;
Tags

Perkebunan

( 153 )

KONFLIK LAHAN, Penjarah Sawit Ditangkap, Aparat Diserang di Kalteng

KT3 06 May 2024 Kompas

Konflik antara perusahaan perkebunan sawit dan masyarakat di Kalteng kian meruncing dan tak kunjung terselesaikan. Terakhir, konflik memanas ketika penjarahan sawit yang marak direspons oleh aparat dengan menangkap warga yang terlibat. Pada pertengahan April lalu, aparat dari Polda Kalteng bersama Polres Kotawaringin Timur menangkap tujuh orang yang diduga menjarah sawit pada pertengahan April 2024. Lalu, polisi menangkap 16 orang yang dituding mencuri sawit lagi pada Rabu (1/5). Berselang tiga hari, Sabtu (4/5), polisi kembali menangkap 13 orang yang diduga menjarah sawit milik perusahaan. Mereka ditangkap saat sedang berkumpul di perbatasan wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan.

Tak terima kerabatnya ditangkap, beberapa orang menyerang Polsek Kotawaringin Barat. Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Erlan Munaji, Minggu (5/5), menjelaskan, dari 13 orang itu, 10 orang sudah ditetapkan sebagaitersangka, yakni UM, SN, NR, IG, PL, DN, BR, AR, SK, dan DN. Mereka kini ditahan di Mako Brimob Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda Kalteng di Sampit, Kotawaringin Timur. Tiga orang lain yang ditangkap masih diperiksa dan berstatus sebagai saksi. Kapolres Kotawaringin Barat AKBP Yusfandi Usman menjelaskan, pascapenangkapan itu, kantor Polsek Pangkalan Banteng di Kabupaten Kotawaringin Barat diserang empat pemuda yang juga dalam keadaan mabuk, menggunakan mobil pikap.

Direktur Save Our Borneo (SOB) Muhammad Habibi mengungkapkan, aksi panen massal di kebun milik perusahaan itu merupakan bentuk protes masyarakat terhadap perusahaan. Mereka memiliki berbagai  alasan untuk melakukan hal itu, mulai dari perampasan lahan hingga tuntutan kebun plasma yang dijanjikan. Di Kabupaten Seruyan, khususnya di Kotawaringin Barat atau Kotawaringin Timur, menurut Habibi, konflik serupa sudah terjadi sejak perusahaan datang ke desa-desa mereka puluhan tahun lalu. Namun, pemerintah dan aparat kepolisian hanya melihat peristiwa itu sebagai tindak kriminal semata. ”Saat perusahaan datang diberi izin oleh pemerintah, ada lahan masyarakat yang hilang. Lahan itu merupakan ruang hidup mereka untuk berusaha,” ujar Habibi. (Yoga)


Antisipasi EUDR, Percepat Pendataan Pekebun

KT3 06 May 2024 Kompas

Pelaku industri karet menagih janji pemerintah untuk mempercepat pendataan pekebun sebagai langkah antisipasi regulasi bebas produk deforestasi Uni Eropa. Upaya pemerintah mengatasi ancaman ekspor komoditas terkait regulasi yang mulai diterapkan Januari 2025 itu diharap bisa menjadi gerakan nasional. UU Bebas Produk Deforestasi UniEropa (EUDR) mewajibkan komoditas yang diekspor ke Uni Eropa bersertifikat verifikasi atau uji tuntas (due diligence) berbasis geolokasi (titik koordinat atau polygon) berdasarkan citra satelit dan GPS dari perkebunan yang disertai penerapan metode ketelusuran. Secara prinsip, regulasi ini melarang sejumlah komoditas yang berasal dari lahan yang terdeforestasi setelah 31 Desember 2020 masuk pasar UE.

