Kredit Nganggur Naik: Tanda Ekonomi Bermasalah
Fasilitas kredit yang belum dicairkan debitur di perbankan atau undisbursed loan terus meningkat sampai dengan kuartal III-2024. Penurunan daya beli masyarakat membuat pengusaha menahan diri untuk menarik fasilitas kreditnya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total undisbursed loan bank umum per Juli mencapai Rp 2.158,2 triliun. Angka ini meningkat 6,89% secara tahunan dan secara bulanan naik 0,28%. Jika dirinci, kredit menganggur di bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turun 1,47% secara tahunan menjadi Rp 408,14 triliun, dan hanya naik 1,63% secara bulanan. Sedangkan undisbursed loan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) naik 15,92% secara tahunan menjadi Rp 31,39 triliun dan di bank swasta nasional naik 13,97% menjadi Rp 1.442,36 triliun. BCA juga mencatat kenaikan undisbursed loan 11,19% jadi Rp 405,04 triliun. Tapi, total kredit bank ini tumbuh 16%. "Kenaikan ini dikarenakan meningkatnya pembiayaan di semua segmen," kata Hera F Haryn, EVP Corporate Communication BCA, kemarin. Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, kebanyakan kredit menganggur berasal dari debitur segmen usaha kecil menengah (UKM), korporasi dan komersial. Namun, Lani menyebut peningkatan kredit menganggur di CIMB Niaga tak terlalu besar karena perseroan ini memang selektif menyalurkan kredit. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi juga menjelaskan, peningkatan kredit menganggur terjadi karena pelaku usaha berhati-hati menggunakan fasilitas kredit.
"Pelaku usaha memperhatikan perkembangan daya beli masyarakat, perekonomian, juga kondisi ekonomi dari negara-negara mitra usaha," kata dia.
Pengamat Perbankan Arianto Muditomo menilai, meningkatnya kredit menganggur berkaitan dengan pelemahan daya beli dan tren deflasi secara beruntun. Indonesia memang tengah mengalami deflasi lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. Deflasi beruntun tersebut merupakan pertama kali terjadi sejak 1999.
Di sisi lain, kredit perbankan per Agustus 2024 tumbuh sebesar 11,4% secara tahunan. Didiet menilai, pertumbuhan outstanding kredit maupun
undisbursed loan
menunjukkan adanya keinginan pelaku usaha mendapatkan akses pembiayaan. Namun, pelaku usaha menunda merealisasikan penggunaan kredit.
Edi Masrianto, Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim menyebut,
undisbursed loan
di Bank Jatim naik karena deflasi yang terjadi antara bulan Mei-September 2024 ini. Tapi, Edi menilai, fasilitas kredit di Bank Jatim relatif sudah digunakan debitur. Ini dapat dilihat dari pertumbuhan kredit secara bulanan menjadi Rp 1,2 triliun.
Postingan Terkait
KB Bank Raih Fasilitas Pinjaman Rp 3 Triliun
Geopolitik Memanas, Bisnis Bank Emas Mengkilap
Melonjaknya Rekening Macet Pinjaman Daring
Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi
Transformasi Digital Dorong Perluasan Retail
Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023