Perkebunan
( 153 )Dadi Mulyadi, Perjuangan Manis dari Ciamis
Dadi Mulyadi (65) berjuang selama 20 tahun untuk hak tanah
bagi dia dan ratusan keluarga di Kampung Cijoho, Desa Muktisari, Kabupaten
Ciamis, Jabar. Kini, dia tengah mencoba mendampingi para petani untuk benar-benar
sejahtera dari tanah yang didapat dengan susah payah itu. Dadi akhirnya
menerima sertifikat tanah yang diserahkan Menteri ATR / Kepala BPN Hadi
Tjahjanto, Kamis (12/10) bersama puluhan warga, Cijoho menerima redistribusi
lahan dari pemerintah. Total 250 warga mendapatkan hak atas lahan seluas 106,5 hektar
eks perkebunan PT Maloya. Luas lahan yang didapatkan warga bervariasi. Dadi, mendapat
tanah seluas 90 bata atau 1.260 meter persegi. Ada warga lain yang mendapat
tanah dengan luasan berbeda. ”Sekarang sudah lega, kami sudah tidak ragu lagi
menanam. Tidak ada lagi tekanan,” ujarnya.
”Rekan perjuangan saya sudah banyak yang meninggal karena
usia. Semoga mereka tahu, usaha ini sekarang tidak sia-sia,” katanya. Pada
1975, lahan digarap PT Maloya dengan masa berlaku hak guna usaha (HGU) hingga
31 Desember 2010. Setelah mendapat izin dari perusahaan pemilik HGU, Dadi dan
warga lain mulai membersihkan lahan dari pohon karet. Namun, saat lahan sudah
dibersihkan dan mereka mulai menanam, tekanan dari luar muncul. Tujuannya,
ingin merebut kembali lahan itu. Akan tetapi, warga tetap bergeming. Dadi pun
bergabung dengan Serikat Petani Pasundan untuk memperjuangkan reforma agraria
di Cijoho. Bersama para sesepuh kampung, dia mengajak masyarakat tetap bertahan
dan menggarap lahan.
Sebagai Ketua Kelompok Tani Hortikultura Kampung Cijoho, dia mencari
komoditas yang mudah ditanam dan menguntungkan. Tahun 2017, pilihannya jatuh pada
durian., karena tak pernah sepi peminat. ”Apalagi, durian termasuk tanaman
keras yang baik untuk tanah dan mampu menyerap air,” ujarnya. Menurut dia, ada
120 pohon yang ditanam di lahan komunal hasil reforma agraria seluas 3 hektar.
Modalnya dari warga. ”Ilmu menanamnya kami dapatkan dari bahan bacaan seadanya
hingga bertanya kepada para petani buah,” katanya. Awal tahun ini, hasilnya
terasa. Dia dan warga berhasil panen perdana. Dari setiap pohon durian, bisa
dipanen 15 buah atau total sekitar 4 kuintal. ”Buah lainnya sengaja dibuang biar nutrisinya tidak terbagi. Kalau
kebanyakan, pohon bisa mati,” ujar Dadi.
Dadi dan warga bahkan belajar membuka jaringan pasar.
Hasilnya, warga berhasil menjual 100 butir durian ke Tasikmalaya hingga
Bandung. Harganya Rp 300.000 per kg. ”Lumayan tinggi karena rasa buahnya yang
manis,” katanya. Keuntungan dari penjualan ini, lanjut Dadi, masih dipergunakan
untuk meningkatkan kualitas kebun bersama. Dia juga tak melarang warga desa
untuk turut menikmati buah durian yang berkualitas dengan harga yang cukup
tinggi itu. ”Selain dijual, warga desa juga bebas menikmati buahnya. Tetapi,
masih belum bagi hasil karena keuntungan dari penjualan kami putar lagi untuk
mengembang-kan lahan sekaligus membina warga,” ujarnya. (Yoga)
Rindu Harum Cendana di Tanah Timor
Generasi muda Timor merindukan cendana yang harum. Selama
ini, mereka hanya mendapat cerita bahwa tanah Timor punya cendana atau Santalum
album yang terancam punah di Timor, NTT. Eka Saul Manunel (22), pemimpin
kelompok tani muda di Dusun Tuamese, Kecamatan Taebenu, Kupang, NTT, mengaku
belum melihat pohon cendana berusia di atas 30 tahun. Cendana dengan usia itu
bisa mengeluarkan aroma wangi menggoda. Selama ini, ia hanya menyaksikan cendana
berusia di bawah lima tahun yang belum menghasilkan harum yang kuat. Eka
berbicara mewakili 20 anggota kelompok tani ”Mambers” di Dusun Tuamese. Ia juga
mewakili generasi muda saat peluncuran pemulihan ekosistem cendana Timor
berbasis rakyat yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)
NTT dan Green Justice Indonesia di Kupang, Jumat (26/1).
