;
Tags

Inflasi

( 549 )

Awas, Harga Energi Mengancam Inflasi

HR1 08 Jun 2022 Kontan (H)

Waspada! Pemulihan ekonomi Indonesia dihadapkan pada tantangan serius yakni inflasi tinggi. Pemicunya adalah efek kenaikan harga energi serta harga pangan. Tantangan serius datang mengepung dari eksternal dan internal. Dari eksternal misalnya, rantai pasok global belum pulih akibat pandemi Covid-19 bisa memacu harga barang impor. Lalu, kenaikan harga komoditas energi dan pangan akibat perang Rusia dan Ukraina. Apalagi, di sisi permintaan ada beberapa aktivitas yang berpotensi mendongkrak inflasi. Misal libur sekolah Juli, tahun ajaran baru pada Agustus. perayaan Hari Raya Idul Adha, hingga Natal dan tahun baru 2023 mendatang.

Risiko Global dan Pemulihan

KT3 07 Jun 2022 Kompas

Meningkatnya risiko global saat ini berkaitan dengan kenaikan suku bunga The Fed dan bank-bank sentral lain karena inflasi tinggi. Inflasi di AS 8,4 %, di Eropa 7,5 %, Inggris 9 %, dan di banyak negara berkembang lebih tinggi lagi. Perang Rusia-Ukraina mendorong harga pangan dan energi naik. Tindakan lockdown karena Covid-19 di Shanghai, China, menekan pertumbuhan ekonomi China dan global karena menghambat rantai pasok global dan konsumsi. Bahkan beberapa pihak memperkirakan akan terjadi stagflasi, yaitu resesi (pertumbuhan negatif) dan inflasi tinggi.

Meningkatnya risiko global ini tentu berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Namun, sebagai negara penghasil komoditas, Indonesia juga diuntungkan dengan ekspor yang meningkat tinggi, surplus perdagangan, dan meningkatnya konsumsi masyarakat membuat pertumbuhan ekonomi berlanjut, 5,01 % di triwulan I-2022. Adapun inflasi mulai meningkat ke 3,47 %, setara suku bunga kebijakan BI 3,5 %. Semestinya suku bunga kebijakan lebih tinggi secara memadai daripada inflasi. Menahan inflasi dengan menambah subsidi energi yang terus membesar tentu sangat memberatkan APBN dan distortif terhadap perekonomian.

Risiko global meningkat dengan berlanjutnya perang Rusia-Ukraina. Dengan penghentian impor minyak dari Rusia, harga minyak meningkat lagi di atas 100 dollar AS/barel. Harga pangan juga naik karena Rusia dan Ukraina produsen besar gandum. Ditambah lagi dengan lockdown di Shanghai membuat ekonomi China mengalami perlambatan dan rantai pasokan terganggu. Risiko global ini kemungkinan masih akan tinggi sampai 2023 karena ketidakpastian dari kenaikan harga pangan dan energi dari pengaruh berlanjutnya perang Rusia-Ukraina. (Yoga)


ECB Akan Setop Stimulus Sebelum Menaikkan Suku Bunga

KT1 07 Jun 2022 Investor Daily

Bank Sentral Eropa (ECB)  menetapkan untuk mengakhiri program  stimulus pembelian obligasi  besar-besaran dalam pertemuan  di Amsterdam, Belanda pada Kamis (9/6). Ini mengingat laju inflasi di zona Euro telah melonjak  ke tertinggi sepanjang masa. Menurut laporan, harga konsumen di zona Euro  mengalami kenaikan 8,1% year-on-year (yoy) pada Mei. Ini adalah angka tertinggi sejak blok  mata uang diluncurkan , juga jauh di atas target ECB sebesar 2%. Pasalnya, ECB masih tertinggal di belakang bank-bank sentral  di Inggris dan AS, yang telah bergerak agresif untuk membasmi inflasi. Tetapi rencana semula ECB adalah  adalah untuk menghentikan  pembelian aset di bawah  program stimulus era krisis, sebelum melanjutkan menuju kenaikan suku bunga aktual. Program Pembelian Aset atau Asset Purchase Programme (APP) merupakan hal terakhir dari serangkaian langkah-langkah pembelian utang senilai total sekitar lima triliun Euro (US$ 5,4 triliun) yang dilakukan oleh EBC sejak 2014. (Yetede)

