Lingkungan Hidup
( 5781 )Sultra Ekspor Perdana Pinang ke Iran
Mitigasi Risiko Pangan dengan Kucuran Dana Bansos
FASILITAS PENGOLAHAN MIGAS : PROBLEM PELIK KILANG DI TUBAN
Pengembangan megaproyek Grass Root Refinery Tuban masih menyisakan persoalan rumit setelah Rosneft Singapore Pte. Ltd. terkena impak ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina. Perburuan mitra strategis pun dilakukan agar proyek senilai US$13,5 miliar itu bisa berlanjut. Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas atau KPPIP Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut PT Pertamina (Persero) terus mencari mitra strategis untuk menopang aspek teknologi dan pembiayaan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Pasalnya, sanksi yang mengenai Rosneft telah menghambat akses pendanaan, teknologi, dan jasa konstruksi dalam proyek yang ditujukan untuk memproduksi lebih banyak bahan bakar minyak atau BBM dengan kualitas standar Euro 5 di dalam negeri. Ketua KPPIP Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo mengatakan bahwa pemerintah mendukung upaya Pertamina mencari mitra strategis yang bisa mendukung penyelesaian proyek GRR Tuban. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menagih kepastian investasi PSN itu sejak Juni 2023, setelah beberapa kali mengalami pengunduran. Hanya saja, hingga saat ini kepastian investasi proyek tersebut belum kunjung diteken. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji pun sebelumnya menyebutkan bahwa kementeriannya masih memberi tambahan waktu hingga 2024 setelah tenggat keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID) proyek pengerjaan kilang baru itu beberapa kali mengalami kemunduran. Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional Hermansyah Y. Nasroen mengatakan bahwa penyelesaian FID proyek GRR Tuban masih dalam progres untuk diselesaikan. Dalam kesempatan terpisah, Pertamina juga mengharapkan dukungan pembangunan infrastruktur dan akses lahan kilang seperti yang tertuang dalam kesepakatan perusahaan patungan atau joint venture agreement antara Pertamina dan Rosneft. Dukungan tersebut antara lain berupa pembangunan ruas Tol Tuban dan rel kereta api Babat—Tuban. Perseroan juga meminta pelebaran jalan dan penguatan jembatan existing di ruas Gresik—Tuban, mengingat persetujuan pelebaran jalan yang sudah diperoleh saat ini hanya untuk sepanjang 3,6 kilometer dari target 10,5 kilometer. Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional Taufik Aditiyawarman juga sempat mengatakan bahwa pengajuan mitra baru dilakukan sejak tahun lalu. Penambahan mitra baru menjadi hal strategis yang harus dilakukan untuk mengimbangi sanksi yang saat ini diterima oleh Rosneft. Adapun, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi Yuliot Tanjung menuturkan bahwa posisi investasi Rosneft di Kilang Tuban saat ini masih terhambat akibat embargo dari negara-negara barat, padahal penyiapan investasi awal terkait dengan ketersediaan lahan sudah rampung. Sementara itu, Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi meminta pemerintah untuk mulai mempertimbangkan pengalihan fokus pemenuhan kebutuhan energi nasional dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).
”Food Estate” dan Korporasi Swadaya Petani
Polemik lumbung pangan baru atau food estate memanas selama
sepekan pasca debat calon wakil presiden pada 21 Januari 2024. Sejumlah pihak
mengecap program food estate gagal dan beberapa pihak lain mengklaim kesuksesan
food estate. Sementara tanpa berkoar-koar, sejumlah korporasi swadaya petani
terus tumbuh mandiri mengepakkan sayapnya. Food estate merupakan bagian dari
Program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024 yang menyasar pencetakan kawasan pangan
baru, terutama di Sumut, Kalteng, NTT, dan Papua. Awalnya, lumbung pangan baru
yang tercipta ditargetkan 2,41 juta hektar (ha). Namun, setelah dimatangkan
kembali, pemerintah hanya mampu merencanakan lumbung pangan baru seluas total
82.778 ha dalam kurun waktu 2020-2023. Pada tahun pertama ditargetkan
terealisasi seluas 30.000 ha, tahun kedua 30.778 ha, tahun ketiga 12.000 ha,
dan di tahun keempat 10.000 ha.
Program itu tidak hanya sekadar mencetak sawah baru, tetapi
juga mengembangkan tanaman pangan selain padi, seperti jagung, singkong, dan
bawang putih. Sejumlah lumbung pangan itu bakal diintegrasikan dengan
perkebunan dan peternakan sehingga menjadi kawasan sentra produksi pangan
terpadu, modern, dan berkelanjutan. Guru Besar Sosiologi IPB University Rilus A
Kinseng pernah menyebutkan kegagalan lumbung padi di Dadahup, Kabupaten Kapuas,
Kalteng, lantaran infrastruktur pengairan (modal fisik) belum memadai. Akibatnya,
produktivitas padi rendah, kurang dari 2,5 ton per ha, menyebabkan banyak
petani akhirnya beralih menjadi pekerja di kebun sawit (Kompas, 26/4/2023).