Sebanyak 100 anakan cendana ditanam di areal pertanian warga
seluas 1.000 meter persegi. Puluhan warga Dusun Tuamese bersama Walhi, Green
Justice Indonesia, Pemprov NTT dan Pemkab Kupang, tokoh agama, tokoh
masyarakat, petani, dan tokoh pemuda terlibat. Penanaman simbolik itu menandai gerakan
menanam cendana di daratan Timor. Kegiatan itu merupakan upaya mengembalikan
harum cendana yang hilang sejak 1990-an. Seiring menghilangnya cendana, punah
pula sejumlah pabrik pengolah cendana di Kota Kupang, Soe, dan Kefamenanu hingga
hari ini. Sejumlah usaha kerajinan cendana berupa ukiran patung, tasbih, dan Rosario
pun hilang.
Kabid Pembinaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi
NTT Rudi Lismono yang membuka peluncuran kegiatan itu mengatakan, cendana
sangat rentan mati pada usia 1-2 tahun. Tanaman terkadang mati mendadak, diawali
keringnya bagian pucuk, karena terjadi perkawinan inses. Mestinya cendana
ditanam dengan cendana dari pohon lain agar perkawinan silang terjadi,” kata
Rudi. Usia ekonomis cendana 35 tahun. Itu untuk pohon dengan kualitas terbagus.
Pada usia ini, harga cendana bisa mencapai Rp 800.000 per kg. Namun, bagian teras
atau inti dari batang kayunya dihargai Rp 1 juta-Rp 1,5 juta per kg. Tapi,
kebanyakan cendana di Timor sudah ditebang sebelum usianya 20 tahun. Santalum
atau minyak cendana sudah muncul pada usia 12-13 tahun, tetapi secara ekonomis
dinilai kurang menguntungkan. (Yoga)
Panen Melimpah, Saatnya Berburu Durian Murah di Palembang
Bulan Januari-Maret merupakan masa panen durian di Susel.
Sejumlah daerah di Sumsel dibanjiri durian, termasuk di Palembang. Para penggemar
berburu ”si raja buah” yang enak dengan harga murah. Dede (29) memilih durian
yang kulitnya mulai kecoklatan, lalu mencium aromanya. Kalau kurang harum,
dipilihnya durian yang lain, kemudian durian itu diketuk-ketuk dengan pisau milik
penjual durian. Suara ”nyaring” karena ada rongga antara isi dan kulit di dalam
durian akan menandakan buahnya sudah matang. ”Ini teknik dasar memilih buah
durian yang enak,” ujar warga Kertapati, Palembang itu, saat membeli durian di
Pasar Durian Kuto, Palembang, Kamis (11/1/2024) malam. Isinya sesuai yang
diharapkan. Ada durian berwarna putih dengan rasa manis pahit, ada yang
berwarna kuning dengan rasa manis legit. Ada yang dagingnya tebal, ada juga
yang tak terlalu tebal.
”Dengan harga Rp 25.000 per buah, kualitas dan ukuran durian
ini sesuai harapan,” ucapnya. Dede dan keluarganya sangat menggemari durian. Kalau
musim panen di Sumsel tiba, mereka pasti berburu durian. Sejak pekan pertama
tahun ini, durian mulai berdatangan ke Palembang. Tak heran, penjual durian
dadakan bermunculan di sejumlah pinggiran jalan. Untuk memancing pembeli,
mereka memasang plang harga durian, mulai dari yang termurah Rp 5.000 per buah,
Rp 10.000, dan Rp 15.000. Pemilik kios durian Aduhai di Pasar Durian Kuto, Aman
(63), menuturkan, musim durian di Sumsel biasanya berlangsung selama
Januari-Maret. Namun, masa puncak panen baru terjadi pada Februari. ”Sekarang
masih tergolong masa awal panen sehingga buah yang dihasilkan belum terlalu
banyak,” ujar Aman yang ikut orangtua berjualan durian di Pasar Kuto sejak
1974.
