wilayah Maluku, Papua, serta daerah tertinggal, terluar, terpencil, dan pedalaman (3TP), fleksibilitas HAP tersebut dipatok Rp 17.000 per kg.

Sebelumnya, HAP gula konsumsi di tingkat konsumen Rp 14.500 per kg. Khusus wilayah Maluku,Papua, dan daerah 3TP, HAP-nya sebesar Rp 15.500 per kg. HAP itu ditetapkan Bapanas dan berlaku sejak 24 Juli 2023. Menurut Soemitro, kebijakan relaksasi harga gula konsumsi di tingkat ritel memang diperlukan. Kebijakan itu akan membuat pabrik-pabrik gula swasta dan milik negara yang mendapatkan penugasan impor gula mentah dan konsumsi mau memasarkan gula konsumsi ke pasar ritel. Dengan harga gula mentah dan konsumsi di tingkat internasional yang saat ini cukup tinggi, mereka akan merugi jika HAP gula konsumsi masih berkisar Rp 14.500-Rp 15.500 per kg. Apabila pasokan gula di pasar ritel  

Soemitro berpendapat, kenaikan harga gula pada tahun ini memang tidak bisa dihindari. Selain akibat dampak El Nino, kenaikan harga gula juga dipengaruhi lonjakan harga gula di tingkat internasional. Agar hal itu tidak terulang ke depan, pemerintah harus memiliki cadangan gula sendiri yang dikelola oleh ID Food atau Perum Bulog sebanyak 1-1,5 juta ton. Cadangan gula pemerintah (CGP) itu diharapkan bisa dipenuhi dari gula petani, bukan dengan cara mengimpor. ”Pemerintah bisa menyerap gula petani saat harga lelang gula berada di bawah harga acuan pembelian gula petani Rp 12.500 per kg,” kata Soemitro. (Yoga)

Muhadjir Effendy Cari Solusi Atasi Krisis Pangan di Papua

11 Nov 2023

Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menyerahkan sejumlah bantuan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, sebagai tindak lanjut penanganan bencana yang terjadi. Selain penyerahan bantuan, kunjungan ini untuk berkoordinasi dengan pemda setempat mencari solusi menyeluruh permasalahan krisis pangan yang kerap terjadi di Papua. ”Kunjungan hari ini sebagai tindak lanjut. Sebelumnya pemerintah pusat dan daerah telah menyalurkan bantuan di lokasi kelaparan.  Sekarang yang terpenting mencari solusi agar kasus seperti ini tidak terulang lagi,” kata Menko PMK Muhadjir Effendy saat menyalurkan bantuan di Distrik Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo, Jumat (10/11). Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah daerah di Yahukimo dilanda bencana, seperti longsor dan kelaparan, akibat cuaca ekstrem. Hal ini menyebabkan sebagian besar masyarakat mengalami krisis pangan. Salah satu yang cukup disorot adalah musibah kelaparan yang mengakibatkan kematian massal di Distrik Amuma.

Bupati Yahukimo Didimus Yahuli mengatakan ”Saat ini (isu kelaparan) sudah tertangani. Kebutuhan pangan masyarakat sudah kembali tercukupi”. Di rumah jabatan Bupati Yahukimo, rombongan Kementerian PMK dan dari kementerian ataupun badan negara lainnya menyerahkan bantuan bahan pokok, pakaian, obat-obatan, serta uang tunai Rp 1 miliar sebagai dukungan operasional penanganan kebencanaan. ”Fokus kami sekarang adalah menangani krisis pangannya karena ini terus berulang di sejumlah wilayah di Papua. Kami sudah berkoordinasi menyiapkan gudang (pangan) di sejumlah titik. Tempat paling ideal itu dekat bandara. Jika ada bencana, langsung bisa disalurkan,” ujar Muhadjir. Di sisi lain, kunjungan ini sekaligus untuk mencari solusi jangka panjang untuk penanganan yang tengah dikoordinasikan dengan lintas kementerian, lembaga, dan pemda setempat. Rencananya, pemerintah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari pengembangan varietas lokal yang lebih tahan iklim hingga penyuluhan soal teknologi tepat guna yang dibutuhkan untuk pengolahan bahan pangan agar lebih awet. (Yoga)

Dua PSN Terkait Hilirisasi Nikel di Sultra Molor

11 Nov 2023

Dua proyek hilirisasi nikel yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) di Sultra molor dari target. Meski diinisiasi sejak 2022, dua proyek dengan investasi puluhan triliun ini masih dalam pengurusan dokumen lingkungan. Investasi di wilayah ini dikhawatirkan tidak akan memenuhi target. Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sultra Parinringi mengatakan, di Sultra saat ini ada sejumlah PSN, terutama hilirisasi nikel. Namun, ada dua PSN tidak berjalan sesuai jadwal. ”Ada kawasan industriterpadu PT Nusantara Industri Sejati (NIS) di Motui, Konawe Utara, dan PT Kendari  Kawasan Industri Terpadu (KKIT) di Kendari.

