Waspadai Inflasi Tinggi Tahun Ini
Dalam tinjauan perekonomian dunia bertajuk ”Lonjakan Kasus, Disrupsi Pemulihan dan Inflasi Tinggi” pada 25 Januari 2022, IMF memperkirakan, inflasi di negara maju pada 2022 sebesar 3,9 % dan negara berkembang 5,9 %, disebabkan disrupsi rantai pasok, pengetatan kebijakan moneter, lonjakan harga energi dan pangan, serta peningkatan permintaan. First Deputy Managing Director IMF Gita Gopinath mengatakan, inflasi bakal meningkat, terutama akibat tekanan harga energi dan pangan yang lama. Pasar bursa mengindikasikan, tahun 2022 harga minyak mentah meningkat 12 %, gas alam naik 58 %, dan pangan naik 4,5 %. Gangguan rantai pasok akibat penyebaran virus korona varian Omicron di sejumlah negara diperkirakan masih terjadi, berimbas pada kenaikan biaya logistik dan produk impor.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teuku Riefky (26/1) berpendapat, inflasi meningkat seiring pulihnya aktivitas masyarakat beberapa bulan terakhir. Kenaikan PPN dan cukai hasil tembakau serta kenaikan harga minyak goreng dan elpiji diperkirakan berdampak pada inflasi. BI menargetkan inflasi nasional terkendali pada level 2-4 persen. Realisasi inflasi sepanjang 2021 ada di level 1,87 persen. Terkait itu, BI akan fokus menjaga inflasi dan nilai tukar, juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. (Yoga)
Tags :
#InflasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023