Sektor Batubara Masih Sengsara
Sektor batubara masih dibayangi sejumlah sentimen pemberat. Perayaan tahun baru Imlek di China yang biasanya mengangkat permintaan batubara, diperkirakan tak terlalu berdampak ke harga komoditas ini. Secara historis konsumsi energi biasanya akan meningkat pada tahun baru China. Sebagai gambaran, Imlek 2575 Kongzili akan jatuh sebentar lagi, yakni pada 10 Februari 2024. Namun, menjelang tahun baru kalender lunar itu, harga batubara masih cenderung terkoreksi. Head of Business Development FAC Sekuritas Indonesia, Kenji Putera Tjahaja menilai, faktor perayaan imlek masih belum cukup mendongkrak harga batubara.Pasalnya, sentimen yang menjadi penekan harga masih cenderung dominan. Dari dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyusun peta jalan pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Yang pasti, ada dua PLTU yang akan dipensiunkan dini, yakni PLTU Cirebon-1 dan Pelabuhan Ratu. Di sisi lain, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, sentimen datangnya Imlek bisa saja mendongkrak harga batubara. Tapi, sifatnya cuma jangka pendek atau minimal hanya bisa menstabilkan harga batubara dari kejatuhan secara langsung. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Thomas Radityo meyakini harga batubara akan tetap berada di atas US$ 100 per ton untuk tahun ini, dengan perkiraan rata-rata US$ 130 per ton. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diyakini menghasilkan yield dividend sebesar 9,5%, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan estimasi yield sebesar 15,3%, dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dengan perkiraan yield sebesar 9,0%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023