Saham
( 1717 )IHSG Berpotensi Menguat
Indeks hargasaham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menguat dan melanjutkan kenaikan menuju 6.700 setelah pekan lalu menguat signifikan hingga 5,77%. Meski pergerakannya masih sangat dipengaruhi ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS)-China, laju IHSG juga akan ditopang sentimen positif dari dalam negeri. Karena itu, semua pihak diminta menahan diri mengeluarkan pernyataan yang bisa menambah beban pasar. Pelaku pasar menilai, rencana Polri mengawasi pasar saham sebaiknya tidak dilakukan. Sebab, hal itu hanya akan menimbulkan guncangan hebat di pasar modal. Apalagi, net sell asing masih kencang, mencapai Rp 791 miliar pada Jumat pekan lalu. Artinya, kepercayaan asing belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), modal asing senilai Rp 8,99 triliun masuk ke pasar keuangan domestik pada periode 3-6 Maret 2025. Mayoritas modal asing masuk ke surat berharga negara (SBN), mencapai Rp 9,53 triliun, sedangkan disaham Rp 340 miliar. Secara kumulatif, 1 Januari sampai 6 Maret 2025, asing net sell Rp 20,12 triliun di pasar saham dan net buy Rp 19,01 triliun di pasar SBN serta Rp 6,11 triliun di SRBI. “IHSG mencatatkan penguatansignifikan di pekan lalu ke level6.636, dan memberikan harapan bagi pelaku pasar bahwa tren bearish yang menghantui sejak pertengahanSeptember 2024 mulai mereda. Secara teknikal, indeks berhasil breakout dari MA20 di level 6.628, yang menjadi indikasi positif bahwa IHSG berpotensi menguji kembali level psikologis 6.700 dalam waktu dekat," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (9/3/2025). (Yetede)
Emiten Unggas Tetap Optimis di Tengah Ketidakpastian
Beban Bank BUMN Meningkat Akibat Penugasan Pemerintah
Tantangan Siap Dihadapi Agar Otomotif Bangkit
Manufer Pertama Bank untuk Naik Kelas
Sejumlah Emiten Ramai-ramai ”Buyback” Saham
Sejumlah perusahaan terdaftar atau emiten aktif terpantau mengumumkan aksi buyback saham di triwulan awal 2025 ini. Salah satunya, produsen produk protein hewani, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), yang pada Rabu (5/3) mengumumkan akan meminta kesepakatan investor untuk buyback saham pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) 10 April 2025. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah mandat buyback yang akan dimintakan persetujuan dari pemegang saham adalah maksimum 2 % dari seluruh saham publik dengan maksimum dana sebesar Rp 470 miliar. Perseroan melakukan buyback untuk meningkatkan return on equity (ROE).
ROE adalah penghitungan pembagian laba bersih setelah pajak dengan ekuitas pemegang saham. Semakin tinggi nilai ROE berarti perusahaan efisien dalam menghasilkan profit. Saat ini, ROE Japfa positif di angka 19,51 %. ”Rencana buyback dinilai akan memberi fleksibilitas lebih besar bagi perseroan dalam mengelola modal dan memaksimalkan pengembalian kepada pemegang saham,” kata manajemen dalam keterangannya. Produsen cat dekoratif, PT Avia Avian Tbk (AVIA), juga mengumumkan akan melakukan aksi buyback saham pada 28 Februari 2025. Dengan dana kas internal senilai Rp 1 triliun, perseroan berencana membeli 1,42 miliar lembar saham yang beredar di publik atau 2,3 % dari total 61 miliar saham yang disetor perusahaan.
Adapun waktu pembelian direncanakan dilakukan sejak RUPSLB yang direncanakan pada 10 April 2025. Manajemen AVIA mengungkapkan, aksi tersebut dilakukan dalam rangka menjaga kewajaran dan stabilitas harga saham, yang dinilai tidak mencerminkan kondisi dan fundamental perseroan. Sejak awal tahun 2025, harga saham AVIA hingga perdagangan sesi pertama, Kamis (6/3), telah terkoreksi 4 % dari Rp 412 menjadi Rp 396 per saham. Sementara, dalam laporan keuangannya, perusahaan milik konglomerat Hermanto Tanoko ini mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 1,35 % menjadi Rp 1,66 triliun sepanjang 2024. Dengan keuntungan tersebut, laba per saham AVIA senilai Rp 27,16 per saham. (Yoga)
Buyback Saham Melonjak, Apa Dampaknya bagi Pasar?
Aksi pembelian kembali saham (buyback) oleh emiten berpotensi semakin marak, terutama di tengah pasar modal yang sedang lesu dan harga saham yang jauh di bawah valuasi wajar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang mengkaji kemungkinan untuk memberikan izin buyback tanpa perlu melalui rapat umum pemegang saham (RUPS), yang jika disetujui, dapat menjadi solusi untuk menstabilkan pasar saham.
Beberapa emiten besar seperti PT Avia Avian Tbk. dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah merencanakan buyback saham dengan anggaran besar. Langkah ini dianggap dapat meningkatkan kepercayaan terhadap valuasi perusahaan dan meningkatkan earnings per share (EPS). Namun, meskipun buyback bisa menjadi strategi yang efektif dalam stabilisasi harga saham, terutama di pasar yang fluktuatif, tindakan ini mengandung risiko terkait transparansi dan tata kelola yang baik. Tanpa mekanisme RUPS, ada potensi ketidakadilan, seperti penguatan posisi pemegang saham mayoritas tanpa pengawasan pasar yang wajar. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu diimplementasikan dengan pengawasan yang ketat untuk memastikan perlindungan terhadap investor minoritas dan menjaga kepercayaan pasar.
Harga Emas Naik, Investor Panen Cuan
Saham Konsumer Ritel Kian Atraktif Dengan Peluang Cuan Hingga 65 %
Ramadan menjadi momentum terbaik
bagi emiten konsumer (consumer goods) dan ritel modern untuk memacu
penjualan dan menanggok untung lebih, mengingat daya beli masyarakat biasanya
lebih meningkat dibanding bulan biasanya. Langkah perusahaan konsumer ritel
yang gencar meningkatkan promosi untuk mengoptimalkan perolehan keuntungan,
akan membawa saham-sahamnya kian atraktif dengan peluang cuan hingga 65%. “Di
tengah kekhawatiran melemahnya permintaan selama musim Idul Fitri, kami tetap
meyakini emiten konsumer ritel akan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan
yang solid. Meski, persaingan akan ketat dan volatilitas dariharga komoditas
dapat menimbulkan tantangan terhadap margin emiten," kata Analis BRI Danareksa
Sekuritas, Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalina dalam risetnya yang
dipublikasi Rabu (5/3/2025).
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS)
menyematkan rekomendasi buy untuk empat saham ritel modern, yakni PT Mitra
Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga Rp 2.000, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk
(MAPA) di target harga Rp 1.250, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dengan
target harga Rp 1.100 dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dengan target
harga Rp 540. Di sektor konsumer, sekuritas tersebut memberi rekomendasi buy
untuk lima saham, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) dengan target
harga Rp 14.000, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) di target harga Rp 8.800,
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target harga Rp 1.800, PT Mayora Indah Tbk
(MYOR) dengan target harga Rp 3.050, dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido
Muncul Tbk (SIDO) dengan target harga Rp 640, serta hold saham PT Unilever Indonesia
Tbk (UNVR) di target harga Rp 1.500. (Yetede)
Ekspansi Gerai di Luar Jawa Jadi Andalan Baru AMRT
Pilihan Editor
-
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
10 Mar 2022









