Kredit
( 575 )PENYALURAN PEMBIAYAAN : DIGIT BARU KREDIT KORPORASI
Penyaluran kredit sektor korporasi oleh perbankan pada April 2022 mengalami pertumbuhan jumbo mencapai 10,3% secara year-on-year atau tertinggi dalam 36 bulan terakhir. Tren pertumbuhan tinggi akan berlanjut jika ekonomi berangsur pulih. Pertumbuhan dobel digit itu hanya berselang 7 bulan setelah pembiayaan golongan debitur kakap tersebut mengalami ‘siuman’ dari kondisi sulit akibat pandemi Covid-19. Sebagai gambaran, penyaluran kredit korporasi pertama kalinya menyentuh zona positif pada Oktober 2021 setelah periode mengalami kontraksi pada September 2020—Agustus 2021 akibat pandemi Covid-19. Jika dilihat golongannya, penyaluran kredit korporasi pada April berhasil melampaui pertumbuhan kredit debitur perorangan yang selama masa pandemi relatif terjaga dan berada di jalur yang positif. Laju kredit itu menjadi sinyal baik terhadap prospek ekonomi ke depan. Berdasarkan data analisis uang beredar yang dirilis Bank Indonesia, pembiayaan kepada korporasi mencapai Rp3.049,4 triliun mewakili lebih dari 51% dari total kredit perbankan senilai Rp5.969,1 triliun sampai April 2022. Pertumbuhan kredit korporasi juga terpantau positif pada bank daerah. Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Yuddy Renaldi mengatakan laju kredit segmen korporasi sampai dengan April 2022 tumbuh 37,8% YoY. Total penyaluran kredit secara keseluruhan tumbuh 9,6% YoY.
Sektor Pertambangan dan Manufaktur Dorong Pertumbuhan Kredit
Otoritas jasa keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan per April 2022 tumbuh 9,1% secara year on year (yoy) atau 3,69% year to date (ytd), meningkat signifikan dibandingkan Maret yang tumbuh 6,67% (yoy). Secara sektoral, kredit sektoral pertambangan dan manufaktur mencatat kenaikan terbesar dan mendorong pertumbuhan. Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo mengungkapkan, perkembangan sektor keuangan tetap stabil terjaga dengan kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan yang terus meningkat dan semakin terkontribusi terhadap berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional, ditengah meningkatnya ketidakpastian global, "Secara sektoral, kredit sektor pertambangan, dan manufaktur mencatatkan kenaikan terbesar secara month to month masing-masing sebesar sebesar Rp 21,5 triliun dan Rp20,8 triliun," jelas Anto dalam keterangannya, Kamis (26/5).
Kuartal II, Penyaluran Kredit Bakal Meningkat
Survey Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa penyaluran kredit baru pada periode kuartal II-2022 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal ini terindikasi dari saldo bersih tertimbang (SBT) pada April sebesar 79%, lebih tinggi dari 52,9% pada kuartal I. Dari jenis penggunaannya, panyaluran kredit baru juga terindikasi tumbuh lebih tinggi pada seluruh jenis kredit. Untuk kebijakan penyaluran kredit baru pada kuartal II-2022, secara umum lebih longgar dari kuartal sebelumnya. Kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar terutama pada KPR dan kredit konsumen lainnya. Menanggapi hal itu, Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk BNI Novita Widya Anggraini juga memprediksikan pada kuartal II tahun ini permintaan kredit bisa lebih tinggi. "Pada kuartal II, kami telah menyiapkan langkah-langkah stratgis untuk memastikan pertumbuhan kredit dengan berfokus pada debitur top tier dan mengoptimalkan transaksi dari seluruh value chain nasabah, serta sinergi dengan perusahaan anak," jelas Novita. (Yetede)
Kredit dan Pemulihan
Pada triwulan pertama tahun ini sebagian besar bank mencatat pertumbuhan laba bersih puluhan persen. Bahkan, tiga bank berstatus BUMN, yakni BRI, Bank Mandiri, dan BNI, mencatat pertumbuhan laba bersih di atas 50 % dibandingkan periode sama tahun lalu. BRI mencatat pertumbuhan laba bersih 78,13 % menjadi Rp 12,22 triliun, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba bersih 69,52 % menjadi Rp 10,03 triliun, dan BNI mencatat pertumbuhan laba bersih 63,11 % menjadi Rp 3,96 triliun. Sementara bank BUMN lainnya, yakni BTN, mencatat pertumbuhan laba bersih 23,89 % menjadi Rp 774 miliar. Pertumbuhan laba yang signifikan juga dicatat bank-bank swasta. Bank swasta terbesar di Tanah Air, BCA, mencatat pertumbuhan laba bersih pada triwulan pertama tahun ini sebesar 14,56 % menjadi Rp 8,06 triliun. Lonjakan laba perbankan tersebut ditopang oleh berbagai faktor, diantaranya penyaluran kredit perbankan yang mulai pulih selama triwulan I-2022. Data OJK menyebutkan, sampai Maret 2022, penyaluran kredit industri perbankan bertumbuh 6,65 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan likuiditas perbankan yang melimpah berkat pelonggaran moneter oleh BI selama pandemi Covid19, perbankan dengan leluasa melakukan ekspansi kredit saat aktivitas perekonomian kembali menggeliat.
