;
Tags

Ritel

( 166 )

Belanja Daring Tak Terbendung

KT1 04 Jan 2023 Tempo (H)

JAKARTA-Tren belanja melalui toko dalam jaringan alias e-commerce terus menguat meski pembatasan mobilitas sudah dinihilkan sepenuhnya. Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEa), Bima Laga, mengatakan kebiasaan konsumen  untuk menyurvei harga dan memesan barang lewat aplikasi tak tergantikan oleh toko fisik. Selain itu kegiatan loka pasar tak terbatas oleh waktu dan lokasi. "Arus belanja online tidak tergantung ketat-tidaknya pembatasan, melainkan pada benefit konsumen," ucapnya kepada Tempo, kemarin 3 Januari 2023. Meski pemberlakuan PPKM sudah ditekan ke level 1 sejak November 2021 disusul penghapusan sepenuhnya pada pekan lalu, transaksi belanja daring justru melonjak. Realisasi transaksi Hari Belanja Online Nasonal (Harbolnas) pada Desember 2022 sudah jauh melampui Harbolnas. (Yetede)

Minat Investor Besar, Obligasi Ritel Masih Jadi Pilihan Investasi

HR1 27 Dec 2022 Kontan

Pemerintah akan meningkatkan alokasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel pada tahun 2023 mendatang menjadi sekitar Rp 130 triliun. Angka ini naik 30% dari target 2022 sebesar Rp 100 triliun. Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Deni Ridwan mengatakan, penambahan alokasi ini dilakukan seiring dengan semakin tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di SBN ritel. Menurut dia, pada tahun 2021 dan 2022, banyak masyarakat yang tidak berhasil investasi di SBN ritel karena kehabisan kuota. Alhasil, Kemenkeu harus menutup masa penawaran lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Kristiantoro menilai, target alokasi penerbitan SBN ritel sebesar Rp 130 triliun tergolong realistis. Ia meyakini target tersebut akan tercapai di tahun depan.

PENJUALAN DARING : Teten Minta Pedagang Asing Perlu Syarat Khusus

HR1 27 Dec 2022 Bisnis Indonesia

Kementerian Koperasi dan UKM berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan membuat persyaratan khusus bagi pedagang dari luar negeri melakukan penjualan di marketplace Indonesia. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan persyaratan khusus itu guna melindungi pelaku UMKM serta meningkatkan konsumsi produk lokal. Dia berharap persyaratan khusus itu masuk dalam revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 50/2020 tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha Dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE). “Hal yang kami usulkan pertama adalah pembatasan ritel online. Sekarang ini ritel online bisa langsung menjual produknya dari luar negeri sehingga masuk ke sini,” jelasnya dalam Refleksi 2022 dan Outlook 2023 Kemenkop UKM, Senin (26/12). Hal itu sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk melindungi UMKM, konsumen, dan menjaga agar produk asing tidak menyerbu Indonesia. “Sehingga kami minta di ritel online ditutup. Kalau mau jual di Indonesia, harus buka perusahaan di Indonesia, lalu mereka boleh jual secara online,” imbuh Teten.

Bisnis Ritel Kembali Pulih

KT1 24 Dec 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Setelah dua tahun terpuruk karena pandemi Covid-19, bisnis ritel kembali pulih tahun ini. Kondisi itu didorong tingginya mobilitas masyarakat mengunjungi pusat perbelanjaan setelah pelonggaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pulihnya bisnis ritel tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel pada momen perayaan Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 (Nataru) sebesar 15-20% dibandingkan periode sama tahun lalu. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menerangkan, transaksi ritel sepanjang tahun ini diperkirakan sebesar Rp 900 triliun. Khusus pada kuartal IV biasanya menyumbang angka sekitar 30% atau sekitar Rp 270-300 triliun. Sedangkan untuk Nataru yang berada di bulan Desember, Aprindo memperkirakanterjadi peningkatan transaksi 15-20% dibandingkan periode sama tahun lalu. “Ketika ada peningkatan 15-20% yang tadi saya katakan, berarti ada peningkatan (omset) sekitar Rp 30-40 triliun,” kata Roy Mandey kepada Investor Daily, Jumat (23/12/2022) malam. (Yetede)

