;
Tags

Ritel

( 166 )

NPL Perbankan RI Kalah Saing dengan Negara Tetangga

HR1 24 Jun 2025 Kontan
Industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan ganda berupa masalah likuiditas dan kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan / NPL) di tengah tekanan ekonomi makro domestik dan global. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NPL gross perbankan nasional naik ke 2,24% per April 2025, dari 2,08% pada Desember 2024. Angka ini lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Singapura (1,22%) dan Malaysia (1,4%), meski masih lebih baik daripada Filipina (3,3%) dan Thailand (2,9%).

Steffano Ridwan, Direktur Utama Maybank Indonesia, mengakui NPL Indonesia lebih tinggi, bahkan rasio gross impaired loans (GIL) Maybank Indonesia mencapai 4,02%, jauh di atas Maybank Malaysia (1,15%) dan Maybank Singapura (0,49%). Namun ia menjelaskan, ini terkait struktur pasar domestik yang sangat besar di segmen ritel dan mikro, yang secara alamiah lebih berisiko. “Di Indonesia karena kita memiliki jumlah populasi yang besar (ritel) dan juga besarnya bisnis mikro, tentunya NPL bank di Indonesia secara umum akan lebih tinggi,” jelas Steffano.

Rusli, Wakil Direktur Utama Bank Victoria International, berpendapat kualitas aset perbankan Indonesia sebenarnya bisa bersaing secara global jika ekonomi domestik lebih kompetitif. Ia menyoroti dominasi pemerintah dan isu korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) yang mengekang sektor swasta. “Kalau isu KKN hilang, nanti otomatis NPL daripada industri perbankan itu bisa bersaing di kancah global,” tegas Rusli.

Brian Indradjaja, Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, menilai kondisi NPL sektor ritel di Indonesia sudah sulit dikendalikan, bahkan beberapa bank dalam situasi yang parah. Ia menekankan perlunya langkah perbaikan untuk memulihkan kesehatan NPL. Brian juga mencatat, sejumlah bank kini mulai menahan ekspansi kredit ritel demi menjaga kualitas kredit, terutama karena daya beli masyarakat yang sedang melemah.

Struktur kredit perbankan Indonesia yang padat segmen ritel dan mikro membuat risiko NPL lebih tinggi. Namun dengan reformasi tata kelola, penguatan sektor swasta, dan penyesuaian strategi penyaluran kredit, industri perbankan nasional tetap berpotensi meningkatkan kualitas aset dan bersaing secara regional.

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

HR1 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

HR1 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

Transformasi Digital Dorong Perluasan Retail

HR1 20 Jun 2025 Kontan
Prospek PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) pada 2025 dinilai tetap solid meskipun menghadapi tantangan di segmen food & beverage (F&B). Laporan keuangan kuartal I 2025 menunjukkan pendapatan segmen kafe dan restoran turun 8,65% yoy menjadi Rp 719,49 miliar. Sebaliknya, segmen penjualan ritel tumbuh 6,71% yoy menjadi Rp 7,79 triliun dan departemen store naik 9,51% yoy menjadi Rp 759,78 miliar.

Abdul Azis Setyo Wibowo, analis Kiwoom Sekuritas, menilai daya beli kelas menengah atas masih terjaga di segmen ritel dan departemen store sehingga margin MAPI tetap solid. Ia juga melihat aksi korporasi MAPI mengambil alih sewa gerai GS Supermarket akan mendorong pertumbuhan departemen store sekaligus mengurangi tekanan pada segmen F&B. Namun, Aziz juga mengingatkan potensi risiko dari ketidakpastian global dan daya beli masyarakat yang melemah, sehingga ia memberikan rekomendasi netral dengan target harga Rp 1.290 per saham.