Sebagian besar durian yang masuk ke Palembang berasal dari
Kabupaten Muaraenim. Kalau sudah puncak panen, durian yang masuk berasal dari
banyak daerah, antara lain Kabupaten Lahat, Lubuklinggau, Ogan Komering Ulu,
dan Musi Banyuasin. Aman menerima 1.100-1.300 buah durian per hari yang tiba
setiap pukul 05.00. Durian dijual sesuai ukuran, yang kecil Rp 10.000-Rp 25.000
per buah, yang sedang Rp 35.000 per buah, dan yang besar Rp 50.000 per buah.
Ada pula durian montong lokal seharga Rp 70.000-Rp 150.000 per buah. Pasar Kuto
adalah pusat lapak pedagang durian yang eksis sejak tahun 1970-an. Di sana, durian
dijual sepanjang tahun. Melihat fenomena itu, Pemkot Palembang meresmikan
lokasi itu menjadi destinasi wisata durian dengan nama Pasar Durian Kuto pada
awal 2020. (Yoga)
Kebaikan dari Kebun
Nila Sari (51) memanen bayam brasil lalu memasukkannya ke
keranjang di halaman belakang Gedung Karya Pastoral Gereja Kim Tae-gon, Senin (18/12).
Ia bersama sejumlah warga juga memetik terong dan kacang panjang. Di lahan
seluas 800 meter persegi itu, tampak pula tanaman lainnya, seperti kangkung,
sawi, cabai, kemangi, nangka, cempedak, jambu, sukun, anggur, dan melon. ”Hasil
kebun sebagian kami sumbangkan ke warteg dan ibu tukang jual pecel. Kami
bagikan cuma-cuma. Buah dan sayur juga kami peruntukkan ke pastoran. Biar romo-romo
di sini makan sayur dan tambah sehat,” kata Nila. Sebagian lagi hasilnya dijual
untuk umat dengan harga yang lebih murah. Bayam brasil, misalnya, dibanderol Rp
5.000 seikat. Harga sayuran sejenis di pasaran bisa lebih dari 15.000 per ikat.
”(Sayuran) ini fresh dari kebun, tanpa pestisida,” ucapnya. Beginilah hasil
kebun Gereja Katolik Santo Andreas Kim Tae-Gon.
Tidak hanya menghasilkan aneka sayuran dan buah, kebun itu
juga membantu warga lanjut usia dalam kegiatan Gerakan Layani Orangtua atau Gelora
di paroki gereja. Kegiatan yang dimulai tahun 2022 setiap Senin dan Kamis itu
mengajak para lansia berkumpul, bernyanyi, senam, berdoa, dan makan siang bersama.
Menu makannya pun dari kebun gereja. ”Ini bentuk perhatian pada (warga) lansia
yang kebanyakan, saat anak cucunya sudah beraktivitas, mereka sendirian,” kata
Yuli, salah seorang anggota ibun. ”Oma-oma itu sangat senang makan dari hasil
kebun. Senang jika hal sederhana yang kami lakukan di kebun ini membuat mereka
bahagia,” kata Yuli.
Tidak hanya sayuran, kebun itu juga dimanfatkan untuk beternak
ikan lele, nila, dan ayam. Hasilnya, ada yang dijual kepada umat, seperti telur
ayam seharga Rp 3.000 per butir. ”Saat panen ikan lele, biasanya kami bagikan
ke kelurahan. Ini sebagai tambahan makanan untuk penanggulangan stunting (tengkes),”
kata Nila. Lurah Pegangsaan Dua, KelapaGading, Jakut,Vera Fitria mengatakan,
hasil panen kebun gereja bisa dimanfaatkan warga. ”Sayur dan ikan akan diberikan
kepada kami untuk penanganan (anak) balita stunting. Dan untuk lelenya diolah warga
menjadi abon dan nugget lele,” katanya. Hubungan baik warga dan komunitas
gereja ini menjadi contoh baik hidup bermasyarakat. Ia pun berusaha selalu
hadir jika pengurus kebun gereja menggelar acara. Selain menjaga hubungan sesama
manusia, kebun itu juga menjadi jalan untuk merawat lingkungan. Sebab, pengurus
kebun menggunakan ecoenzyme sebagai pupuk dan pestisida alami. (Yoga)
Kopi Gayo Punya Cerita
Lubang-lubang untuk menanam kopi telah disiapkan di kaki
bukit di Desa Paya Tumpi Baru, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh. Doa
mendaras dari mulut sejumlah warga dan tamu undangan yang ikut menanam bibit
kopi siang itu, Sabtu (25/11). Dalam dekapan udara sejuk segar Gayo, tanaman
kopi yang di kawasan itu diberi nama Siti Kewe ditanam dengan rasa hormat. Begitulah
tradisi menanam kopi di kawasan Gayo yang diawali dengan ritual sederhana, Dua
Ni Kupi. Ritual ini melambangkan doa dari orangtua kepada anaknya agar ia
tumbuh besar dan kelak berguna bagi keluarga serta orang-orang di sekitarnya.
