;

Cengkeh dan Ikan yang Membingkai Maluku Utara

Cengkeh dan Ikan yang Membingkai Maluku Utara

Ratusan ribu pohon cengkeh menusuk kumpulan awan yang menutupi sebagian puncak Gunung Gamalama di Kota Ternate, Maluku Utara. Kelurahan Marikurubu, Kecamatan Ternate Tengah, adalah satu dari puluhan desa yang bergantung pada cengkeh dan pala. Sementara Pulau Obi, Halmahera Selatan, menjadi salah satu areal cengkeh terbesar di provinsi itu. Muhammad Saleh (74), warga Kelurahan Marikurubu, melihat beberapa cengkeh dan pala di lahan seluas 2 hektar miliknya, tak jauh dari rumahnya, Minggu (8/10), yang berada di lereng Gunung Gamalama dengan kemiringan 35 derajat. Sekali panen, Saleh mendapatkan 300 kg cengkeh dari 10-15 pohon. Cengkeh dihargai Rp 130.000-Rp 140.000 per kg. Tangkainya dihargai Rp 10.000 per kg. Tiap panen, ia meraup pendapatan Rp 40 juta hingga Rp 50 juta. Untuk memanen, Saleh mempekerjakan buruh petik selama 4-5 hari dengan upah Rp 150.000 per hari. Berkat cengkeh dan pala, Saleh yang berpendidikan SMA ini mampu menghidupi istri dan enam anaknya, juga membangun rumah.

Sebelum triwulan III-2021, perekonomian Maluku Utara didukung sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Namun, kontribusi itu terus menurun. Pada 2020, kontribusi sektor pertanian terhadap lapangan kerja 46 %, tetapi di awal 2023 turun menjadi 25 %. Sementara kontribusi pertambangan dan pengolahan terhadap lapangan kerja naik dari 7 % pada 2020 menjadi 25,62 % pada 2023. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Halmahera Tengah Badar Manawi mengatakan, potensi kelautan untuk wisata maupun peruikanan tangkap menunjukkan masyarakat tidak harus bergantung pada pertambangan. Ia risau ketika industri ekstraktif merusak lingkungan.  Mitra Lingkungan Malut Siti Barora mengatakan, kehadiran industri pertambangan dan pengolahan melalui skema Proyek Strategis Nasional acap kali memicu perubahan tata ruang, dimana zona pertanian dialihkan menjadi zona pertambangan. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :