Lingkungan Hidup
( 5820 )KEBIJAKAN PANGAN, APTRI: Pemerintah Perlu Miliki Cadangan Gula
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI menilai
langkah pemerintah mengendalikan harga gula pasir atau konsumsi di tingkat
ritel modern sudah tepat. Namun, ke depan, pemerintah harus memiliki cadangan gula
untuk mengantisipasi kenaikan harga gula jika sewaktu-waktu terjadi lagi. Ketua
Umum APTRI, Soemitro Samadikoen menyatakan hal itu ketika dihubungi dari
Jakarta, Jumat (10/11). Pernyataan itu terkait kebijakan relaksasi atau fleksibilitas
harga acuan penjualan (HAP) gula konsumsi di tingkat konsumen yang dijual di
ritel modern. Bapanas menetapkan HAP gula konsumsi bisa dijual ke konsumen Rp
16.000 per kg. Khusus wilayah Maluku, Papua, serta daerah tertinggal, terluar,
terpencil, dan pedalaman (3TP), fleksibilitas HAP tersebut dipatok Rp 17.000
per kg.
Sebelumnya, HAP gula konsumsi di tingkat konsumen Rp 14.500
per kg. Khusus wilayah Maluku,Papua, dan daerah 3TP, HAP-nya sebesar Rp 15.500
per kg. HAP itu ditetapkan Bapanas dan berlaku sejak 24 Juli 2023. Menurut
Soemitro, kebijakan relaksasi harga gula konsumsi di tingkat ritel memang diperlukan.
Kebijakan itu akan membuat pabrik-pabrik gula swasta dan milik negara yang mendapatkan
penugasan impor gula mentah dan konsumsi mau memasarkan gula konsumsi ke pasar
ritel. Dengan harga gula mentah dan konsumsi di tingkat internasional yang saat
ini cukup tinggi, mereka akan merugi jika HAP gula konsumsi masih berkisar Rp
14.500-Rp 15.500 per kg. Apabila pasokan gula di pasar ritel
Soemitro berpendapat, kenaikan harga gula pada tahun ini memang
tidak bisa dihindari. Selain akibat dampak El Nino, kenaikan harga gula juga
dipengaruhi lonjakan harga gula di tingkat internasional. Agar hal itu tidak
terulang ke depan, pemerintah harus memiliki cadangan gula sendiri yang
dikelola oleh ID Food atau Perum Bulog sebanyak 1-1,5 juta ton. Cadangan gula
pemerintah (CGP) itu diharapkan bisa dipenuhi dari gula petani, bukan dengan
cara mengimpor. ”Pemerintah bisa menyerap gula petani saat harga lelang gula
berada di bawah harga acuan pembelian gula petani Rp 12.500 per kg,” kata
Soemitro. (Yoga)
Muhadjir Effendy Cari Solusi Atasi Krisis Pangan di Papua
Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) menyerahkan
sejumlah bantuan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, sebagai tindak lanjut
penanganan bencana yang terjadi. Selain penyerahan bantuan, kunjungan ini untuk
berkoordinasi dengan pemda setempat mencari solusi menyeluruh permasalahan krisis
pangan yang kerap terjadi di Papua. ”Kunjungan hari ini sebagai tindak lanjut.
Sebelumnya pemerintah pusat dan daerah telah menyalurkan bantuan di lokasi
kelaparan. Sekarang yang terpenting
mencari solusi agar kasus seperti ini tidak terulang lagi,” kata Menko PMK Muhadjir
Effendy saat menyalurkan bantuan di Distrik Dekai, ibu kota Kabupaten Yahukimo,
Jumat (10/11). Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah daerah di Yahukimo
dilanda bencana, seperti longsor dan kelaparan, akibat cuaca ekstrem. Hal ini menyebabkan
sebagian besar masyarakat mengalami krisis pangan. Salah satu yang cukup disorot
adalah musibah kelaparan yang mengakibatkan kematian massal di Distrik Amuma.
