;
Tags

Ritel

( 166 )

Penjualan Ponsel Pintar Turun

Ayutyas 17 May 2020 Tempo, 15 May 2020

Penjualan telepon seluler pintar secara global turun 11,7 persen pada kuartal pertama 2020. Tahun ini, jumlah pengiriman 275,8 juta unit dalam tiga bulan pertama, turun dari 312,3 juta pada tahun sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan pasar Cina yang mencapai 20 persen akibat wabah virus Corona.

Ritel Modern Rumahkan 80 Ribu Karyawan

Ayutyas 13 May 2020 Investor Daily, 8 Mei 2020

Para pengusaha ritel modern yang tergabung dalam Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) telah merumahkan 80 ribu karyawan akibat pandemi Covid-19. Adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk mencegah penularan Covid-19 membuat banyak pengusaha ritel terpaksa menutup gerai mereka yang berdampak pada kebijakan merumahkan karyawannya. Namun menurut Wakil Ketua Umum Hippindo Fetty Kwartati anggotanya berusaha menekan tidak terjadi PHKdan menunggu dukungan dari pemerintah dikarenakan mengalami penurunan omzet hingga 70-90% dibanding Ramadan tahun lalu sehingga Cash in flow perusahaan tidak mencukupi untuk memba yar biaya beban.

Selain itu, peritel yang diperbolehkan buka hanya peritel groceries, obat-obatan, dan sebagian food and baverage dengan sistem take away, sejauh ini anggota Hip-pindo sudah merumahkan sekitar 80.000 karyawan sehingga persediaan barang dagangan peritel juga menumpuk, yang sebagian besar berupa baju muslim dan produk groceries spesial untuk Lebaran. Di sisi lain, Fetty juga berpendapat bahwa Insentif yang telah diberikan oleh pemerintah belum signifikan mengurangi tekanan terhadap pelaku usaha ritel serta beberapa sektor ritel belum mendapatkannya sehingga pihaknya mengusulkan supaya Kementerian Keuangan menambah beberapa klasifikasi lapangan usaha (KLU)

Menjelang Lebaran, Pihaknya juga telah meminta kelonggaran dari pemerintah untuk mengizinkan toko-toko ritel, terutama fesyen dan departement store untuk buka mulai dua minggu sebelum Lebaran, toko-toko tetap akan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran pandemi Covid-19

Ketua Umum Asosiasi Pengu-saha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyayangkan adanya petugas pelaksana yang tidak mengerti substansi atau inti PSBB, sebelumnya ia mempertanyakan penutupan beberapa gerai ritel di Bandung, Jawa Barat, dengan alasan PSBB padahal ritel merupakan salah satu sektor yang diperbolehkan tetap ber-operasi selama PSBB, karena menyediakan kebutuhan pokok masyarakat.

Peritel Memaksimalkan Jaringan Penjualan Online

Ayutyas 23 Apr 2020 Kontan, 22 April 2020

Pandemi virus korona di Indonesia membuat para emiten ritel memutar otak untuk tetap beroperasi. Terlebih, Ramadan dan Idul Fitri semakin dekat. Penjualan online bakal menjadi ujung tombak penjualan emiten di sektor tersebut. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Ace HArdware Tbk (ACES) merupakan perusahaan yang mengambil langkah serupa. Kedua perusahaan memaksimalkan saluran penjualan online yang pertumbuhannya sendiri terbilang moncer. Penjualan online MAP kuartal I-2020 naik 160% secara tahunan. Untuk ACES Penjualan yang serba online bahkan bukan hanya untuk gerai yang sedang ditutup, tapi untuk gerai yang masih buka. Marketing Director Kawan Lama Group) Nana Puspa Dewi kepada KONTAN, Selasa (21/4) mengatakan gerai yang masih buka tetap menjalankan protokol kesehatan terkait pandemi virus korona. Pembayaran juga dilakukan secara digital di gerai ACES yang masih buka. 

Analis Ciptadana Sekuritas Robert Sebastian menilai, pengaruh penjualan online selama periode Ramadan dan Lebaran tidak akan signifikan. Pasalnya, porsi penjualan online emiten ritel masih tergolong kecil. Perayaan lebaran tahun ini juga hadir di tengah dampak ekonomi pandemi, daya beli masyarakat lemah seiring dengan munculnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pendapatan yang berkurang. Hal ini diamini analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu, ia mengatakan tidak semua emiten mampu mengoptimalkan saluran penjualan online contohnya PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) yang memiliki segmen pasar menengah ke bawah sehingga sulit menjangkau pelanggan yang sudah terbiasa belanja di toko fisik. RALS bahkan sudah menutup beberapa gerai. Sejumlah karyawan RALS juga terkena PHK buntut dari penutupan gerai tersebut. Dessy menyarankan bagi investor yang belum memiliki saham emiten ritel untuk menghindarinya terlebih dahulu. Sebaliknya, bagi yang sudah punya, ia memasang rekomendasi sell hingga akhir tahun. Pendapat sama juga disampaikan Christine Natasya, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menurutnya penjualan untuk gerai yang masih buka juga cukup menantang karena lesunya daya beli dan memperkirakan same sales store growth (SSSG) hingga akhir tahun bakal loyo. Untuk SSSG gerai fashion, pertumbuhannya diperkirakan turun 15%. Sedangkan SSSG supermarket diperkirakan turun 5% 

Aturan yang Seragam Akan Jamin Distribusi

Ayutyas 13 Apr 2020 Kompas, 13 April 2020

Pelaku usaha sektor ritel perlu aturan pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang seragam, agar distribusi pasokan ritel akan terjaga. Terutama untuk di luar wilayah Jabodetabek.

