;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Kemilau Emas Masih Lanjut Tahun Depan

11 Dec 2023

Harga emas makin cemerlang di tahun ini. Bahkan, harga emas sempat memecahkan rekor harga tertingginya sepanjang masa pada 4 Desember 2023, yaitu US$ 2.135,4 per ons troi.Sejumlah analis meyakini, penguatan harga emas mampu berlanjut tahun depan. Investment Analyst Stockbit Sekuritas Hendriko Gani bilang, konsensus meramal harga emas akan bullish pada 2024 dengan harga rata-rata naik 3,2% year on year (yoy) ke level US$ 1.986 per ons troi. Harga emas pun berpotensi meningkat ke atas level US$ 2.000 bila bank sentral Amerika Serikat (AS) melakukan pelonggaran moneter. Maka, analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia Fahressi Fahalmesta mengerek asumsi harga emas 2023 jadi US$ 1.950 (dari sebelumnya US$ 1.600). Pada 2025 direvisi dari US$ 1.500 jadi US$ 1.850 per ons troi. Proyeksi kenaikan harga emas ini turut menguntungkan emiten tambang emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Fahressi menaikkan estimasi harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) emas ANTM untuk tahun ini sampai 2025 sebesar masing-masing 8,2%, 17% dan 22%. Emiten lain yang diuntungkan menurut Hendriko adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Sebagai salah satu penambang emas, ARCI berpotensi mengalami kenaikan ASP, seiring dengan kenaikan harga emas dunia. Sedangkan analis NH Korindo Sekuritas Leonardo Lijuwardi bilang investor bisa mencermati saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). Emiten ini cukup menarik untuk dilirik sebagai saham alternatif pilihan yang memiliki hubungan dengan emas.

Kodok dari Sumsel Diminati Pasar Eropa

09 Dec 2023
Kodok dari Sumsel mendapatkan tempat tersendiri di pasar Eropa, antara lain Perancis, Belgia, dan Denmark. Namun, karena tergantung dari tangkapan di alam, volume ekspor kodok masih terbatas dan cenderung menurun dalam dua tahun terakhir. ”Kodok dari Sumsel ini sudah sering diekspor, antara lain ke Perancis. Kodok berpotensi besar menjadi primadona ekspor dari Sumsel karena geografinya yang sebagian besar berupa  lahan rawa. Tetapi, kita jangan terus bergantung pada tangkapan alam karena lama-lama bisa habis. Jadi, kami sarankan Sumsel bisa mengembangkan budidayanya,” ujar Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat Manaor Panggabean dalam pelepasan ekspor di Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Sumsel, Jumat (8/12). Kodok diekspor dalam bentuk olahan berupa paha kodok beku. Kali ini, kodok diekspor ke Perancis dengan nilai  Rp 2,3 miliar, relatif besar dan menarik untuk terus dikembangkan. Apalagi, persyaratan ekspor itu relatif tidak sulit, yakni tinggal menjaga standar kelayakan konsumsi. 

”Kalau dalam bentuk hidup, banyak aspek yang harus dipenuhi, seperti kesehatan atau penyakitnya,” kata Sahat. Pengendali Hama Penyakit Ikan Ahli Muda, Balai Karantina Ikan Palembang, Mardian menuturkan, kodok yang diekspor itu berasal dari genus Fejervarya yang banyak hidup di sawah dan lahan rawa, antara lain di kawasan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, di seputaran Ogan Komering Ilir, dan Palembang. Ekspor produk olahan kodok itu sudah dilakukan Sumsel sejak 1980-an dan hampir setiap bulan. Negara tujuan ekspor sebagian besar di Eropa, seperti Perancis, Belgia, dan Denmark. Karena kodok berasal dari tangkapan alam, volume ekspor produk olahan kodok bergantung pada musim. Musim kemarau panjang tahun ini, volume ekspor pun turun. Pada 2022, ada 26 pengiriman ke Perancis, Belgia, dan Denmark sebesar 446,412 kg senilai Rp 55,66 miliar. Per 8 Desember 2023, turun menjadi 245,646 kg senilai Rp 53,235 miliar dari 25 pengiriman ke Perancis dan Belgia. (Yoga)