Di sini, Siti Kewe dianggap bukan sekadar tanaman, melainkan anak kesayangan.
Ritual Dua Ni Kupi masih ada yang melakukannya hingga sekarang,
terutama para orang tua. ”Mereka percaya sekali kalau bibit yang didoakan bakal
tumbuh subur,” ujar Hardiansyah, pendamping Program Peningkatan Kebudayaan Desa
Paya Tumpi Baru. Hardiansyah selaku pegiat seni dan budaya Gayo mencoba menghidupkan
lagi proses menanam Siti Kewe dengan ritual Dua Ni Kupi. Tujuannya, agar terjalin
hubungan yang erat antara petani muda dan Siti Kewe. Ia memanfaatkan Festival
Panen Kopi Gayo 2023 sebagai panggung besarnya. Tahun ini, Festival Panen Kopi
Gayo yang diprakarsai oleh Komunitas Gayo Kultural Lab menjadi perhelatan ke-6.
Dengan dukungan pembiayaan dari Kemendikbudristek, festival digelar ditiga desa,
yakni Desa Kelitu, Bukit Sama, dan Paya Tumpi Baru. Berbagai seni tradisi pun
dihadirkan.
Kopi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan orang Gayo. Dari
kopilah, sebagian besar warga Gayo hidup. Tidak heran jika kopi begitu disayang.
Tahun 2020, menurut data BPS Aceh, produksi kopi arabika Gayo di Aceh Tengah,
Bener Meriah, dan Gayo Lues mencapai 65.793 ton biji kopi (green beans).
Produksi ini 40 % dari total produksi kopi arabika nasional. Sebagian besar
produksi kopi arabika Gayo diekspor ke luar negeri, terutama AS, Eropa, dan
beberapa tahun belakangan ini China. Para pembeli dari negara-negara itu berani
menyerap dan membeli mahal kopi arabika Gayo di atas standar harga
internasional. Lewat Festival Panen Kopi Gayo, diharapkan tradisi budaya Gayo
diperkenalkan lagi agar dikenal banyak orang. (Yoga)
Tak Ciut walau Harga Cabai Melambung
Kala harga cabai melambung tinggi, ada sekelompok warga
berdikari menghasilkan cabai sendiri. Usaha ini terus ditularkan kepada warga sekitar
sehingga dampaknya diharapkan meluas hingga menekan inflasi. Firdaus Haris,
pengelola kebun di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Kelurahan Pondok
Kopi, Kecamatan Duren Sawit, Jaktim, memetik cabai rawit yang sudah bisa dipanen,
Rabu (22/11), hari itu ia bisa memanen sekitar 700 gram cabai merah. Pria 33
tahun asal Brebes, Jateng ini merasa senang karena cabai yang ia tanam mulai
Juli 2023 itu sudah 14 kali panen, dengan hasil 4 kg sampai 6 kg setiap kali
panen. Hasil dari kebun cabai itu dijual kepada masyarakat sekitar dengan harga
50 % lebih murah dibandingkan di pasaran. Saat ini harga cabai di pasaran
melambung tinggi, antara Rp 100.000 per kg dan Rp 120.000 per kg. namun, di RPTRA ini, warga bisa mendapatkan
cabai dengan harga Rp 60.000 per kg. ”Itulah sebabnya, saat panen tiba, warga
sampai mengantre untuk membeli cabai. Apalagi, harga cabai sekarang sedang
mahal-mahalnya,” kata Haris.