Jessica Leonardy dari OCBC Sekuritas lebih optimistis. Ia menyoroti rencana MAPI membuka hingga 700 toko baru pada 2025, termasuk 450 toko untuk anak usaha MAP Active (MAPA) yang fokus pada tren gaya hidup sehat dan olahraga. Penjualan internasional MAPA juga tumbuh signifikan, berkontribusi 25% ke total segmen ini. Selain itu, strategi digitalisasi lewat platform MAP Club yang sudah menyumbang 8,6% penjualan total dianggap penting untuk perluas pasar. OCBC memperkirakan pendapatan MAPI naik 8,22% yoy ke Rp 40,94 triliun dan laba bersih tumbuh 13,06% yoy menjadi Rp 1,99 triliun. Jessica memberikan rating buy dengan target harga Rp 1.800.

Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, mengakui risiko pelemahan daya beli masyarakat dan kompetisi ketat di F&B, yang tercermin dari harga saham MAPI yang turun 10,23% dalam sebulan. Namun ia melihat potensi katalis positif jangka pendek dari stimulus pemerintah dan kemungkinan penurunan suku bunga. Karena itu, Indy merekomendasikan akumulasi MAPI dengan target harga Rp 1.500.

Transformasi Digital Dorong Perluasan Retail

HR1 20 Jun 2025 Kontan
Prospek PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) pada 2025 dinilai tetap solid meskipun menghadapi tantangan di segmen food & beverage (F&B). Laporan keuangan kuartal I 2025 menunjukkan pendapatan segmen kafe dan restoran turun 8,65% yoy menjadi Rp 719,49 miliar. Sebaliknya, segmen penjualan ritel tumbuh 6,71% yoy menjadi Rp 7,79 triliun dan departemen store naik 9,51% yoy menjadi Rp 759,78 miliar.

Abdul Azis Setyo Wibowo, analis Kiwoom Sekuritas, menilai daya beli kelas menengah atas masih terjaga di segmen ritel dan departemen store sehingga margin MAPI tetap solid. Ia juga melihat aksi korporasi MAPI mengambil alih sewa gerai GS Supermarket akan mendorong pertumbuhan departemen store sekaligus mengurangi tekanan pada segmen F&B. Namun, Aziz juga mengingatkan potensi risiko dari ketidakpastian global dan daya beli masyarakat yang melemah, sehingga ia memberikan rekomendasi netral dengan target harga Rp 1.290 per saham.

Jessica Leonardy dari OCBC Sekuritas lebih optimistis. Ia menyoroti rencana MAPI membuka hingga 700 toko baru pada 2025, termasuk 450 toko untuk anak usaha MAP Active (MAPA) yang fokus pada tren gaya hidup sehat dan olahraga. Penjualan internasional MAPA juga tumbuh signifikan, berkontribusi 25% ke total segmen ini. Selain itu, strategi digitalisasi lewat platform MAP Club yang sudah menyumbang 8,6% penjualan total dianggap penting untuk perluas pasar. OCBC memperkirakan pendapatan MAPI naik 8,22% yoy ke Rp 40,94 triliun dan laba bersih tumbuh 13,06% yoy menjadi Rp 1,99 triliun. Jessica memberikan rating buy dengan target harga Rp 1.800.

Indy Naila, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, mengakui risiko pelemahan daya beli masyarakat dan kompetisi ketat di F&B, yang tercermin dari harga saham MAPI yang turun 10,23% dalam sebulan. Namun ia melihat potensi katalis positif jangka pendek dari stimulus pemerintah dan kemungkinan penurunan suku bunga. Karena itu, Indy merekomendasikan akumulasi MAPI dengan target harga Rp 1.500.

Lemahnya Daya Beli Ancam Sektor Retail

HR1 14 Jun 2025 Kontan
Kinerja penjualan eceran Indonesia pada April 2025 mengalami kontraksi sebesar 5,1% secara tahunan, meski Bank Indonesia (BI) memproyeksikan akan tumbuh 2,6% pada Mei 2025, didorong oleh momentum libur panjang dan peningkatan penjualan di sektor makanan, rekreasi, serta perlengkapan rumah tangga.