Di Desa Fatuketi, Belu, NTT, terdapat lumbung jagung yang
diresmikan pada 2022. Namun hingga kini, persoalan air, serta kondisi tanah
yang kering dan berkapur di lumbung pangan jagung, belum teratasi meski dibangun
Bendungan Rotiklot. (Kompas 20/10/2023). Pada 18 Agustus 2023, Presiden Jokowi mengakui
program food estate ada yang berhasil, setengah berhasil, dan yang belum
berhasil. Membangun lumbung pangan bukanlah pekerjaan gampang. Baru biasanya
pada penanaman keenam atau ketujuh itu baru pada kondisi normal. Sementara itu
di Demak, Jateng, 126 petani yang mengelola sawah seluas total 300 ha membentuk
Koperasi Citra Kinaraya. Dengan penggilingan padi modern, mereka mengolah gabah
petani menjadi beras khusus, seperti beras putih aromatik, beras merah, beras
hitam, dan beras coklat. Beras-beras itu telah dipasarkan ke Jakarta, Bandung,
Bali, dan Kalsel.
Di Desa Gobleg, Buleleng, Bali, para petani muda membantu
pengembangan pertanian hortikultura organik dengan sistem internet untuk segala
(IoT). Tinggal klik dengan jempol, mereka dapat menyiram tanaman kapan pun dan di
mana pun asal tersambung jaringan internet. Mereka juga dapat memantau kondisi
kebun dan tanaman serta kadar air dan keasaman tanah secara terukur dari genggaman
tangan, membuat mereka dapat membudidayakan sejumlah tanaman hortikultura di
luar musim. Sistem pemasaran secara daring dan luring juga dibangun dengan
baik. Melihat kondisi food estate dan era berkembangnya korporasi swadaya
petani, pemerintah perlu lebih terukur dan realistis membangun kebijakan pangan
nasional. Cukup sudah memperluas food estate yang sulit dikembangkan seturut empat
kaidah akademis. Lebih baik bantu petani yang tengah tertatih-tatih membangun korporasi
petani berdasarkan kluster pangan. (Yoga)
ADU GAGASAN SOLUSI PANGAN DALAM DEBAT CAWAPRES
Pangan menjadi salah satu materi yang diangkat dalam forum debat
keempat calon presiden-calon wakil presiden pada Minggu (21/1). Ketiga cawapres
menyampaikan pandangan tentang problem dan solusi masalah pangan. Cawapres no
urut 1, MuhaiminIskandar, pada segmen pertama, memotret persoalan kesejahteraan
petani dan nelayan sebagai hal mendasar. Menyadur pemikiran KH Hasyim Asy’ari,
pendiri NU, Muhaimin menggugat bahwa ”petani adalah penolong negeri, tetapi
hari ini kita menyaksikan negara dan pemerintah abai terhadap nasib petani dan
nelayan kita”. Solusi yang ditawarkan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar
ialah menempatkan desa sebagai titik tumpu pembangunan nelayan, petani, peternak,
dan masyarakat adat sebagai bagian utama dari program pengadaan pangan nasional.
Hal ini dapat diwujudkan dengan menghadirkan keadilan dalam ranah iklim,
ekologi, antar generasi, agraria, dan keadilan sosial.
Cawapres no urut 2, Gibran Rakabuming Raka, menawarkan solusi
melalui penyediaan faktor produksi yang terjangkau, ”untuk mendorong
kesejahteraan petani, akan kita dorong terus ketersediaan pupuk dan bibit yang
mudah dan murah”. Ia menambahkan bahwa peningkatan produktivitas petani didorong
melalui mekanisasi pertanian dan mendorong petani generasi muda untuk mempraktikkan
smart farming. Garis besar gagasan yang disampaikan Gibran bersimpul pada
kalimat penutupnya pada saat penyampaian visi misinya, yaitu keberlanjutan dan
penyempurnaan. Artinya, Gibran memosisikan diri meneruskan program yang sudah
dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi dengan niat untuk menyempurnakannya
apabila Prabowo Subianto dan dirinya terpilih sebagai presiden dan wakil
presiden.
Cawapres no urut 3, Mahfud MD, lebih banyak berbicara tentang
nilai adiluhung leluhur bangsa yang memiliki kearifan dalam menjaga kelestarian
lingkungan. Dalam kearifan lokal bangsa Indonesia masa lalu, sudah biasa
melakukan langkah-langkah untuk memberikan pelindungan atas lingkungan hidup
agar lestari”. Terkait petani dan nelayan, Mahfud mengungkapkan program yang
ditawarkan yakni program petani bangga bertani di laut jaya, nelayan sejahtera.