Berdasarkan target, keduanya harusnya sudah jalan dan konstruksi, tetapi sampai sekarang belum ada (fisik),” katanya, Jumat (10/11). Kedua proyek hilirisasi nikel ini dimulai sejak 2022. Kawasan industri di Motui, Konawe Utara, bahkan diresmikan Wapres Ma’ruf Amin. Kedua PSN ini diharapkan menyumbang investasi hingga puluhan triliun rupiah. Dengan status PSN, seharusnya bisa lebih cepat. Sebab, pelaksana mendapatkan berbagai kemudahan, termasuk perizinan. Kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada investasi di Sultra. Pada 2023, Sultra ditargetkan menggaet investasi Rp 21,7 triliun, naik dari Rp 18 triliun tahun lalu. Hingga triwulan III-2023, investasi baru 60 % atau sekitar Rp 15 triliun. (Yoga)

Pasar Derivatif di BEI Masih Sunyi

11 Nov 2023
Transaksi saham masih mendominasi nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang tahun 2023, total nilai transaksi di BEI mencapai  Rp 2.179,63 triliun per Jumat (10/11). Transaksi saham di seluruh pasar berkontribusi paling besar senilai Rp 1.826,43 triliun. Menyusul transaksi waran menjadi kontributor terbesar kedua yang mencapai Rp 7,38 triliun. Ini cuma 0,57% dari seluruh total transaksi BEI.  Sementara waran terstruktur hanya mencapai sekitar Rp 572,86 miliar. Di kategori derivatif, BEI juga memiliki empat produk, yaitu  IDX LQ45 Futures, IDX30 Futures, Indonesia Government Bond Futures dan Basket Bond Futures. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik menuturkan untuk menggenjot transaksi di pasar waran terstruktur hingga derivatif, ke depan BEI akan menggencarkan sosialisasi. Nah, agar mendorong pasar keuangan derivatif, BEI tengah mengodok produk baru yaitu single stock future. Secara sederhana, single stock futures merupakan saham tunggal yang dijadikan kontrak derivatif. Ada dua kontrak yang dapat diikuti oleh kalangan investor. Pertama kontrak beli (long) dan kontrak jual (short). Biasanya kontrak long bisa diambil ketika pasar berpotensi bullish. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi melihat, minimnya nilai transaksi di pasar derivatif mengindikasi, produk-produk tersebut kurang diminati oleh investor lokal maupun asing. Ada beberapa penyebab. Pertama,  investor ritel belum familiar dengan produk turunan seperti futures, ETF hingga produk waran tersruktur karena kurangnya sosialisasi. "Kedua, tingginya risiko yang melekat pada produk futures, ETF dan waran terstruktur karena bersifat leverage," kata Reza. Arjun Ajwani, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori menilai, rendahnya likuiditas produk tersebut,  selain saham di pasar reguler, bukan  fenomena yang baru di pasar modal. 

Lampung Ekspor 4.180 Ton Nanas ke China

10 Nov 2023
Sebanyak 4.180 ton nanas segar asal Lampung senilai Rp 39,8 miliar diekspor oleh PT Great Giant Pineapple ke China, Kamis (9/11/2023). Peluang ekspor komoditas pertanian dan perikanan ke Asia dan Eropa kian terbuka. Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M Panggabean saat menghadiri pelepasan ekspor itu mengatakan, pemerintah mendorong ekspor berbagai komoditas untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. (Yoga)

Adu "Balap” Produksi dan Impor Beras di Tahun Politik

10 Nov 2023

Adu balap produksi dan impor beras bakal mewarnai tahun politik 2024. Tahun depan, Kementan menargetkan produksi beras nasional sebanyak 35 juta ton. Di tahun yang sama, pemerintah juga mengalokasikan impor beras sebanyak 2 juta ton Pada tahun ini, produksi beras nasional diperkirakan berkurang 650.000 ton menjadi 30,9 juta ton akibat dampak La Nina dan El Nino. Di tahun yang sama, pemerintah telah menambah alokasi impor beras dari 2 juta ton menjadi 3,5 juta ton. Target produksi beras 35 juta ton dikemukakan Mentan Andi Amran Sulaiman dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR di Jakarta, Rabu (8/11). Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target tahun lalu sebanyak 31 juta ton. Untuk mengejar target itu, Kementan menggulirkan sejumlah upaya, mulai dari percepatan tanam yang dimulai tahun ini, pemberian insentif bagi petani yang melaksanakan program percepatan tanam, hingga merealokasi dan meminta tambahan anggaran.

