Saham
( 1717 )Saham Perbankan: Sulit Prediksi Titik Terendahnya
Harga Batubara Jatuh, Tekanan Berat bagi ADMR
Relaksasi Aturan Pasar Saham, Mampukah Meningkatkan Daya Saing?
Investor Terjepit Dilema di Tengah Ketidakpastian
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami lonjakan signifikan sebesar 3,7% pada sesi pertama perdagangan (3/3), kenaikan tersebut masih perlu dianalisis lebih lanjut. Kenaikan yang tajam ini, yang membawa IHSG ke level 6.502, mungkin lebih merupakan "technical rebound" atau pemantulan sementara setelah penurunan tajam sebelumnya, daripada indikasi pemulihan jangka panjang. Hal ini dipicu oleh aksi beli investor domestik yang memanfaatkan harga saham yang sudah terdiskon.
Namun, faktor fundamental yang mendasari pasar masih belum sepenuhnya mendukung pemulihan berkelanjutan. Ketidakpastian pasar global, terutama yang terkait dengan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan arus modal. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve mengurangi daya tarik pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, bagi investor asing. Ditambah dengan ancaman resesi global dan ketidakpastian akibat perang dagang, banyak investor global cenderung lebih berhati-hati.
Dalam menghadapi situasi ini, investor perlu lebih cermat dalam menilai peluang dan risiko pasar. Pilihan antara melakukan bargain hunting atau memilih strategi defensif menjadi dilema yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Oleh karena itu, memilih sektor-sektor strategis yang memiliki potensi untuk memberikan keuntungan jangka panjang sangat penting untuk menghindari risiko investasi yang lebih besar.
Kembalikan Kepercayaan Pelakunya Pasar
Bersaing di Tengah Persaingan Ketat, Siapa Bertahan?
Melemahnya IHSG dan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pengujung Februari 2025 turun hingga menyentuh level 6.270,6 pada Jumat (28/2) terendah sejak September 2021. IHSG anjlok lebih dari 8 % dibanding awal pekan ini yang masih berada di angka 6.801. Seiring dengan itu, nilai tukar rupiah juga tertekan. Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman di kantor BEI, Jakarta, Jumat, menyatakan, bursa tidak diam terhadap fenomena penurunan mendalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bursa akan membahas dengan pelaku pasar langkah kebijakan yang perlu diambil untuk meningkatkan kepercayaan investor.
Disampaikan Iman, sejak awal 2025, investor asing telah melakukan penjualan bersih hingga Rp 19 triliun sehingga IHSG turun 12 %. ”Sangat banyak penyebab dari perubahan indeks dan itu bukan hanya satu pihak. Indeks selalu terdampak tiga hal, bagaimana (kondisi) global, domestik, dan bagaimana korporasinya sendiri,” kata Iman. Ia menuturkan,tekanan global masih jadifaktor utama yang memengaruhi keluarnya investor asing dari pasar domestik. Salah satunya, dilatari ketidakpastian kebijakan Presiden AS, Donald Trump periode kedua yang dikenal dengan Trump 2.0, yang mewujud dalam bentuk perang tarif antara AS dan mitra dagangnya.
Selain itu, langkah bank sentral AS, The Federal Reserve (TheFed), dalam menurunkan suku bunga acuan juga menjadi pertimbangan investor untuk masuk ke pasar saham AS. The Fed diperkirakan hanya akan menurunkan suku bunga satu kali pada tahun ini. Iman menilai, ada pula faktor domestik yang berpengaruh pada kepercayaan investor asing, antara lain, dilihat dari penilaian lembaga indeks pasar global Morgan Stanley Capital International MSCI) terhadap pasar domestik, yang berubah dari equalweight (EW) menjadi underweight (UW). Per Maret, MSCI akan mengubah bobot saham Indonesia dari 2,2 % menjadi 1,5 %. (Yoga)
Cuan Dari Bisnis Mobil Listrik
Ekonomi Terpuruk, Bursa Menurun
IHSG Mengatur Strategi Demi Jaga Pasar Saham
Tekanan yang berlarut-larut di pasar saham domestik Indonesia menuntut intervensi dari otoritas pasar modal untuk meredam kekhawatiran investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada 28 Februari 2025, yang dipicu oleh faktor global seperti kebijakan tarif impor Presiden AS Donald Trump. Untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak biasa ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang melakukan berbagai upaya, termasuk berencana untuk menunda penerapan kebijakan short selling, serta melakukan roadshow untuk menjelaskan kondisi pasar kepada investor asing.
Pentingnya edukasi terhadap investor domestik juga disorot oleh Aria Santoso, Presiden Direktur CSA Institute, yang menyarankan BEI untuk memberikan penjelasan tentang kondisi pasar agar investor jangka panjang tidak panik. Selain itu, Aria juga mengusulkan perluasan edukasi mengenai solusi lindung nilai seperti produk option. Di sisi lain, Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menekankan bahwa langkah BEI akan efektif jika didukung oleh kebijakan makroekonomi yang pro-investasi.
Beberapa pelaku pasar berharap langkah-langkah seperti aksi buyback saham dapat membantu pemulihan IHSG. Di sisi lain, Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas mengingatkan bahwa intervensi pasar yang berlebihan dapat mengurangi daya tarik pasar saham domestik. Namun, Kristian Sihar Manullang dari BEI menjelaskan bahwa kebijakan auto rejection dan unusual market activity (UMA) diterapkan untuk melindungi investor, meskipun dapat mengganggu strategi pasar tertentu.
Secara keseluruhan, respons terhadap tekanan pasar ini mencakup langkah preventif dari BEI dan pentingnya kebijakan pemerintah yang mendukung stabilitas ekonomi makro untuk menjaga iklim investasi yang kondusif.
Pilihan Editor
-
KKP Genjot Revitalisasi Tambak Udang Tradisional
23 Feb 2022 -
Minyak Goreng, Wajah Kemanusiaan Kita
24 Feb 2022









