;
Tags

Kredit

( 575 )

TKBI Diperluas di Tiga Sektor Ekonomi

KT1 08 Jan 2025 Investor Daily masuknya
OJK  bakal meluncurkan Taksonomi untuk keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) versi 2 pada Februari 2025, yang mencakup sektor construction & real estate, transportation & storage, dan sebagian agriculture, forestry, & other land use. Artinya, TKBI  diperluas dari tadinya hanya sektor energi. Ketua Dewan Komisoner OJK Mahendra Siregar menyampaikan, TKBI dikembangkan dengan konsep rumah tumbuh. Pada versi 1 yang telah dilunucrkan pada Februari 2024, kerangka utama dirancang hanya untuk sektor energi. "Dalam waktu dekat ini, kami harapkan Februari 2025 akan terbit versi kedua, yang mencakup sektor construction & real estate, transportatio & storage, dan sebaian agriculture, forestory, & other and land use," ungkap Mahendra. Namun demikian, dia tidak menyebut "kredit konsumsi" untuk TKBI versi 2, seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam catatan Investor Daily yang mengacu consultative paper OJK, kredit konsumsi yang dimaksud dapat mencakup kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit kepemilikan rumah (KPR), asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi rumah utnuk masuk dalam jenis kredit/pembiayaan atau asuransi yang berkelanjutan. (Yetede)

Pemerintah Menetapkan Target Penyaluran KUR sebesar Rp 300 Triliun pada Tahun Depan

KT1 26 Dec 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah menetapkan target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 300 triliun pada tahun depan, dengan mempertimbangkan kecukupan anggaran subsidi bunga/subsidi margin KUR tahun anggaran 2025. Adapun fokus penyaluran KUR kepada seluruh debitur baru diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha UMKM di Tanah Air. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), realisasi penyaluran KUR hingga 23 Desember 2024 mencapai Rp280,28 triliun atau 100,10% dari target tahun 2024. Angka ini tumbuh sebesar 7,8% secara year on year (yoy) dan disalurkan kepada 4,92  juta debitur. Komposisi penyaluran KUR didominasi oleh sektor produksi yang mencapai 57,8% dari total penyaluran, menunjukkan keberhasilan KUR dalam mendorong pertumbuhan sektor riil dan UMKM. (Yetede)

Industri Perbankan Masih Akan Dihadapkan Sejumlah Tantangan ke Depan

KT1 23 Dec 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan masih akan dihadapkan sejumlah tantangan ke depan, salah satunya daya beli masyarakat yang belum membaik.  Hal tersebut pada akhirnya bisa berdampak pada permintaan kredit yang tertekan pada 2025. Sementara itu, pemerintah juga telah menetapkan kebijakan pajak PPN 12% berlaku mulai 1 Januari 2025. Kebijakan ini diperkirakan mampu menyerap hingga Rp 75 trilun pendapatan negara, namun kekhawatiran akan berdampaknya pada kesejahteraan masyarakat tetap tinggi. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, tahun depan masih dihadapkan dengan tantangan daya beli masyarakat yang lemah, meskipun ada kebijakan lain yaitu upah minimum provinsi (UMP) naik 6,5%. Sehingga untuk pertumbuhan kredit  juga akan lebih  berat bagi perbankan, apabila tidak ada permintaan dari nasabah. "Karena kalau memang daya beli rendah, orang sedikti belanja, belanja UMKM maupun komersial pabrik semua juga pada sepi. Biasanya enggak perlu kredit, nah jadi kreditnya agak berat gitu. Segmennya UMKM, komersial, konsumer juga kalau lihat KKB (kredit kendaraan bermotor) itu keliahatannya akan lebih soft," ucap Jahja. (Yetede)