Selain karet, komoditas ini juga berlaku untuk kopi, minyak sawit, sapi, kedelai, kakao, kayu, arang, dan karet serta produk-produk turunan atau olahannya, seperti daging, furnitur, kertas, kulit, dan cokelat. Wakil Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Uhendi Haris menegaskan, salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan menghadapi EUDR adalah lewat realisasi percepatan pendataan pekebun. Pendataan itu dilakukan melalui Sistem Terpadu Pendaftaran Usaha Budidaya Elektronik (E-STDB). Percepatan tentu juga perlu dilakukan untuk seluruh pekebun dan petani komoditas lain di luar karet. ”Hingga saat ini, baru terdapat 971 E-STDB pekebun karet yang sudah terbit,” ujar Uhendi kepada Kompas, Minggu (5/5).

Menurut dia, khusus sektor karet, dibutuhkan sedikitnya 491.106 E-STDB untuk memenuhi porsi ekspor karet dan produk turunannya ke Eropa. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun Gapkindo, dari total 1,79 juta ton produk karet yang diekspor pada 2023, hanya 11 % atau 206.203 ton yang diekspor ke Uni Eropa. Persoalannya, negara, seperti Jepang dan Korea, yang mengimpor karet alam dari Indonesia dalam bentuk mentah atau setengah jadi juga akan menuntut pemenuhan EUDR dari Indonesia. Sebab, karet alam Indonesia itu akan mereka olah untuk diekspor ke Eropa dalam bentuk produk jadi. ”Jika Indonesia tidak mampu memenuhi (syarat) ekspor tersebut untuk EUDR, porsi ekspor kemungkinan besar akan dicari alternatif oleh operator/trader melalui pengalihan porsi ke negara produsen lainnya,” lanjut Uhendi. (Yoga)


Harga Kopi Robusta Melonjak, Pesanan Meningkat

KT3 30 Apr 2024 Kompas

Menjelang panen raya, harga kopi robusta di Lampung melonjak. Petani menerima banyak permintaan kopi, tidak hanya dari berbagai kota, tetapi juga luar negeri. Danuri (60), petani kopi Desa Way Harong, Tanggamus, Lampung, mengatakan, harga biji beras kopi atau green bean jenis robusta ditingkat petani Rp 55.000-Rp 60.000 per kg, naik dua kali lipat dibandingkan panen tahun lalu, Rp 35.000 per kg. Pada panen sebelumnya, biji kopi asalan Rp 20.000-Rp 25.000 per kg. ”Kami baru merasakan harga kopi bisa menembus Rp 60.000 per kg tahun ini. Semoga harganya tetap stabil sampai masa panen raya bulan depan,” kata Danuri saat dihubungi dari Bandar Lampung, Senin (29/4).

Harga biji kopi petik merah atau fine robusta jauh lebih tinggi, yaituRp 100.000 per kg. Sementara harga kopi bubuk Rp 120.000-Rp 200.000 per kg menyesuaikan kualitas. Kenaikan harga kopi ini dipicu anjloknya hasil panen tahun lalu akibat El Nino. Saat itu, hasil panen kopi dari lahan seluas 1 hektar lahan tak lebih dari 1 kuintal. Jumlah itu jauh dibandingkan dengan produksi saat normal yang bisa mencapai 1-1,5 ton per hektar. Menurut Danuri, sejumlah pembeli dari berbagai kota di Indonesia ataupun dari luar negeri telah menghubunginya.

Bahkan, ada beberapa calon pembeli yang datang langsung ke kebun untuk melihat kualitas tanaman kopi robusta. ”Permintaan kopi untuk jenis fine robusta sudah cukup banyak. Ada pembeli dari Singapura yang minta 1,5 ton. Ada pembeli dari Jawa yang minta biji kopi sebanyak 5 ton. Tetapi saya belum bisa menyanggupi semua,” katanya. Harga kopi yang tinggi membuat petani senang, sekaligus harus waspada dengan keamanan kebun kopi. Saat harga kopi tinggi, dikhawatirkan rawan pencurian. Petani juga berkoordinasi dengan polisi setempat. Purna (48), petani kopi asal Sekincau, Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, mengatakan, petani kopi membentuk kelompok ronda untuk saling membantu menjaga kebun kopi, terutama pada malam hari. (Yoga)