Kinclongnya bisnis bank juga tak terlepas dari makin pulihnya perekonomian nasional. Seperti halnya cermin, penyaluran kredit perbankan adalah refleksi dari menggeliatnya dunia usaha dan konsumsi masyarakat yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Kalaupun BI akhirnya menaikkan suku bunga acuan, penyaluran kredit juga masih bisa tumbuh sepanjang perbankan tidak menaikkan suku bunga dana dan suku bunga kredit. Melimpahnya likuiditas memungkinkan perbankan tidak menaikkan suku bunga dana seperti deposito. Jika bunga dana tidak naik, maka bunga kredit kemungkinan juga tidak akan naik. Menaikkan suku bunga kredit saat ini tentu akan menjadi kontra produktif bagi upaya pemulihan ekonomi. Untuk mendorong pertumbuhan, perekonomian nasional masih membutuhkan bunga kredit yang rendah. (Yoga)
Penyaluran KUR BNI Capai Rp 11,3 Triliun
Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Sis Apik Wijayanto, Minggu (22/5) menjelaskan, penyaluran KUR BNI per April 2022 mencapai Rp 11,3 triliun atau meningkat 14% dibanding periode yang sama tahun lalu. Capaian itu setara dengan 29,7 % dari total alokasi KUR BNI tahun ini sebesar Rp 38 triliun. (Yoga)
Kredit dan Efisiensi Topang Kinerja Bank Mandiri
Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 10 triliun selama triwulan I-2022, tumbuh 70 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian laba bersih tersebut ditopang pertumbuhan penyaluran kredit di seluruh segmen dan peningkatan efisiensi operasional berkat digitalisasi proses layanan. Sampai akhir Maret 2021, total penyaluran kredit Bank Mandiri sebagai grup Rp 1.073 triliun, bertumbuh 8,93 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit ini tercatat di semua segmen dan juga penyaluran pembiayaan pada anak-anak usaha Bank Mandiri. Segmen kredit terbesar ialah kredit korporasi yang berkontribusi 35,13 % total kredit Bank Mandiri, bertumbuh 6,1 % secara tahunan menjadi Rp 377 triliun. Penyaluran kredit segmen komersial berkontribusi 16,12 % total kredit bertumbuh 9,1 % menjadi Rp 173 triliun. Kredit UKM berkontribusi 5,77 % total kredit Bank Mandiri bertumbuh 11 % menjadi Rp 62 triliun, sedangkan kredit mikro berkontribusi 12,76 % total kredit Bank Mandiri bertumbuh 11,1 % menjadi Rp 137 triliun.
Penyaluran pembiayaan dari anak-anak usaha Bank Mandiri, antara lain Bank Syariah Indonesia (BSI), Mandiri Tunas Finance, dan Mandiri Utama Finance, juga mencatat pertumuhan. Sampai triwulan pertama tahun ini, perusahaan-perusahaan anak Bank Mandiri mencatat pembiayaan sebesar Rp 231 triliun, bertumbuh 11,9 % secara tahunan. Kontribusi perusahaan anak ini 21,52 % total kredit Bank Mandiri. Kinerja penyaluran kredit mendorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih Bank Mandiri sebesar 17,1 % menjadi sebesar Rp 20,5 triliun. Pada saat bersamaan, operasionalisasi Bank Mandiri juga makin efisien. Hal ini tecermin dari rasio beban operasional pendapatan operasional (BOPO) yang mencapai 56,37 %, menurun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 71,38 %. Dirut Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan, pencapaian tersebut merupakan hasil dari eksekusi strategi secara disiplin dan prudent yang dimaksimalkan perseroan dalam dua tahun terakhir. Meluasnya penggunaan digital dalam operasionalisasi dan layanan perbankan telah meningkatkan efisiensi yang juga memperluas penyaluran kredit kepada debitor. (Yoga)
Kredit ke Sektor Ekonomi Hijau Ditingkatkan
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatat ada Rp 6,1 triliun rencana proyek korporasi dengan kegiatan usaha ekonomi hijau berwawasan lingkungan pada triwulan pertama tahun ini. Nilai itu sebagian merupakan kredit yang telah disalurkan dan sebagian lainnya sedang dalam proses perjanjian kredit. Segmen pendanaan hijau yang mendapat penyaluran kredit ini antara lain sektor energi terbarukan, pembangunan gedung berwawasan lingkungan, dan transportasi ramah lingkungan.