Situasi Global Berimbas ke Domestik

KT3 03 Jun 2022 Kompas (H)

Kenaikan harga pangan dan energi global telah tertransmisi ke sektor pangan, industri, transportasi, dan konstruksi di dalam negeri. Hal itu terindikasi dari tingkat inflasi dan indeks perdagangan besar. Kepala BPS Margo Yuwono, Kamis (2/6) menyatakan, perang Rusia-Ukraina dan restriksi yang dilakukan sejumlah negara produsen menyebabkan harga pangan dan energi terus meningkat. Sejumlah komoditas yang harganya masih bergejolak dan tinggi antara lain minyak dan gas bumi, CPO, gandum, kedelai, jagung, daging, dan pupuk. Kenaikan harga itu berpengaruh terhadap inflasi global, yang membuat IMF merevisi proyeksi inflasi tahun ini. Tingkat inflasi negara maju direvisi dari 3,9 % menjadi 5,7 %, sementara di negara berkembang direvisi dari 5,9 % menjadi 8,7 %. ”Di Indonesia, transmisinya terasa sejak awal 2022. Imbasnya ke inflasi domestic mulai terjadi meski untuk beberapa komoditas andilnya belum terlalu besar,” kata Margo.

BPS merilis, tingkat inflasi nasional pada Mei 2022 mencapai 0,4 % secara bulanan dan 3,55 % secara tahunan. Tingkat inflasi tersebut berada di kisaran target inflasi tahunan oleh pemerintah dan BI yang 3-4 %. Komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi bulanan itu adalah tarif angkutan udara 0,07 %, telur ayam ras 0,05 %, ikan segar 0,04 %, dan bawang merah 0,04 %. Minyak goreng yang berkontribusi terhadap inflasi April 2022 sebesar 0,19 %, justru mengalami deflasi 0,01 % pada Mei 2022. Kenaikan harga minyak global membuat pemerintah menaikkan harga bahan avtur, pertamax, dan mengizinkan maskapai menyesuaikan harga tiket pesawat. Untuk minyak goreng, harganya dipengaruhi kenaikan harga CPO global. Namun, berkat larangan ekspor CPO dan produk turunannya pada 28 April-22 Mei 2022, harganya mulai turun sehingga berkontribusi pada deflasi Mei 2022. ”Kenaikan harga telur ayam ras, tepung terigu, dan tempe juga dipengaruhi oleh lonjakan harga pakan, gandum, dan kedelai global. Bahkan rembetan kenaikan harga energi dan biaya transportasi mulai terasa di sektor bangunan atau konstruksi,” ujar Margo. (Yoga)


MENAHAN RISIKO LAJU INFLASI

HR1 03 Jun 2022 Bisnis Indonesia (H)

Ruang pengendalian inflasi pada tahun ini masih cukup luas, kendati indeks harga konsumen pada Mei 2022 mencapai 3,55% (year-on-year/YoY), tertinggi sejak Desember 2017. Musababnya, inflasi inti yang menjadi tolok ukur daya beli masyarakat sejauh ini masih cukup stabil, yakni sebesar 2,59% (YoY) pada bulan lalu, hampir tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 2,6%. Inflasi inti adalah komponen pengukur inflasi yang cenderung menetap karena dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti harga komoditas, nilai tukar rupiah, hingga kondisi ekonomi di negara mitra dagang. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan situasi pasar pada bulan lalu memang menunjukkan adanya kenaikan harga yang didorong oleh meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan barang.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan pemerintah juga masih bisa memanfaatkan windfall penerimaan dari komoditas untuk dialokasikan ke dalam belanja subsidi. “Pemerintah bisa melakukan subsidi dari nilai tambah itu pada sektor tertentu. Kita waspada harus, tapi saya melihat terkendali,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/6). Koordinator Wakil Ketua Umum III Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menilai target inflasi pemerintah 4% hingga akhir tahun sudah cukup rasional. Pemerintah maupun otoritas moneter juga perlu mencermati berbagai dinamika yang berpotensi mengerek laju inflasi makin tinggi dan menggerus daya beli masyarakat.


