Lingkungan Hidup
( 5820 )Maraton Pangan
Maraton gejolak dan pengendalian harga dan stok pangan
tengah terjadi. Kondisi itu akan berlanjut hingga tahun depan. Slogan Bapanas, ”petani
sejahtera, pedagang untung, dan masyarakat tersenyum”, akan terus diuji. Per akhir November 2023, lima dari 11
komoditas pangan pokok yang ditetapkan sebagai cadangan pangan pemerintah harganya
tinggi. Kelima komoditas itu adalah beras, cabai (merah dan rawit), bawang
merah, gula pasir, dan telur ayam ras. Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas,
harga rata-rata nasional beras medium tertinggi terjadi pada Oktober 2023,
yakni Rp 13.210 per kg. Meskipun mulai turun, harga komoditas itu masih stabil tinggi
pada November 2023, rerata Rp 13.170 per kg. Harga itu masih di atas harga eceren
tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan zonasi, yakni Rp 10.900
per kg-Rp 11.800 per kg. Harga gula pasir yang naik berbarengan dengan beras masih
meroket, tak kunjung turun. Per 30 November 2023, harga rata-rata nasionalnya
tembus Rp 16.500 per kg. Harga gula pasir naik 13,7 % secara tahunan dan 12,12
% di atas harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Saat harga beras
masih stabil tinggi dan harga gula pasir terus menanjak, harga cabai merah,
cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras naik. Harga cabai merah dan rawit
naik sejak September 2023, sedang harga bawang merah dan telur ayam ras naik
sejak Oktober 2023.
Kenaikan harga sejumlah pangan pokok itu akan terjadi akibat
sejumlah faktor, yaitu kenaikan biaya produksi dan faktor iklim yang
menyebabkan produksi berkurang. Maraton harga sejumlah pangan pokok tahun ini
akan berlanjut hingga tahun depan yang disebabkan empat faktor musiman, Pertama,
periode Natal dan Tahun Baru. Merujuk hasil survei Kemendag terhadap pelaku
usaha ritel, permintaan barang kebutuhan pokok pada Natal 2023 dan Tahun Baru 2024
diperkirakan naik rata-rata 8,8-22,6 %. Kedua, pemilu. Pemilu pada 2024 yang
akan berlangsung pada Februari akan mendongkrak permintaan dan berujung pada
kenaikan harga dan inflasi. Saat Pemilu 2019 yang berlangsung pada April,
misalnya, tingkat inflasi bulan tersebut 0,44 % secara bulanan dan 2,83 % secara
tahunan. Inflasi terjadi karena kenaikan
harga kelompok pengeluaran bahan makanan, yakni sebesar 1,45 %. Ketiga, pola
musiman kenaikan harga beras. Keempat, periode Ramadhan dan Lebaran. Ramadhan
dan Lebaran pada tahun ini akan berlangsung pada Maret dan April. Memasuki
Ramadhan hingga H+7 Lebaran, harga sejumlah pangan pokok biasanya naik sehingga
berimbas pada kenaikan inflasi. Keempat faktor musiman itu akan terjadi secara
berurutan mulai Januari hingga Agustus 2024. Jika El Nino kembali muncul pada
semester II-2024, kejadian kenaikan harga pangan pada semester II-2023 bisa
terulang. (Yoga)
Harga Pangan di Surabaya Masih Tinggi
Bansos & Stabilisasi Harga Beras
Efektivitas Bansos dalam Stabilisasi Harga Beras Dengan dalih menstabilkan harga beras dan mengendalikan inflasi, bantuan sosial (bansos) beras terus digenjot. Tidak tanggung-tanggung, setelah periode pertama pada Maret—Mei 2023, bansos yang kembali dikucurkan sejak September 2023 lalu bakal diperpanjang hingga Maret 2024. Artinya, tahun 2023 ini bansos dikucurkan selama 7 bulan. Sedangkan tahun depan, untuk sementara, 3 bulan. Pertanyaannya, efektifkah bansos beras dalam menstabilkan harga beras, termasuk mengendalikan laju inflasi? Bansos menyasar 21,35 juta keluarga. Mereka menerima 10 kilogram beras per bulan. Saat dikucurkan pada Maret—Mei, penyalurannya molor sampai Juni 2023. Saat itu bansos beras cukup efektif menahan kenaikan harga beras. Hal itu tecermin dari rata-rata perubahan harga beras Maret—Juni 2023 yang rendah: 0,44%. Bandingkan dengan rerata- perubahan harga beras 4 bulan sebelum bansos (November 2022—Februari 2023) yang sebesar 1,67%. Selama 4 bulan penyaluran harga beras tertahan Rp12.864—Rp12.942/kg. Bahkan, harga beras sempat turun: dari Rp12.915/kg di April ke Rp12.889/kg di Mei. Efektivitas juga tampak pada pengendalian inflasi. Pada Maret—April beras masih menyumbang inflasi dengan andil masing-masing 0,02%. Akan tetapi pada Mei—Juni beras tidak jadi penyumbang inflasi. Bagaimana ini bisa dijelaskan? Dengan bansos beras 10 kg per bulan, keluarga penerima bantuan terlindungi dari gejolak harga beras di