Menurut Amran, Kementan telah menggulirkan gerakan nasional percepatan tanam padi di 10 provinsi seluas 569.374 hektar (ha). Per 4 November 2023, realisasi luas tanam mencapai 430.235 ha. Produksi gabah kering giling diperkirakan sebanyak 3 juta ton atau setara 1,5 juta ton beras. Kementan juga akan memberikan insentif berupa bantuan benih padi dan pupuk bagi petani yang melakukan percepatan tanam pada November dan Desember 2023. Hal itu tentu saja dengan mempertimbangkan ketersediaan air dan juga hujan yang mulai terjadi sejak akhir Oktober 2023. Dirut Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pemerintah telah menugasi Bulog mengimpor beras 2 juta ton pada 2024. Impor beras itu baru berupa penugasan, jadi tidak serta-merta akan dilakukan Bulog. ”Kalau tahun depan ada produksi gabah atau beras dari dalam negeri, kami akan serap sehingga tidak perlu impor sebanyak itu. Namun, kami butuh jaminan atau kepastian produksi (gabah atau beras) di dalam negeri,” kata Budi. (Yoga)

Harga Minyak Naik, Kinerja Mendaki

10 Nov 2023
Emiten minyak dan gas (migas) dinilai masih punya prospek menarik seiring menghangatnya harga minyak dunia. Sejumlah emiten migas mengalami penurunan kinerja sepanjang per September 2023. Salah satunya disebabkan oleh penurunan harga jual. Namun, analis NH Korindo Sekuritas, Axell Ebenhaezer menilai, ada beberapa sentimen positif yang bisa mendorong kinerja emiten migas di kuaral IV-2023 dan awal tahun 2024. Selain konflik Timur-Tengah, faktor lain yang mendukung adalah The Fed yang menahan suku bunga. Juga  pernyataan pejabat The Fed bernada dovish, sebuah sentimen positif bagi harga migas. “Ditambah China, importir minyak terbesar,  mencoba mendorong perekonomiannya lewat insentif. Permintaan komoditas ini diprediksi naik stabil di kuartal IV-2023,” kata Axell. Kepala Riset Ciptadana Sekuritas, Arief Budiman memperkirakan, kinerja keuangan MEDC akan membaik di kuartal IV-2023. Mengingat rata-rata harga minyak mentah Brent per Oktober 2023 di level US$ 90 per barel dibandingkan kuartal III-2023 yang di kisaran US$ 86 per barel. Produksi tembaga AMMN diproyeksi naik 112% secara kuartalan dan produksi emas diperkirakan meningkat 178% secara kuartalan. MEDC juga telah meneken perjanjian menjual 32% hak partisipasi efektifnya di Blok 12W (ChimSao)  yang ditargetkan tuntas sebelum akhir 2023 dan bisa memberi untung bagi MEDC. Sementara untuk PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), analis Samuel Sekuritas, Farras Farhan melihat adanya potensi peningkatan penjualan minyak bumi ke perusahaan pertambangan dan pabrik pengolahan alias smelter.

Menadah Untung dari Anak Usaha

10 Nov 2023
Prospek PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dinilai tetap positif di tengah terjadinya gejolak harga energi. Anak  usaha, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang sukses menggelar initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sentimen positif. Perbaikan kinerja bisnis petrokimia juga akan mendorong kinerja. BREN merupakan anak perusahaan BRPT dengan kepemilikan 66,67% saham yang fokus pada sektor panas bumi. BREN saat ini mengoperasikan tiga wilayah kerja panas bumi (Salak, Wayang Windu, dan Darajat) dengan total kapasitas uap dan listrik 885 megawatt (MW). Ini mencapai 38% dari kapasitas panas bumi Indonesia dan menjadikan BREN sebagai operator panas bumi terbesar di Indonesia dan terbesar keempat di dunia. "TPIA sebagai pasar pemimpin dalam industri petrokimia Indonesia, serta pemulihan ekonomi global, khususnya Tiongkok, akan jadi beberapa faktor yang diperkirakan akan mendukung bisnis BRPT di bisnis petrokimia," ujar analis Samuel Sekuritas, Yosua Zisokhi dalam riset September 2023. Head of Research Mega Capital Sekuritas (InvestasiKu), Cheril Tanuwijaya mengatakan,  prospek BRPT salah satunya didorong upaya peningkatan kapasitas produksi di masa depan dengan membuat pabrik caustic soda dan ethylene dichloride. "Apalagi ada IPO BREN juga yang terbukti sukses," ujarnya, Kamis (9/11). Lalu, melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Alkali (CAA) telah meneken Letter of Intent (LoI) bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Kerjasama ini untuk pengembangan industri hulu aluminium dan percepatan ekosistem kendaraan listrik domestik. Analis JP Morgan, Arnanto Januri melihat, pergerakan BRPT mengungguli IHSG sebesar 64% sepanjang Agustus-September 2023, terutama didorong IPO BREN. Namun BRPT telah berkinerja buruk di bawah IHSG sebesar 15% sejak IPO BREN pada tanggal 9 Oktober, meski saham BREN telah meningkat lebih besar 4,5 kali sejak IPO.