Di saat warga berkunjung itulah, Haris kerap kali memberikan
edukasi kepada warga tentang bagaimana menanam cabai yang benar agar bisa
diterapkan di rumah masing-masing. Tidaklah mudah menanam cabai rawit terpedas
di kelasnya itu. Butuh perawatan rutin seperti pemupukan dan penyemprotan
pestisida setidaknya seminggu sekali. Jika tidak teratur dirawat, tanaman ini
rentan terserang hama seperti penyakit keriting dan rontok daun, kutu kebul,
dan rentan layu. Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi, Asti
Sitorus menuturkan, cabai yang ada di RPTRA ini hasil pembagian 1 juta bibit
cabai varietas rawita yang dilakukan pada awal 2023. Selain untuk penanaman di
tiga RPTRA, pihaknya juga membagikan 1.500 bibit cabai ke seluruh RW se-Kelurahan
Pondok Kopi. Dengan penanaman ini, pemerintah berharap banyak warga yang
bersemangat untuk menanam cabai di rumah sendiri. Dengan begitu, warga turut
berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan. (Yoga)
Serda Mugiyanto, Manis Kelengkeng untuk Memberdayakan Petani
Pernah terpuruk karena kehilangan kaki kanannya saat
bertugas, Serda Mugiyanto (45) berhasil bangkit. Selain bertugas sebagai Bintara
Pembina Desa (Babinsa) Komando Rayon Militer (Koramil) 19/Borobudur, Magelang,
Jateng, Mugiyanto juga mengelola perkebunan kelengkeng di Desa Borobudur, Magelang.
Perjalanan hidup Mugiyanto berada di titik nadir tatkala dia kehilangan kaki
kanan saat bertugas di Ambon, Maluku, pada 27 November 2001. ”Di sana saya kena
ranjau antipersonel. Langsung kena kaki saya, langsung hilang kakinya,”
ujarnya, Rabu (25/11). Mugiyanto harus menjalani perawatan di rumah sakit
selama empat sampai enam bulan. Dia juga dibuatkan kaki palsu agar bisa kembali
beraktivitas. Pada 2004, Mugiyanto mengikuti pelatihan vokasi yang digelar
Pusat Rehabilitasi Kemenhan. Setelah itu, dia mulai menggeluti aktivitas
pertanian dengan mengembangkan kebun kelengkeng. Mulanya, Mugiyanto menyewa
lahan 0,25 hektar di Desa Borobudur untuk membudidayakan kelengkeng bersama
warga setempat.
Budidaya itu berhasil sehingga kebun kelengkeng yang ia kelola
terus bertambah luas. Saat ini Mugiyanto mengelola kebun kelengkeng seluas 40
hektar. Lokasinya bukan hanya di Magelang, melainkan juga di Pemalang, Jateng. Saat
ini ada lebih dari 100 petani yang bekerja di kebun kelengkeng yang dikelola
Mugiyanto. ”Saya tidak mau sugih (kaya) sendiri. Saya ingin masyarakat ikut
andil. Kebun itu dikelola dengan sistem ekonomi kemasyarakatan. Jadi, ada bagi
hasil untuk masyarakat,” katanya. Menurut Mugiyanto, budidaya kelengkeng
berpotensi mendatangkan pendapatan yang lumayan. Apalagi, kelengkeng bisa berbuah
di luar musim. Satu hektar lahan bisa ditanami 230 batang pohon kelengkeng
dengan jarak per pohon 7 meter. Dengan asumsi ada 200 batang pohon yang
berhasil berbuah dan menghasilkan 75 kg kelengkeng sekali panen per tahun,
hasil panen per tahun per hektar mencapai 15 ton.
Dengan harga Rp 50.000 per kg, satu hektar kebun kelengkeng
bisa menghasilkan uang Rp 750 juta per tahun. Selain membudidayakan kelengkeng,
Mugiyanto juga melakukan pembibitan. Ia juga mengembangkan wisata petik buah. Mugiyanto
kerap diundang ke banyak daerah untuk membina para petani. Keberhasilannya
mengembangkan kebun kelengkeng dan membina para petani itu membuatnya dijuluki ”Jenderal
Lengkeng”. Atas sejumlah prestasi tersebut, Mugiyanto diganjar sejumlah penghargaan.