PSBB dilakukan di DKI Jakarta pada 10-23 April 2020, diikuti kemudian oleh Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Depok, serta Kabupaten Tangerang dan kota Tangerang Selatan. Menurut Ketua Komite Ritel Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Tutum Rahanta, aturan terkait distribusi dan logistik produk-produk ritel selama PSBB sudah sinkron, namun pemahaman di tingkat daerah belum seragam.

Dari sisi permintaan konsumen, diperkirakan volume transaksi meningkat 50-100 persen, namun omzet ritel masih sama. Peningkatan volume disebabkan perilaku belanja masyarakat yang cenderung menyetok di rumah, namun frekuensi belanja menurun.

Pemberlakuan PSBB meningkatkan pemesanan bahan pangan dalam jaringan daring melalui aplikasi. Sebagaimana CEO dan Co-Founder Tani Hub Group Ivan Arie Sustiawan menyebutkan, transaksi meningkat hingga 100 persen dan perusahaan tetap memantau kebijakan pemerintah terkait lalu lintas logistik agar dapat tetap lancar melakukan pengiriman, baik dari sisi suplai maupun permintaan. Sementara itu, Digifish Network usaha rintisan bidang perikanan melayani pembelian konsumen secara langsung melalui jaringan teks Whatsapp.

Dampak Covid-19 : Cari Akal Hadapi Pandemi, Peritel Butuh Jaminan

ayu.dewi 03 Apr 2020 Kompas, 3 April 2020

Pandemi Covid-19 memang memukul sektor ritel karena mengurangi pasokan dan suplai  barang serta jalur distribusi logistik. Sejak Covid-19 belum merebak di Indonesia sejumlah gerai ritel sudah kesulitan dengan suplai barang selama ini banyak diimpor dari negara lain terutama China. 

Menurut Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin, beberapa sektor sebenarnya tetap bisa bertahan di tengah pandemi dengan inovasi layanan langsung ke pelanggan. Apalagi mereka menjual kebutuhan pokok. Namun, ritel yang bergerak dibidang mode dan departement store terpukul. Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey menambahkan, peritel siap mencukupi kebutuhan barang pokok masyarakat dengan berbagai inovasi layanan pesan-antar. Namun mereka butuh jaminan dari pemerintah berupa dukungan pasokan ke gerai ritel serta jaminan keamanan saat mendistribusikan logistik.

Orkestrasi Daya Pasok Ritel

ayu.dewi 02 Apr 2020 Kompas, 2 April 2020

Di tengah penyebaran Covid-19 di China, ritel jadi sektor yang turut berperan penting. Mereka berada digarda terdepan penyedia kebutuhan harian. Gerakan itu tidak hanya dari peritel yang digandeng Pemerintah China tetapi juga asosiasi ritel besar, pedagang pasar dan toko-toko kelontong yang diorkestrasi oleh Pemerintah Provinsi Hubei. 

Ritel di China memang memiliki kekuatan suplai kebutuhan hidup harian masyarakat, baik konvensional maupun daring. Adopsi pemesanan daring telah tinggi dan berkembang di China tak lepas dari kesuksesan Alibaba dan JD.com dalam mengintegrasikan pengalaman belanja daring dan luring dengan sistem operasi logistik.

Di Indonesia para peritel, pelaku logistik, e-dagang bahkan pedagang kecil telah bergerak mandiri menyelamatkan usaha dan memasok kebutuhan warga. Yang dilakukan Pemerintah China belum terlihat di Indonesia. Belum ada langkah strategis yang diambil yang dapat menjadikan logistik sebagai ujung tombak pencegahan penularan Covid-19.

Bersiasat Hadapi Pandemi

ayu.dewi 01 Apr 2020 Kompas, 1 April 2020

Pandemi Covid-19 yang diikuti kebijakan pembatasan sosial telah melambatkan roda perdagangan. Namun, sejumlah pelaku usaha bersiasat agar usahanya tetap berjalan. PT Darta Pangan Maju Bersama (Sembago) misalnya menjajal peluang penyediaan dan pengantaran produk sayur dan buah untuk kebutuhan rumah tangga. Mitigasi penyebaran virus yang kian masif membuat permintaan turun hingga 70%. 

