Inflasi
( 547 )Dilema Menahan Inflasi
Hal ini dilakukan karena harga kebutuhan pokok lainnya naik di tengah penurunan harga minyak goreng. Daging ayam, telur ayam, daging sapi, tahu, dan tempe berada dalam antrean daftar bahan pokok yang harganya naik. Dalam waktu yang hampir berdekatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Juni mencapai 0,61 persen. Angka ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang 0,4 persen. Pengumuman dari BPS pada 1 Juli seolah-olah menjadi peringatan bahwa jalan terjal masih akan mengadakan pemulihan ekonomi Indonesia pada sisa tahun ini. Selain pandemi Covid-19 yang masih belum usai, perang Rusia–Ukraina menambah runyam kondisi perekonomian global dan nasional. Perang tersebut telah menimbulkan efek, terhadap harga beberapa komoditas perdagangan dunia.
Kenaikan beberapa harga komoditas esensial tersebut telah mengerek tingkat inflasi di luar ekspektasi awal. Tingkat inflasi yang diharapkan berada pada kisaran angka 3 persen tahun ini, diperkirakan akan tembus lebih dari 4,2 persen. Bahkan menurut catatan BPS, sampai dengan Juni, tingkat inflasi tahun kalender mencapai 3,19 persen. Lebih parahnya, inflasi tersebut berjenis cost push inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga input produksi yang sifatnya mengganggu aktivitas dan produktivitas perekonomian.
Inflasi Masih Jadi Ancaman
Selama harga-harga pangan dan energi dunia bergejolak, inflasi masih menjadi ancaman bagi Indonesia. Sebagai upaya meredam gejolak harga kedua komoditas tersebut, Presiden Jokowi dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin negara angota G7 dan G20, menyerukan untuk bersama-sama mengatasi krisis pangan dan energi yang saat ini mengancam rakyat di negara-negara berkembang jatuh ke jurang kelaparan dan kemiskinan ekstrem. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada 22 Juni 2022 terjadi inflasi sebesar 0,61% dengan Indeks Harga Saham Konsumen sebesar 111,09. Inflasi masih menjadi ancaman bagi Indonesia. Sebab,menurut Margo Yuwono, kenaikan harga komoditas pangan ditingkat global belum memiliki dampak yang signifikan terhadap inflasi dalam negeri. "Hal ini tercermin dari tiga komoditas impor pangan dengan nilai impor tertinggi yaitu gadum, gula dan kedelai," katanya. (Yetede)
Inflasi Juni Diprediksi Naik Jadi 4,62%
Inflasi diprediksi naik menjadi 4,62% secara tahunan (year on year/yoy) pada Juni 2022, dibandingkan bulan sebelumnya 3,55%. Jumlah itu melampaui sasaran inflasi Bank Indonesia (BI) sebesar 3% plus minus 1%. Faisal Rachman Chief Economist Bank Mandiri, menegaskan, (month on month/mom) diprediksi mencapai 0,52%, naik dari Mei 0,4%. Hal ini disebabkan gangguan pasokan akibat cuaca dan rantai pasokan, serta kenaikan permintaan bahan pangan. "Kenaikan terjadi di komoditas cabai merah, cabe rawit hijau, , bawang merah, dan telur ayam," kata dia dalam catatan, Rabu (29/6). Menurut dia, lonjakan inflasi memberi tekanan ke BI untuk menaikkan BI-7DRRR mulai semester II-2022. Adapun inflasi inti diprediksi mencapai 2,58% (yoy) pada Juni, naik dibandingkan Mei 2022 sebesar 2,5%. Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan inflasi Juni pada 1 Juli 2022. "Secara keseluruhan, kami memprediksi inflasi melampaui 4% pada akhir 2022, kemungkinan bisa mendekati 4,6%." kata dia. (Yetede)
Dihantui Kecemasan Inflasi Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (29/6). IHSG turun 0,77% ke level 6.942,35. Investor asing juga masih keluar dari pasar saham dengan total net sel Rp 1,01 triliun. Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennis Christoper Jordan mengatakan, pelemahan IHSG kemarin sejalan dengan terkoreksinya bursa saham Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran inflasi global kembali memanas setelah data kepercayaan konsumen yang dirilis berada dibawah ekspektasi.
