Perkebunan
( 153 )Keterlibatan Petani Kunci Pacu Produksi Gula
Upaya mendongkrak produksi gula konsumsi membutuhkan keterlibatan petani tebu. Perannya menopang suplai bahan baku. Namun, pendampingan di sisi teknis budidaya, permodalan, dan jaminan penyerapan diperlukan agar tujuan tercapai. Dirut PT Perkebunan Nusantara atau PTPN III (Persero) MohammadAbdul Ghani menilai, petani berperan strategis dalam peningkatan produksi gula nasional. PTPN III merupakan induk BUMN perkebunan yang membawahkan 13 PTPN. ”Dua tahun terakhir, produksi tebu meningkat dari 11 juta ton jadi 13,5 juta ton. Kami menyerap (tebu) produksinya dan membantunya mendapatkan kredit usaha (KUR) yang tahun lalu totalnya Rp 2 triliun atau naik dari sebelumnya Rp 600 miliar,” katanya saat berkunjung ke Kantor Redaksi Harian Kompas di Jakarta, Selasa (10/1). Ghani memaparkan target produksi gula PTPN III pada 2026 sebesar 2,1 juta ton, 2,5 kali lipat produksi saat ini 768.000 ton. Guna mencapai target itu, belanja modal yang dibutuhkan sepanjang 2021-2026 diperkirakan Rp 16 triliun. PTPN III berencana mengubah struktur anak usaha dengan membentuk PT Sinergi Gula Nusantara atau Sugar Co yang menyatukan sejumlah PTPN yang berfokus pada perkebunan tebu dan produksi gula.
”Dari 65.000 hektar lahan tebu yang kami kelola, ada 6.000 hektar yang (produktivitasnya) sudah mencapai 8 ton per hektar setara gula. Kami ingin mereplikasinya (dari wilayah PTPN satu ke lainnya), dengan memberikan bantuan bibit. Kami juga ingin melakukan bongkar ratun empat tahun sekali,” ujarnya. Anggota Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Bayu Krisnamurthi, mengatakan, upaya mendongkrak produksi gula mesti memperhatikan petani. Dia memperkirakan petani akan kehilangan pendapatan untuk sementara waktu, misalnya saat bongkar ratun. ”Perusahaan perlu menyiapkan strategi komunikasi untuk memperoleh kesediaan petani,” ujarnya. Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen berharap gula petani tahun ini dapat terserap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Menurut dia, imporgula pada 2022 berlebihan. Karena itu, petani meminta pemerintah tak berlebihan mengimpor gula tahun ini. (Yoga)
Peremajaan Kelapa Sawit Rakyat Menurun
Realisasi program peremajaan sawit rakyat terus turun. Pada 2020 mencapai 94.033 hektar, menjadi 42.212 hektar pada 2021, kemudian menjadi 30.759 hektar pada 2022. Menurut Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Eddy Abdurrachman, Kamis (22/12) hal ini karena regulasi baru yang menyulitkan peremajaan. (Yoga)
Manfaatkan Lahan Mandiri untuk Atasi Kurang Gizi
Lebih dari separuh penduduk Indonesia idak mampu makan makanan bergizi. Pemanfaatan lahan mandiri dapat menjadi alternatif untuk memenuhi gizi lengkap bagi masyarakat. Masalah kekurangan gizi bukanlah masalah baru di Indonesia. Sejak zaman Orde Baru hingga Reformasi, permasalahan ini belum menemui penyelesaian pasti. Selain program pemerintah dengan memberikan bantuan telur dan susu kepada anak-anak kurang gizi, hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan lahan secara produktif. Hal itu disampaikan guru besar purnabakti Fakultas Kesehatan Masyarakat UI yang juga anggota Kelompok Kerja Ahli Pangan Badan Pangan Nasional, Endang L Achadi, Sabtu (10/12).
”Kebutuhan pangan selain ada di pasar, masyarakat juga bisa mendapatkannya di sekitar lingkungan. Misalnya, masyarakat yang tinggal di sekitar sungai dapat memancing ikan untuk memenuhi protein hewani,” kata Endang. Endang menambahkan, warga bisa mendapatkan sayur, buah, dan protein dengan menanam sendiri di pekarangan. Masyarakat yang tinggal di perkotaan bisa memanfaatkan media tanam menggunakan pot secara mandiri. Jenis sayur-mayur tidak harus bayam dan kangkung, misalnya, tetapi juga bisa daun kelor. ”Pemenuhan gizi di rumah tangga tidak boleh dianggap remeh. Tidak bisa makan nasi dan lauk saja, harus ada buah dan sayur. Kita kaya dengan sumber daya alam, tapi sangat disayangkan pemenuhan gizi masyarakat masih sulit,” ucapnya. (Yoga)
Mentan Minta Industri Serap Jagung Lokal
Mentan Syahrul Yasin Limpo mendorong para pelaku usaha dan industri pakan ternak untuk melakukan penyerapan jagung dan produk lokal seperti dedak yang diproduksi petani seluruh Indonesia. Berdasarkan survei BPS mengenai struktur ongkos usaha peternakan, komponen pakan memiliki kontribusi 56,95% terhadap total biaya pada budi daya ayam ras pedaging di tingkat peternakan rakyat dan untuk budi daya ayam ras petelur kontribusi pakan 70,97%. Demikian disampaikan Mentan saat meresmikan perusahaan pakan swasta yang berinvestasi di Pasuruan, Jatim, Rabu (02/11).
