PT Garam Harus Bertransformasi Supaya Tak Menjadi Pesaing Rakyat
Indonesia bermimpi berhenti mengimpor garam, kecuali untuk kebutuhan industri kimia dan chlor alkali plant (CAP), paling lambat pada 2024. Menurut Direktur Utama PT Garam (Persero) Arif Haendra, perlu upaya ekstra untuk mewujudkan target tersebut. "Dari neraca garam ketahuan Indonesia harus mengimpor," tuturnya dalam wawancara bersama Tempo pada Kamis pekan lalu. Data produksi garam nasional sejak 2014 hingga 2022 tercatat berfluktuasi tiap tahun. Kapasitas tertingginya hanya 2,9 juta ton, yang dicapai pada 2019. Dalam tiga tahun terakhir, produksi garam tak sampai 1,5 juta ton. Sementara itu, kebutuhan nasional cenderung meningkat dari 3,9 juta ton pada 2014 menjadi 4,5 juta ton pada 2022. Namun kapasitas produksi bukanlah satu-satunya masalah. Arif menuturkan kendala pengembangan industri garam nasional lebih kompleks. "Harus diselesaikan secara komprehensif. Tidak bisa cuma stop impor." (Yetede)
Postingan Terkait
Benahi Masalah Fundamental
28 Jun 2025
Regulasi Perumahan perlu direformasi
26 Jun 2025
Peluang Bisnis PT Garuda Indonesia
26 Jun 2025
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
26 Jun 2025
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
25 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023