Namun demikian, penurunan optimisme konsumen menjadi sinyal peringatan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 121,7 di April menjadi 117,5 di Mei, mencerminkan kekhawatiran masyarakat, khususnya kelompok usia di atas 30 tahun dan kelas menengah bawah, terhadap kondisi ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan bahwa tren konsumsi masyarakat menunjukkan kehati-hatian, tercermin dari rasio konsumsi terhadap pendapatan yang menurun menjadi 74,3%, menandakan meningkatnya preferensi menabung. Ia memprediksi perbaikan penjualan eceran akan terjadi pada semester II 2025 karena adanya faktor musiman seperti libur sekolah dan strategi diskon ritel, namun tetap bersifat moderat dan hati-hati.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menekankan bahwa pemulihan ini belum agresif dan harus dibaca secara hati-hati karena kontraksi April juga dipengaruhi oleh anomali statistik dari basis perbandingan tinggi tahun lalu (karena Idulfitri jatuh di April 2024). Rizal juga mengingatkan bahwa penurunan IKK adalah sinyal kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya karena risiko ekonomi yang meningkat.

Rizal menyarankan agar pemerintah memberi perhatian khusus kepada kelompok menengah bawah melalui stimulus konsumsi yang terarah, insentif fiskal berbasis kebutuhan, serta program bantuan sosial langsung. Selain itu, pelaku ritel diminta untuk mengadaptasi strategi dengan fokus pada produk kebutuhan pokok yang relevan dengan kondisi ekonomi konsumen.

Lemahnya Daya Beli Ancam Sektor Retail

HR1 14 Jun 2025 Kontan
Kinerja penjualan eceran Indonesia pada April 2025 mengalami kontraksi sebesar 5,1% secara tahunan, meski Bank Indonesia (BI) memproyeksikan akan tumbuh 2,6% pada Mei 2025, didorong oleh momentum libur panjang dan peningkatan penjualan di sektor makanan, rekreasi, serta perlengkapan rumah tangga.

Namun demikian, penurunan optimisme konsumen menjadi sinyal peringatan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 121,7 di April menjadi 117,5 di Mei, mencerminkan kekhawatiran masyarakat, khususnya kelompok usia di atas 30 tahun dan kelas menengah bawah, terhadap kondisi ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan bahwa tren konsumsi masyarakat menunjukkan kehati-hatian, tercermin dari rasio konsumsi terhadap pendapatan yang menurun menjadi 74,3%, menandakan meningkatnya preferensi menabung. Ia memprediksi perbaikan penjualan eceran akan terjadi pada semester II 2025 karena adanya faktor musiman seperti libur sekolah dan strategi diskon ritel, namun tetap bersifat moderat dan hati-hati.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menekankan bahwa pemulihan ini belum agresif dan harus dibaca secara hati-hati karena kontraksi April juga dipengaruhi oleh anomali statistik dari basis perbandingan tinggi tahun lalu (karena Idulfitri jatuh di April 2024). Rizal juga mengingatkan bahwa penurunan IKK adalah sinyal kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya karena risiko ekonomi yang meningkat.

Rizal menyarankan agar pemerintah memberi perhatian khusus kepada kelompok menengah bawah melalui stimulus konsumsi yang terarah, insentif fiskal berbasis kebutuhan, serta program bantuan sosial langsung. Selain itu, pelaku ritel diminta untuk mengadaptasi strategi dengan fokus pada produk kebutuhan pokok yang relevan dengan kondisi ekonomi konsumen.

Retail Ekspansi ke Luar Jawa Meski Tantangan Berat

HR1 20 May 2025 Kontan
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan minimarket Alfamart dan Alfamidi, berupaya mendongkrak kinerja keuangan tahun 2025 melalui strategi ekspansi agresif. Perusahaan menargetkan pembukaan 1.200 toko baru, terutama di luar Pulau Jawa, yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibanding wilayah yang sudah jenuh seperti Jabodetabek.