Direktur Corporate Banking BNI Silvano Rumantir menyampaikan, tren investasi perlahan membaik di awal tahun ini, khususnya dari segmen debitor korporasi berwawasan lingkungan. Selain memberikan prioritas kepada debitor yang melaksanakan kegiatan usaha berkelanjutan, BNI juga memandang banyak proyek yang berpotensi mendukung sumber pertumbuhan kinerja kredit perseroan tahun ini.
Tak hanya memberikan pendanaan ke sektor ekonomi hijau, perbankan juga bertransformasi melakukan kegiatan usahanya menjadi berwawasan lingkungan. Upaya itu dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sehingga tergolong dalam indeks ESG (environmental, social, and governance) Leaders. Indeks yang diterbitkan BEI ini berisi 30 emiten yang menerapkan ESG terbaik. Direktur Kepatuhan BRI Ahmad Solichin Lutfiyanto mengungkapkan, perusahaan senantiasa bersinergi untuk menunjang prinsip keuangan berkelanjutan. (Yoga)
Restrukturisasi Kredit Turun
Restrukturisasi kredit perbankan terus mencatatkan penurunan sebagai dampak perekonomian yang kian membaik sehingga debitor bisa kembali mengangsur dan menyelesaikan kewajibannya. Perkembangan itu membuat mereka keluar dari daftar yang menjalani program restrukturisasi. Mengutip data OJK sampai Februari 2022, restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp 638,21 triliun, menurun 4,63 % dibanding Januari 2022 sebesar Rp 654,64 triliun. Besaran restrukturisasi Februari 2022 menurun 23,08 % dibandingkan puncak restrukturisasi Desember 2020 sebesar Rp 829,71 triliun.
Restrukturisasi kredit bank Februari 2022 masih didominasi debitor non UMKM sebesar Rp 393,43 triliun atau 61,65 % total restrukturisasi, sisanya berasal dari restrukturisasi kredit debitor UMKM Rp 244,77 triliun atau 38,35 % total restrukturisasi. Restrukturisasi kredit bank Februari 2022 melibatkan 3,69 juta debitor, menurun 59,04 % total debitor sebanyak 6,25 juta debitor pada Desember 2020. Artinya, 2,56 juta debitor sudah menyelesaikan kewajibannya sehingga dicoret dari daftar debitor yang mengikuti program restrukturisasi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan, nilai restrukturisasi kredit perbankan kian melandai, disebabkan perekonomian yang berangsur pulih seiring kembalinya aktivitas ekonomi masyarakat buah dari pengendalian jumlah kasus Covid-19. Sekretaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha mengatakan, hingga Februari 2022 portofolio kredit restrukturisasi debitur terdampak Covid-19 mencapai Rp 67 triliun yang terdiri dari segmen wholesale Rp 32 triliun dan ritel Rp 35 triliun. Sejalan dengan ekonomi yang membaik, tren tersebut terus menurun dibandingkan posisi akhir tahun 2021 lalu. (Yoga)
Kredit Bank Jago Capai Rp 5,37 Triliun
Hingga akhir 2021, posisi kredit Bank Jago mencapai Rp 5,37 triliun, bertumbuh 491 % dari 2020 sebesar Rp 908 miliar. Penyaluran kredit ditopang oleh kerja sama Bank Jago dengan sejumlah entitas ekosistem digital, seperti perusahaan teknologi finansial (tekfin) pinjaman antarpihak dan perusahaan pembiayaan. Demikian disampaikan Dirut Bank Jago Kharim Siregar, Jumat (11/3). (Yoga)
Geliat Permintaan Kredit: Bank Jaga Rasio NIM
Sukses mengarungi kinerja pada 2021, industri perbankan nasional berupaya menjaga pertumbuhan pada tahun ini. Prospek permintaan kredit yang ditopang oleh melimpahnya likuiditas memberi ruang bagi bank untuk menjaga rasio bunga bersihnya. Dari beberapa bank yang sudah menyampaikan laporan keuangan 2021, rata-rata selisih bunga bersih atau net interest margin (NIM) terjaga di level stabil 4%—6%. Artinya, persentase itu tidak jauh dari rata-rata NIM pada 2019 dan 2020. Data Bisnis Indonesia Resource Center (BIRC) mencatat rata-rata NIM bank pada 2020 sebesar 4,08% dan sebelumya (2019) di 4,56%. Hal ini menggambarkan bank mampu mengelola keuntungan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19 dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Sebagai pembanding, penyaluran kredit pada 2020 mengalami kontraksi lebih dari 2%, sementara NIM bank terjaga di kisaran 4%.
Pilihan Editor
-
Industri Sepeda, Penjualan Mulai Melambat
08 Jun 2021