Musim Hujan Datang, Apa El Nino Hilang

10 Nov 2023
El Nino yang dimulai pada Juni 2023 membuat cuaca di banyak wilayah Indonesia lebih kering dan mengalami panas menyiksa. Sejak beberapa bulan lalu, beberapa pihak memprediksi puncak El Nino terjadi pada Agustus-September, dengan intensitas yang lemah-moderat. Ada juga yang menaksir fenomena anomali cuaca ini memuncak pada Oktober, kemudian menurun.

Namun, dengan pengalaman meneliti El Nino lebih dari 15 tahun, saya menyaksikan bagaimana pergerakan El Nino, termasuk puncaknya, semakin sulit diprediksi. Pada 2015, misalnya, banyak ilmuwan meramalkan El Nino yang terjadi saat itu hanya berlangsung lemah atau pemanasannya rata-rata per bulan tak melebihi 1,5 derajat Celsius dibanding kondisi non-El Nino. Durasinya pun tak melebihi sembilan bulan.

Pada kenyataannya, El Nino 2015 berlangsung kuat dengan pemanasan tertinggi mencapai 3 derajat Celsius. Durasinya pun dua kali lebih panjang dari El Nino lemah, yakni 18 bulan. Dampaknya luar biasa. El Nino saat itu menyebabkan suhu bumi mencetak rekor terpanas. Kebakaran hutan dan lahan menggila, mencapai 2,6 juta hektare dengan angka kematian dini akibat paparan asap sebanyak 100 ribu jiwa. (Yetede)

Biaya Tersembunyi di Luar Label Harga Pangan Kita

09 Nov 2023

Sistem pertanian pangan, termasuk perkebunan, bak dua sisi mata uang. Di satu sisi menghasilkan manfaat bagi masyarakat melalui pangan, budaya, dan pekerjaan. Di sisi lain berkontribusi terhadap perubahan iklim serta mendegradasi sumber daya alam dan kesehatan. Sebab, sistem pangan itu tidak menerapkan praktik pertanian yang baik dan berkelanjutan. Sisi negatif sistem pertanian itu menimbulkan biaya tersembunyi di luar label harga pangan atau tidak diperhitungkan dalam harga pangan. Pada 2020, biaya tersembunyi di balik sistem pertanian pangan dan di luar label harga pangan global sebesar 12,75 triliun USD atau 10 % dari produk domestik bruto (PDB) dunia.

Biaya tersembunyi terbesar berasal dari biaya kesehatan, terutama akibat pola makan yang tidak sehat, senilai 9,31 triliun USD, disusul biaya lingkungan dan sosial masing-masing 2,87 triliun USD dan 570,94 juta USD. Hal itu mengemuka dalam laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bertajuk ”The State of Food and Agriculture (SOFA) 2023” yang dirilis Senin (6/11) di Roma, Italia, waktu setempat. Laporan tersebut mengungkap tentang biaya tersembunyi, yaitu segala biaya yang ditanggung individu atau masyarakat yang tidak tecermin dalam harga pasar sebuah produk atau layanan yang muncul dari sistem pertanian pangan yang tidak berkelanjutan di 154 negara. Biaya tersebut mengacu pada biaya eksternal atau ekonomi atas kerugian yang muncul baik karena kegagalan sistem, pasar, institusi, maupun kebijakan. FAO menjabarkan, biaya tersembunyi akibat kerugian lingkungan terbesar berasal dari emisi nitrogen yang menyebabkan pencemaran tanah dan udara serta gas rumah kaca yang memengaruhi perubahan iklim. Faktor lainnya berasal dari alih fungi lahan dan sumber air. (Yoga)