Mengawal Pasokan Batu Bara Domestik

09 Dec 2023

Posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api tak ubahnya seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, seluruh negeri dituntut senantiasa waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kekayaan cadangan energi, khususnya batu bara yang luar biasa. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), 3,2% cadangan batu bara dunia dimiliki oleh Indonesia. Tingginya cadangan batu bara tersebut tentu saja sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan energi domestik maupun luar negeri. Berdasarkan tren, produksi ‘emas hitam’ Indonesia terus meningkat. Masih berdasarkan sumber data yang sama, produksi batu bara pada 2022 mencapai 687 juta ton. Upaya menjaga stabilitas produksi batu bara menjadi penting seperti halnya menjaga koordinasi antara sektor pertambangan dan perindustrian. Pertambangan merupakan proses hulu, yaitu pengambilan sumber daya alam berupa mineral dan batu bara (Minerba) di dalam perut bumi. Proses tersebut kemudian dilanjutkan industri sebagai proses penghiliran yang diwujudkan dalam bentuk pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut. Peningkatkan kebutuhan batu bara di dalam negeri ini seakan menjadi angin segar bagi sektor energi, termasuk subsektor industri pertambangan batu bara. Di tengah fluktuasi harga batu bara, manajemen perusahaan tambang mesti bersiasat untuk memperkuat daya saing perusahaan agar mampu untuk terus bertahan. Pascapandemi Covid-19, sektor hulu tambang batu bara terus mengawal sekaligus mengandalkan pasar di dalam negeri. Menyeimbangkan serapan batu antara pasokan ke mancanegara dan nasional menjadi resep mujarab sektor pertambangan nasional untuk terus bertahan di tengah situasi yang sedemikian menantang.

CADANGAN MINERAL NASIONAL : Grasberg Masih Potensial

09 Dec 2023

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, cadangan Freeport Indonesia saat ini memang terus menipis dan hanya cukup sampai dengan 2041. Namun, sebenarnya tambang bawah tanah yang digarap perusahaan masih menyimpan potensi sumber daya bijih yang cukup besar bila dilakukan eksplorasi lanjutan. “Grasberg iya , tapi yang di bawah itu lebih banyak . Grasberg itu ada beberapa lapisan, dan cukup 100 tahun lagi,” katanya, Jumat (8/12). Secara terpisah, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia mengatakan, percepatan kepastian perpanjangan kontrak Freeport Indonesia menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi emas dan tembaga dari tambang Grasberg.

2024, Bisnis Batu Bara Masih Moncer

09 Dec 2023
JAKARTA,ID-Meski berada pada tahun politik, bisnis batu bara pada 2024 diprediksi masih moncer, baik dari sisi harga maupun jumlah produksi, sama seperti yang terjadi pada 2023. Harga diperkirakan akan bertengger di level US$ 100-US$ 150 150 per ton dengan produksi di atas 700 juta ton. Sejumlah pengusaha batu bara meyakini komoditas ini akan tetap menjadi primadona dalam 10 hingga 15 tahun depan. Pasalnya, hingga kini Indonesia masih belum bisa menggantikan batu bara dengan energi baru terbarukan (EBT) yang lebih murah. "Prediksinya  untuk 2024 kurang lebih bisnis batu bara akan sama dengan 2023. Memang orang bilang ada pilpres, pemilu pergantian presiden, tetapi pemilunya kan Februari dan presidennya baru akan diganti pada Oktober," ungkap Gilbert Markus Nisahpihh selaku direktur  Samindo Resources, produsen batu bara saat ditemui ditemui di kantor B-Universe, di Jakarta, (5/12/2023). (Yetede)

Minim Minat Swasta di Skema KPBU

09 Dec 2023
JAKARTA — Sejak 2022, pemerintah menyodorkan proyek pembangunan jaringan distribusi gas rumah tangga kepada swasta. Lewat skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), pemerintah menjanjikan keuntungan untuk pihak swasta yang terlibat. Namun proyek ini sepi peminat. "Penawarannya tidak begitu menarik," kata Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Moshe Rizal kepada Tempo, Jumat, 8 Desember 2023. Salah satunya karena pemerintah tak bisa memberi jaminan pengusaha terbebas dari risiko proyek merugi.