TANAMAN PERKEBUNAN : UNGKIT POTENSI VANILI INDONESIA

HR1 23 Apr 2024 Bisnis Indonesia

Pamor tanaman vanili asal Indonesia di pasar global belum pudar. Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat dinilai memiliki potensi yang cukup besar guna menambah produksi vanili Indonesia ke depannya. Kendati, sejumlah persoalan dipandang dapat menghambat laju produksi vanili Bumi Pertiwi. Pada tahun ini, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) bakal hadir sebagai produsen anyar vanili Indonesia untuk pasar ekspor. Adalah Kabupaten Musi Rawas Utara yang bertransformasi sebagai eksportir valini Sumsel setelah pengembangan lahan perkebunan komoditas itu dilakukan di desa Cecar. Rencananya, ekspor perdana vanili asal wilayah ini akan dilakukan pada Juni 2024. Untuk itu, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Sumsel meninjau langsung lokasi tersebut guna memfasilitasi para petani untuk perdagangan ke negara tujuan ekspor. Kepala Balai Karantina Sumsel Kostan Manalu mengatakan bahwa fasilitas itu juga bertujuan untuk mencegah terjadinya notifikasi ketidaksesuaian (notifikation of non-compliance) di negara importir.

Dia menjelaskan bahwa ada sebanyak 12.000 pohon dari tanaman perkebunan yang digunakan sebagai pengharum makanan itu. Pada lahan seluas 2 hektare (ha) diperkirakan mampu menghasilkan panen perdana sebanyak 1 ton. Adapun untuk potensi yang dihasilkan pada panen pertama nanti yakni berkisar 1 ton dan periode panen selanjutnya sebanyak 2,6 ton dari lahan seluas 2 ha. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (KPw BI NTB) mencatat bahwa pengembangan vanili di provinsi ini tersebar di sejumlah kabupaten, terutama di Lombok Timur, Lombok Utara, hingga Lombok Barat. “KPw BI Provinsi NTB melalui RIRU memfasilitasi promosi perdagangan untuk UMKM potensial ekspor, diantaranya melalui one on one meeting secara virtual, showcase di luar negeri, pengiriman sampel, serta fasilitasi on site visit potensial buyer,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Berry A Harahap, belum lama ini. Data KPw BI NTB menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, vanili menjadi salah satu komoditas andalan wilayah ini. Volume eskpor komoditas ini juga terus meningkat pada periode tersebut. Pada 2023, ekspor vanili ke Amerika Serikat (AS) mencapai 3,36 ton.

Ekonom Universitas Mataram Firmansyah menilai bahwa NTB harus terus meningkatkan produksi vanili untuk memenuhi permintaan yang tinggi dari pasar global. Dia menjelaskan bahwa peningkatan produksi vanili wilayah ini masih menghadapi terkendala lantaran pengembangan komoditas unggulan ini masih terbatas di beberapa kawasan seperti Sembalun Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Barat, dan beberapa tempat di Pulau Sumbawa. Ekonom asal Bima ini meminta pemerintah daerah dan pihak terkait seperti KPw BI NTB bisa mengoptimalkan perannya sebagai pendorong peningkatan produksi dan kualitas vanili di tingkat petani. Selain itu, dia memandang bahwa keduanya memiliki andil yang besar guna menjadi fasilitator antara petani dan buyer atau pembeli luar negeri.

Viral Salak Dibuang ke Sungai, Ironi Buah Kita

KT3 04 Apr 2024 Kompas

Belasan keranjang plastik berisi salak busuk dibuang ke sungai dari tepian Jembatan Sendang Kamulyan, Banjarnegara, Jateng, Kamis (28/3). Video dengan narasi ”salak tidak ada harganya” itu viral. Salak itu dibuang di Desa Talunamba, Kecamatan Madukara, Banjarnegara. Menurut Pardi, distributor yang membuang salak, buah itu sudah terlalu lama di gudang dan membusuk. ”Sudah empat hari di gudang, semua itu sudah busuk, ada 15 ton salak dibuang,” kata Pardi saat ditemui di Madukara, Banjarnegara, Rabu (3/4). Menurut Pardi, salak terlalu lama di gudang karena sepi permintaan atau pembeli. Biasanya ia bisa menerima 10-15 ton salak per hari dari sekitar 50 petani di Desa Talunamba. Salak itu langsung dikirim ke pasar-pasar di Bandung dan Karawang (Jabar) serta Lamongan (Jatim). 

