Inflasi
( 547 )Inflasi Turkey Mencapai 36,1% pada Desember
Tingkat inflasi tahunan Turki melonjak ke level tertinggi sejak 2022 pada Desember 2021, menurut data resmi yang sempat dirilis senin (3/1). Turki mengalami krisis mata uang yang dipicu oleh kebijakan ekonomi nonkonvensional Presiden Recep Tayyip Erdogan. Indeks harga konsumen (IHK) melonjak menjadi 36,1% pada Desember 2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tetapi Erdogan tetap teguh pada kebijakannya, menentang kenaikan suku bunga yang dia sebut "Ibu dan Bapak dari segala kejahatan" untuk memerangi inflasi.
Erdogan pada Senin menuduh kelompok yang disebutnya para elite mengambil untung dari pendapatan bunga yang belum diterima. Nilai tukar lira Turki merosot 44% terhadap dollar AS pada 2021. Kerugian dipercepat pada akhir tahun lalu, ketika Erdogan mengatur serangkaian kebijakan penurunan suku bunga yang tajam. Erdogan telah meningkatkan upah minimum bulanan yang dapat dibawa pulang sebesar 50%, meningkatnya menjadi 4.250 lira (sekitar US$ 310), yang dikhawatirkan para ekonom akan semakin mendorong inflasi. (Yetede)
Waspadai Inflasi, Perkuat Daya Beli dan Industri
Lonjakan harga komoditas pangan dan energi global, ditambah rencana kebijakan perpajakan dan energi, berpotensi membebani daya beli dan industri. Tahun ini, inflasi dipengaruhi perubahan struktur biaya produksi dalam negeri berujung kenaikan harga produk di tingkat konsumen. 31 Desember 2021, BI perkirakan inflasi Desember 2021 dan sepanjang 2021 masing-masing 0,6 % dan 1,9 %, seiring kenaikan harga bahan pokok, terutama minyak goreng, cabai, daging, dan telur ayam ras. Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memperkirakan, pada 2022, tingkat inflasi 4 %, peningkatan inflasi terjadi lantaran lonjakan harga pangan, energi, dan kebijakan pemerintah , yaitu kenaikan tarif listrik, pengalihan BBM ke yang ramah lingkungan, pengenaan pajak karbon dan PPN. Ketum BPP Hipmi Mardani H Maming menilai, kenaikan inflasi di Indonesia disebabkan kenaikan biaya produksi dan distribusi. Cost-push inflation ini harus dikendalikan agar tak makin menggerus daya beli, sebab kenaikan inflasi positif seharusnya dari naiknya permintaan. Untuk meredam kenaikan harga minyak goreng, pemerintah gelar operasi pasar dengan harga Rp 14.000 per liter melalui jaringan ritel modern dan pemda. Untuk batubara, pemerintah terapkan kebijakan domestic market obligation (DMO) 25 % produksi batubara untuk kebutuhan dalam negeri, harga batubara untuk pembangkit listrik 70 dollar AS per ton, untuk pupuk dan semen 90 dollar AS per ton. Untuk BBM, pemerintah masih subsidi jenis BBM tertentu. (Yoga)
Tekanan Inflasi Berpotensi Mereda Lagi
Laju inflasi pada Desember 2021 ini berpotensi kembali melambat, setelah ada tren menanjak sejak Oktober. Meredanya tekanan inflasi ini sejalan dengan kebijakan pengetatan aktivitas masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 pada libur Natal dan Tahun Baru. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, laju inflasi November 2021 sebesar 0,37%. Laju inflasi meningkat lebih tinggi setelah Oktober naik sebesar 0,12%, dibandingkan dengan deflasi pada September.