Sedang untuk menghadapi dampak perubahan iklim poin terpenting Muhaimin ialah
menjaga ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau. Pada jurnal Poltek
Pembangunan Pertanian Bogor karya Saridewi,”Peningkatan Produktivitas Padi,
Jagung, dan Kedelai melalui Program Upsus Pajale di Kabupaten Garut” (2018)
terungkap pupuk subsidi dalam usaha tani padi menghemat biaya 60 %. Bagi kalangan
petani, isu pupuk menjadi menu dominan yang disajikan para cawapres dalam debat.
Mendengar Muhaimin menyinggung soal pupuk, Gibran mengungkit
program pendekatan lokasi produksi pupuk dengan lahan pertanian. Ia merujuk
pada proyek pembangunan pabrik pupuk di Fakfak, Papua Barat, yang berkaitan
dengan orientasi pembangunan Indonesia Emas 2045. Papua diprogramkan menjadi
wilayah lumbung pangan nasional, bahkan dicita-citakan hasil pertaniannya bisa untuk
diekspor. Dan Mahfud menanggapi pendapat Muhaimin terkait pupuk pada perspektif
produk hukumnya. Aturan dan prosedur ada, tapi pelaksanaan di lapangan masih
lemah. Adapun program yang sudah dijalankan Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jateng
ialah menyelenggarakan badan usaha milik tani. ”Badan usaha milik petani efektif
membantu petani saling menolong menggarap tanahnya sehingga dia kerasan (betah)
di desa,” ungkap Mahfud. (Yoga)
Nasib Saham Emiten Nikel di Tengah Ancaman Baterai LFP
Program Bantuan Pangan Dievaluasi Secara Berkala
Panen Masalah Setelah Bank Tanah Hadir
Sektor Batubara Masih Sengsara
ENERGI TERBARUKAN : SOAL ‘GETIR’ PEMBANGKIT NUKLIR
Gerak cepat pemerintah merealisasikan pembangkit listrik tenaga nuklir dengan membentuk Nuclear Energy Program Implementation Organization tidak membuat pengembangan salah satu energi terbarukan itu lebih mudah. Masih ada tantangan yang perlu diselesaikan agar benar-benar bisa diterapkan di Tanah Air. Sempat menggantungkan harapan yang cukup tinggi setelah keterlibatan Luhut Binsar Pandjaitan sebagai Ketua Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) sebagai tim percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN di Tanah Air, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu malah membeberkan sejumlah persoalan yang menjadi concern-nya. Luhut memberikan perhatian khusus terhadap potensi gempa bumi yang banyak terjadi di Indonesia dalam pembangunan PLTN. Musababnya, Jepang sebagai salah satu negara yang paling maju dalam penggunaan PLTN, masih direpotkan oleh dampak dari salah satu bencana alam tersebut.
Tingginya risiko dalam pengoperasian PLTN memang membutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi untuk mengantisipasi beragam persoalan ke depannya. Apalagi, Indonesia berada di ring of fire yang rentan mengalami gempa bumi. Dewan Energi Nasional dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang berkali-kali menyampaikan bahwa pemerintah tengah mempercepat target operasi komersial PLTN untuk meningkatkan bauran EBT. Dalam draf revisi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang telah diselesaikan oleh Dewan Energi Nasional, target operasi komersial PLTN dipercepat ke 2032. Berdasarkan peta jalan yang baru, Dewan Energi Nasional menetapkan target bauran EBT di rentang 19%—21% pada 2030. Saat itu, pemerintah berencana bakal menghentikan impor bensin dan LPG. Selanjutnya, bauran EBT dikerek ke level 25%—26% pada 2035, dengan asumsi PLTN pertama berkapasitas 250 megawatt (MW) beroperasi pada 2032.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto membeberkan, lokasi pembangunan PLTN perdana di Indonesia rencananya akan berada di Pulau Gelasa, Kepulauan Bangka Belitung. Kapasitasnya direncanakan mencapai 500 MW. Salah satu calon investor yang akan mengembangkan PLTN di Indonesia adalah PT ThorCon Power Indonesia (PT TPI). “ThorCon siap untuk memulai konstruksi pada 2024, dan mengharapkan dapat mulai beroperasi secara komersial pada 2030 sesuai dengan yang ditargetkan oleh DEN ,” kata Direktur Utama ThorCon Power Indonesia David Devanney beberapa waktu lalu. Direktur Pengaturan, Pengawasan Instalasi dan Bahan Bakar Nuklir Bapeten Haendra Subekti menyampaikan, berdasarkan hasil konsultasi 3S, ThorCon telah menunjukan hal konkret dan siap melakukan pembangunan PLTN pertama sesuai dengan persyaratan perizinan yang berlaku.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