Insentif Tidak Memadai Sebagai Kompensasi Terkait Penaikan PPN

KT1 17 Dec 2024 Investor Daily (H)
Pemerintah akhirnya mengambil alih kompromi atau jalan tengah terkait kebijakan penaikan PPN menjadi 12% mulai 1 Januari 2025. Kebijakan itu tetap dilaksanakan, namun secara bersamaan pembebasan PPN untuk sejumlah kebutuhan pokok dipertahankan bahkan berbagai stimulus ekonomi tambahan diberikan. Kebijakan itu tidak ditunda seperti yang diminta oleh banyak pihak, karena pemerintah harus mendogkrak pendapatan  negara guna membiayai sejumlah program prioritas  seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Sedangkan pembebasan PPN sejumlah kebutuhan pokok dan stimulus tambahan diberikan karena pemerintah juga perlu melindungi daya beli masyarakat yang belakangan terus turun. Namun demikian, insentif yang diberikan oleh pemerintah itu dinilai belum cukup mamadai sebagai 'kompensasi' atas tambahan beban masyarakat dan industri akibat penaikan tarif PPN menjadi 12%. Ini dikarenakan insentif tersebut bersifat sementara -ada yang hanya dua bulan- sementara kenaikan tarif PPN menjadi 12% bersifat permanen. (Yetede)

Kredit untuk Sektor Unggulan Jadi Prioritas

HR1 14 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)
Industri perbankan di Indonesia diprediksi mendapatkan momentum pertumbuhan pada 2025 dengan adanya peluang penurunan suku bunga acuan serta peningkatan insentif dari pemerintah dan lembaga terkait. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menilai bahwa kebijakan moneter yang longgar dapat meningkatkan permintaan kredit, terutama di sektor-sektor prioritas seperti manufaktur, pariwisata, perumahan, ekonomi digital, dan ekonomi hijau.

Hingga Oktober 2024, pertumbuhan kredit investasi mencapai 13,63% (YoY), yang menunjukkan tingginya kebutuhan pembiayaan untuk ekspansi korporasi. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa insentif likuiditas makroprudensial (KLM), yang mencapai Rp259 triliun pada 2024 dan akan meningkat menjadi Rp283 triliun pada 2025, akan diarahkan untuk mendukung sektor-sektor strategis pencipta lapangan kerja, seperti perumahan rakyat, UMKM, dan ekonomi kreatif.

Bank-bank besar di Indonesia, seperti PT Bank Negara Indonesia (BNI) di bawah kepemimpinan Royke Tumilaar, berencana memfokuskan kredit pada proyek strategis nasional, hilirisasi, dan sektor riil lainnya. PT Bank Tabungan Negara (BTN), yang dipimpin Nixon L.P. Napitupulu, menargetkan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk 600.000 unit, sementara PT Bank Mandiri memetakan tujuh sektor unggulan dan sektor ekonomi baru untuk mendukung target pertumbuhan PDB sebesar 8%.

Kebijakan terkoordinasi dari OJK, Bank Indonesia, dan pemerintah diharapkan menciptakan kondisi yang kondusif bagi perbankan untuk memperluas pembiayaan di sektor prioritas, sehingga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia.

Bank BTN Salurkan 30 Ribu KPR Sepanjang 2 Bulan Pemerintahan Prabowo

KT1 12 Dec 2024 Tempo
 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN telah menyalurkan 30 ribu unit rumah melalui program Kredit Perumahan Rakyat atau KPR sepanjang dua bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. BTN juga telah menghitung total potensi stok rumah untuk mendukung program 3 Juta Rumah tahun depan yaitu sebanyak 631,978 unit.   “BTN terus berkontribusi dalam pemenuhan rumah di Indonesia,” kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam acara Seremonial Penyaluran Kredit Perumahan Rakyat (KPR) BTN di Serang, Banten, pada Kamis, 12 Desember 2024.  Selain itu, Nixon mengatakan BTN akan mendukung upaya pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen melalui sektor perumahan dan dan rencana 0 persen untuk uang muka. 

