Kredit
( 575 )Alokasi KUR di Sumsel Naik Dua Kali Lipat
Kepala OJK Regional VII Sumatera Bagian Selatan Untung Nugroho, Selasa (25/1/2022), mengatakan, alokasi kredit usaha rakyat (KUR) naik dari Rp 4,4 triliun pada 2021 menjadi Rp 8 triliun tahun ini. Gubernur Sumsel Herman Deru berharap, alokasi KUR diimbangi dengan pengenalan terhadap literasi keuangan. (Yoga)
Penyaluran Kredit Bakal Terakselerasi
Berdasarkan Survei Perbankan Triwulan IV-2021 yang dirilis BI pekan lalu, responden memperkirakan pertumbuhan kredit 2022 mencapai 8,7 %, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit 2021, sebesar 5,2 %. Optimisme tersebut, didorong kondisi moneter ekonomi yang stabil serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit. Dirut PT BNI (Persero) Tbk Royke Tumilaar menjelaskan, pihaknya menargetkan pertumbuhan kredit 7,5 % tahun 2022. BNI menyiapkan rencana strategis, baik organik maupun anorganik, untuk mengoptimalkan ekspansi kredit tahun ini. BNI juga menjalankan beberapa aksi korporasi, seperti penerbitan surat utang, saham, dan akuisisi bank. Tahun ini, BNI meningkatkan upaya menggarap segmen UMKM agar naik kelas dan menembus pasar ekspor dengan program pembinaan serta kemitraan bisnis di BNI Xpora, program BNI khusus untuk nasabah dunia usaha berorientasi ekspor.
Dirut PT BRI (Persero) Tbk Sunarso menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini 8-10 persen. BRI, kata Sunarso tetap fokus pada penyaluran kredit UMKM yang potensinya masih sangat besar. Hasil riset tentang usaha ultramikro (UMi) di Indonesia menunjukkan ada 45 juta pelaku usaha UMi per akhir tahun 2019, dan baru 15 pelaku usaha ultramikro yang tersentuh layanan keuangan formal dari bank atau tekfin. Artinya, ada 30 juta pelaku UMi yang tergantung pendanaannya kepada rentenir, kerabat, dan belum sama sekali terjangkau lembaga keuangan. Untuk mengoptimalkan penyaluran kredit ke segmen ultramikro, BRI melakukan efisiensi jaringan bersama PNM dan Pegadaian selaku anggota Holding Ultra Mikro. Efisiensi dilakukan melalui program Sentra Layanan Ultra Mikro atau SenyuM, yang membuat BRI, PNM, dan Pegadaian bisa secara efektif memberdayakan pelaku usaha ultramikro yang unbankable. (Yoga)
Porsi Besar Kredit UMKM
Sektor usaha mikro kecil dan menengah menjadi salah satu sasaran utama peningkatan penyaluran kredit pada tahun ini. Pemangku kepentingan menyiapkan sejumlah kebijakan agar kredit yang disalurkan dapat mengungkit ekonomi bangsa ke depan. Dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan pada Kamis (20/1), Presiden Joko Widodo menegaskan lagi komitmennya untuk menjadikan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai motor pemulihan dan penggerak ekonomi. Pembiayaan kepada UMKM, kata Presiden, tidak dapat sekadar mengandalkan model pertumbuhan alamiah.
“Kredit kepada UMKM masih di kisaran 20% saja. Target 2024 sudah bisa mencapai 30% porsi UMKM dan tidak bisa mengandalkan pertumbuhan alamiah. Ini harus dijalankan dengan terobosan dari sekarang dan serius,” ujar Kepala Negara. Mengutip data Bank Indonesia, rata-rata porsi kredit UMKM terhadap total pembiayaan nasional di kisaran 18%. Sampai dengan November 2021, nilai kredit UMKM yang disalurkan sebesar Rp1.056,1 triliun. secara akumulasi, kredit UMKM tumbuh 3,1% dibandingkan dengan periode yang sama 2020.
Jamkrindo Jamin KUR Rp 130,3 Triliun
Sepanjang 2021, Jamkrindo merealisasikan penjaminan KUR sebesar Rp 130,3 triliun, naik dari tahun lalu Rp 90,4 triliun. Dirut PT Jamkrindo Putrama Wahju Setyawan (18/1), mengatakan, pihaknya senantiasa berinovasi secara prudent dalam memberikan layanan bagi UMKM. ”Program KUR merupakan program yang sangat strategis untuk memperkuat kemampuan permodalan usaha dan pemberdayaan UMKM,” ujarnya. (Yoga)
Perbankan Siap Salurkan Kredit Usaha Rakyat Rp 373,17 Triliun
Kemenko Bidang Perekonomian menetapkan kuota KUR 2022 menjadi Rp 373,17 triliun dengan suku bunga tetap 6 %, dari Rp 285 triliun pada 2021. Realisasi KUR diharapkan dapat menggairahkan aktivitas UMKM dan mendorong pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi Covid-19. Sekretaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Rudi As Aturridha (16/1) menjelaskan, Bank Mandiri tahun ini kembali dipercaya pemerintah untuk menyalurkan KUR yang menyasar pelaku UMKM dari berbagai sektor yang memenuhi persyaratan, dengan kuota Rp 40 triliun, meningkat dari tahun lalu, Rp 35 triliun.