Tapi, pekan itu, salak di pasar tersebut masih banyak sehingga pedagang belum bersedia menerima pasokan baru. ”Salak tak laku. Permintaan pasar sedikit. Di gudang banyak banget. Ini faktor terlalu banyak buah, ada duku, manggis, dan rambutan,” ujarnya. Harga salak saat normal, kata Pardi, berkisar Rp 4.500-Rp 5.000 per kg untuk kualitas bagus atau besar. Namun, saat ini harganya hanya Rp 2.000 per kg. Sementara untuk salak ukuran kecil, yang harganya sekitar Rp 1.500 per kg saat normal, kini hanya Rp 500 per kg. Kendati telah membuang 15 ton salak, Pardi masih menerima dan menjual salak meski permintaan dan harganya rendah. Jika biasanya dapat permintaan sampai 20 ton, kini hanya sekitar 5 ton per hari.

”Ini memang sengaja tak dipanen karena harganya murah, sekarang Rp 1.000 per kg. Padahal, biasanya lebih dari Rp 3.000 per kg,” ucap Sugianto (54), petani salak. Sugianto dan keluarga memiliki sekitar 200 rumpun tanaman salak. Namun, dua pekan terakhir, mereka tidak memanennya. Dari 200 rumpun tanaman salak, sebenarnya Sugianto bisa memanen 200 kg salak. Namun, jika harga jualnya hanya Rp 1.000 per kg, pemasukannya hanya Rp 200.000. Adapun biaya untuk tenaga kerja berkisar Rp 80.000-Rp 100.000 per orang. ”Mungkin nanti setelah Lebaran harganya bisa naik. Kalau (harga) sudah naik, baru dipanen,” katanya. Menurut Sugianto, idealnya harga salak lebih dari Rp 4.500 per kg. Sebab itu baru sebanding dengan biaya produksi yang meliputi tenaga kerja, pemupukan, dan perawatan. (Yoga)

Penurunan Kinerja Ekspor Sawit Diprediksi Berlanjut

KT1 29 Feb 2024 Investor Daily
Ekspor minyak sawit nasional sepanjang 2023 hanya US$ 30,32 miliar, atau anjlok 22,39% dibandingkan 2022 yang sebesar US$ 39,07 miliar. Merosotnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional hinga 28,7% lalu menjadi penyebab turunan ekspor komoditas  perkebunan tersebut. Kinerja ekspor yang jeblok itu diprediksi berlanjut tahun ini karena Indonesia mulai memberlakukan program biodiesel 35% (B35) secara penuh, di sisi lain situasi perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Dalam data yang diolah Gabungan Pengusaha kelapa Sawit  Indonesia (Gapki), volume ekspor minyak sawit nasional tahun lalu 32,22 juta ton atau turun 2,82%  dibandingkan 2022 sebesar 33,15 juta ton. Dari sisi nilai, ekspor minyak sawit 2023 yang sebesar US$ 30,32 miliar, turun 22,39% dari 2022 yang sekitar  US$ 39,07 miliar. (Yetede)

Sutrisno Memajukan Desa dengan Buah Naga

KT3 27 Feb 2024 Kompas (H)

Di sudut Desa Pekunden, Banyumas, Jateng, Sutrisno (57) merintis budidaya buah naga sejak 2017. Meski diawali dengan cibiran dan keraguan orang-orang sekitarnya, kini kebun itu menjadi salah satu primadona wisata desa sekaligus edukasi bagi para pengunjungInilah kebun buah naga yang dikelola Sutrisno yang turut mengubah wajah Desa Pekunden. Ilmu dan tips membudidayakan buah naga diperoleh Sutrisno dari sahabatnya, Sugito, yang merupakan petani buah naga dari Banyuwangi, Jatim. Ia berguru kepada Sugito selama satu pekan. Pulang dari sana, ia menanam 140 rumpun tanaman buah naga di Banyumas yang ditopang dengan kayu randu sebagai batang pokok penopang rumpun. Per rumpun berisi tiga tanaman buah naga. ”Saat itu banyak yang mencibir, mulai dari teman-teman juga keluarga. Semua membuat (saya) kecil hati, tetapi saya tetap semangat,” kata Sutrisno saat dijumpai di kebunnya, Minggu (25/2).

