Kredit
( 575 )Pertumbuhan Kredit September Menukik ke Tempat Terendah Sepanjang 2024
Keanehan dalam Pembiayaan Sindikasi
Kredit perbankan nasional mengalami pertumbuhan, kredit sindikasi justru mengalami penurunan signifikan. Data Bloomberg menunjukkan bahwa nilai kredit sindikasi pada September 2024 hanya mencapai US$14,14 miliar, turun 43% dibandingkan tahun lalu. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh kondisi proyek besar yang stagnan dan tingginya suku bunga yang menambah beban debitur.
Meskipun bank-bank BUMN, seperti PT Bank Mandiri dan PT Bank Rakyat Indonesia, mendominasi pasar kredit sindikasi, mereka juga mengalami penurunan dalam penyalurannya. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, optimis kredit sindikasi akan pulih pada tahun depan, terutama dengan harapan turunnya suku bunga acuan. Para pemimpin bank tetap berusaha menggali potensi di sektor-sektor strategis meskipun menghadapi tantangan likuiditas yang ketat.
Kebijakan SRBI Memengaruhi Likuiditas Perbankan
Nasabah Ritel Menghadapi Kesulitan Melunasi Utang
48 Juta Debitur Nikmati Subsidi Kredit Usaha Rakyat
Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa sebanyak 48 juta debitur telah menerima subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop UKM, Yulius, total penyaluran KUR dari 2015 hingga 30 September 2024 mencapai Rp1.739 triliun. Program KUR ini dirancang untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM dan memperkuat posisi mereka sebagai pilar ekonomi nasional. Subsidi bunga KUR juga telah mencapai Rp163 triliun dalam periode yang sama untuk meringankan beban debitur, terutama dalam situasi ekonomi sulit seperti pandemi Covid-19.
Plt. Deputi Bidang UKM Temmy Satya Permana menyatakan bahwa pembiayaan adalah isu penting bagi UMKM, dan Presiden Jokowi telah memberikan berbagai regulasi untuk memudahkan akses pembiayaan. Jokowi menetapkan target agar porsi kredit UMKM minimal 30% dari total kredit perbankan, serta memperkenalkan KUR klaster untuk mendukung usaha produktif di berbagai sektor.
Kredit yang Krisis
Fasilitas kredit yang belum ditarik oleh debitur (undisbursed
loan/UL) di perbankan nasional masih meningkat 0,28% secara bulanan (month to
month/mtm) menjadi Rp2.158,26 triliun per Juli 2024. Di tengah UL tinggi,
pertumbuhan kredit juga naik 12,4% secara tahunan (year on year/yoy) per Juli
2024. Berdasarkan data OJK, per Juli UL perbankan sebesar Rp2.158,26 triliun,
tumbuh 6,89% secara yoy. Angka ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang
meningkat 7,79% (yoy). Namun dilihat secara bulanan masih ada kenaikan sedikit, yang mengindikasikan tetap
ada pengajuan kredit namun belum sepenuhnya ditarik fasilitasnya. “Kredit tinggi
masih nongkrong di commitment loan, pinjaman yang sudah komit tapi oleh debitur
belum ditarik karena dugaan saya barangkali
kacamata pelaku bisnis melihat kedepan agak mendung,” ujar Ekonom Senior
dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto.
(Yetede)
Laba BPD Tergerus Akibat Risiko Meningkat
Kinerja laba bersih sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) terlihat sedikit tertekan pada Agustus 2024. Namun, penyaluran kredit BPD masih mampu tumbuh. PT BPD Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih 21% secara tahunan menjadi Rp 787,58 miliar per Agustus 2024 dari Rp 998,975 miliar tahun lalu. Penurunan ini disebabkan kerugian penurunan aset keuangan (impairment) yang naik 44,23% secara tahunan menjadi Rp 542,17 miliar per Agustus 2024. Sementara, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) masih tumbuh 7,13% secara tahunan menjadi Rp 3,39 triliun per Agustus 2024. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih ini sejalan penyaluran kredit dan pembiayaan syariah yang tumbuh 18,57% secara tahunan menjadi Rp 60,65 triliun. Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim Edi Masrianto mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong seluruh segmen kredit. "Secara eksponensial pertumbuhan kredit ada pada segmen kredit ritel menengah, dengan penyaluran mayoritas di sektor ekonomi jenis perdagangan, pertanian dan peternakan," papar dia, kemarin.
Edi menerangkan, dampak pelemahan ekonomi di kelas menengah ke bawah terefleksi pada peningkatan rasio NPL Bank Jatim di segmen ritel. NPL segmen ritel Bank Jatim di 1,41% per Agustus 2024, naik dari tahun sebelumnya 0,97%. Untuk itu Bank Jatim memitigasi kualitas kredit dengan selektif menyalurkan kredit bagi nasabah baru.
PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga mencatatkan penurunan laba bersih secara bank only sebesar 21,69% secara tahunan menjadi Rp 954,390 miliar per Agustus 2024. Ini disebabkan menurunnya NII sebesar 10,93% secara tahunan menjadi Rp 4,14 triliun. Beban bunga Bank BJB juga meningkat 25,24% secara tahunan menjadi Rp 5,04 triliun.
Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan target tahun ini, yang diprediksi 6%-8%. Kualitas kredit juga terjaga baik pada level 1,5% per Agustus 2024.
Fintech Semakin Efisien, Laba Terus Meningkat
Prospek bisnis fintech peer to peer (P2P) lending nampaknya masih cukup cerah. Hal ini tercermin dari keuntungan yang didapat pelaku industri fintech lending yang kian menggemuk. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agusman bilang hingga Agustus 2024, perusahaan fintech lending membukukan laba sebesar Rp 656,8 miliar. Bila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun lalu yang sebanyak Rp 521,1 miliar, keuntungan pemain fintech lending meningkat 26%. "Peningkatan laba ini antara lain karena adanya peningkatan pendapatan operasional yang disertai dengan efisiensi dari beban operasional," kata Agusman. Strategi tersebut juga dijalankan oleh Akseleran untuk mendapat keuntungan. Di satu sisi, Group CEO Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengatakan pihaknya berhasil menggenjot pendapatan dari kenaikan volume penyaluran pinjaman sekaligus meningkatnya fee yang didapat.
Di sisi yang lain, pihaknya terus meningkatkan efisiensi sehingga beban pengeluaran perusahaan berhasil ditekan sekitar 40%. Meski tak menyebut angka pasti, namun Ivan bilang Akseleran mampu konsisten mengantongi laba sejak awal tahun lewat cara ini.
Pemain
fintech lending
lain yakni Modalku juga optimistis bisa mendorong perolehan laba hingga tutup tahun nanti. Country Head Modalku Indonesia Arthur Adisusanto bilang ada sejumlah upaya yang akan diterapkan untuk bisa mencapainya.
Di antaranya, Modalku akan berupaya mendorong strategi pemasaran produk pinjaman yang lebih luas dan ekspansif.Tentunya dengan tetap menjaga kehati-hatian. Selain itu, Modalku juga akan berfokus pada optimalisasi proses bisnis untuk memastikan pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
Ditambah lagi, perseroan juga disebut Arthur akan terus melanjutkan upaya efisiensi yang sudah dilakukan sebelumnya. Dimana sepanjang 2023, Modalku berhasil mengurangi beban operasional sekitar 31% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kredit Nganggur Naik: Tanda Ekonomi Bermasalah
Fasilitas kredit yang belum dicairkan debitur di perbankan atau undisbursed loan terus meningkat sampai dengan kuartal III-2024. Penurunan daya beli masyarakat membuat pengusaha menahan diri untuk menarik fasilitas kreditnya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total undisbursed loan bank umum per Juli mencapai Rp 2.158,2 triliun. Angka ini meningkat 6,89% secara tahunan dan secara bulanan naik 0,28%. Jika dirinci, kredit menganggur di bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turun 1,47% secara tahunan menjadi Rp 408,14 triliun, dan hanya naik 1,63% secara bulanan. Sedangkan undisbursed loan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) naik 15,92% secara tahunan menjadi Rp 31,39 triliun dan di bank swasta nasional naik 13,97% menjadi Rp 1.442,36 triliun. BCA juga mencatat kenaikan undisbursed loan 11,19% jadi Rp 405,04 triliun. Tapi, total kredit bank ini tumbuh 16%. "Kenaikan ini dikarenakan meningkatnya pembiayaan di semua segmen," kata Hera F Haryn, EVP Corporate Communication BCA, kemarin. Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, kebanyakan kredit menganggur berasal dari debitur segmen usaha kecil menengah (UKM), korporasi dan komersial. Namun, Lani menyebut peningkatan kredit menganggur di CIMB Niaga tak terlalu besar karena perseroan ini memang selektif menyalurkan kredit. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi juga menjelaskan, peningkatan kredit menganggur terjadi karena pelaku usaha berhati-hati menggunakan fasilitas kredit.
"Pelaku usaha memperhatikan perkembangan daya beli masyarakat, perekonomian, juga kondisi ekonomi dari negara-negara mitra usaha," kata dia.
Pengamat Perbankan Arianto Muditomo menilai, meningkatnya kredit menganggur berkaitan dengan pelemahan daya beli dan tren deflasi secara beruntun. Indonesia memang tengah mengalami deflasi lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. Deflasi beruntun tersebut merupakan pertama kali terjadi sejak 1999.
Di sisi lain, kredit perbankan per Agustus 2024 tumbuh sebesar 11,4% secara tahunan. Didiet menilai, pertumbuhan outstanding kredit maupun
undisbursed loan
menunjukkan adanya keinginan pelaku usaha mendapatkan akses pembiayaan. Namun, pelaku usaha menunda merealisasikan penggunaan kredit.
Edi Masrianto, Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim menyebut,
undisbursed loan
di Bank Jatim naik karena deflasi yang terjadi antara bulan Mei-September 2024 ini. Tapi, Edi menilai, fasilitas kredit di Bank Jatim relatif sudah digunakan debitur. Ini dapat dilihat dari pertumbuhan kredit secara bulanan menjadi Rp 1,2 triliun.
Persyaratan Kredit UMKM yang Rumit
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