BI Proyeksikan Inflasi 2022 Capai 4,2%

KT1 02 Jun 2022 Investor Daily (H)

Bank Indonesia (BI) memproyeksi, tingkat inflasi pada akhir tahun ini di kisaran 4,2% year on year (yoy) atau lebih tinggi dari batas atas  sasaran pemerintah dan BI sebesar 4% yoy. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjoyo mengatakan, potensi inflasi yang melebihi perkiraan ini didorong oleh kenaikan harga-harga energi dan pangan akibat invasi Rusia ke Ukraina dan terganggunya rantai pasok perdagangan yang telah memberikan tekanan inflasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. "Jadi, memang kecenderungan inflasi ini akan meningkat. Untuk perkiraan kami, ke depan,  di akhir tahun ini kemungkinan inflasi sedikit di atas sasaran, yaitu 4,2% yoy." tutur Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI dan pemerintah, Selasa (31/5).  Untuk memastikan inflasi terkendali, BI berkomitmen untuk terus berkoordinasi erat dengan pemerintah. Perry pun mengapresiasi  upaya pemerintah untuk meredam inflasi tahun ini dengan menaikkan subsidi dan bantuan sosial. (Yetede)

Masalah Iklim dan Inflasi Global Menjadi Perhatian

KT3 27 May 2022 Kompas (H)

Inflasi yang meningkat secara global dan masalah perubahan iklim menjadi topik utama, di samping masalah kesehatan, pembahasan selama penyelenggaraan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF 2022) di Davos, Swiss. Sektor swasta diajak berinvestasi dalam jumlah besar untuk pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. Forum yang dihadiri lebih dari 50 kepala negara atau pemerintahan itu ditutup pada Kamis (26/5) dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz menjadi salah satu pembicara utama. WEF 2022 mengusung tema ”Working Together, Restoring Trust”. Isu yang dibahas meliputi kebijakan pemerintah dan strategi bisnis dengan latar belakang pandemi global, konflik Ukraina-Rusia, serta tantangan geoekonomi. Dalam pidatonya, Scholz mengungkapkan rencana Jerman untuk menjadi netral karbon pada tahun 2045 telah menjadi ”lebih penting” sebagai akibat dari perang Rusia-Ukraina.

Presiden WEF Børge Brende mengingatkan betapa pentingnya forum itu. WEF 2022 merupakan pertemuan setelah COP26 di Glasgow dan pertemuan pertama kali setelah terjadi konflik Rusia-Ukraina. Dari isu lingkungan dan perubahan iklim, Brende mencontohkan telah terjadi komitmen 54 perusahaan terkemuka di dunia untuk memenuhi kebutuhan suplai barang mereka dengan sebisa mungkin mengurangi jejak karbon. Dari sisi kesehatan, perusahaan farmasi Pfizer berkomitmen menyediakan produk vaksin dan pengobatan Covid-19 dengan harga nirlaba di beberapa negara termiskin di dunia. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menambahkan, di tengah tingginya risiko ekonomi, resesi global tidak akan terjadi kendati hal itu berarti tidak mungkin (untuk terjadi). IMF mengharapkan pertumbuhan ekonomi 3,6 % tahun ini, yang merupakan ”jalan panjang menuju resesi global”. Namun, dia mengakui bahwa ini akan menjadi tahun yang sulit dan salah satu masalah besar adalah melonjaknya harga pangan, yang sebagian dipicu oleh perang Rusia-Ukraina. (Yoga)


Inflasi dan Sanksi dalam Sepiring ”Fish and Chips”

KT3 27 May 2022 Kompas

Bagi banyak orang Inggris, ikan dan kentang, di dunia dikenal sebagai fish and chips, adalah makanan yang sudah menjadi bagian tradisi selama setidaknya 160 tahun terakhir. Serangan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022 mengubah itu. ”Harga ikan melambung, harga minyak melonjak. Semua hal terkait dagangan kami melambung,” kata Bally Singh, pengelola kedai Hooked Fish and Chips di London Barat, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (26/5). Harga ikan untuk bahan baku menu itu sudah naik 75 % dibanding 2021. Sementara minyak biji matahari naik 60 % dan tepung 40 %. Gara-gara kenaikan itu, Singh, salah satu pengelola kedai ikan dan kentang goreng yang terdampak, menaikkan harga menu itu dari 7,5 pound menjadi 9,5 pound per porsi. Bahkan, ia mempertimbangkan kenaikan harga sampai 11 pound per porsi. ”Kami berusaha membuat harga tetap terjangkau dan produk bisa bersaing dengan kedai atau jenis makanan lain. Sayangnya, kami merasakan penjualan terus menurun,” ujarnya.