Bupati Yahukimo Didimus Yahuli mengatakan ”Saat ini (isu
kelaparan) sudah tertangani. Kebutuhan pangan masyarakat sudah kembali
tercukupi”. Di rumah jabatan Bupati Yahukimo, rombongan Kementerian PMK dan
dari kementerian ataupun badan negara lainnya menyerahkan bantuan bahan pokok,
pakaian, obat-obatan, serta uang tunai Rp 1 miliar sebagai dukungan operasional
penanganan kebencanaan. ”Fokus kami sekarang adalah menangani krisis pangannya karena
ini terus berulang di sejumlah wilayah di Papua. Kami sudah berkoordinasi menyiapkan
gudang (pangan) di sejumlah titik. Tempat paling ideal itu dekat bandara. Jika
ada bencana, langsung bisa disalurkan,” ujar Muhadjir. Di sisi lain, kunjungan
ini sekaligus untuk mencari solusi jangka panjang untuk penanganan yang tengah
dikoordinasikan dengan lintas kementerian, lembaga, dan pemda setempat. Rencananya,
pemerintah menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari pengembangan varietas lokal
yang lebih tahan iklim hingga penyuluhan soal teknologi tepat guna yang dibutuhkan
untuk pengolahan bahan pangan agar lebih awet. (Yoga)
Dua PSN Terkait Hilirisasi Nikel di Sultra Molor
Dua proyek hilirisasi nikel yang masuk dalam Proyek
Strategis Nasional (PSN) di Sultra molor dari target. Meski diinisiasi sejak
2022, dua proyek dengan investasi puluhan triliun ini masih dalam pengurusan dokumen
lingkungan. Investasi di wilayah ini dikhawatirkan tidak akan memenuhi target. Kadis
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sultra Parinringi mengatakan,
di Sultra saat ini ada sejumlah PSN, terutama hilirisasi nikel. Namun, ada dua
PSN tidak berjalan sesuai jadwal. ”Ada kawasan industriterpadu PT Nusantara
Industri Sejati (NIS) di Motui, Konawe Utara, dan PT Kendari Kawasan Industri Terpadu (KKIT) di Kendari.
Berdasarkan target, keduanya harusnya sudah jalan dan
konstruksi, tetapi sampai sekarang belum ada (fisik),” katanya, Jumat (10/11). Kedua
proyek hilirisasi nikel ini dimulai sejak 2022. Kawasan industri di Motui,
Konawe Utara, bahkan diresmikan Wapres Ma’ruf Amin. Kedua PSN ini diharapkan menyumbang
investasi hingga puluhan triliun rupiah. Dengan status PSN, seharusnya bisa
lebih cepat. Sebab, pelaksana mendapatkan berbagai kemudahan, termasuk perizinan.
Kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada investasi di Sultra. Pada 2023, Sultra
ditargetkan menggaet investasi Rp 21,7 triliun, naik dari Rp 18 triliun tahun
lalu. Hingga triwulan III-2023, investasi baru 60 % atau sekitar Rp 15 triliun.
(Yoga)
Pasar Derivatif di BEI Masih Sunyi
Lampung Ekspor 4.180 Ton Nanas ke China
Adu "Balap” Produksi dan Impor Beras di Tahun Politik
Adu balap produksi dan impor beras bakal mewarnai tahun politik
2024. Tahun depan, Kementan menargetkan produksi beras nasional sebanyak 35
juta ton. Di tahun yang sama, pemerintah juga mengalokasikan impor beras
sebanyak 2 juta ton Pada tahun ini, produksi beras nasional diperkirakan
berkurang 650.000 ton menjadi 30,9 juta ton akibat dampak La Nina dan El Nino.
