Inflasi
( 549 )Upah Pekerja, Terimpit Laju Inflasi
Di tengah impitan kenaikan biaya hidup, pendapatan pekerja jalan di tempat. Rata-rata kenaikan nasional upah minimum 2022 hanya 1,09 %, di bawah angka inflasi tahunan per Februari 2022 sebesar 2,06 %. Bahkan, kenaikan upah minimum 13 provinsi di bawah 1 %. Tertahannya kenaikan upah itu tidak mampu mengejar tren kenaikan harga kebutuhan pokok yang kini mulai terjadi. Apalagi, inflasi diperkirakan terus naik. BI memproyeksikan inflasi Maret 2022 mencapai 2,54 %, Kemenkeu mematok inflasi 2022 akan menyentuh 3-4 %.
Konsekuensi sistem pengupahan kepada daya beli masyarakat baru terasa setelah berlakunya UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang merombak formula pengupahan dan menahan laju kenaikan upah minimum. Sebelum UU Cipta Kerja berlaku, rumus penetapan upah minimum masih memperhitungkan variabel pertumbuhan ekonomi ditambah inflasi. Kebijakan upah minimum juga masih memperhitungkan survei kebutuhan hidup layak (KHL). Besaran kenaikan upah yang dihasilkan dapat melampaui inflasi. UU Cipta Kerja mengubah formula itu dan hanya memperhitungkan salah satu variabel, antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Komponen KHL pun dihilangkan dari rumus penghitungan upah. Otomatis, laju kenaikan upah minimum tertahan dan selalu berpotensi tergerus inflasi, menekan konsumsi, dan menghambat pertumbuhan ekonomi. (Yoga)
Menkeu: Inflasi Indonesia Masih Terkendali
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kondisi inflasi Indonesia masih cukup terjaga bila dibandingkan dengan negara maju dan negara berkembang lainnya. Meski begitu, pemerintah tetap memantau dan mengantisipasi tren kenaikan harga komoditas global dan gangguan pasokan barang. "Kami sangat sadar bahwa harga komoditas global dan gangguan pesokan bahkan sebelum invasi Rusia ke Ukraina telah mencipatakn tekanan pada harga. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tingkat inflasi negara maju dan beberapa negara berkembang yang sudah meningkat secara signifikan," ucap Sri Mulyani dalam Bloomberg Asean Business Summit, Rabu (16/3). Menurutnya, kondisi inflasi secara global akan berdampak pada pengetatan kebijakan moneter dibanyak negara maju. Berikutnya, kondisi tersebut bakal mempengaruhi daya beli , sehingga akan berdampak pada sektor konsumsi. (Yetede)
Inflasi, Waspadai Lonjakan Harga
Kebuntuan perundingan antara Rusia dan Ukraina membuat pasar energi dunia semakin tertekan, harga minyak mentah jenis Brent, misalnya, tak pernah lebih rendah dari 110 USD barrel sejak Februari 2022. Selain lonjakan harga minyak mentah, dinamika geopolitik di belahan timur Eropa itu juga melilit rantai pasokan gandum global, karena Rusia merupakan negara penghasil minyak utama, sedangkan Ukraina pemasok gandum terbesar di pasar dunia. Dalam pidatonya di Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-46 UNS, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pemerintah mulai mewaspadai risiko melonjaknya inflasi akibat gangguan rantai pasok global.
Perang Rusia dan Ukraina mengerek inflasi pangan di AS hingga 6,9 %, Rusia sebesar 12,3 %, bahkan Turki mencapai 55 %. Adapun di dalam negeri, Presiden mengatakan bahwa tingkat inflasi pangan terkendali di angka 3,4 %. Untuk mencegah rambatan inflasi dari pasar global, pemerintah berupaya mempertahankan stabilitas harga pangan dan energi di dalam negeri, dengan menahan kenaikan harga jenis BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, seperti pertalite dan pertamax. Dari sisi bahan pangan, pergerakan harga beberapa komoditas pangan mengalami peningkatan sejak Februari 2022, yang berdampak pada laju inflasi bulan ini dan April, Terlebih saat Ramadhan dan Idul Fitri. (Yoga)
Melawan Hantu Inflasi
Inflasi pangan sedang menghantui dunia. Perang Rusia-Ukraina, lonjakan harga minyak dan komoditas, cuaca ekstrim, gangguan rantai logistik, apresiasi dolar AS, dan meningkatnya permintaan seiring pulihnya perekonomian membuat harga pangan melambung tinggi. Bagaimana dengan Indonesia? Inflasi pangan juga sedang mengancam Indonesia. Kelangkaan dan lonjakan harga minyak goreng, kedelai, daging, sayur mayur, dan bahan kebutuhan pokok lainnya akhir-akhir ini adalah bukti bahwa inflasi sedang mencengkram negara ini. Gejolak harga minyak goreng tak kunjung reda, kendati pemerintah telah menerapkan kebijakan domestic market obligation (DMO) atau kewajiban pasok kedalam negeri sebesar 20% untuk seluruh eksportir minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya. Persoalan kian runyam ketika tata niaga yang diterapkan pemerintah gagal menyeimbangkan supply dan demand. (Yetede)
Di Bawah Bayang-Bayang Lonjakan Inflasi Tinggi
Siap-siap menghadapi lonjakan inflasi tinggi. Setelah harga pangan terkerek dalam beberapa waktu terakhir, kini harga minyak, gas bumi dan komoditas energi lain makin terkerek akibat perang Rusia-Ukraina. Harga minyak mentah jenis brent, misalnya, sempat menyentuh level US$ 105,07 per barel pada perdagangan Senin (28/2), sekaligus level tertinggi sejak tahun 2008. Pukul 21.00 WIB kemarin, harga brent turun tipis ke US$ 101,01 per barel. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengakui, kita masih dibayangi inflasi tinggi. Untuk itu, BI akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kelancaran suplai bahan pokok.
