Kredit
( 575 )Fasilitas Kredit Yang Belum Ditarik Debitur Senilai Rp 569,35 T
Fasilitas kredit yang tidak dicairkan debitur (undisbursed loan/UL) di perbankan nasional terus mengalami peningkatan pada paruh pertama tahun ini. Meskipun pertumbuhan kredit juga sudah tumbuh dua digit. Hingga posisi akhir Juni 2024, kredit menganggur tersebut sudah mencapai Rp2.152,19 triliun, meningkat 7,79% secara tahunan (yoy). Apabila dirinci, fasilitas kredit yang belum ditarik debitur (committed) sebesar Rp569,35 triliun, naik 3,14% yoy. Sedangkan fasilitas kredit kepada debitur uncommited mencapai Rp 1.582,84 triliun, tumbuh 9,57% (yoy). Berdasarkan data OJK yang dihimpun Investor Daily, kredit mengangsur yang paling besar berasal dari kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3 atau kelompok bank menengah. tercatat fasilitas kredit yang belum ditarik mencapai Rp853,28 triliun, tumbuh 15,69% (yoy). Artinya, KBMI 3 menyumbang 39,65% dari total kredit yang mubazir karena belum ditarik debitur. (Yetede)
Pertumbuhan Kredit Konsumer
Peningkatan Pertumbuhan Kredit Sebesar 12,4%
Menggenjot Pertumbuhan Kredit Konsumer
Sejumlah bank pada semester dua tahun ini kembali menggenjot pertumbuhan kredit konsumer dengan menyelenggarakan pameran bertabur diskon suku bunga. Diharapkan, promo tersebut dapat mendorong permintaan nasabah dan masyarakat pada produk kredit konsumer. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaadmadja mengatakan, sehingga semester I-2024 BCA mencatatkan penyaluran kredit konsumer tumbuh 13,6% secara yoy menjadi Rp 210,2 triliun. Apabila di rinci, kredit kepemilikan rumah (KPR) tumbuh 10,8% yoy menjadi Rp126,9 triliun dan kredit kendaraan bermotor (KKB) tumbuh tinggi 18,4% (yoy) senilai Rp 62,1 triliun, BCA pada bulan kemerdekaan Indonesia ini kembali menggelar BCA Expo 2024 dan menebar promo suku bunga sosial bagi nasabah yang ingin memiliki hunian dan kendaraan baru. Menurut Jahya terdapat dua kredit, yang tidak sensitif suku bunga dan yang sensitif suku bunga. "Yang rate sensitive itu kalau rate diturunkan, kredit laku, itu kredit konsumen. Ini kalau rate turun banyak yang tadinya tak terjangkau jadi terjangkau. Jadi kredit konsumer itu sangat sensitif, kalau bunga turun permintaan pasti banyak dan kami jeli lihat kesempatan diantara kesempitan ini," Jelas Jahya. (Yetede)
Sedikit Kenaikan Kredit Bermasalah di Sektor Properti
Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) melaju kencang sepanjang paruh pertama tahun ini. Laju pertumbuhannya terus menunjukkan tren kenaikan sejak awal tahun. Namun, kualitas aset KPR perbankan mengalami sedikit penurunan, meski masih di level aman. Data Bank Indonesia (BI) mencatat oustanding KPR per Juni 2024 tumbuh 14,36% secara tahunan, naik dari laju bulan Mei yang tumbuh 14,34% dan dari akhir 2023 yang baru meningkat 12%. Adapun posisi non performing loan (NPL) atau KPR bermasalah per Juni mencapai Rp 18,82 triliun. Rasio NPL KPR ini ada di level 2,49%. Angka tersebut meningkat tipis dari posisi Desember 2023 yang tercatat Rp 17,01 triliun atau sebesar 2,39%. Walau meningkat dari tahun lalu, KPR bermasalah menyusut dari Mei yang jumlahnya sempat tembus Rp 19,12 triliun dengan rasio 2,55%. BTN, penguasa KPR terbesar di Tanah Air, mencatatkan perbaikan rasio NPL properti secara tahunan, tetapi mulai meningkat dibanding akhir tahun lalu. NPL per Juni 2024 ada di level 3,3%, turun dari 3,7% pada Juni 2023 dan naik dari 3,2% pada Desember.
Rasio NPL kredit properti terbesar BTN berasal dari kredit konstruksi mencapai 24,4%, tapi sudah turun dari 26,3% pada Juni tahun lalu.
Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo mengungkapkan kualitas kredit BTN secara keseluruhan membaik. Tahun ini, BTN menargetkan rasio NPL di bawah 3%. "NPL tetap terjaga sesuai target," ujarnya, Sabtu (10/8).
Adapun BCA tak merinci NPL kredit propertinya. Hanya saja, NPL kredit konsumernya masih terjaga rendah meski naik secara tahunan. Per Juni 2024, NPL konsumer BCA mencapai Rp 3,94 triliun dengan rasio NPL 1,87%, naik dari Rp 2,67 triliun pada Juni 2023 atau dengan rasio 1,5%.
Hera F. Haryn, EVP
Corporate Communica
tion BCA mengatakan, BCA selalu melakukan analisis pengajuan KPR secara pruden demi menjaga kualitas aset. "Kami memanfaatkan analisis data serta pengenalan nasabah secara lebih dekat guna memastikan terjaganya kualitas kredit," ujarnya.
Muhammad Yunus, Mengelola Kredit Desa Menjadi Pengelola Negara
Setelah dilanda kerusuhan berminggu-minggu yang menewaskan ratusan orang, Bangladesh kini menatap masa depan baru. Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin, Rabu (7/8) menyiapkan pemerintahan sementara dengan Muhammad Yunus (84) menjadi PM sementara. Yunus dilantik pada Kamis (8/8) pukul 20.00. Kepala Staf Angkatan Darat Bangladesh Jenderal Waker-Uz-Zaman menyebut, pemerintahan peralihan dibentuk sebelum pemilu digelar. Pemerintahan transisi pimpinan Yunus akan mengganti pemerintahan Sheikh Hasina yang bubar setelah Hasina kabur ke India pada Senin (5/8). Ahmed Ahsan, mantan ekonom Bank Dunia dan Direktur Policy Research Institute di Bangladesh, mengatakan, Yunus adalah orang yang tepat. Ia dipilih mahasiswa yang memelopori seluruh pergerakan. ”Ia sangat dihormati, di negara ini maupun di dunia,” kata Ahsan pada Al Jazeera.
Ia berasal dari keluarga kaya. Saat kelas 4 SD, guru menyarankan Yunus bersekolah di Sekolah Menengah Inggris (Middle English School) di Chittagong untuk kelas 5 dan 6. Di sana, Yunus terus berprestasi. Ia dikirim ke Jambore se-Pakistan pada 1952, lalu menjadi wakil tim Jambore sekolah ke Kanada. Pada 1957, ia diterima di Universitas Dhaka dan lulus pada 1961, lalu belajar dengan beasiswa ke Universitas Vanderbilt di Nashville, Tennessee, AS. Gelar doktor bidang ekonomi ia raih pada 1970 dan menjadi asisten profesor di Universitas Negeri Tennessee Tengah di Murfreesboro, Tennessee, AS. Saat di AS dan masih menjadi mahasiswa, ia menjadi aktivis yang mendukung pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Walau bisa hidup tenang dan makmur menjadi dosen Universitas Negeri Tennessee, ia memilih pulang ke Bangladesh yang sudah merdeka dari Pakistan.
Saat mengajar, Yunus bertemu pengemis wanita di Desa Jobra, dekat kampus. Yunus juga melihat kemiskinan di sekitarnya. Ia gelisah: menyandang gelar doktor, tetapi ia tidak bisa mengangkat derajat hidup warga Bangladesh yang dilanda kelaparan. Yunus lalu meminjam uang ke bank untuk dipinjamkan ke kaum papa. Ada yang kembali, ada yang tidak. Namun, ia tak jera. Pada 1975, Presiden Zia ur Rahman mencanangkan program swasembada pangan. Yunus menjadi pemikirnya. Tapi, ia melakukan penelitian sendiri, mencari cara paling efektif membantu kaum papa. Ia mengupayakan pinjaman dari Janata Bank pada 1976, untuk modal Grameen Bank Prakalpa atau Proyek Bank Desa, yang dimulai di Jobra. Peminjamnya warga termiskin, tidak punya lahan. Pinjaman diharapkan kembali dan perempuan jadi debitor terbanyak.