PT BRI (Persero) Tbk tahun ini mendapat alokasi penyaluran KUR Rp 260 triliun atau 70 % total alokasi KUR nasional tahun ini. Tahun lalu BRI menyalurkan KUR Rp 194,9 triliun kepada 6,5 juta debitor. Wadirut BRI Catur Budi Harto mengatakan, pihaknya optimistis kapasitas dan kemampuan BRI dapat mengantarkan perseroan mencapai target penyaluran KUR tersebut. Kedepan, BRI terus berfokus pada segmen mikro sebagai bisnis utama pertumbuhan pinjaman KUR. Dengan menyalurkan kredit ke sektor produktif, diharapkan dapat memperkuat pemulihan ekonomi nasional. (Yoga)
Kredit Konsumsi Kembali ke Masa Sebelum Pandemi
Belanja masyarakat mulai pulih dan terus naik seiring pemulihan ekonomi. Hal ini menjadi kesempatan perbankan memacu kredit konsumsi tahun ini. Alhasil, penyaluran kredit konsumsi terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan penyaluran kredit konsumsi hingga kuartal III-2021 sudah mencapai Rp 1.583,6 triliun, tumbuh 2,95% year on year (yoy). Angka tersebut sudah melampaui penyaluran kredit sebelum pandemi. Tahun 2019 penyaluran kredit konsumsi tercatat Rp 1.559,26 triliun. Penyaluran kredit konsumsi diperkirakan akan terus membumbung, Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit konsumsi naik dari 3,8% yoy pada Oktober 2021 menjadi 4,2% yoy pada bulan berikut.
Dari sisi KPR, Bank Tabungan Negara (BTN) yakin pembiayaan perumahan dapat tumbuh lebih tinggi dengan bertumpu pada KPR subsidi dan non-subsidi. Bank mengembangkan ekosistem digital perumahan dalam proses bisnisnya. Bank pelat merah ini juga menggandeng platform jual beli berbasis teknologi, penambahan fitur anyar pada aplikasi mobile banking hingga membangun aplikasi baru. Hingga Oktober 2021, Bank BTN telah menyalurkan kredit senilai Rp 271,8 triliun, naik 6,06% secara yoy. Direktur Consumer and Commercial Lending Bank BTN Hirwandi Gafar Direktur mengatakan, pertumbuhan kredit properti cenderung stabil. Laju tersebut ditopang penyaluran KPR subsidi dan KPR non-subsidi.
Kredit Bermasalah Pinjaman Daring Rendah
Tak seperti kualitas kredit pada peminjaman daring ilegal, tingkat pinjaman macet dari platform peminjaman daring atau online yang sudah memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih relatif baik. Angka tingkat keberhasilan bayar (TKB) masih berada di atas 90 persen. ”Kualitas kredit terlihat dalam TKB rata-rata di atas 90 persen. Mereka memperhatikan kualitas penyaluran kredit dengan baik,” kata Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Idscore Yohanes Abimanyu, Kamis (21/10/2021). Pefindo Biro Kredit IdScore merupakan Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan. Idscore menghimpun data kredit dari Lembaga keuangan dan data nonkredit dari beberapa instansi publik yang telah bekerja sama untuk menjadi sumber data. Data IdScore sudah menghimpun 90 juta data kredit debitor.
Penyaluran Kredit Tumbuh, Profit BPD Masih Melejit
Sejumlah bank pembangunan daerah mampu mendulang laba hingga sepanjang paruh pertama tahun ini. Masih tumbuhnya permintaan kredit menopang kinerja bisnis bank-bank milik pemerintah daerah di tengah pandemi Covid-19.Dari data yang dikumpulkan, setidaknya terdapat Sembilan bank pembangunan daerah (BPD) yang telah melaporkan kinerja keuangan untuk periode semester I/2021. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, misalnya mampu mencetak pertumbuhan laba sebelum pajak hingga dua digit hingga Juni 2021.Direktur Keuangan Bank Jateng Dwi Agus Pramudya mengatakan bahwa perseroan membukukan kenaikan laba sebelum pajak cukup tinggi yakni 16,01% secara tahunan. Laba sebelum pajak per 30 Juni 2020 sebesar Rp937,02 miliar menjadi Rp1,09 triliun per 30 Juni 2021.Akan tetapi, laba bersih tercatat turun sebesar 2,13% menjadi Rp848,47 miliar pada periode tersebut. Dwi Agus menjelaskan laba setelah pajak yang turun karena pada periode interim 30 Juni 2021, perseroan tidak membukukan pajak tangguhan yang berasal dari koreksi fiskal beda waktu.