Moshe menuturkan, proyek jaringan gas berisiko tinggi. "Eksekusi di lapangan tidak mudah. Kadang pipa harus lewat rumah orang atau di titik lain pipa terhalang tiang PLN." Kondisi seperti ini bakal menghambat pengerjaan proyek dan berujung pada pembengkakan investasi. Saat mendapat tawaran dari pemerintah, dia mengingat hanya disodori nilai proyek. Menurut Moshe, pemerintah seharusnya menyusun studi kelaikan lebih dulu untuk memetakan insentif dan jaminan yang tepat bagi proyek ini, sehingga bisa menarik minat swasta. "Investor butuh kepastian balik modal, keuntungan, serta siapa yang menanggung risiko proyeknya," ujarnya. (Yetede)

RI dan Dunia Hadapi Tiga Isu Prioritas Pangan

08 Dec 2023

Indonesia dan dunia tengah dihadapkan pada tiga isu prioritas pangan. Hal itu akan membuat pemba ngunan ketahanan pangan nasional pada 2024 semakin menantang. Ketiga isu prioritas itu juga perlu ditangani secara berkesinambungan, termasuk nanti pada periodisasi kepemimpinan baru. Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Kamis (7/12) mengatakan, isu-isu prioritas pangan itu mencakup Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), krisis pangan, dan keaneka ragaman pangan lokal. Saat ini dunia dan Indonesia tinggal memiliki waktu tujuh tahun untuk mencapai SDGs. Urgensi pangan dan pertanian dalam SDGs itu sangat penting karena menyangkut ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Oleh karena itu, banyak negara, termasuk Indonesia, mencari bentuk-bentuk percepatan dan transformasi konkret agar SDGs itu tercapai pada 2030. ”Apalagi, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyerukan pentingnya mengatasi hidden cost (biaya tersembunyi) yang berpotensi membebani pengeluaran masyarakat dan negara,” katanya dalam Rakornas Ketahanan Pangan 2023 yang digelar Bapanas secara hibrida.

Tiga komponen terbesar yang menyumbang biaya tersembunyi adalah bidang lingkungan, yaitu emisi nitrogen senilai 79,986 juta USD dan gas rumah kaca 42,123 juta USD. Disusul bidang sosial, terkait kemiskinan, terutama pada kelompok pekerja sektor pertanian, yang biaya tersembunyinya mencapai 11,670 juta USD. Isu prioritas kedua, adalah krisis pangan yang menyebabkan bencana kelaparan, tidak hanya akibat dampak perubahan iklim, juga lantaran guncangan stabilitas politik dan ekonomi. Isu prioritas ketiga terkait keanekaragaman pangan lokal. Hasil Sensus Pertanian 2023 Tahap I menunjukkan, komoditas-komoditas pangan yang dijadikan usaha pertanian belum mencerminkan komoditas khas daerah atau pangan lokal. Padahal, Indonesia kaya sumber pangan lokal, seperti sagu, sorgum, ubi jalar, talas, garut, ganyong, sukun, hanjeli, dan porang. (Yoga)

Dasarkan Kebijakan Pangan pada Sains

08 Dec 2023

Presiden dan wakil presiden terpilih dalam Pemilu 2024 nanti diharapkan memberikan ruang dan dukungan penuh kepada komunitas sains untuk mengembangkan riset dan inovasi. Hal itu terutama dalam mendukung kedaulatan pangan untuk transformasi sistem pangan Indonesia demi menekan angka tengkes (stunting) dan menyelamatkan kualitas bonus demografi. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Daniel Murdiyarso menilai, pemerintahan selama lima tahun terakhir tidak terlalu sensitif akan pentingnya penelitian sebagai dasar pembuatan kebijakan. Selain itu, dukungan dana untuk penelitian juga belum menjadi prioritas pemerintah.