Menurut Syahrul, dengan struktur ongkos seperti survei BPS maka pabrik pakan dapat menyerap bahan baku pakan dari petani setempat dan harga pakan untuk peternak lebih terjangkau. Mentan juga berharap pabrik pakan memberikan pengaruh ke harga pangan asal ternak yang lebih kompetitif di tingkat konsumen. “Kita harap nanti ada kerja sama saling menguntungkan antara petani, peternak, serta masyarakat sekitar. Dengan adanya pabrik pakan memberikan nilai manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar, terutama penyerapan bahan baku pakan lokal seperti jagung, dedak, dan sebagainya, yang akan mendorong pengembangan ekonomi perdesaan," ujar dia.. (Yoga)
8.300 Hektar Kebun Tebu Terintegrasi Disiapkan di Sumsel
Lahan seluas 8.300 hektar di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel, disiapkan sebagai kawasan perkebunan tebu terintegrasi. Kebun yang ditetapkan sebagai proyek prioritas strategis ini diproyeksikan menjadi tempat pengolahan sejumlah bahan turunan tebu, seperti gula kristal, etanol, dan biodiesel. Proyek ini merupakan bagian upaya pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula kristal pada tahun 2024.
Ketua Tim Tenaga Ahli Penyusunan Peta Peluang Investasi dari Sucofindo Edi Wiraguna menyatakan, lahan itu sebelumnya merupakan konsesi dari PT Musi Andalan Sumatera (MAS) yang tidak lagi diusulkan izin usaha perkebunannya. Luasan lahan memenuhi syarat pembuatan pabrik pengolahan tebu dan turunannya, yakni setidaknya 2.000 hektar. Pemilihan lahan mempertimbangkan beberapa faktor, mulai dari aspek kriteria agroklimat, aksesibilitas, hingga kondisi masyarakat sekitar. Selain itu, faktor legalitas lahan jelas, kata Edi dalam Penyusunan Peta Peluang Investasi Proyek Prioritas Strategis di Palembang. Selasa (23/8). (Yoga)
TANAMAN HIAS, MAGNET BARU KOMODITAS EKSPOR LAMPUNG
Aziz Hermawan (43) sibuk menyiapkan aglonema yang akan diekspor ke Turki, Minggu (14/8). Bersama belasan petani lain, Aziz harus memastikan 10.500 batang aglonema yang akan diekspor perdana ke Turki bebas dari organisme pengganggu tumbuhan. Untuk itu, mereka harus teliti sejak awal proses penanaman hingga persiapan ekspor. Untuk membantu petani, Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung mendirikan tempat karantina tumbuhan khusus di Kelurahan Adipuro. Di sana, petani juga didampingi untuk memeriksa tanaman, mulai dari cara membersihkan hingga membungkus tanaman hias yang akan diekspor. Dengan karantina di tingkat desa/kelurahan, waktu untuk menyiapkan tanaman yang akan diekspor bisa lebih cepat.
Aziz menggeluti usaha tanaman hias sejak 2019. Pada awal masa pandemi Covid-19, masyarakat Lampung ”demam” tanaman hias. Ia pun memanfaatkan momentum itu untuk coba-coba menanam berbagai jenis tanaman hias yang sedang tren, tak terkecuali aglonema. Aglonema koleksi Aziz pernah terjual dengan harga tinggi, Rp 700.000 untuk satu batang. Saat ini, ia bisa mengantongi uang Rp 3 juta-Rp 4 juta setiap bulan dari hasil berjualan tanaman hias, padahal, usaha tanaman hias hanya sebagai pekerjaan sampingan yang diurus di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai buruh rongsok. Aziz hanyalah satu dari puluhan rumah tangga petani aglonema di kelurahan itu yang menikmati hasil dari budidaya tanaman hias. Peluang ekspor tanaman hias yang sangat besar menjadi daya tarik bagi para perantau asal Adipuro untuk kembali ke kampung halamannya.
