Waspada Manipulasi Bansos Menjelang Pemilu
BETAPAPUN bantuan beras diperlukan untuk meringankan beban keluarga miskin, motif politik di balik penyalurannya menjelang pemilihan presiden mesti diwaspadai. Bila tidak, bantuan pangan itu akan mudah dibelokkan menjadi gula-gula untuk mendulang dukungan bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu. Program bansos beras untuk keluarga tak mampu semula bergulir pada Maret hingga Mei 2023, kemudian berlanjut pada September hingga November 2023. Pada 6 November lalu, pemerintah memutuskan memperpanjang program tersebut selama tujuh bulan berturut-turut, dari Desember 2023 hingga Juni 2024. Pemerintah beralasan periode penyaluran bantuan beras diperpanjang untuk mengantisipasi dampak musim kering serta kelesuan perekonomian global di dalam negeri.
Program bansos beras memang diperlukan untuk menyelamatkan penduduk yang termasuk kategori miskin atau rentan menjadi miskin. Sepanjang ada anggarannya, ketika pertumbuhan ekonomi melemah, pemerintah pun selayaknya lebih giat membelanjakan uang negara, termasuk untuk bantuan sosial. Belanja pemerintah itu penting sebagai stimulus agar perekonomian kembali bergerak. Masalahnya, penyaluran bantuan beras menjelang masa kampanye hingga pemilihan presiden dan wakil presiden rawan diselewengkan untuk kepentingan elektoral. Apalagi, dalam konteks pemilihan presiden 2024, pemerintah bukan pihak yang netral. Kita tahu, dengan segala cara, Presiden Joko Widodo telah memuluskan jalan bagi anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023