Dalam kedaruratan akibat pandemi, teknologi menjadi jalan keluar bagi para pedagang jaringan perbelanjaan, Hypermart misalnya membuka layanan pesan antar barang kebutuhan sehari-hari dengan memanfaatkan media sosial (aplikasi whatsapp). Adapun peritel yang tergabung dalam Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan  Indonesia (Hippindo) berupaya menggarap pasar melalui jejaring media sosial, mengoptimalkan aplikasi e-dagang serta melayani pesan antar barang kebutuhan sehari-hari.

Menurut Head of RegoPantes Wilda Romadona, transaksi melalui aplikasi ponsel naik 3-4 kali lipat dari masa normal. CEO dan Founder Etanee Cecep Muhammad menyatakan transaksi naik 10 kli lipat dibandingkan kondisi normal. Secara harian tumbuh 5-10%.

Bisnis Ritel : Pusat Perbelanjaan Makin Terimpit

ayu.dewi 26 Mar 2020 Kompas, 26 Maret 2020

Pusat perbelanjaan mengalami tekanan mendalam akibat pandemi Covid-19. Tingkat okupansi kini tinggal 10-20%, penutupan sementara pusat perbelanjaan mulai ditempuh sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran virus dan menekan beban operasional. Penutupan sementara berlangsung hingga 5-8 April 2020. 

Pusat perbelanjaan yang tutup antara lain : Senayan City dan Central Park di Jakarta, Mall Ratu Indah (Makassar), serta tiga pusat perbelanjaan Summarecon Mall di Kelapa Gading, Serpong dan Bekasi Meski operasional mal dihentikan sementara, beberapa gerai di mal masih beroperasi antara lain supermarket, farmasi, serta anjungan tunai mandiri untuk melayani kebutuhan konsumen.

Simplifikasi Pajak PPN, Sektor Ritel Disederhanakan

tuankacan 16 Mar 2020 Bisnis Indonesia, 16 Maret 2020

Otoritas fiskal tengah mempertimbangkan penggunaan dasar pengenaan pajak nilai lain sebagai alternatif pengenaan pajak pertambahan nilai pada sektor ritel. Langkah ini dilakukan untuk menyederhanakan pajak di sektor tersebut. Pasalnya, pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk sektor ini terbilang rumit karena margin yang cukup kecil dan memiliki jenis barang cukup beragam. Saat ini, pihak DJP bersama dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) sedang mempertimbangkan penggunaan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Nilai Lain sebagai alternatif pengenaan PPN pada sektor ritel. Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) menilai, sebagai sektor yang menjual fast moving consumer’s goods, sudah seharusnya pungutan PPN ritel menggunakan sistem berbeda. Usaha yang perlu dikeluarkan oleh otoritas pajak terlalu besar apabila memungut PPN atas sektor ritel dengan sistem pemungutan PPN pada umumnya. Mengenai skema, agar pengenaan PPN pada sektor ritel bisa mencontoh skema atas emas perhiasan. Meski demikian, DPP Nilai Lain yang dijadikan landasan untuk pengenaan PPN harus mendekati nilai yang sebenarnya agar adil.

Sementara itu, Partner DDTC Fiscal Research Bawono Kristiaji mengatakan, pengenaan PPN yang berbeda adalah upaya untuk menyederhanakan adminsitrasi. Meski lebih simpel, kebijakan ini memiliki konsekuensi. Menurutnya, skema PPN yang menggunakan DPP Nilai Lain menyebabkan adanya konsekuensi pajak masukan tidak sepenuhnya bisa dikreditkan oleh PKP.  Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta kepada pemerintah untuk melibatkan dunia usaha, tidak hanya akademisi. Sistem PPN pada sektor ritel perlu dibuat lebih simpel karena sifat sektor ini yang multidistribusi dan multiproduk. Khusus untuk ritel yang tercatat di bursa efek, sambungnya, permasalahan makin kompleks karena perusahaan harus membuat laporan keuangan secara periodik, serta melaporkan dan membayarkan PPN Masa setiap bulannya.

Google Tingkatkan Daya Saing Industri Ritel

ayu.dewi 09 Mar 2020 Kompas, 5 Maret 2020

Google Cloud siap memperbesar dukungan terhadap industri ritel di Indonesia dengan meluncurkan region cloud di Jakarta tahun ini. Google cloud dengan industri ritel bertujuan untuk menaikkan daya saing dan kenyamanan pelayanan konsumen. Industri ritel Indonesia yang sudah bekerja sama dengan Google Cloud antara lain Alfamart, Blibli, Bukalapak, CT Corp, Tokopedia dan warung pintar.

Direktur Teknologi dan Bisnis Internasional Alfamart Bambang Setyawan Djojo mengatakan, pemanfaatan layanan Google Cloud mampu menekan biaya komunikasi hingga 15% antar ribuan toko ritel Alfamart yang tersebar ke seluruh Indonesia. Bagi Blibli.com, teknologi komputasi awan membantu perusahaan mengolah data pelanggan dan merespon peluang pasar di masa mendatang.