Inflasi Harga Pangan Menyambut Puasa
Menjelang bulan Ramadan yang akan datang sebulan lagi, harga sejumlah produk pangan mulai merambat naik. Sebagian penyebab kenaikan harga karena kelangkaan pasokan, dan sebagian lagi akibat produksi yang sedang turun. Harga pangan yang mengalami kenaikan pada pekan ini diantaranya adalah tempe dan tahu lantaran ada kenaikan bahan baku kedelai di pasar global. Selain itu ada kenaikan harga cabai, daging ayam, daging sapi, telor juga beras meskipun relatif kecil.
Lonjakan harga pangan ini yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah. Sebab sebulan lagi akan masuk bulan Ramadan yang membuat permintaan akan bahan pangan meningkat. Jika pasokan di pasar tidak mencukupi maka harga akan terkerek tinggi. Berdasarkan hasil hitungan Indef, inflasi pada Maret 2020 bersamaan dengan Ramadan akan bergerak di kisaran 0,4%-0,5% mtm, "Lalu April akan sebesar 0,6%-0,8% mtm," kata Ekonom Indef Eko Listyanto.
Tensi Memanas Lagi
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akibat ketegangan Rusia dan Ukraina semakin memanas. Kondisi tersebut menyulut aksi risk off dan rupiah jadi melemah. Mengutip Bloomberg, Selasa (22/2), kurs rupiah spot melemah 0,27% ke Rp 14.366 per dolar AS. Sedangkan, kurs Jisdor versi Bank Indonesia (BI) juga melemah 0,23% ke Rp 14.362 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, rupiah bergerak melemah karena ketegangan Rusia dan Ukraina semakin memanas setelah Presiden Vladimir Putin mengakui kemerdekaan dan kedaulatan wilayah Donetsk dan Luhansk sebagai Ukraina Timur.
Daya Beli Buruh Perkotaan Makin Tergerus Inflasi
Daya beli buruh perkotaan menurun pada bulan Januari 2022. Hal ini tercermin dari menurunnya upah rill buruh bangunan pada bulan lalu. Penyebabnya, inflasi nasional yang meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, upah nominal harian buruh bangunan Januari 2022 naik 0,38% dibandingkan dengan upah Desember 2021, yaitu dari Rp 91.335 per hari menjadi Rp 91.682 per hari. Namun, kenaikan ini belum mampu mengangkat daya beli buruh bangunan.
Pasar Akan Mencermati Data Inflasi
Setelah laporan penyerapan lapangan kerja baru Januari 2022 di luar dugaan kuat, pasar finansial khususnya di AS pekan ini akan memfokuskan perhatiannya ke data inflasi konsumen. Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat pekan lalu melaporkan bahwa lapangan kerja baru non-pertanian bertambah 467.000 sepanjang bulan tersebut. Kalangan pialang di pasar berjangka sudah mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebanyak enam kali di tahun ini. Sementara kebanyakan ekonom memperkirakan empat atau lima kali kenaikan. Pasar saham menutup perdagangan pekan lalu dengan hasil positif. Walau ditandai dengan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Menurut Julian Emanuael, Direktur pelaksana senior strategi ekuitas, derivatif, dengan kuantitativ Evercore ISI, volatilitas tinggi disebagian saham itu menunjukkan resiko bagi para investor yang memegang saham-saham sektor teknologi. (Yetede)
Inflasi Januari
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi bulan Januari 2022 sebesar 2,18% yoy, atau lebih tinggi dari posisi akhir tahun 2021 yang sebesar 1,87% yoy. Penyebab inflasi pada Januari 2022 ini adalah inflasi di beberapa kelompok pengeluaran adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tingkat inflasi Januari 2022 ini masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) sebesar 3% plus minus 1%
Pilihan Editor
-
Aset Kripto, Beda Aturan Pajak AS dan Indonesia
03 Aug 2021 -
Pengembangan StartUp, Wealthtech Siap Melejit
02 Aug 2021 -
KKP Finalisasi Aturan PNBP Pascaproduksi
03 Aug 2021