Eko Widiantoro (41). Perantau yang 16 tahun terakhir bekerja di pabrik sepatu di Tangerang memutuskan pulang ke kampung halamannya pada Mei 2022. Sejak dua bulan lalu, dia memulai usaha budidaya aglonema dengan modal awal Rp 3 juta, untuk membeli media tanam, bibit, dan menyiapkan area budidaya. ”Saya baru bisa panen 3-4 bulan lagi. Saat ini masih dalam proses pemotongan batang untuk memperbanyak bibit aglonema,” kata Eko. Selain budidaya aglonema, Eko juga bekerja sebagai petani padi di desa. ”Saya lihat banyak warga di sini yang hidup layak dari budidaya tanaman hias. Dari situ, saya tertarik menggeluti usaha ini,” ucapnya. Ketua Kelompok Tani Aglonema Adipuro Sri Sejeki Margiono menuturkan, ada 90 rumah tangga di Kelurahan Adipuro yang mengembangkan budidaya tanaman hias. Para petani inilah yang memasok aglonema untuk diekspor perdana ke Turki. (Yoga)
Diduga Terdampak Cuaca, Produksi Kopi Menurun
Petani kopi di Sumsel mengeluhkan turunnya produksi kopi mereka. Joni Efendi (34), petani kopi di Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Sumsel, mengatakan, produksi kopinya merosot tajam. ”Biasanya dalam 1 hektar lahan saya bisa mendapatkan 1 ton biji kopi, tetapi tahun ini hanya 300 kg,” katanya. Penurunan ini diduga dipicu anomali cuaca dan tingginya harga pupuk. (Yoga)
MEMANEN MANISNYA AREN DI SARANG TIUNG
Baharuddin (60), warga Desa Sarang Tiung di kawasan Bukit Mamake, Pulau Laut Sigam, Kotabaru, memasak nira dengan waktu 4 jam dibantu Hasna, istrinya. Untuk membuat gula aren, nira yang baru dipanen dari pohon aren atau enau harus dimasak terlebih dahulu sampai kental dan berubah warna jadi kecoklatan. Desa tersebut terletak di utara Pulau Laut dan berjarak 10 kilometer dari pusat Kotabaru atau 320 km dari Banjarmasin. Mereka biasa memasak 20 liter nira setiap hari untuk menghasilkan 35 biji gula aren. ”Dalam sehari kami biasa membuat tujuh bungkus gula aren. Satu bungkus berisi lima buah gula aren dan dijual Rp 20.000 per bungkus,” ujar Bahar.
Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Aren Sarang Tiung, Syahrian, menyampaikan, ada cukup banyak pembuat gula aren di kawasan Bukit Mamake. Sebagian berada di Desa Sarang Tiung, sebagian lagi berada di Desa Tirawan. Mereka memanfaatkan nira dari pohon aren yang banyak tumbuh di kawasan Bukit Mamake. ”Aren adalah salah satu tanaman hutan yang dijaga dengan baik dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian,” katanya. Dari pohon aren tersebut, warga tak hanya memanen nira, tetapi juga memanen buah aren yang selanjutnya diolah menjadi kolang-kaling.
Menurut Syahrian, warga bisa menikmati aren dari hutan di Bukit Mamake karena ada izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan (IUPHKm) berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 5617/MENLHK-PS-KL/PKPS/PSLO/10/2017 tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hutan seluas 500 hektar pada kawasan lindung di Desa Sarang Tiung. IUPHKm tersebut diberikan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mutiara Sarang Tiung sehingga warga di sana tetap bisa memanfaatkan potensi hasil hutan bukan kayu, yaitu aren, yang sudah puluhan tahun dikembangkan masyarakat. ”Gula aren dari tempat kami sudah cukup terkenal di Kotabaru karena kualitasnya memang bagus,” ujarnya. (Yoga)
PABRIK GULA BARU : Swasembada Gula Tercapai 2024
Pemerintah memproyeksikan swasembada gula kristal putih dapat tercapai pada 2024 menyusul sejumlah strategi yang telah disiapkan termasuk dengan meningkatkan luas area tanam. Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian (Kementan) Ardi Praptomo mengatakan pemerintah menyiapkan dua strategi untuk merealisasikan target swasembada gula kristal putih. “Upayanya melalui upaya ekstensifikasi dan intensifikasi,” ujarnya saat Musyawarah Nasional (Munas) I Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo), Kamis (9/6). Dia menjelaskan pada strategi ekstensifikasi diperlukan perluasan lahan tebu seluas 75.000 hektare. Selain itu, lanjutnya, batas minimum produktivitas lahan adalah 85 ton per hektare dengan rendemen 8%-8,5%.
USAID dan Mars Bantu 9.000 Petani Kakao
Lembaga donor dari Amerika Serikat, USAID, dan PT Mars berkolaborasi mendorong pengembangan pertanian kakao berkelanjutan melibatkan 9.000 petani di Sulsel dan Sulteng. Setidaknya 7,2 juta USD (Rp 104 miliar) dikucurkan. Program ini diluncurkan di laboratorium pengembangan kakao Mars di Kabupaten Pangkep, Sulsel, Rabu (18/5). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