pasar. Cakupan sasaran yang relatif besar, 21,35 juta keluarga, bansos beras memengaruhi keseimbangan harga beras di pasar dari sisi permintaan (demand side) dan sisi penawaran (supply side). Dari sisi penawaran ditandai dengan berkurangnya permintaan keluarga penerima bantuan terhadap beras yang dijual di pasar. Ini membuat tekanan permintaan beras di pasar berkurang, sehingga gejolak atau kenaikan harga beras lebih terkendali. Efektivitas bansos dalam menstabilkan harga beras dan mengendalikan inflasi menurun pada penyaluran periode kedua. Karena tidak ada bansos beras, Juli—Agustus harga beras naik. Pada September 2023, kenaikan harga beras tetap tak tertahan meskipun pada bulan itu ada penyaluran bansos beras. Demikian pula pada Oktober: harga beras kembali naik, bahkan menyentuh Rp14.244/kg atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya (Rp13.882/kg). Dalam 2 bulan itu, rerata perubahan harga beras sebesar 4,16%. Warga miskin jadi kian miskin. Mereka yang hanya beberapa jengkal di atas garis kemiskinan terancam jadi orang miskin baru. Ini karena porsi belanja beras warga miskin amat besar. Pada September—Oktober 2023, beras menjadi penyumbang inflasi terbesar untuk kategori harga pangan (volatile foods). Pada September, inflasi beras mencapai 0,19% secara bulanan dan 2,28% secara tahunan. Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan masing-masing 0,18% dan 0,55%. Hal ini mengerek andil beras pada inflasi: 5,61% secara bulanan dan 18,44% secara tahunan. Ini andil inflasi beras tertinggi sejak 2014. Di Oktober 2023, inflasi beras mencapai 1,72% dengan andil sebesar 0,06%. Secara akumulatif, selama 2023 beras menyumbang andil inflasi terbesar: 0,49%. Secara teoritis, efektivitas bansos beras akan tetap terjaga apabila volume beras dilipatgandakan. Misal, menjadi dua kali lipat atau 20 kg/bulan/keluarga. Dengan cara itu akan ada suntikan beras 427.000 ton atau 17% dari konsumsi bulanan. Masalahnya, kalau ini dilakukan, cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada di Bulog bakal terkuras kian deras. Padahal, stok CBP terus menipis bukan hanya digunakan buat bansos beras, tetapi juga untuk operasi pasar bernama stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
Ikhtiar Tekan Harga Pangan
Tiga Daerah Lakukan Gerakan Tanam untuk Mengatasi Inflasi
PGAS Ingin Lebih Ngegas di 2024
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menargetkan volume penjualan gas bumi tahun depan meningkat 4%. Target ini seiring naiknya pasokan dari sejumlah blok seperti Jambi Merang, Jambaran Tiung Biru (JTB), Pangkah, dan Muriah.
Per kuartal III-2023, emiten berkode saham PGAS ini mencatatkan kenaikan volume niaga gas 5% dari semula 894
billion british thermal unit per day
(BBTUD) menjadi 935 BBTUD. Peningkatan volume niaga gas secara
year on year
(yoy) didorong volume pemakaian gas pelanggan industri, komersial dan rumah tangga.
Adapun konsumsi PGAS berdasarkan segmentasi pelanggan masih didominasi pembangkit listrik yakni 33%. Lantas disusul industri kimia 13%, serta industri makanan, pupuk, dan keramik masing-masing 8%.
PGAS juga aktif mencari pelanggan baru hingga pengembangan jaringan gas rumah tangga. PGAS menargetkan menambah 100.000 sambungan rumah tangga (SR) gas tahun depan. Sampai saat ini, PGAS telah mengelola sekitar 835.000 sambungan rumah tangga.
Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGAS Harry Budi Sidharta mengatakan, PGAS berupaya mencari peluang pasar di wilayah yang layak secara keekonomian dan punya daya beli yang sesuai.
Di sisi lain, Direktur Sales dan Operasi PGAS, Ratih Esti Prihatini berharap, pemerintah mengevaluasi skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Sebab, hingga saat ini, PGAS belum menerima kompensasi atas penerapan HGBT dari pemerintah.
Misal, PGAS sudah melakukan amended and restated contract terhadap pelaksanaan kontrak pembelian LNG dengan Petronas LNG Ltd. Kontrak ini memiliki jangka waktu 2024-2025.
Analis DBS Group William Simadiputra mempertahankan rekomendasi
hold
saham PGAS dengan target harga lebih rendah, yakni Rp 1.050 dari Rp 1.400.
PTBA Kaji Diversifikasi Hilirisasi Baru Bara
BBM Satu Harga Butuh Perencanaan Matang
Grup Adaro Garap Bisnis Mineral Baterai Mobil Listrik
Potensi Melimpah, SKK Migas Cari Pasar Baru
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