Pada 2019, dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepala Staf TNI Angkatan
Darat. Dari semula kopral kepala, kini ia menyandang pangkat sersan dua. Pada
Juni 2023, Mugiyanto mendapat penghargaan sebagai petani yang sukses dalam
pengembangan komoditas buah kelengkeng dan pembinaan terhadap 10.000 petani
se-Indonesia dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. (Yoga)
Pisang, Tradisi dan Harapan Baru Sulsel
Sepanjang perjalanan di Kabupaten Gowa, Sulsel, sejauh mata memandang, tanaman pisang mudah ditemui di halaman rumah warga atau di kebun-kebun mereka. ”Saya sudah puluhan tahun menanam pisang. Menanamnya mudah, ongkos pemeliharaan minim, tapi hasilnya lumayan. Dari daun, buah, hingga jantung pisang, semua bisa dijual,” kata Daeng Tuppu (63), petani pisang di Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Gowa, Kamis (12/10). Ia memiliki ratusan pohon pisang di kebunnya. Sembari menunggu pisang berbuah, Daeng Tuppu mengambil daun yang sudah bisa dijual. Tiga kali sebulan, pembeli daun pisang datang ke kebunnya. Selembar daun pisang dihargai Rp 2.500. Dia hanya mengizinkan paling banyak dua lembar daun per pohon. Dari menjual daun saja, sedikitnya dia mendapatkan Rp 1,5 juta per bulan. Tak terpikir dalam benak petani pisang di Gowa bahwa pisang bisa diekspor. ”Kalau ada hasilnya dijual ke pasar atau kadang diambil pedagang. Daunnya juga menghasilkan. Padahal biasanya hanya dibiarkan begitu saja,” ujar Narang (54), petani di Kecamatan Parangloe.
Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin menjadikan budidaya pisang sebagai salah satu fokus programnya. Budidaya pisang dilihat menjadi solusi atas persoalan tengkes, kemiskinan, hingga pengangguran di Sulsel. ”Ini sudah diawali penanaman bibit pisang Cavendish di Kecamatan Mare, Kabupaten Bone. Selanjutnya ke kabupaten lain. Kita berharap akan tumbuh hingga ke pasar ekspor,” kata Bahtiar, Senin (9/10), yang menganggarkan Rp 1 triliun untuk budidaya pisang. Ia menargetkan penanaman 1 miliar pohon secara bertahap di lahan seluas 500.000 hektar. Menurut Bahtiar, di tengah tanaman pangan utama, yakni padi dan jagung yang tak menunjukkan peningkatan signifikan, pisang bisa menjadi alternatif pendapatan baru, terlebih lagi, pisang adalah bagian dari tradisi dan budaya yang tak terpisahkan dari orang Sulsel. Banyak sekali makanan khas Sulsel yang berbahan dasar pisang, seperti Barongko, roko-roko uti, es pisang ijo, es pallubutung, sanggara blanda, dan pisang epe. (Yoga)
Cengkeh dan Ikan yang Membingkai Maluku Utara
Ratusan ribu pohon cengkeh menusuk kumpulan awan yang
menutupi sebagian puncak Gunung Gamalama di Kota Ternate, Maluku Utara. Kelurahan
Marikurubu, Kecamatan Ternate Tengah, adalah satu dari puluhan desa yang
bergantung pada cengkeh dan pala. Sementara Pulau Obi, Halmahera Selatan, menjadi
salah satu areal cengkeh terbesar di provinsi itu. Muhammad Saleh (74), warga
Kelurahan Marikurubu, melihat beberapa cengkeh dan pala di lahan seluas 2
hektar miliknya, tak jauh dari rumahnya, Minggu (8/10), yang berada di lereng
Gunung Gamalama dengan kemiringan 35 derajat. Sekali panen, Saleh mendapatkan
300 kg cengkeh dari 10-15 pohon. Cengkeh dihargai Rp 130.000-Rp 140.000 per kg.
Tangkainya dihargai Rp 10.000 per kg. Tiap panen, ia meraup pendapatan Rp 40
juta hingga Rp 50 juta. Untuk memanen, Saleh mempekerjakan buruh petik selama
4-5 hari dengan upah Rp 150.000 per hari. Berkat cengkeh dan pala, Saleh yang
berpendidikan SMA ini mampu menghidupi istri dan enam anaknya, juga membangun
rumah.