Yunus menemukan pinjaman kecil atau kredit mikro yang diberikan kepada warga miskin membuat perbedaan besar. Inilah awal berdirinya Grameen Bank (bank desa) yang memelopori penyediaan kredit mikro kepada orang miskin untuk memulai usaha baru. Yunus dikenal sebagai ”bankir bagi orang miskin”, ia membantu mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan melalui Grameen Bank miliknya. Pada 2006, Yunus dan Grameen Bank diganjar Penghargaan Nobel Perdamaian atas kerja menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari bawah. Saat itu, bank itu sudah meminjamkan 7 miliar USD kepada lebih dari 7 juta peminjam, dimana 97 % peminjam adalah perempuan dengan tingkat pembayaran kembali hampir 100 %. Selain Nobel Ekonomi 2016, Yunus menerima Anugerah Ramon Magsaysay. Kini tugas baru menantinya untuk memulihkan stabilitas Bangladesh. (Yoga)
Kredit Industri Perbankan
Kredit Macet UMKM
Prospek UMKM untuk bertumbuh masih besar, namun dampak dari berakhirnya kebijakan restrukturisasi terdampak Covid-19 diprediksi masih akan terasa bagi debitur UMKM. Hal ini akan mengakibatkan potensi risiko kredit macet UMKM juga akan naik, sehingga pemerintah tengah menggodok skema kebijakan restrukturisasi utamanya untuk kredit usaha rakyat (KUR). OJK menyatakan rencana berkepanjangan restrukturisasi KUR sedang dimatangkan oleh tiga kementerian. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, pemerintah mengusulkan skema atau kriteria yang perlu diberikan rileksasi kebijakan ini, termasuk periode akad atau pencairan kredit oleh debitur. (Yetede)
Realisasi Penyaluran Kredit Bank Mandiri Kuartal II/2024 Tembus Rp1.532 Triliun
Bank Mandiri mencatatkan realisasi penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, meningkat 20,5% secara year-on-year (YoY). Pencapaian ini melampaui pertumbuhan industri perbankan nasional yang sebesar 12,36% YoY pada periode yang sama. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyatakan bahwa hasil ini didukung oleh stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global, serta fokus Bank Mandiri pada perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi wilayah.
Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan hingga mencapai Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, berkat strategi perluasan ekosistem dan pengelolaan risiko yang disiplin. Pertumbuhan kredit ini juga berkontribusi pada peningkatan laba bersih dan kualitas aset, dengan posisi non-performing loan (NPL) yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Darmawan Junaidi menegaskan bahwa kinerja positif ini merupakan hasil dari inisiatif yang prudent dan konservatif dalam menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi global.
Kredit Bermasalah Naik, Laju Laba Melambat
Kinerja industri perbankan pada semester I-2024 terindikasi melambat, disebabkan oleh pengetatan likuiditas akibat suku bunga tinggi dan peningkatan kredit bermasalah imbas berakhirnya kebijakan kelonggaran kredit atau restrukturisasi kredit. Sepekan terakhir, sejumlah bank dengan kapitalisasi besar melaporkan kinerja keuangannya selama separuh tahun 2024. Bank Mandiri mencatatkan laba konsolidasi Rp 26,6 triliun atau tumbuh 5,23 % secara tahunan, melambat dibanding semester I-2023 di 24,9 % secara tahunan.
Pertumbuhan laba yang melambat juga dialami BRI dengan torehan laba konsolidasi Rp 29,9 triliun atau tumbuh 0,95 % secara tahunan, melambat dibanding semester I-2023 di 18,83 % secara tahunan. Hal serupa juga dialami BCA yang mencetak laba konsolidasi Rp 26,9 triliun atau tumbuh 11,1 % secara tahunan. Meski tumbuh dua digit, pertumbuhan tersebut melambat dibanding semester I-2023 yang tumbuh 34 % secara tahunan. Pengamat perbankan dan Assistant Vice President BNI (2005-2009), Paul Sutaryono, Rabu (31/7) mengatakan, perlambatan laba perbankan tak lepas dari selesainya program restrukturisasi kredit pada 31 Maret 2024.
”Artinya, bank kemudian harus membentuk cadangan semakin tinggi karena NPL (nonperforming loan) semakin tinggi, terutama segmen UMKM yang mencapai level 4 % atau mendekati ambang batas aman 5 %,” katanya. Merujuk data OJK, kualitas kredit yang tecermin dari rasio NPL per Mei 2024 tercatat 2,34 %, meningkat dibanding akhir tahun 2023 di 2,19 %. Peningkatan tersebut terutama terjadi setelah Maret 2024 atau setelah berakhirnya kebijakan restrukturisasi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Investasi Teknologi
10 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
Tata Kelola Bantuan Sosial Perlu Dibenahi
29 Jul 2022









