Nanas Mahkota ”Jajah” Ibu Kota
Selama ini nanas mahkota yang berasal dari Kabupaten Siak,
Riau, hanya dijual mentah untuk diekspor ke berbagai negara. Itu pun hanya
nanas kualitas A (grade A) dengan berat lebih dari 1 kg. Sementara nanas grade
B dan grade C tidak bisa dimanfaatkan secara optimal lantaran tidak memiliki
pasar. Padahal, menurut periset Laboratorium Alam Siak Lestari, Wulan Suci
Ningrum, yang sekaligus perwakilan Pinaloka, kelompok usaha wanita dari empat
desa di Kabupaten Siak, Riau, Kamis (22/2) potensi nanas di Siak cukup tinggi. Terkait
itu, Kelompok Usaha Wanita Pinaloka bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari
(LTKL) dan Anomali Coffee berkolaborasi dalam pengembangan produk berbasis nanas
mahkota Siak untuk menembus pasar lebih luas, termasuk Ibu Kota Jakarta. Dari lahan
3.000 hektar, produksi nanas Siak mencapai 3.000 ton per tahun, 75 % diekspor, sisanya
untuk kebutuhan domestik.
Berangkat dari kegelisahan itu, pada 2023, pihaknya melakukan
inkubasi guna menggali manfaat yang terkandung di dalam nanas. Dari hasil riset
itu diketahui bahwa semua elemen pada nanas bisa diolah menjadi beragam produk
turunan. Daunnya bisa diolah jadi serat tenun, kulitnya untuk pupuk kompos,
sedang dagingnya bisa dimanfaatkan jadi sirop, selai, bahkan keripik. Dari
aspek lingkungan, nanas berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, terutama
menjaga lahan gambut dari ancaman kebakaran. Menurut dia, Jakarta menjadi pasar
yang potensial bagi hilirisasi. Selain jadi pusat ekonomi, Jakarta merupakan
etalase ideal untuk memperkenalkan nanas mahkota ke kancah nasional. Tembusnya
nanas Siak ke pasar Ibu Kota terbukti meningkatkan volume produk turunan
sehingga mendongkrak kesejahteraan petani. Wulan mencontohkan, saat di pasar
lokal, produksi sirop hanya 8 liter per bulan. Setelah menembus Ibu Kota, kebutuhan
sirop nanas meningkat jadi 80 liter per bulan.
Manajer Bisnis Berkelanjutan LTKL Aditya Mulya Pratama
menuturkan, potensi di Kabupaten Siak harus digaungkan dengan menggiatkan
inkubasi produk local terutama nanas. ”Peran kami menghubungkan petani dengan
mitra, salah satunya Anomali Coffee,” katanya. Dengan menggali produk turunan,
nilai komoditas terdongkrak, contohnya, nanas yang jika dijual mentah hanya Rp 3.000
per kg setelah diolah menjadi sirop atau selai nilainya bisa 10 kali lipat.
Karena itu, pihaknya mengajak pemda dan warga untuk membuat inkubasi UMKM untuk
mencari produk turunan pada komoditas potensial agar bisa mendatangkan
kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Dari hasil kurasi itu, didapati lima
menu, antara lain Pina Cake atau kue nanas panggang yang disajikan dengan krim
keju dan Aloha Siak dari krim kelapa dan nanas. Menu ini akan dipasarkan di 11
outlet di Jakarta, Bali, dan Makassar. Beragam menu itu diharapkan dapat
membuat nanas Siak diterima warga Ibu Kota. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023