Inflasi, Waspadai Lonjakan Harga
Kebuntuan perundingan antara Rusia dan Ukraina membuat pasar energi dunia semakin tertekan, harga minyak mentah jenis Brent, misalnya, tak pernah lebih rendah dari 110 USD barrel sejak Februari 2022. Selain lonjakan harga minyak mentah, dinamika geopolitik di belahan timur Eropa itu juga melilit rantai pasokan gandum global, karena Rusia merupakan negara penghasil minyak utama, sedangkan Ukraina pemasok gandum terbesar di pasar dunia. Dalam pidatonya di Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-46 UNS, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa pemerintah mulai mewaspadai risiko melonjaknya inflasi akibat gangguan rantai pasok global.
Perang Rusia dan Ukraina mengerek inflasi pangan di AS hingga 6,9 %, Rusia sebesar 12,3 %, bahkan Turki mencapai 55 %. Adapun di dalam negeri, Presiden mengatakan bahwa tingkat inflasi pangan terkendali di angka 3,4 %. Untuk mencegah rambatan inflasi dari pasar global, pemerintah berupaya mempertahankan stabilitas harga pangan dan energi di dalam negeri, dengan menahan kenaikan harga jenis BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, seperti pertalite dan pertamax. Dari sisi bahan pangan, pergerakan harga beberapa komoditas pangan mengalami peningkatan sejak Februari 2022, yang berdampak pada laju inflasi bulan ini dan April, Terlebih saat Ramadhan dan Idul Fitri. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023