Minyak biji bunga matahari dan tepung juga produk utama dari Rusia-Ukraina. Sanksi Inggris dan sekutunya membuat impor kedua komoditas itu sulit dilakukan dari Rusia. Impor dari Ukraina lebih sulit lagi. Sebab, seluruh pelabuhan Ukraina sudah dikuasai atau diblokade Rusia. Adapun jaringan jalan dan rel kereta sudah banyak rusak. Inggris sedang berusaha mencari sumber pemasok pengganti. Hal yang tidak mudah karena 40 % gandum dan 50 % minyak biji bunga matahari dunia dipasok Rusia-Ukraina. Selain ada hambatan di pasokan, ada pula rebutan pasar. Bukan hanya Inggris butuh gandum dan minyak biji bunga matahari. Jika melirik ke sektor energi, dampak sanksi ke Rusia semakin luas. Sanksi membuat harga energi melonjak dan, seperti di banyak negara, Inggris ikut menanggungnya. Dari 1,26 pound pada April 2021, harga BBM di Inggris mencapai 1,62 pound per liter pada April 2022. Inflasi Inggris pada April 2022 mencapai 9 % atau tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Pada Maret 2022, inflasi di Inggris mencapai 7 %, tertinggi di antara anggota G7. (Yoga)


The Fed Indikasikan Kenaikan Suku Bunga Lebih Banyak

KT1 27 May 2022 Investor Daily (H)

Para Pejabat The Federal Research (The Fed) pada awal bulan ini menekankan perlunya menaikkan suku bunga dengan cepat dan mungkin lebih banyak dari yang diantisipasi pasar guna  mengatasi lonjakan inflasi. Demikian risalah pertemuan yang dirilis, Rabu (25/5) waktu setempat. Para pembuat kebijakan berpendapat, tidak hanya perlunya menaikkan  suku bunga acuan sebesar 50 poin, tetapi mereka juga mengatakan kenaikan akan diperlukan beberapa pertemuan berikutnya. "Sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan poin dalam kisaran target kemungkinan  akan sesuai pada beberapa  pertemuan berikutnya," demikian menurut risalah yang dilansir CNBC. Selain itu, anggota Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Commitee/FOMC) mengindikasikan bahwa sikap kebijakan  yang membatasi mungkin menjadi hal tepat, tergantung pada prospek ekonomi yang berkembang dan berisiko terhadap prospek tersebut. (Yetede)

POTENSI LONJAKAN INFLASI : RESPONS DINI BANK INDONESIA DINANTI

HR1 25 May 2022 Bisnis Indonesia

Bank Indonesia perlu mencermati dinamika inflasi yang berpotensi meroket di atas kendali pada tahun ini, kendati pemerintah telah menaikkan target maksimal inflasi dari 3% menjadi 4%. Kalangan ekonom memperkirakan tingkat inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada tahun ini berpeluang mencapai 4%—6% akibat naiknya harga energi dan pangan. Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan bahwa Bank Indonesia (BI) perlu merespons lebih dini dinamika inflasi tersebut melalui kebijakan suku bunga acuan. “Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan global, sangat berisiko untuk BI terus menahan suku bunga,” kata dia kepada Bisnis, Selasa (24/5).

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengestimasi, inflasi akan berada di atas 4,6% pada tahun ini sehingga bank sentral memiliki alasan untuk melakukan penyesuaian suku bunga acuan. Menurutnya, inflasi akan meningkat secara substansial dan fundamental pada semester II/2022, sehingga pada kondisi tersebut BI perlu melakukan respons melalui kebijakan moneter. Kendati demikian, kekhawatiran mengenai lonjakan inflasi juga disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo yang memperkirakan pada tahun ini berpotensi di atas 4%. Perry menjelaskan tekanan inflasi sangat bergantung pada respons kebijakan pemerintah terhadap kenaikan harga komoditas global.