AGROFORESTRI DAN HARAPAN SEJAHTERA DI BATUTEG
Dari jalan setapak, isi Hutan Lindung Batutegi, Lampung,
mulai tersingkap. Tanaman kopi robusta berjajar di sela-sela pepohonan.
Bunganya bermekaran dan wangi semerbak, pertanda kopi siap berbuah. Di gubuk
perkumpulan berdinding kayu, sejumlah petani anggota Gabungan Kelompok Tani
(Gapoktan) Sumber Makmur berkumpul, Jumat (15/9). Mereka bersiap mengikuti
sekolah lapangan yang difasilitasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia
(YIARI). Beberapa petani menunjukkan hasil pupuk organik yang telah dibuat. Pupuk
siap digunakan, tetapi mereka harus menunggu hujan untuk memupuk tanaman. Bahan
untuk membuat pupuk organik salah satunya adalah kotoran dan air seni kambing. Petani
juga menyiapkan lahan persemaian secara mandiri. Salah satu bibit yang
disiapkan adalah pinang dan pala.
Uniknya, mereka tidak menggunakan plastik polybag untuk
menaruh bibit semai, melainkan bambu yang banyak tumbuh di sekitar hutan untuk
membuat wadah. Kantong bibit dari bahan bambu itu bisa ikut ditanam karena ramah
lingkungan. Sri Atmiatun (43) bahkan menyiapkan buku khusus untuk mencatat
materi pelajaran, terutama bahan-bahan untuk membuat formula pupuk organik dan
pestisida nabati. Sri membawa beberapa contoh pupuk cair dan pestisida nabati
buatannya. ”Saya sudah pernah menggunakan pupuk organik dan sudah mulai kelihatan
bedanya. Daun tanaman jadi lebih mengilap. Pohon kopi yang terserang hama
penyakit juga sembuh setelah diberi pestisida nabati dan pupuk organik,” kata
Sri. Menurut Sri, hasil panen kopi robusta di lahan yang ia garap merosot tajam
dalam dua tahun terakhir karena cuaca ekstrem. Banyak tanaman yang mati akibat terserang
hama. Hasil panen kopi yang biasanya bisa mencapai 1 ton per hektar anjlok menjadi
hanya 2-3 kuintal.
YIARI mengadakan kegiatan sekolah lapang sejak September 2022.
Petani diajarkan membuat pupuk organik dan pestisida nabati dengan memanfaatkan
bahan-bahan yang ada di sekitar hutan. Selain murah dan mudah, petani juga
menjadi lebih mandiri. Penerapan pola tanam agroforestri juga membuat petani tak
lagi bergantung pada tanaman kopi. Saat panen kopi terpuruk seperti tahun lalu,
petani tetap mendapat penghasilan dari menjual pisang, pala, jengkol, durian,
atau kemiri. Salah satu petani yang telah menikmati hasil agroforestri di
kawasan hutan lindung Batutegi adalah Purwanto (43). Di lahan yang ia garap,
ada 500 batang pohon kemiri. Setiap bulan, ia bisa menjual 3-4 kuintal kemiri.
Hasilnya paling sedikit Rp 3 juta dari satu jenis tanaman. Selain kemiri,
Purwanto juga mengandalkan pohon jengkol, durian, pisang, dan kopi. Ia juga
memelihara kambing dan tertarik memanfaatkan kotorannya untuk pupuk seperti
petani lain di hutan itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023