Nixon bercerita sejak 1976 BTN telah menyalurkan sekitar KPR untuk 5,2 unit yang tersebar berbagai kota, baik subsidi, nonsubsidi, ataupun pembiayaan syariah. Dia berharap melalui acara Seremonial Penyaluran KPR di Serang, Banten, itu agar bisa berlanjut dan BTN bisa memenuhi kebutuhan perumahan.  “Inisiasi ini akan berlanjut terus sampai kebutuhan perumahan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia terpenuhi,” kata dia.  Sementara itu, KPR massal di Serang ini diikuti oleh 235 calon debitur. Jumlah itu mencakup KPR subsidi dan nonsubsidi sebanyak 225 unit, sementara KPR subsidi dan nonsubsidi melalui BTN Syariah sebanyak 10 unit, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR).  Nixon mengatakan, 72 orang atau lebih dari 30 persen debitur dalam akad massal tersebut adalah perempuan, sedangkan 81 persen dari mereka tergolong segmen milenial dengan umur termuda yakni 21 tahun. “Sampai dengan saat ini BTN masih memiliki potensi debitur yang sudah lolos uji sebanyak kurang lebih 44.000 yang diharapkan dapat segera disalurkan pada awal bulan Januari 2025”, kata dia. (Yetede)

Kemampuan Pembayaran Debitur KPR Melemah

HR1 11 Dec 2024 Kontan
Menjelang akhir tahun 2024, rasio kredit bermasalah (NPL) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) meningkat, terutama pada segmen rumah tapak, dengan NPL mencapai 2,63% pada Oktober, level tertinggi sepanjang tahun. Secara keseluruhan, NPL kredit properti naik menjadi 2,69% dari 2,64% pada September.

Menurut Welly Yandoko, EVP Consumer Loan Bank Central Asia (BCA), kenaikan NPL ini disebabkan oleh berakhirnya relaksasi restrukturisasi kredit akibat Covid-19. Namun, BCA berhasil menjaga NPL KPR di bawah 1,5% melalui pemantauan ketat terhadap kualitas kredit.

Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB, menjelaskan bahwa faktor melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya harga properti menjadi penyebab utama kenaikan NPL, terutama pada segmen menengah ke bawah, meski masih dalam batas wajar.

Sementara itu, Ricky Andriano, VP Corporate Communication Bank Mandiri, menyebut bahwa NPL Bank Mandiri tetap terjaga di bawah rata-rata industri dan bahkan turun 17 basis poin secara tahunan. Bank Mandiri fokus pada pendekatan ekosistem dan sektor-sektor unggulan untuk mendukung pertumbuhan positif KPR.

Meskipun tantangan pada segmen KPR terus meningkat, bank-bank besar optimistis mampu menjaga kinerja solid dengan strategi mitigasi risiko yang tepat.

Bank Pelat Merah Kuasai Pasar KPR

KT1 09 Dec 2024 Investor Daily (H)
Bank pelat merah terus menunjukkan dominasinya dalam penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Hingga Oktober 2024, BUMN menguasai 59,16% pasar KPR nasional dengan nilai mencapai Rp423,48 triliun. Berdasarkan data BI, penyaluran KPR industri perbankan per Oktober sebesar Rp715,82 triliun, tumbuh 10,38% dibandingkan Oktober 2023 yang senilai Rp648,47 triliun. Nilai tersebut di luar kredit pemilikan aparteman (KPA) maupun rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan) Dari realisasi tersebut, KPR yang telah dikucurkan bank persero mencapai Rp423,48 triliun, tumbuh 12,11% secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini juga menjadi yang terbesar dibandingkan dengan kelompok bank lainnya. Kemudian, KPR yang disalurkan bank swasta nasional (BSN) sebesar Rp 261,1 triliun, naik 8,695 (yoy) per Oktober 2024. Untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencatatkan pertumbuhan KPR 5,4% (yoy) menjadi Rp 30,67 triliun pada 10 bulan tahun ini.  Sementara itu, kantor cabang bank asing (KCBA) mencatatkan penyaluran KPR senilai Rp571 mliar, anjlok 59,76% dibandingkan periode Oktober 2023 senilai Rp1,42 triliun. (Yetede)