BI Waspadai Risiko Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah
Bank Indonesia (BI) menyebut pemulihan ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko pada tahun depan. Risiko tak hanya dari dalam negeri tapi juga datang dari global. Sebab itu, BI menyatakan, Indonesia perlu menyiapkan kuda-kuda untuk menangkalnya. "Kami melihat adanya permasalahan-permasalahan yang harus diantisipasi karena ada perubahan lanskap dalam kebijakan tapering dan juga ketidakpastian global," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Senin (29/11). Perry kemudian memerinci risiko tersebut. Pertama, adanya tekanan dan kemungkinan peningkatan inflasi dalam negeri, khususnya di paruh kedua tahun depan. Kedua, risiko terhadap pergerakan nilai tukar rupiah karena adanya risiko tapering off dari bank sentral dunia khususnya bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).
Pendirian Badan Pangan Nasional: Inflasi Komponen Volatile Food Lebih Terkendali
Pergerakan inflasi komponen harga bergejolak atau volatile food bakal lebih stabil sejalan dengan dibentuknya Badan Pangan Nasional (BPN) oleh Presiden Joko Widodo. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan pembentukan BPN bersifat perpindahan koordinasi, di mana perumus kebijakan yang awalnya berada di Kementerian Perdagangan, menjadi di bawah BPN. Sehingga, apabila ditilik dari arah inflasi barang bergejolak, menurut Josua, terlihat bahwa peran dari komponen tersebut cenderung makin terbatas dalam pergerakan inflasi. “Komponen tersebut cenderung hanya berperan signifikan ketika terjadi panen raya atau menjelang Lebaran,” kata dia kepada Bisnis, Rabu (25/8).
Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan dibentuknya BPN makin menegaskan bahwa koordinasi yang dijalankan oleh sejumlah lembaga selama ini tidak berjalan dengan baik. Lembaga tersebut adalah Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Badan Ketahanan Pangan, dan Perum Bulog, yang memang bertugas menjaga pasokan pangan sehingga harga jual lebih terkendali. “Namun pada perkembangannya, kita melihat ternyata masalah volatilitas harga pangan masih sering kita temui. Tetapi, apakah BPN efektif menjaga inflasi harga pangan, masih perlu waktu untuk membuktikan,” ujarnya.
Gubernur BI: Inflasi terjaga rendah di hampir seluruh daerah
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melaporkan inflasi terjaga rendah di hampir seluruh daerah Indonesia dan secara nasional tercatat sebesar 1,52 persen secara tahunan atau year on year (yoy) per Juli 2021. "Kondisi ini sejalan dengan terjaganya ekspektasi inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah, belum kuatnya permintaan, serta ketersediaan pasokan," ucap Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2021 di Jakarta, Rabu.Maka dari itu ia memperkirakan inflasi pada tahun 2021 dan 2022 akan terjaga dalam kisaran sasaran yaitu 2 persen sampai 4 persen.
Jokowi Ingatkan Inflasi Rendah Bisa Tunjukkan Daya Beli Turun
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan jajarannya bahwa tingkat inflasi rendah bisa mengindikasikan turunnya daya beli masyarakat di tengah pandemi covid-19. Hingga Juli 2021, inflasi tercatat pada level 1,52 persen secara tahunan (yoy), atau jauh di bawah target Bank Indonesia (BI) yakni 3 persen plus minus 1 persen.
Inflasi yang rendah juga bisa bukan hal yang menggembirakan, karena bisa saja ini mengindikasikan turunnya daya beli masyarakat akibat pembatasan aktivitas dan mobilitas.
Karenanya, Jokowi mengatakan pemerintah akan mendorong daya beli masyarakat, sehingga bisa memperbaiki sisi permintaan yang merupakan mesin penggerak perekonomian. Sejalan dengan itu, pemerintah juga tetap memprioritaskan penanganan pandemi dari sisi kesehatan pada kuartal III 2021 mendatang.
Harga Rokok dan Cabai Naik, Indonesia Inflasi
Bank Indonesia (BI) menyatakan, perkembangan harga komoditas di pasar relatif terjaga hingga pekan keempat Juli 2021. Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, berdasarkan hasil survei pemantauan harga bank sentral, hingga pekan keempat Juli 2021 indeks harga konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,01 persen secara month to month (mtm).
Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juli 2021 secara tahun kalender sebesar 0,75 persen year to date (ytd). dan secara tahunan sebesar 1,45 persen (year on year/yoy).
Berdasarkan hasil pemantauan BI, inflasi pekan keempat Juli disebabkan naiknya harga sejumlah komoditas. Cabai rawit menjadi komoditas utama penyumbang inflasi, dengan kenaikan sebesar 0,04 persen mtm, kemudian tomat 0,02 persen, serta bawang merah, bayam, kangkung, rokok kretek filter, dan kacang panjang masing-masing naik sebesar 0,01 persen mtm. Inflasi tahun berjalan sampai dengan Juni 2021 tercatat sebesar 0,74 persen.
Sri Mulyani Ungkap 4 Risiko yang Membayangi Pemulihan Ekonomi Global
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan adanya empat risiko yang berlangsungnya pemulihan ekonomi global sejak semester l - 2021. Meskipun dengan cerita yang positif dan sangat baik pada semester l-2021, namun kita melihat ada risiko yang muncul juga dimuiai pada semester terutama di kuartal II.
Sri Mulyani menyebutkan pertama adalah kemunculan varian Delta yang menimbulkan risiko pengetatan atau restriksi sehingga menghambat penundaan normalitas aktivitas di banyak negara. la mengatakan varian Delta yang muncul di india sehingga pada Maret, April, dan Mei, menimbulkan dampak luar biasa terhadap ekonomi serta masyarakat sekarang telah tersebar di lebih dari 130 negara.
Risiko kedua adalah pelaksanaan program vaksinasi yang tidak merata antarnegara maupun dalam satu negara sehingga menyebabkan pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi tidak seragam. Akses vaksinasi dan kemampuan penetrasi vaksinasi manyebabkan risiko karena selama Covid-19 belum bisa ditangani maka dia akan terus melakukan penularan dan bermutasi .
Risiko ketiga adalah kenaikan inflasi di AS yang dalam dua bulan berturut-turut di atas 5 persen atau jauh di atas target inflasi AS yaitu sekitar 2 persen. Hal tersebut memukul daya beli masyarakat AS terutama kelompok menegar dan bawah, mengancam pemulihan, serta menimbulkan berbagai proyeksi terhadap langkah Federal Reserve (Fed) dalam merespon inflasi di AS ini.
Risiko terakhir adalah gangguan supply dan kenaikan inflasi di banyak negara khususnya negara maju yang mempengaruhi kelancaran produksi maupun kenaikan biaya produksi. Kita berbagai kemungkinan dari sisi supply dan kenaikan inflasi itu terhadap sisi produksi di seluruh dunia.
Lonjakan Covid-19 Mulai Tekan Daya Beli
Meledaknya kasus positif Covid-19 usai libur Lebaran Juni lalu, mulai memberikan tekanan terhadap daya beli konsumen. Daya beli pada bulan Juni terindikasi menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks harga konsumen (IHK) Juni mengalami deflasi sebesar 0,16%, kali pertama sepanjang 2021. Turunnya harga secara keseluruhan pada bulan laporan didorong oleh normalisasi harga setelah momen Lebaran pada bulan sebelumnya.
Menurut data BPS, ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberi andil besar pada deflasi Juni 2021. Beberapa di antaranya, cabai merah dengan andil 0,09%, daging ayam ras dengan andil 0,06%, cabai rawit dengan andil 0,04%, dan angkutan udara dengan andil 0,03%. BPS juga mencatat, inflasi inti Juni sebesar 0,14%, turun dari 0,24% pada Mei. "Memang ada penurunan. Sedikit banyak memang berpengaruh. Namun, inflasi inti masih positif. Sehingga daya beli masih terjaga," kata Kepala BPS Margo Yuwono, Kamis (1/7). Adapun tingkat inflasi inti secara tahunan yang tercatat 1,49% year on year (yoy), lebih tinggi dari 1,37% yoy pada bulan sebelumnya.Pilihan Editor
-
Industri Sepeda, Penjualan Mulai Melambat
08 Jun 2021