Menurut Sutrisno, tanaman buah naga yang dibudidayakan di Banyuwangi banyak ditanam di dekat pantai dengan ketinggian permukaan tanah 50 mdpl. Adapun di Pekunden, Banyumas, kebunnya memiliki ketinggian sekitar 46 mdpl.  Karena itu, dia berkeyakinan buah naga bisa hidup di desanya. Setelah enam bulan, keyakinan Sutrisno menjadi kenyataan. Ia berhasil memetik panen perdana buah naga yang ditanamnya. Selanjutnya kebun itu terus menghasilkan panen yang baik. Hasilnya makin baik setelah ia memasang 130 lampu untuk merangsang pembungaan tanaman buah naga pada malam hari. Setiap dua pekan sekali dia bisa memanen 10-20 buah naga dari satu rumpun. Bobotnya 3-5 ons per buah. ”Berapa pun buah yang dipanen, alhamdulillah selalu habis (terserap pasar),” kata ayah dari dua anak ini. Selama ini Sutrisno selalu mengupayakan pemberian pupuk organik, baik dari kotoran hewan maupun dari limbah jerami yang ada di sekitar kebunnya, untuk tanaman buah naga.

Keberhasilannya membudidayakan tanaman buah naga tidak ia nikmati seorang diri. Ia bermurah hati memberikan buah naga kepada para tetangga saat panen melimpah. ”Alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah ada yang mencuri buah naga di sini. Lingkungan saling menjaga,” kata Sutrisno. Ia juga mempekerjakan tiga tetangganya sebagai penggarap di kebunnya. Upahnya Rp 60.000, termasuk makan siang dan rokok, per hari. Mereka bekerja di kebun buah naga itu pukul 07.00-13.00. Selain itu, ia juga dengan senang hati berbagi pengalaman dan pengetahuannya dalam budidaya buah naga kepada orang lain, terutama generasi muda. Ia ingin generasi muda mencintai pertanian demi keberlanjutan ketahanan pangan di Indonesia. Langkah Sutrisno terus berlanjut. Sejak tiga tahun terakhir, ia membuka kebunnya untuk kunjungan wisata yang bisa menopang program desa wisata. Pengunjung bisa berwisata petik buah naga di kebun Sutrisno sekaligus melihat pembuatan makanan ringan khas Banyumas di desa ini. Dalam sebulan tidak kurang dari 500 orang berkunjung ke kebun buah naga ini. Pengunjungnya mulai anak-anak hingga orang dewasa. Tiket per orang dipatok Rp 5.000 untuk kunjungan edukasi wisata. Dari tiket itu, Rp 3.000 merupakan pemasukan kebun dan Rp 2.000 untuk kelompok sadar wisata. (Yoga) 

Nanas Mahkota ”Jajah” Ibu Kota

KT3 23 Feb 2024 Kompas

Selama ini nanas mahkota yang berasal dari Kabupaten Siak, Riau, hanya dijual mentah untuk diekspor ke berbagai negara. Itu pun hanya nanas kualitas A (grade A) dengan berat lebih dari 1 kg. Sementara nanas grade B dan grade C tidak bisa dimanfaatkan secara optimal lantaran tidak memiliki pasar. Padahal, menurut periset Laboratorium Alam Siak Lestari, Wulan Suci Ningrum, yang sekaligus perwakilan Pinaloka, kelompok usaha wanita dari empat desa di Kabupaten Siak, Riau, Kamis (22/2) potensi nanas di Siak cukup tinggi. Terkait itu, Kelompok Usaha Wanita Pinaloka bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Anomali Coffee berkolaborasi dalam pengembangan produk berbasis nanas mahkota Siak untuk menembus pasar lebih luas, termasuk Ibu Kota Jakarta. Dari lahan 3.000 hektar, produksi nanas Siak mencapai 3.000 ton per tahun, 75 % diekspor, sisanya untuk kebutuhan domestik.  