Dunia Dibayangi Ancaman Stagflasi
Konflik terkait geopolitik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia telah memporak porandakan pasar energi dan komoditas pangan, karena kedua negara merupakan penghasil utama komoditas energi dan pangan dunia. Invasi militer Rusia ke Ukraina menyebabkan aktivitas logistik di sekitar Laut Hitam terhenti. Sanksi yang diberikan Uni Eropa dan dunia kepada Rusia ataupun aksi balasannya menimbulkan implikasi luas, seperti kenaikan harga minyak, pangan, dan biaya distribusi global. Situasi diperparah dengan kondisi internal AS, China, dan Uni Eropa yang merupakan motor utama pertumbuhan global. China sedang tertekan akibat kebijakan penutupan wilayah karena kasus Covid-19 yang meningkat. Pergerakan harga komoditas pangan, energi, dan barang substitusi lain merangkak naik secara global. Inflasi di AS Mei 2022 tercatat 8,6 % secara tahunan, level tertinggi sejak 1982.
Inflasi Inggris pada April 2022 mencapai 9 % secara tahunan, tertinggi dalam 40 tahun. Tren kenaikan inflasi pada periode yang sama juga dialami Jerman (7,9 %), Italia (6,9 %), bahkan Lituania mencatat dua digit inflasi sebesar 18,9 %. Asia Tenggara tidak luput dari tren lonjakan inflasi global. Pada April 2022, Laos mencatatkan inflasi 9,9 %. Pada Mei 2022, Thailand mencatatkan inflasi 7,1 %. Inflasi Indonesia pada Mei 2022 terhadap Mei 2021 terbilang rendah, yakni 3,55 %. Meski masih rendah, sejak awal tahun inflasi Indonesia terus merangkak naik. Tren lonjakan inflasi secara global patut diwaspadai agar tidak tertransmisi pada kenaikan harga-harga di pasar domestik dalam negeri. Kondisi periode inflasi disertai penurunan pertumbuhan PDB disebut stagflasi.
Stagflasi berpotensi mengakibatkan jumlah pengangguran meningkat pesat. Adapun cara mengatasi stagflasi ini adalah menjaga agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat sehingga bisa mengurangi pengangguran. Untuk mengantisipasi efek buruk dari stagflasi, inflasi di Indonesia perlu dijaga agar tetap rendah. Di tengah situasi serba tak pasti ini, diperlukan mitigasi untuk mengantisipasi situasi secara jangka pendek dan panjang. Kenaikan harga komoditas energi dan pangan akan menekan postur APBN. Alokasi anggaran untuk subsidi akan membengkak. Untungnya, penerimaan juga meningkat akibat kenaikan harga komoditas, khususnya batubara dan minyak sawit sebagai komoditas utama ekspor Indonesia, sehingga meski subsidi meningkat, defisit fiskal 2022 diproyeksikan masih bisa turun dari 4,85 menjadi 4,5 %. (Yoga)
BI Waspadai Ancaman Stagflasi Global
Bank Indonesia (BI) mulai mewaspadai ancaman stagflasi global yang berpotensi mempengaruhi kinerja ekonomi domestik ke depan. Stagflasi adalah kondisi inflasi tinggi yang dibarengi perlambatan pertumbuhan ekonomi. "BI akan terus mewaspadai tekanan inflasi ke depan, khususnya dari volatile food. Dalam hal ini, kami akan all out mengeluarkan kebijakan dan menyesuaikan suku bunga, apabila terjadi kenaikan inflasi inti," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam rapat BI dengan Bangar DPR RI, Senin. Dia mengatakan, lonjakan harga telah memicu kenaikan inflasi yang dipengaruhi ketegangan geo politik antara Rusia dan Ukraina. Sehingga menyebabkan pengenaan sanksi ke Rusia. Disaat yang sama, diberlakukan kebijakan zero tolerance terhadap penyebaran Covid-19 di Tiongkok. (Yetede)
Larangan Ekspor Pangan Bakal Mendorong Inflasi
Pemerintah negara mulai dari India hingga Malaysia, Argentina hingga Serbia telah memberlakukan pembatasan ekspor makanan karena kekacauan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Situasinya diperburuk oleh faktor-faktor lain seperti cuaca ekstrem dan mandeknya rantai pasokan, sehingga memperparah situasi kelaparan di seluruh dunia. Pemerintah Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi hanya membutuhkan waktu 24 jam pada Mei 2022 untuk membatalkan rencana memberikan bahan pangan pada dunia. Padahal pada April lalu Modi secara terbuka mengatakan siap mengisi celah kekosongan di pasar biji-bijian global yang ditinggalkan oleh Ukraina. Namun, kemunculan sejumlah data yang mengkhawatirkan telah mengubah semua rencana. Pertama adanya data yang direvisi turun atas tanaman gandum India pada awal Mei akibat gelombang panas yang tiba-tiba memukul hasil panen. (Yetede)
MERACIK TAKTIK HALAU KRISIS
Salah satu di antaranya adalah kian berlarutnya perang antara Rusia dan Ukraina yang memicu krisis energi dan pangan dunia. Ujung-ujungnya inflasi di sejumlah negara meroket. Kondisi ini pun direspons oleh bank sentral negara maju dengan mengerek suku bunga acuan ke tingkat yang teramat tinggi sehingga menguatkan kekhawatiran terjadi resesi ekonomi, terutama di Amerika Serikat (AS). Selain itu, kebijakan Zero Covid yang masih berlaku di China juga menghantam rantai pasok global yang sejatinya masih kusut dan belum mampu terurai dengan sempurna. Kendala yang cukup kompleks ini pun mendorong sejumlah lembaga merevisi prospek pertumbuhan ekonomi global.