Sebelum triwulan III-2021, perekonomian Maluku Utara didukung
sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Namun, kontribusi itu terus
menurun. Pada 2020, kontribusi sektor pertanian terhadap lapangan kerja 46 %,
tetapi di awal 2023 turun menjadi 25 %. Sementara kontribusi pertambangan dan
pengolahan terhadap lapangan kerja naik dari 7 % pada 2020 menjadi 25,62 % pada
2023. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Halmahera Tengah Badar Manawi
mengatakan, potensi kelautan untuk wisata maupun peruikanan tangkap menunjukkan
masyarakat tidak harus bergantung pada pertambangan. Ia risau ketika industri
ekstraktif merusak lingkungan. Mitra
Lingkungan Malut Siti Barora mengatakan, kehadiran industri pertambangan dan pengolahan
melalui skema Proyek Strategis Nasional acap kali memicu perubahan tata ruang,
dimana zona pertanian dialihkan menjadi zona pertambangan. (Yoga)
AGROFORESTRI DAN HARAPAN SEJAHTERA DI BATUTEG
Dari jalan setapak, isi Hutan Lindung Batutegi, Lampung,
mulai tersingkap. Tanaman kopi robusta berjajar di sela-sela pepohonan.
Bunganya bermekaran dan wangi semerbak, pertanda kopi siap berbuah. Di gubuk
perkumpulan berdinding kayu, sejumlah petani anggota Gabungan Kelompok Tani
(Gapoktan) Sumber Makmur berkumpul, Jumat (15/9). Mereka bersiap mengikuti
sekolah lapangan yang difasilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia
(YIARI). Beberapa petani menunjukkan hasil pupuk organik yang telah dibuat. Pupuk
siap digunakan, tetapi mereka harus menunggu hujan untuk memupuk tanaman. Bahan
untuk membuat pupuk organik salah satunya adalah kotoran dan air seni kambing. Petani
juga menyiapkan lahan persemaian secara mandiri. Salah satu bibit yang
disiapkan adalah pinang dan pala.
Uniknya, mereka tidak menggunakan plastik polybag untuk
menaruh bibit semai, melainkan bambu yang banyak tumbuh di sekitar hutan untuk
membuat wadah. Kantong bibit dari bahan bambu itu bisa ikut ditanam karena ramah
lingkungan. Sri Atmiatun (43) bahkan menyiapkan buku khusus untuk mencatat
materi pelajaran, terutama bahan-bahan untuk membuat formula pupuk organik dan
pestisida nabati. Sri membawa beberapa contoh pupuk cair dan pestisida nabati
buatannya. ”Saya sudah pernah menggunakan pupuk organik dan sudah mulai kelihatan
bedanya. Daun tanaman jadi lebih mengilap. Pohon kopi yang terserang hama
penyakit juga sembuh setelah diberi pestisida nabati dan pupuk organik,” kata
Sri. Menurut Sri, hasil panen kopi robusta di lahan yang ia garap merosot tajam
dalam dua tahun terakhir karena cuaca ekstrem. Banyak tanaman yang mati akibat terserang
hama. Hasil panen kopi yang biasanya bisa mencapai 1 ton per hektar anjlok menjadi
hanya 2-3 kuintal.
YIARI mengadakan kegiatan sekolah lapang sejak September 2022.
Petani diajarkan membuat pupuk organik dan pestisida nabati dengan memanfaatkan
bahan-bahan yang ada di sekitar hutan. Selain murah dan mudah, petani juga
menjadi lebih mandiri. Penerapan pola tanam agroforestri juga membuat petani tak
lagi bergantung pada tanaman kopi. Saat panen kopi terpuruk seperti tahun lalu,
petani tetap mendapat penghasilan dari menjual pisang, pala, jengkol, durian,
atau kemiri. Salah satu petani yang telah menikmati hasil agroforestri di
kawasan hutan lindung Batutegi adalah Purwanto (43). Di lahan yang ia garap,
ada 500 batang pohon kemiri. Setiap bulan, ia bisa menjual 3-4 kuintal kemiri.
Hasilnya paling sedikit Rp 3 juta dari satu jenis tanaman. Selain kemiri,
Purwanto juga mengandalkan pohon jengkol, durian, pisang, dan kopi. Ia juga
memelihara kambing dan tertarik memanfaatkan kotorannya untuk pupuk seperti
petani lain di hutan itu. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