Berangkat dari kegelisahan itu, pada 2023, pihaknya melakukan inkubasi guna menggali manfaat yang terkandung di dalam nanas. Dari hasil riset itu diketahui bahwa semua elemen pada nanas bisa diolah menjadi beragam produk turunan. Daunnya bisa diolah jadi serat tenun, kulitnya untuk pupuk kompos, sedang dagingnya bisa dimanfaatkan jadi sirop, selai, bahkan keripik. Dari aspek lingkungan, nanas berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, terutama menjaga lahan gambut dari ancaman kebakaran. Menurut dia, Jakarta menjadi pasar yang potensial bagi hilirisasi. Selain jadi pusat ekonomi, Jakarta merupakan etalase ideal untuk memperkenalkan nanas mahkota ke kancah nasional. Tembusnya nanas Siak ke pasar Ibu Kota terbukti meningkatkan volume produk turunan sehingga mendongkrak kesejahteraan petani. Wulan mencontohkan, saat di pasar lokal, produksi sirop hanya 8 liter per bulan. Setelah menembus Ibu Kota, kebutuhan sirop nanas meningkat jadi 80 liter per bulan.

Manajer Bisnis Berkelanjutan LTKL Aditya Mulya Pratama menuturkan, potensi di Kabupaten Siak harus digaungkan dengan menggiatkan inkubasi produk local terutama nanas. ”Peran kami menghubungkan petani dengan mitra, salah satunya Anomali Coffee,” katanya. Dengan menggali produk turunan, nilai komoditas terdongkrak, contohnya, nanas yang jika dijual mentah hanya Rp 3.000 per kg setelah diolah menjadi sirop atau selai nilainya bisa 10 kali lipat. Karena itu, pihaknya mengajak pemda dan warga untuk membuat inkubasi UMKM untuk mencari produk turunan pada komoditas potensial agar bisa mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Dari hasil kurasi itu, didapati lima menu, antara lain Pina Cake atau kue nanas panggang yang disajikan dengan krim keju dan Aloha Siak dari krim kelapa dan nanas. Menu ini akan dipasarkan di 11 outlet di Jakarta, Bali, dan Makassar. Beragam menu itu diharapkan dapat membuat nanas Siak diterima warga Ibu Kota. (Yoga) 

Asanudin, Berjuang dengan Akar Wangi

KT3 23 Feb 2024 Kompas (H)

Asanudin (57) yang akrab dipanggil Asa, bersama ratusan petani memperjuangkan hak atas tanah di Desa Sukamukti, Kabupaten Garut, Jabar, selama puluhan tahun. Lewat budidaya akar wangi, mereka kini berjuang untuk hidup lebih baik. Dulu, Asa keluar kampung mencari rezeki di tanah rantau karena lahan yang ada di sekitar tempat tinggalnya dikuasai pihak lain. Hingga akhirnya tahun 1998, ia memilih pulang karena istrinya menjadi korban intimidasi saat menggarap lahan HGU yang dikuasai sebuah perusahaan di Sukamukti, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, yang berakhir pada 1997. Berdasarkan data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), lahan sengketa ini mencapai 402 hektar yang digarap sedikitnya 600 keluarga petani. Lama hidup di jalanan Jakarta membuat nyali Asa tidak gampang terintimidasi. Dia dikenal sebagai salah satu warga yang berani berhadapan dengan aparat. “Kami orang desa, tetapi kami ada hak dari warga desa untuk lahan itu,” ujar Asa yang berjuang bersama Serikat Petani Pasundan (SPP) sejak tahun 2000.