Terbaru, International Monetary Fund (IMF) memangkas outlook dari 4,4% menjadi 3,6%. Pun demikian Bank Indonesia (BI) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,4% menjadi 3%. Tak ayal, semua negara pun memutar otak untuk mencari solusi dalam menangkal dampak lanjutan dari krisis pangan dan komoditas serta meminimalisasi risiko penggerusan ekonomi. Tak terkecuali bagi negara-negara ekonomi maju yang tergabung dalam The Group of Seven (G7). Sejatinya, Pemerintah Indonesia telah menyalakan alarm dini untuk mengantisipasi perubahan haluan ekonomi. Presiden Joko Widodo bahkan meminta kepada seluruh jajarannya untuk lebih peka terhadap ancaman krisis pada tahun ketiga pandemi Covid-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ekonomi yang mampu berdegup lebih kencang dihantui oleh ketidakpastian global sehingga pemerintah perlu responsif memitigasi risiko tersebut.
Tingkatkan Daya Tahan dengan menjaga Inflasi dan Mempertahankan Daya Beli
Ancaman Resesi Amerika Serikat bisa menyeret kinerja ekspor Indonesia karena menurunnya permintaan pasar global. Namun di sisi lain, harga komoditas masih cenderung tinggi sepanjang tahun 2022 ini. Karena itu, perlambatan pertumbuhan global dapat menahan volume ekspor Indonesia. Jika kondisi inflasi tinggi yang dibarengi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi atau stagflasi benar-benar terjadi, volume ekspor Indonesia berpotensi turun signifikan. Kondisi ini perlu diwaspadai. Lebih dari 50% produk domestik bruto (PDB) Indonesia disumbang dari konsumsi rumah tangga. Artinya, yang paling menentukan pertumbuhan Indonesia saat ini adalah tingkat inflasi yang bisa mempengaruhi daya beli. Jadi, kebijakan pemerintah diperlukan untuk mendukung penguatan daya beli ini.
BI Beri Sinyal Tahan Suku Bunga
Bank Indonesia memberi sinyal menahan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) di level 3,6% pada pekan ini. Arah kebijakan suku bunga masih tertuju pada upaya untuk mendorong pemulihan ekonomi. "Kebijakan moneter akan terus pro-stability. Dengan inflasi yang rendah , kita tidak perlu terburu-buru untuk menaikkan suku bunga sampai ada tekanan fundamental pada inflasi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Dia mengatakan, realisasi inflasi hingga Mei 2022 masih rendah, dibandingkan negara lain. Hal ini tercermin pada indeks harga konsumen (IHK) pada Mei 2022 yang mengalami inflasi 0,4% (month to month/mtm), 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), dan inflasi inti 2,58% (yoy). "Saya yakin, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral dapat mengelola stabilitas harga. Tahun ini, perkiraan inflasi kami akan berada di atas target kami, 4%, mungkin sekitar 4,2%. Ini masih sangat rendah, dibandingkan negara lain. Tahun depan kami yakin, inflasi kami akan kembali ke level target kami 3% plus minus 1%." ucap dia. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Kayuhan Ekonomi Sepeda di Yogyakarta
11 Dec 2021 -
Konglomerasi Menguasai Asuransi Umum
04 Oct 2021 -
Ribbit Capital Danai Bank Jago
05 Oct 2021 -
PPATK : Transaksi Narkoba Tembus Rp 120 Triliun
30 Sep 2021









