ENERGI BARU TERBARUKAN : PROBLEM PANJANGPENGEMBANGAN GEOTERMAL
Seabrek pekerjaan rumah masih mengantre untuk segera diselesaikan oleh pemerintah agar bisa meningkatkan pengembangan panas bumi sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan yang cadangannya melimpah di Tanah Air. Persoalan tarif, pendanaan, dan pemanfaatan bersama jaringan tenaga listrik atau power wheeling masih jadi problem yang belum tuntas dalam pengembangan panas bumi sejak beberapa waktu lalu. Padahal, Indonesia kini sedang berupaya meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) menjadi 23% dalam bauran energi nasional pada 2025. Putra Adhiguna, analis energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), mengatakan bahwa pengembangan panas bumi masih berkutat dengan persoalan yang sama dengan beberapa tahun lalu, yakni terkait dengan tarif tenaga listrik. Persoalan lain yang perlu mendapat evaluasi dari pemerintah adalah mengenai beberapa program dukungan pendanaan publik dalam eksplorasi dan pengembangan geotermal yang telah berjalan. Dengan dukungan lebih baik, pengembangan panas bumi diyakini bisa memberikan hasil yang lebih optimal, mengingat Indonesia menyimpan potensi sebesar 23,7 gigawatt (GW). “Sudah ada beberapa proyek, dan bila hal itu didukung lebih , maka diharapkan dukungan dari program seperti JETP bisa turut disertakan,” jelasnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri nampaknya langsung berbenah setelah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) memutuskan untuk tidak melanjutkan penawaran terkait dengan pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi Nage dan Cisolok. Pemerintah mengaku melakukan perbaikan data panas bumi di kedua wilayah kerja panas bumi tersebut untuk kemudian dilelang agar bisa mendapatkan pengelola baru. “Sekarang kami sedang melakukan market sounding untuk memastikan bahwa wilayah kerja panas bumi yang akan ditawarkan ada peminatnya,” kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Yudo Dwinanda Priaadi saat dikonfirmasi, Senin (6/11). Untuk diketahui, Blok Panas Bumi Nage dan Cisolok merupakan hasil dari government drilling yang dilakukan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM pada 2021. Blok Nage memiliki luas 10.410 hektare, dengan cadangan terduga sebesar 46 megawatt ekuivalen (MWe), angka daya setrum itu diperoleh dari hasil pemboran dua sumur slim hole program government drilling sebelumnya. Di sisi lain, PGEO mengaku telah mengunci pendanaan sekitar US$265 juta untuk akselerasi peningkatan kapasitas setrum 1 gigawatt (GW) hingga 2 tahun ke depan. Emiten lainnya, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) bakal mendapat tambahan kapasitas pembangkit listrik geotermal pada akhir 2023 dari proyek pengembangan Salak Binary milik anak usahanya, Star Energy Group Holdings Pte. Ltd. (STAR). Merly, Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Barito Renewables Energy, menyampaikan bahwa perseroan melalui STAR berkomitmen untuk mengembangkan usaha panas bumi.
Tags :
#EnergiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023