”Lima tahun ke belakang ini komunitas sains merasa tidak mendapat tempat, bukan karena suaranya tidak didengar saja, melainkan untuk menghasilkan sains yang baik pun pemerintah tidak berinvestasi yang cukup. Jadi, bujet penelitian kita itu sangat rendah, 0,7 % dari bujet APBN,” kata Daniel dalam diskusi yang digelar AIPI di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Kamis (7/12). Guru Besar IPB University ini berharap, pemerintah selanjutnya bisa memberikan perhatian lebih pada sains. Ia mengatakan, pemanfaatan penelitian berbasis sains yang terukur akan membuat kebijakan yang dibuat pemerintah berbuah baik bagi masyarakat. (Yoga)

Angkat Komoditas Potensial yang Minim Atensi

08 Dec 2023
Berawal dari keprihatinan dan kegelisahan terhadap dominasi produk   rumput laut luar negeri selama 25 tahun terakhir, menimbulkan keinginan untuk  menampilkan produk sejenis dari bahan baku lokal. Di Yogyakarta, rumput laut tropis  cukup melimpah, namun pemanfataannya belum maksimal, bahkan jarang yang melirik  bahan ini untuk diolah  menjadi  makanan siap saji. Keripik berupa olahan rumput laut  tropis lokal jenis ulva lactuca (selada laut) memberikan pengalaman berbeda dalam mengonsumsi rumput laut yang dikemas dalam merk Tau Iki Ora. Yuwono, pria yang mulai merintis usaha rumput laut  sejak empat tahun terakhir ini ingin mengangkat komoditi yang sangat berpotensi. "Produk luar negeri mendominasi pasar, yang lokal enggak ada yang angkat. Padahal, kita punya 700 varian rumput laut, nomor dua penghasil rumput laut setelah Kanada, kita punya garis pantai yang panjang, tapi kenapa enggak ada produk lokal," ucap owner Tau Iki Ora. (Yetede)

‘Pedasnya’ Inflasi dari Cabai

08 Dec 2023

Inflasi yang mendekati akhir 2023 ini, rasa ‘pedasnya’ benar-benar serasa pedasnya cabai. Untuk November 2023, inflasi secara bulanan didominasi oleh komoditas volatile foodsterutama hortikultura yaitu cabai merah, cabai rawit dan bawang merah. Menurut BPS, cabai merah dan cabai rawit menjadi kontributor utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Sumatra dan Jawa. Pada November 2023, cabai merah mengalami inflasi bulanan 42,83% dengan andil 0,08% dan bawang merah 11,49% dengan andil 0,03%. Komoditas hortikultura tersebut telah memberikan dampak inflasi yang paling menonjol.Siklus harga komoditas hortikultura khususnya harga cabai pernah dirasakan di sebagian besar daerah pada semester I/2022, yang kemudian menjadi pendorong Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang dicanangkan di Malang pada 10 Agustus 2022. Kenaikan harga komoditas hortikultura pada saat itu terjadi ditengarai karena dampak La Nina atau musim hujan yang cukup lama dalam setahun sehingga mengganggu produksi tanaman hortikultura khususnya cabai. Sedangkan kenaikan harga cabai di ujung 2023, lebih karena dampak dari El Nino atau musim panas yang panjang sehingga mengganggu produksi hortikultura khususnya cabai. Dari aspek produksi (sisi hulu), pertanian masih dihadapkan kendala yang hingga saat ini masih menjadi yang belum juga mendapatkan solusi terbaiknya. Kendala itu mengemuka dan muncul pada saat 50 petani cabai yang berasal dari sentra produksi utama cabai se Jawa Timur yang tergabung dalam Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) berembuk di Malang, pada pertengahan November 2023, untuk membicarakan tantangan yang dirasakan para petani cabai pada 2023—2024 serta dampaknya pada harga cabai. Paling tidak ada tiga kendala utama yang dihadapi para petani cabai saat ini. Pertama, fluktuasi harga yang cenderung selalu tinggi. Kedua, yaitu kendala dari sisi produksi (hulu) yang masih dirasakan hingga saat ini. Ketiga, masih terbatasnya implementasi inovasi-inovasi pertanian. Salah satu contoh inovasi yang tercetus dari para petani adalah implementasi greenhouse dengan rate of return yang baik untuk tanaman cabai karena dapat menghasilkan panen 5,2 kg/tanaman selama 11 bulan yang telah dilakukan oleh salah satu petani di Jawa Timur.