Berdasar catatan KPA,represi aparat yang besar terjadi dalam kurun 2012 hingga 2014. Asa menjadi salah satu orang yang dicari karena vokal memperjuangkan haknya atas lahan yang digarap. ”Saya dicari satu truk berisi aparat. Rumah digeledah beberapa kali. Jika ada yang mencari, saya sembunyi di kebun di antara semak akar wangi,” ujarnya. Nyali Asa tidak ciut. Dia tetap aktif berkegiatan bersama SPP, mulai dari kegiatan pemberdayaan masyarakat sampai aksi menyuarakan pendapat. Asa sadar perjuangan itu tidak akan berarti jika kehidupan warga tidak diperbaiki. Dia lalu mencari cara untuk menggarap lahan dengan maksimal. ”Saat itu kami memilih akar wangi yang sudah tumbuh di desa ini sejak lama. Selain punya harga jual yang tinggi,ternyata tanamannya juga bisa mengurangi erosi,” kata Asa. Harganya pernah mencapai Rp 2,8 juta per kg. Kesejahteraan masyarakat terangkat. Usulan menjadikan akar wangi menjadi komoditas utama itu dimulai tahun 2004. Asa mengajak warga menanam akar wangi di samping sayur-mayur dan tembakau. Lahan garapan seluas 1.400 meter persegi dijadikan percontohan.

Total lahan yang ditanam akar wangi di Sukamukti diperkirakan 240 hektar dengan potensi produksi minyak 7,2 ton. Warga juga didorong membuka pabrik penyulingan akar wangi. Sekarang ada sedikitnya 10 pabrik. Satu pabrik dengan dua mesin penyulingan mampu memproduksi 3 kuintal minyak akar wangi sebulan, yang laku dijual Rp 2 juta per kg. Asa juga mencari mitra dan pendampingan bersama SPP agar akar wangi yang ditanam kian menguntungkan. Konsumennya berasal dari Bandung, Bogor, dan Tangerang. Sebagian dari pembeli ini menjual kembali ke luar negeri, seperti Perancis dan AS. Akar wangi biasanya digunakan untuk bahan pembuatan parfum. Lahan yang produktif itu memang belum dimiliki sepenuhnya oleh ratusan warga yang tinggal di kaki Gunung Cikuray ini. Meskipun tidak ada lagi tekanan dari berbagai pihak, status lahan ini masih dalam sengketa. Asa ingin terus berjuang sampai akhir. Sama seperti pejuang reforma agraria lainnya di seluruh penjuru negeri, dia ingin tanah yang digarap memiliki legalitas agar bisa dimanfaatkan dengan maksimal dan tanpa rasa khawatir. (Yoga) 

Berharap pada Pupuk Organik

KT1 15 Feb 2024 Tempo
Pupuk organik diharapkan menjadi jawaban atas permasalahan ketersediaan pupuk subsidi. Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan pemerintah seharusnya kembali mendorong penggunaan pupuk organik. “Saat ini pupuk kimia masih langka di tingkat petani karena produksinya, bahan bakunya, dan masalah dalam distribusinya. Pupuk organik bisa menjadi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut,” ujar Henry saat dihubungi, kemarin.

Kapasitas produksi nasional pupuk organik diperkirakan mencapai 1,5 juta ton per tahun. Namun jumlah tersebut masih sekitar 5 persen dari kebutuhan bauran atau campuran pupuk organik di lahan pertanian nasional. Pemerintah berniat meningkatkannya menjadi 10 persen. Menurut Henry, keunggulan pupuk organik adalah harganya jauh lebih murah karena bisa diproduksi sendiri dengan bahan yang ada di sekitar kita, seperti kotoran hewan, sekam, tanah bongkol pisang, serta akar pohon bambu. Selain mudah ditemui, pupuk organik baik bagi kesehatan dan menjaga kesuburan tanah. Henry mengatakan penggunaan pupuk organik belum masif saat ini karena petani masih sangat bergantung pada pupuk kimia. SPI terus berupaya mendorong petani menggunakan pupuk organik. (Yetede)