Jessica Leonardy, Analis OCBC Sekuritas, menilai bahwa penjualan toko-toko AMRT di luar Jawa tumbuh signifikan, 15,3% yoy pada kuartal I-2025, dan menjadi pendorong utama pertumbuhan perusahaan. Jessica juga mencatat penguatan pangsa pasar AMRT di segmen ritel modern, yang kini mencapai 28,6%, dan di segmen minimarket sebesar 35,3%.

Patricia Gabriela, Senior Analis BNI Sekuritas, juga optimistis bahwa ekspansi toko dapat mendorong penjualan tumbuh 10% yoy dan laba bersih naik 12% yoy sepanjang 2025. Bukti awal terlihat dari laporan kuartal I-2025, di mana AMRT mencatatkan pendapatan Rp 32,77 triliun (naik 11,8% yoy) dan laba bersih Rp 975,12 miliar (naik 9,5% yoy).

Namun demikian, Benny Kurniawan dari JP Morgan mengingatkan bahwa beban operasional meningkat tajam, termasuk karena pembangunan dua pusat distribusi baru dan potensi kenaikan upah minimum. Ini dapat membatasi pertumbuhan laba, dengan proyeksi kenaikan margin laba kotor hanya 0,2% yoy di 2025. Meski begitu, ia tetap optimis untuk jangka menengah, memprediksi pertumbuhan laba 21% yoy di 2026.

Dengan ekspansi agresif yang dibarengi peningkatan pangsa pasar dan fokus pada efisiensi margin, AMRT berada dalam jalur pertumbuhan, meski harus tetap mewaspadai tekanan dari sisi operasional.

Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret  yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).

Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri. Sementara itu, kelompok  bahan bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok  yang tercatat mengalami perbaikan  meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8% (mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok  peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya,  makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)

Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan

HR1 14 May 2025 Kontan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tengah mengandalkan strategi ekspansi ke luar Pulau Jawa dan rebranding toko menjadi AZKO untuk mendorong pertumbuhan penjualan pada 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% yoy dan SSSG (same store sales growth) sebesar 1%.

Menurut Jocelyn Santoso, analis Maybank Sekuritas, strategi ekspansi ACES dengan pembukaan 25–30 toko baru, termasuk tiga toko di luar Jawa pada kuartal I-2025, berpotensi mendorong SSSG hingga 3%, lebih tinggi dari target internal perusahaan. Ia juga menilai ekspansi ke wilayah dengan kompetisi rendah dapat meningkatkan margin laba. Meski begitu, Jocelyn memperkirakan pertumbuhan penjualan ACES hanya akan mencapai 4,45% yoy pada akhir tahun.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo memperingatkan bahwa ekspansi bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat menaikkan beban operasional dan pemasaran. Ia menekankan pentingnya kontrol pengeluaran agar margin tetap terjaga.

ACES juga menghadapi tekanan dari proses rebranding toko menjadi AZKO. Jocelyn mencatat, beban operasional meningkat karena rebranding dan tunjangan Lebaran, yang menyebabkan penurunan laba bersih 31,1% yoy pada kuartal I-2025, meski penjualan naik 7,2% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan penjualan ACES dapat mencapai 5,6% yoy ke Rp 9,06 triliun di akhir 2025. Ia menilai valuasi saham ACES menarik, dengan sebagian besar risiko sudah tercermin dalam harga saham.

Dari sisi rekomendasi, Jocelyn dan Azis memberikan rating buy dengan target harga masing-masing Rp 750 dan Rp 645, sedangkan Indy merekomendasikan hold dengan target Rp 935.

Ekspansi dan rebranding ACES dinilai menjanjikan namun penuh tantangan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin di tengah tekanan operasional dan ketatnya persaingan ritel.