Lesunya Proyek, Kredit Sindikasi Ikut Merosot

HR1 02 Dec 2024 Kontan
Kredit perbankan mengalami pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan kredit korporasi, namun hal ini tidak diikuti oleh penurunan signifikan dalam kredit sindikasi. Pada tahun 2024, kesepakatan kredit sindikasi mengalami penurunan yang tajam, tercatat turun 34,9% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total kesepakatan hanya mencapai US$ 19,74 miliar hingga akhir November. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya proyek-proyek infrastruktur besar, yang biasanya menjadi sumber utama kredit sindikasi.

Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menyatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya proyek infrastruktur, seperti jalan tol dan pelabuhan, yang sebelumnya menjadi fokus utama dalam kredit sindikasi. Ia juga tidak dapat memprediksi apakah tren penurunan ini akan berlanjut di tahun depan, karena bergantung pada kondisi ekonomi dan proyek-proyek yang ada.

Di sisi lain, Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menjelaskan bahwa meskipun BNI berhasil mencatatkan posisi tertinggi dalam hal kredit sindikasi, pihaknya tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit korporasi, mengingat kualitas kredit di beberapa sektor, seperti UMKM, yang tengah memburuk. Oleh karena itu, BNI memilih untuk menggunakan skema kredit sindikasi guna membagi risiko.

Meskipun kredit korporasi menunjukkan pertumbuhan, penurunan dalam kredit sindikasi mencerminkan tantangan sektor infrastruktur yang mempengaruhi penyediaan kredit dengan nilai besar.

Pinjaman Daring mengganjal KPR Subsidi

KT3 30 Nov 2024 Kompas

Penyaluran kredit pemilikan rumah atau KPR subsidi terganjal oleh catatan hitam yang masuk dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), menyangkut kredit macet pinjaman daring. OJK mengklaim penghapusan cacatan hitam dalam SLIK dapat ditempuh selama ada itikad baik dari nasabah. Hal ini mengemuka dalam acara Dialog Bersama Pengembang dalam Rangka Percepatan Penyaluran Program 3 Juta Rumah, di Jakarta, Jumat (29/11). Hadir sebagai pembicara Dirut PT Bank Tabungan Negara (Per- sero) Tbk, Nixon LP Napitupulu, Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, serta Wamen Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono. Nixon menyampaikan, ada beberapa tantangan dalam penyaluran KPR, terutama dengan skema subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Salah satunya, terkait dengan penerima KPR yang masuk daftar hitam (blacklist) dalam SLIK OJK.

”Bahkan, ada yang bilang, 30 % yang diajukan ke pengembang untuk membeli rumah KPR subsidi hari ini ditolak karena memiliki SLIK OJK merah karena pinjol (pinjaman daring),” katanya. Angka 30 % tersebut adalah angka total konsumen rumah yang hendak memesan rumah dan mengajukan KPR, tetapi gugur lantaran pengecekan SLIK. Saat hendak menerima uang muka, pengembang mengecek SLIK dan menemukan sejumlah konsumen terjerat pinjaman daring sehingga berkas pengajuan dikembalikan. SLIK OJK merupakan platform atau sistem yang menghimpun dan menyimpan seluruh informasi tentang riwayat kredit masyarakat, meliputi informasi mengenai pinjaman, kewajiban, pelunasan kredit, dan lancar atau tidaknya pembayaran pinjaman. Bila seseorang memiliki tunggakan atau kredit macet di perusahaan pembiayaan, namanya akan tercatat dalam catatan hitam (SLlK merah). Dengan demikian, ia akan kesulitan mengakses pembiayaan atau kredit dari lembaga jasa keuangan, termasuk perbankan. ”Padahal, saldonya (tunggakan kredit) hanya Rp 200.000. Namun, bank harus menghormati SLIK OJK sehingga kami tidak bisa menyetujui (pengajuan KPR) karena memang ketentuannya begitu,” ujarnya. (Yoga)