MERACIK TAKTIK HALAU KRISIS
Salah satu di antaranya adalah kian berlarutnya perang antara Rusia dan Ukraina yang memicu krisis energi dan pangan dunia. Ujung-ujungnya inflasi di sejumlah negara meroket. Kondisi ini pun direspons oleh bank sentral negara maju dengan mengerek suku bunga acuan ke tingkat yang teramat tinggi sehingga menguatkan kekhawatiran terjadi resesi ekonomi, terutama di Amerika Serikat (AS). Selain itu, kebijakan Zero Covid yang masih berlaku di China juga menghantam rantai pasok global yang sejatinya masih kusut dan belum mampu terurai dengan sempurna. Kendala yang cukup kompleks ini pun mendorong sejumlah lembaga merevisi prospek pertumbuhan ekonomi global.
Terbaru, International Monetary Fund (IMF) memangkas outlook dari 4,4% menjadi 3,6%. Pun demikian Bank Indonesia (BI) yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,4% menjadi 3%. Tak ayal, semua negara pun memutar otak untuk mencari solusi dalam menangkal dampak lanjutan dari krisis pangan dan komoditas serta meminimalisasi risiko penggerusan ekonomi. Tak terkecuali bagi negara-negara ekonomi maju yang tergabung dalam The Group of Seven (G7). Sejatinya, Pemerintah Indonesia telah menyalakan alarm dini untuk mengantisipasi perubahan haluan ekonomi. Presiden Joko Widodo bahkan meminta kepada seluruh jajarannya untuk lebih peka terhadap ancaman krisis pada tahun ketiga pandemi Covid-19. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ekonomi yang mampu berdegup lebih kencang dihantui oleh ketidakpastian global sehingga pemerintah perlu responsif memitigasi risiko tersebut.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023