Zyrexindo Patok Laba Tumbuh 10% di 2023

HR1 24 Dec 2022 Kontan

PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX) tetap optimistis bisa mencapai target penjualan tahun 2022 di angka Rp 800 miliar. Optimisme emiten produsen laptop ini seiring adanya potensi kenaikan permintaan di periode akhir tahun. Evan Jordan, Sekretaris Perusahaan Zyrx, menuturkan, sampai saat ini emiten ini masih mematok target penjualan Rp 800 miliar tahun ini. Jadi, Zyrx tidak merevisi target penjualan tahun ini. Di 2023, Zyrexindo masih akan fokus memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, baik segmen pemerintah maupun swasta. Selain itu, ZYRX juga akan menggenjot penjualan produk di segmen ritel. Pada tahun depan, Zyrex memasang target penjualan lebih tinggi dibandingkan tahun ini. "Tahun 2023, kami memproyeksi penjualan mencapai Rp 995 miliar, dengan laba bersih tumbuh sekitar 8% sampai 10%," tegas Evan.


Pandemi Mereda, Emiten Ritel Mencetak Pertumbuhan Laba

HR1 24 Nov 2022 Kontan

Kinerja emiten ritel diproyeksi masih akan tumbuh hingga akhir tahun ini. Ini bercermin dari menterengnya sejumlah kinerja emiten ritel di kuartal III-2022. Di antaranya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Dari beberapa emiten ritel yang telah merilis laporan keuangan kuartal III-2022, MAPI mencatatkan pertumbuhan pendapatan tertinggi, yakni sebesar 55,8% secara tahunan. Pendapatan bersih MAPI naik jadi Rp 18,8 triliun dari Rp 12,1 triliun di kuartal III-2021. Pertumbuhan pendapatan terendah dibukukan ACES, dengan kenaikan 4,3% secara tahunan. Di kuartal III-2022, ACES mencetak penjualan bersih menjadi Rp 4,9 triliun.


Beda Nasib Emiten Retail

KT3 11 Oct 2022 Tempo

Tren inflasi yang merangkak naik berpotensi memukul kinerja emiten sektor retail pada pengujung akhir tahun ini. Pelemahan daya beli masyarakat berpengaruh pada tertahannya belanja, sehingga penjualan barang-barang retail mengalami penurunan. Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menuturkan lapisan masyarakat yang terpukul pertama kali adalah kelompok menengah ke bawah, yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga. “Masyarakat (kelas) bawah cenderung menahan diri dalam konsumsi, sedangkan masyarakat menengah ke atas masih dapat mewujudkan pengeluaran mereka untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujar Nafan kepada Tempo, 10 Oktober 2022. Hal ini tak jauh berbeda dengan kondisi semasa pandemi ketika masyarakat memilah kebutuhan konsumsi, dengan mendahulukan kebutuhan primer untuk bertahan hidup. Nafan berujar realitas tersebut pada akhirnya akan terefleksikan pada kinerja emiten retail sesuai dengan segmentasi pasar masing-masing. 

Dia mencontohkan emiten PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang pada semester I 2022 membukukan pertumbuhan penjualan 34,1 % menjadi Rp 12,24 triliun, yang ditopang pertumbuhan penjualan toko yang sama (same-store sales growth) sebesar 33,8 % atau naik dibanding tahun lalu yang sebesar 22 persen. “Sebagaimana yang kita tahu, emiten MAPI menjual produk-produk high-end dan berkualitas. Jadi, mereka punya segmentasi pasar menengah ke atas,” ucap Nafan. Sementara emiten retail lainnya sibuk merampingkan jumlah toko untuk keperluan efisiensi, MAPI justru berekspansi dengan membuka gerai baru. Pada paruh pertama tahun ini, jumlah gerai perusahaan pemilik jenama Sogo, Sport Station, Kidz Station, dan pemilik lisensi ratusan merek lainnya itu membuka 161 gerai. Total gerai yang dimiliki perusahaan pun menembus 2.837 toko. Ekspansi juga dilakukan MAPI melalui penjualan secara daring, dengan mengoperasikan 26 gerai online pada 11 saluran marketplace. (Yoga)

Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail

KT3 11 Oct 2022 Tempo

Pelaku usaha retail mulai mengencangkan ikat pinggang seiring dengan tren inflasi yang masih terus melaju hingga akhir tahun. Kenaikan harga barang secara serempak dipastikan akan menahan minat belanja masyarakat dan menggerus tingkat penjualan. Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Tutum Rahanta, berujar, ancaman inflasi membuat masyarakat lebih selektif dalam membeli produk kebutuhan sehari-hari. Terlebih, penghasilan masyarakat cenderung tetap atau tak mengalami kenaikan yang berarti. “Ketika harga produk naik, masyarakat akan lebih waspada dalam mengelola pengeluaran mereka,” ujarnya kepada Tempo, kemarin, 10 Oktober 2022. Di sisi lain, pelaku usaha tak memiliki pilihan selain mengerek harga barang yang dijual, karena hal itu bergantung pada harga yang dipasang pemasok atau supplier dan bergantung pada persaingan harga yang terjadi di pasar. “Pasti ada kenaikan, karena ongkos produksi dengan marginnya itu harus dijaga,” ucap Tutum. Imbasnya, masyarakat harus menyesuaikan pola belanja mereka ketika inflasi dan kenaikan harga-harga terealisasi. Pola belanja yang lebih ketat itu pun mulai dirasakan oleh peretail dalam beberapa waktu terakhir. 

Tutum mencontohkan, konsumen cenderung akan mengurangi jumlah barang yang dibeli untuk menyiasati kenaikan harga yang terjadi. “Misalkan, sebelumnya membeli 10 barang, sekarang menjadi 9 atau 8 barang saja. Jadi, secara harga atau nominal tidak berkurang,” kata dia. Barang-barang kebutuhan pokok akan menjadi prioritas masyarakat, khususnya makanan dan minuman. Sebaliknya, konsumsi barang-barang yang bersifat sekunder, seperti produk busana, aksesori, gadget, dan elektronik, berpotensi dibatasi. Adapun di tengah badai inflasi, peretail berusaha tetap mempertahankan kinerja dan mengantisipasi terjadi penurunan penjualan secara signifikan. Tutum mengatakan, peretail berupaya untuk menjaga kemampuan belanja konsumen dengan menyediakan diskon atau promosi yang menarik. Namun, menurut dia, strategi ini pun tak selamanya ampuh, apalagi jika kontraksi daya beli terjadi cukup dalam. “Kalau dikasih diskon besar tapi uang kering, jumlah belanjanya akan segitu-gitu juga. Jadi, program diskon ini hanyalah salah satu cara untuk tetap menarik konsumen, bukan memperbesar belanja, karena kemampuan masyarakat akan tetap,” ucapnya. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey, sepakat inflasi menjadi ancaman yang harus diwaspadai oleh peretail. Dia pun tak menampik ada risiko terganggunya pertumbuhan industri retail akibat inflasi yang berkepanjangan. (Yoga)


Daya Beli konsumen Melemah, Kinerja Emiten Ritel Tak Bergairah

HR1 11 Oct 2022 Kontan

Kinerja emiten di sektor ritel bakal semakin berat di sisa tahun ini. Pasalnya, daya beli masyarakat di Tanah Air belum juga pulih. Ini tercermin dari optimisme masyarakat atau indeks keyakinan konsumen (IKK) yang anjlok. Survei Bank Indonesia (BI) pada Senin (10/10) melaporkan, IKK September 2022 turun ke level 117,2. Angka ini turun dibandingkan IKK Agustus 2022 yang masih sebesar 124,7, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di posisi 123,2. Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto, berpendapat, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu penyebab lemahnya daya beli konsumen. "Sejak harga BBM naik, penurunan daya beli mulai dirasakan konsumen," katanya.

Penjualan Eceran Makin Melaju

KT1 10 Aug 2022 Investor Daily ( H)

JAKARTA – Kinerja penjualan eceran pada Juli 2022 diprediksi melanjutkan peningkatan, tercermin dari perkiraan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang sebesar 204,9 atau tumbuh 8,7% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini menunjukkan tren yang makin melaju dibandingkan dua bulan sebelumnya yakni 2,9% (yoy) dengan IPR 234,1 pada Mei 2022 dan 4,1% (yoy) dengan IPR 206,6 pada Juni 2022. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menjelaskan, peningkatan itu terutama didukung oleh kenaikan penjualan subkelompok sandang yang tumbuh 49,5% (yoy), kelompok bahan bakar kendaraan bermotor melonjak 66,9% (yoy), serta suku cadang dan aksesori naik 34,6% (yoy). Peningkatan terjadi di antaranya di Banjarmasin sebesar 24,3% (yoy), Jakarta 11,4% (yoy), dan Makassar 7,7% (yoy). “Secara bulanan, penjualan eceran Juli 2022 diperkirakan membaik menjadi -0,8% (mtm) dari bulan sebelumnya -11,8%. Ini didorong oleh peningkatan penjualan kelompok bahan bakar kendaraan bermotor serta kelompok barang budaya dan rekreasi,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis pada Selasa (9/9/2022), terkait hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru yang digelar bank sentral. (Yetede)