Dia menjelaskan kenaikan laba sebelum pajak yang cukup besar ditopang oleh pendapatan yang tumbuh 4,7%, sedangkan biaya hanya tumbuh 0,7%. Selain itu, selisih bunga bersih atau net interest margin (NIM) terjaga di 5,7% meskipun secara tahunan turun 0,3%.“Di semester II kami mengharapkan laba bisa tercapai sesuai RBB , minimal tumbuh 10%,” katanya.Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Yuddy Renaldi menyatakan hingga pertengahan 2021, total kredit yang berhasil disalurkan oleh BJB tumbuh hingga 6,8%. Kredit perseroan, katanya ditopang oleh kredit konsumer yang juga tumbuh sebesar 4,2%, kredit komersial tumbuh 18,8%. Namun, segmen kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turun 3,8%.
(Oleh - HR1)Kinerja Bank Daerah, Kredit BPD Moncer
Beberapa bank pembangunan daerah mencatat pertumbuhan kredit signifikan, di tengah kondisi perekonomian nasional yang belum pulih akibat terdampak pandemi Covid-19.
Lonjakan kredit beberapa bank pembangunan daerah (BPD) itu secara langsung mendongkrak perolehan laba perseroan pada semester I/2021.Saat ini, ada lima BPD yang merilis kinerja keuangannya. Salah satunya, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (Bank BJB) yang membukukan pertumbuhan laba 14,42% year-on-year (YoY) menjadi Rp924,42 miliar per 30 Juni 2021.Sektor kredit merupakan ujung tombak perseroan dalam mendongkrak pendapatan. Kredit bank tercatat tumbuh 6,7% YoY menjadi Rp91,25 triliun.Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi mengatakan perseroan sebenarnya mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sekitar 7,3% - 7,4% pada akhir Juni 2021. Namun, dia menyatakan kredit hanya tumbuh 6,7% karena ada pelunasan satu debitur besar senilai Rp1 triliun pada akhir bulan lalu.
Selain Bank BJB, BPD lain juga mencatatkan pertumbuhan kredit yang melampaui rata-rata industri seperti Bank Nagari yang tumbuh 7,02%, diikuti Bank Lampung sebesar 5,80%, Bank Sulutgo sebesar 3,76%, dan Bank Sumut 2,97% YoY.Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit yang disalurkan perbankan pada Juni 2021 tumbuh 0,4% YoY, berbalik arah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang -1,3% yoy.
(Oleh - HR1)
Kredit ke Ekonomi Hijau Capai Rp 809,75 T
Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) mencatat realisasi penyaluran kredit
ke sektor ekonomi berorientasi hijau (green
loans) mencapai US$ 55,9 miliar atau setara
Rp 809,75 triliun. Diharapkan penyaluran
tersebut terus meningkat untuk mendukung
implementasi keuangan berkelanjutan.
Ketua Dewan Komisioner
OJK Wimboh Santoso menyampaikan, pandemi Covid-19 yang
terjadi di seluruh belahan dunia
telah memicu krisis ekonomi
yang sifatnya extraordinary.
Namun demikian, pandemi telah
meningkatkan kesadaran akan
pentingnya aspek lingkungan,
sosial, dan tata kelola (ESG)
sehingga investasi berkelanjutan
menjadi lebih diminati.
Stakeholder telah merespons
kebijakan-kebijakan OJK dalam
bidang keuangan berkelanjutan
melalui terbentuknya Inisiatif
Keuangan Berkelanjutan Indonesia, saat ini terdiri atas
13 bank dan PT Sarana Multi
Infrastruktur (SMI), yang telah
siap mendukung implementasi
keuangan berkelanjutan.
“Penyaluran kredit/pembiayaan kepada sektor-sektor
ekonomi berorientasi hijau sebesar lebih dari Rp 800 triliun, yang
diharapkan akan terus berkembang setelah adanya taksonomi
hijau yang sedang disusun,” ucap
Wimboh dalam gelaran ESG
Capital Market Summit 2021
secara daring, Selasa (27/7).
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
China : Cuci Uang dengan Kripto
21 Jun 2021 -
Kapal Tangkap Ikan Indonesia Ditertibkan
17 Jun 2021 -
Biaya Tarik Tunai ATM Link Dibatalkan
17 Jun 2021 -
Setoran Dividen BUMN Bisa Rp 35 Triliun
16 Jun 2021