Di tahun yang sama, pemerintah telah menambah alokasi impor beras dari 2 juta ton
menjadi 3,5 juta ton. Target produksi beras 35 juta ton dikemukakan Mentan Andi
Amran Sulaiman dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR di Jakarta, Rabu (8/11). Target
tersebut lebih tinggi dibandingkan target tahun lalu sebanyak 31 juta ton. Untuk
mengejar target itu, Kementan menggulirkan sejumlah upaya, mulai dari percepatan
tanam yang dimulai tahun ini, pemberian insentif bagi petani yang melaksanakan program
percepatan tanam, hingga merealokasi dan meminta tambahan anggaran.
Menurut Amran, Kementan telah menggulirkan gerakan nasional
percepatan tanam padi di 10 provinsi seluas 569.374 hektar (ha). Per 4 November
2023, realisasi luas tanam mencapai 430.235 ha. Produksi gabah kering giling
diperkirakan sebanyak 3 juta ton atau setara 1,5 juta ton beras. Kementan juga
akan memberikan insentif berupa bantuan benih padi dan pupuk bagi petani yang
melakukan percepatan tanam pada November dan Desember 2023. Hal itu tentu saja
dengan mempertimbangkan ketersediaan air dan juga hujan yang mulai terjadi sejak
akhir Oktober 2023. Dirut Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pemerintah telah menugasi
Bulog mengimpor beras 2 juta ton pada 2024. Impor beras itu baru berupa penugasan,
jadi tidak serta-merta akan dilakukan Bulog. ”Kalau tahun depan ada produksi
gabah atau beras dari dalam negeri, kami akan serap sehingga tidak perlu impor
sebanyak itu. Namun, kami butuh jaminan atau kepastian produksi (gabah atau
beras) di dalam negeri,” kata Budi. (Yoga)
Harga Minyak Naik, Kinerja Mendaki
Menadah Untung dari Anak Usaha
Musim Hujan Datang, Apa El Nino Hilang
Biaya Tersembunyi di Luar Label Harga Pangan Kita
Sistem pertanian pangan, termasuk perkebunan, bak dua sisi
mata uang. Di satu sisi menghasilkan manfaat bagi masyarakat melalui pangan,
budaya, dan pekerjaan. Di sisi lain berkontribusi terhadap perubahan iklim
serta mendegradasi sumber daya alam dan kesehatan. Sebab, sistem pangan itu
tidak menerapkan praktik pertanian yang baik dan berkelanjutan. Sisi negatif
sistem pertanian itu menimbulkan biaya tersembunyi di luar label harga pangan
atau tidak diperhitungkan dalam harga pangan. Pada 2020, biaya tersembunyi di
balik sistem pertanian pangan dan di luar label harga pangan global sebesar
12,75 triliun USD atau 10 % dari produk domestik bruto (PDB) dunia.
Biaya tersembunyi terbesar berasal dari biaya kesehatan, terutama
akibat pola makan yang tidak sehat, senilai 9,31 triliun USD, disusul biaya
lingkungan dan sosial masing-masing 2,87 triliun USD dan 570,94 juta USD. Hal
itu mengemuka dalam laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bertajuk ”The
State of Food and Agriculture (SOFA) 2023” yang dirilis Senin (6/11) di Roma,
Italia, waktu setempat. Laporan tersebut mengungkap tentang biaya tersembunyi,
yaitu segala biaya yang ditanggung individu atau masyarakat yang tidak tecermin
dalam harga pasar sebuah produk atau layanan yang muncul dari sistem pertanian
pangan yang tidak berkelanjutan di 154 negara. Biaya tersebut mengacu pada
biaya eksternal atau ekonomi atas kerugian yang muncul baik karena kegagalan
sistem, pasar, institusi, maupun kebijakan. FAO menjabarkan, biaya tersembunyi
akibat kerugian lingkungan terbesar berasal dari emisi nitrogen yang menyebabkan
pencemaran tanah dan udara serta gas rumah kaca yang memengaruhi perubahan
iklim. Faktor lainnya berasal dari alih fungi lahan dan sumber air. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









